Anda di halaman 1dari 76

PERAWATAN IBU

INTRANATAL
Oleh :

Ns. AIDA KUSNANINGSIH, M.Kep, Sp.Kep.Mat.


Persalinan adalah proses dimana bayi,plasenta dan
selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan
dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia
kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa
disertai penyulit.
• Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus
berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada
serviks (membuka & menipis) dan berakhir dengan
lahirnya plasenta secara lengkap.
• Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak
mengakibatkan perubahan servik.
SEBAB-SEBAB
MULAINYA PERSALINAN

• Teori Keregangan
• Teori penurunan progesteron
• Teori oksitosin internal
• Teori prostaglandin
Teori Keregangan

• Otot rahim mempunyai kemampuan


meregang dalam batas tertentu

• Contoh : pada kehamilan ganda sering terjadi


kontraksi setelah keregangan tertentu,
sehingga menimbulkan proses persalinan.
Teori Penurunan Progesteron
• Proses penuaan plsenta terjadi mulai umur
kehamilan 28 minggu (terjadi proses
penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah
mengalami penyempitan dan buntu)

• Produksi progesteron mengalami penurunan,


sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap
oksitosin
Teori Oksitosin Internal
• Oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis posterior

• Menurunnya konsentrasi progesteron akibat


tuanya kehamilan maka oksitosin dapat
meningkatkan aktivitas sehingga persalinan
dapat dimulai.

6
Teori Prostaglandin
• Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak
kehamilan 15 minggu, yg dikeluarkan oleh
desidua.

• Pemberian prostaglandin saat hamil dapat


menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga
hasil konsepsi dapat dikeluarkan.

Fisiologi Persalinan 7
Tanda-Tanda Persalinan

Tanda dan gejala inpartu :


1. Penipisan dan pembukaan serviks
2. Kontraksi uterus yang mengakibatkan
perubahan serviks (min ; 2 x dalam 10
menit)
3. Cairan lendir bercampur darah melalui
vagina (“blood show”)
TAHAPAN DLM PERSALINAN
Dibagi dalam beberapa tahapan :
• Kala I
• Kala II
• Kala III
• Kala IV

Fisiologi Persalinan 9
KALA I (SATU)
• Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang
teratur dan meningkat (frekuensi dan
kekuatan) hingga serviks membuka lengkap
(10 cm).

Kala 1 terdiri dari 2 fase,


• Fase laten
• Fase aktif
Fase Laten
Dimulai sejak awal berkontraksi yang
menyebabkan penipisan dan pembukaan
serviks secara bertahap
Berlangsung hingga serviks membuka kurang
dari 4 cm
Pada umumnya, fase laten berlangsung
hampir/hingga 8 jam
Fase aktif pada Kala I
• Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan
meningkat secara bertahap (kontraksi
dianggap adekuat jika terjadi 3 kali/lebih
dalam 10 menit, dan berlangsung selama 40
detik/lebih.
• Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai
pembukaan lengkap (10 cm)akan terjadi
dengan kecepatan rata-rata 1 cm/jam (primi)
dan 1cm – 2cm (multi)
• Terjadi penurunan bagian terbawah janin
Fase aktif pada Kala I (lanjutan)
Fase aktif terbagi menjadi
• Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3-4
cm
• Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam),
pembukaan 4-9 cm
• Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9-
10 cm.
Peristiwa penting pada kala 1
• Keluar lendir/darah (bloody show) akibat
terlepasnya sumbatan mukus (mukosa plug)
yang selama kehamilan menumpuk di kanalis
servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler
serviks dan akibat pergeseran antara selaput
ketuban dengan dinding dalam uterus.
• Ostium uteri internum dan eksternum terbuka
sehingga serviks menipis dan mendatar.
• Selaput ketuban pecah spontan.
Pematangan dan pembukaan serviks
Ada perbedaan pematangan dan pembukaan serviks
antara primigravida dan multigravida.
• Pada primigravida terjadi penipisan serviks terlebih
dahulu sebelum pembukaan, sedangkan pada
multigravida serviks langsung menipis dan membuka
karena telah lunak akibat persalinan sebelumnya.
• Pada primigravida ostium internum membuka lebih
dahulu daripada ostium eksternum, sedangkan pada
multigravida ostium internum dan eksternum
membuka bersamaan.
• Pada primigravida kala 1 lebih lama (sekitar 20 jam)
sedangkan multigravida lebih singkat (sekitar 14 jam).
KALA II
• Dimulai ketika
pembukaan serviks
sudah lengkap (10
cm) dan berakhir
dengan lahirnya bayi.
• Durasi sekitar 1 jam
untuk nulipara dan
¼-½ jam untuk
multipara

Fisiologi Persalinan 16
Tanda & Gejala Kala II

• Kontraksi uterus semakin kuat setiap 2-3 menit,


lamanya 45-90 detik.
• Ibu ingin meneran bersamaan terjadinya kontraksi
• Ibu merasa adanya peningkatan tekanan pd rektum
& vagina
• Perineum menonjol
• Vulva vagina dan spingter ani membuka
• Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Fisiologi Persalinan 17
Tanda pasti kala II :

a. Melalui PD (Periksa
Dalam) pembukaan
serviks sudah lengkap
b. Terlihatnya bagian
kepala bayi melalui
introitus vagina

Fisiologi Persalinan 18
Peristiwa penting kala 2
• Bagian terbawah janin (persalinan normal: kepala
turun sampai dasar panggul).
• Ibu timbul perasaan ingin mengejan yang makin berat.
• Perineum meregang dan anus membuka
• Kepala dilahirkan lebih dahulu dengan suboksiput di
bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu
putar/hipomoklion) selanjutnya dilahirkan badan dan
anggota badan
• Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan
perineum untuk memperlebar jalan lahir (episiotomi).
Mekanisme persalinan
• Bentuk dan diameter panggul ibu berbeda-
beda
• Presentasi janin menempati jalan lahir pada
proporsi yang besar
• Janin berupaya beradaptasi dengan jalan
lahir selama proses penurunan
• Tujuh mekanisme gerakan : enggagement,
penurunan, fleksi, putaran paksi dalam,
ekstensi, putaran paksi luar, dan ekspulsi
Mekanisme persalinan
Engagement
• Kepala telah menancap di pintu atas panggul (PAP)
Penurunan
• Kepala turun ke dalam panggul
• Gerakan presentasi melewati panggul
• Disebabkan oleh 3 faktor
• Tekanan cairan amnion
• Tekanan langsung kontraksi (HIS) fundus pada janin ke arah bokong
• Kontraksi diafragma dan otot-otot abdomen ibu. Badan janin terjadi
ekstensi dan menegang. Laju penurunan meningkat dan menegang.
• Laju penurunan meningkat pada kala II.
Mekanisme persalinan
Fleksi
• Segera setelah kepala turun, tertahan oleh serviks, dinding panggul atau dasar panggul,
fleksi terjadi, dagu didekatkan ke arah dada janin.
• Posisi kepala berubah dari diameter oksipitofrontalis (puncak kepala) menjadi diameter
suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
• Akibat suboksipito-bregmatikus (diameter 9,5 cm dapat masuk ke dalam PAP
Putaran paksi dalam
• Diameter tranversa pada PAP (memiliki bidang paling luar)
• Kepala janin melalui PAP masuk ke dalam panggul sejati dengan posisi
oksipitotranvesal
• Pintu bawah panggul (PBP) terluas pada diameter anteroposterior.
• Supaya dapat keluar, kepala janin berotasi
• Putaran paksi dalam dimulai pada bidang setinggi spina schiadika sampai presentasi
mencapai panggul bagian bawah
• Oksiput berputar ke arah anterior, wajah berputar kearah posterior.
• Kontraksi membantu tulang panggul dan otot-otot dasar panggul mengarahkan
putaran kepala janin.
• Akhir putaran paksi dalam oksiput berada pada garis tengah di bawah lengkung pubis.
• Rotasi interna selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil kearah depan
( ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distantia interspinarum dengan
diameter biparietalis.
Mekanisme persalinan
Ekstensi Restitusi
• Kepala mencapai • Restitusi adalah
perineum (vulva), gerakan bayi berputar
terjadi ekstensi hingga mencapai posisi
setelah oksiput yang sama dengan saat
melewati bawah masuk PAP.
simfisis pubis bagian • Putaran 45 derajat
posterior (permukaan mengakibatkan kepala
bawah) janin sejajar dengan
• Kepala keluar akibat punggung dan bahunya
ekstensi : secara • Kepala berputar lebih
berurutan oksiput, lanjut
wajah dan dagu
Mekanisme persalinan
Putaran paksi luar Ekspulsi
• Terjadi saat bahu enggaged dan • Ketika bahu telah keluar kepala
turun dengan gerakan kepala diangkat ke atas tulang pubis, torak
• Bahu anterior turun terlebih abdomen, dan lengan trokanter
dahulu sempai mencapai pintu depan dan belakang kaki)
bawah, bahu berputar ke arah dikeluarkan dengan gerakan fleksi
garis tengah dan dilahirkan di lateral ke arah simfisis pubis
bawah lengkung pubis. • Tahap II selesai setelah seluruh
• Bahu posterior diarahkan badan bayi keluar.
perineum sampai janin keluar
dari introitus vagina
• Rotasi eksterna : kepala berputar
kembali sesuai dengan sumbu
rotasi tubuh, bahu masuk PAP
degan posisi anteroposterior
sampai di bawah simfisis,
kemudian dilahirkan bahu depan
dan bahu belakang
KALA III
• Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi
dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan
selaput ketuban.
• Durasi 5-30 menit

Tanda-tanda kala 3
• Kontraksi uterus kuat
• Perubahan bentuk dan tinggi uterus
• Tali pusat memanjang
• Semburan darah mendadak dan singkat
KALA IV

• Dimulai setelah lahirnya plasenta dan


berakhir 2 jam setelah itu.

• Tanda: Uterus keras pada 2 jari di Bawah


umbilikus.

Fisiologi Persalinan 26
Kala 1
Kala 2
Kala 3
Kala 4
ASUHAN KEPERAWATAN SESUAI
TAHAPAN PERSALINAN
KALA 1
PENGKAJIAN AWAL

ANAMNESA:
• Biodata
• Keluhan utama
• Riwayat kesehatan
• Riwayat obstetri
• Riwayat ginekologi
• Riwayat Kehamilan dan Persalinan Lalu
• Riwayat dan rencana KB
PENAPISAN

1. Riwayat bedah sesar


2. Perdarahan pervaginam
3. Persalinan kurang bulan (<37 minggu)
4. Ketuban pecah dgn mekonium yang kental
5. Ketuban pecah lama (> 24 jam)
6. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan(<37
bulan)
7. Ikterus
8. Anemia berat
9. Tanda/gejala infeksi

29
PENAPISAN

10. Preeklamsi/hipertensi dalam kehamilan


11. Tinggi fundus 40 cm atau lebih
12. Gawat janin
13. Primi para dalam fase aktif persalinan dgn palpasi
kepala janin masih 5/5
14. Presentasi bukan belakang kepala
15. Presentasi majemuk
16. Kehamilan gemelli
17. Tali pusat menumbung
18. Syok

30
ASUHAN KEPERAWATAN SESUAI
TAHAPAN PERSALINAN
KALA 1
Pemeriksaan fisik:
• TB, BB • Abdomen : Leopold 1,
• Vital Sign 2,3,4, DJJ, kontraksi
• Kepala uterus (intensitas,
frekuensi,durasi), DJJ.
• Mata • Genital : seviks
• Telinga (pembukaan, ketuban,
• Hidung ketebalan serviks, blood
• Mulut “show”
• Leher • Ekstremitas : edema,
• Dada dan Payudara varises, refleks patella
PENGKAJIAN ULANG
• Pemantauan kemajuan persalinan dengan
menggunakan partograf

• Pemantauan kemajuan persalinan dengan CTG


Pemantauan Kemajuan Persalinan
dengan partograf

Pemantauan kemajuan persalinan


dengan CTG
Diagnosa Keperawatan
• Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
• Ketakutan yang berhubungan dengan keadaan
menjelang persalinan
• Ansietas berhubungan dengan lingkungan rumah
sakit yang tidak dikenal
• Risiko infeksi yang berhubungan dengan ketuban
pecah dini
• Perubahan perfusi jaringan: perfusi plasenta pada
janin akibat posisi terlentang
• Gangguan pola tidur
Intervensi dan Implementasi Kala 1
• Manajemen nyeri
• Pendidikan Kesehatan Bimbingan meneran
• Pemenuhan kebutuhan nutrisi
• Penggunaan sentuhan yang efektif
• Lingkungan yang suportif
• Posisi melahirkan
• Asupan makanan dan cairan
• Perawatan kandung kemih
• Kemajuan fase aktif persalinan
MANAJEMEN NYERI PERSALINAN
1. NONFARMAKOLOGI
a. Modulasi psikologi nyeri : relaksasi,
hipnoterapi, imaginasi, umpan balik
biologis, psikoprofilaksis
b.Modulasi sensorik nyeri: terapi manual,
terapi quasi manual, intervensi bukan
manual,
2. FARMAKOLOGI
MANAJEMEN NYERI
• Relaksasi
Modulasi psikologis nyeri • Hipnoterapi
• Imaginasi
• Umpan balik biologis
• psikoprofilaksis

Modulasi sensorik nyeri


• Terapi Manual : Masase, sentuhan terapeutik, kompres panas
atau dingin
• Terapi quasi manual : Akupresur, akupunktur
• Intervensi bukan manual: TENS, distraksi dengan musik,
hidroterapi, posisi, postur dan ambulasi
• Intervensi lain : berteriak
Relaksasi
Suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik dari
ketegangan dan stres sehingga dapat meningkatkan toleransi
terhadap nyeri.

Pola nafas lambat


Dimulai pada saat persalinan ketika wanita tidak dapat berjalan
atau berbicara saat kontraksi tanpa menahan nafas selama
puncak kontraksi.

Pola nafas dangkal


Digunakan pada persalinan aktif ketika nafas lambat tidak dapat
membantu, bahkan dengan dorongan dan bantuan
Imaging
• Penciptaan khayalan dengan tuntunan yang merupakan suatu
bentuk pengalihan fasilitator yang mendorong klien untuk
memvisualisasikan atau memikirkan pemandangan atau sensasi
yang menyenangkan untuk mengalihkan perhatian menjauhi nyeri.

Caranya
• Bayangkan bahwa setiap desah nafas yang anda hirup saat ini
adalah energi penyembuh yang sedang mengalir pelan melalui urat
nadi ke bagian rasa sakit yang sedang anda alami.
• Lalu bayangkan bahwa setiap embusan nafas yang anda keluarkan
telah membawa pergi jauh rasa sakit atau nyeri yang anda rasakan.
KOMPRES PANAS
Cara pemberian :
• Bungkus sumber panas
dengan satu atau dua lapis
handuk untuk memastikan
sumber tersebut tidak terlalu
panas.

• Letakkan handuk basah


hangat, bantalan panas,
kantong pasta silika yang
dipanaskan, atau botol air
panas di perut bagian bawah,
paha, punggung bawah, bahu,
atau perineum.
KOMPRES DINGIN
Cara pemberian :
• Bungkus sumber dingin dengan
satu atau dua lapis handuk untuk
memastikan sumber tersebut tidak
terlalu dingin dan tindakan ini
menghindari rasa tidak nyaman
yang mendadak yang akan terjadi
jika benda dingin langsung
diletakkan pada kulit dan
memungkinkan toleransi dari rasa
sejuk menjadi rasa dingin.

• Letakkan sumber kompres dingin pada punggung bawah atau perineum


(kantong es, kantong jeli, kain basah yang didinginkan, botol plastik beku).
• Pasang sabuk kantong jeli di punggung bawah, sehingga memungkinkan
wanita dapat bergerak bebas.
COUNTERPRESSURE

Firm Counter Pressure

Ibu dalam posisi duduk,


tekan sakrum secara
bergantian dengan tangan
dikepalkan secara mantap
Deep Back Massage

Ibu berbaring miring, tekan daerah sakrum secara mantap


dengan telapak tangan, lepaskan & tekan lagi.
Akupressur
Akupunktur
• Adalah suatu teknik tusuk jarum yang menggunakan jarum-
jarum kecil panjang untuk menusuk bagian-bagian tertentu di
badan guna menghasilkan ketidakpekaan terhadap rasa sakit
atau nyeri.
PENEKANAN LUTUT
GERAKAN
BIMBINGAN MENERAN
POSISI MENERAN HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
• Meneran sesuai dengan
• Duduk dorongan alamiahnya selama
• Setengah Duduk kontraksi
• Jongkok • Jangan menahan nafas saat
meneran
• Berdiri
• Beristirahat diantara kontraksi
• Miring Kiri • Tidak mengangkat bokong saat
• Merangkak meneran
• Berbaring miring kiri • JANGAN melakukan dorongan
pada fundus untuk membantu
kelahiran bayi
Duduk Setengah duduk Jongkok

POSISI MENERAN

Berdiri Merangkak Miring Kiri


CARA MENERAN

• Tarik nafas
• Tarik lutut ke arah dada
• Dagu di tempelkan ke dada
• Meneran seperti saat buang
air besar
Evaluasi
Pengkajian Kala 2
Diagnosa Keperawatan
• Risiko infeksi yang berhubungan dengan ketuban pecah
dini.
• Perubahan perfusi jaringan: perfusi plasenta pada janin
menurun akibat posisi terlentang.
• Gangguan pola tidur
• Nyeri yang berhubungan dengan kontraksi uterus.
• Ansietas yang berhubungan dengan lingkungan rumah
sakit yang tidak dikenal
• Ketakutan yang berhubungan dengan keadaan menjelang
persalinan dan pelahiran.
• Defisit pengetahuan tentang proses persalinan, teknik
relaksasi
• Ketidakefektifan koping individu yang berhubungan
dengan kurangnya sistem pendukung
3. Men fasilitasi ibu menghadapi
intranatal
• Manajemen nyeri: melatih nafas dalam, effurage
• Merangsang pengeluaran hormon oksitosin melalui
sentuhan nipple ibu
• Menekankan delegasi tugas obsgyn memberikan
uterotonika via drip IM/IV
• Membersihkan plasenta dan membuat dokumen
tentang plasenta
Intervensi
• Bimbingan meneran
• Dukungan psikososial
• Persiapan kelahiran dan pelahiran
• Persiapan ruangan kelahiran
• Asepsis dan antisepsis
• Pengaturan posisi untuk melahirkan
• Mempersiapkan perineum
• Kelahiran
• Pemotongan tali pusat
Kala II Persalinan
a. Mempersiapkan alat
dan ruang
b. Prosedur pertolongan
persalinan (APN 58
langkah)
c. Evaluasi
INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Bimbingan saat membantu kelahiran bayi:
• Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm),
letakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat
1/3 di bawah bokong ibu
• Siapkan kain atau handuk bersih di atas perut ibu
INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Bimbingan saat membantu kelahiran bayi:
• Lindungi perineum dengan cara satu tangan dengan posisi
ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan
pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang
kepala bayi.
• Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi
pada saat keluar secara bertahap melewati introitus
vagina dan perineum.
PERIKSA TALI PUSAT PADA LEHER
 Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran
dan bernafas cepat.
 Periksa leher bayi apakah terlilit oleh tali pusat.
 Jika ada dan lilitan di leher bayi cukup longgar maka lepaskan
lilitan tersebut dengan melewati kepala bayi

 Jika lilitan tali pusat sangat


erat maka jepit tali pusat
dengan klem pada 2 tempat
dengan jarak 3 cm.
 Potong tali pusat diantara 2
klem tersebut.
MELAHIRKAN BAHU
• Setelah menyeka mulut dan hidung
bayi dan memeriksa tali pusat,
tunggu kontraksi berikut sehingga
terjadi putaran paksi luar secara
spontan.
• Letakkan tangan pada sisi kiri dan
kanan kepala bayi, minta ibu
meneran sambil menekan sambil
menekan kepala ke arah bawah dan
lateral tubuh bayi sehingga bahu
depan melewati simfisis.
• Setelah bayi depan lahir gerakkan
kepala ke atas dan lateral tubuh bayi
sehingga bahu bawah dan seluruh
dada di lahirkan
Melahirkan seluruh tubuh bayi
• Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah
(posterior) ke arah perineum dan sanggah bahu dan
lengan atas bayi pada tangan tersebut.
• Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya
siku dan tangan posterior saat melewati perineum.
• Tangan bawah (posterior) menopang samping lateral
tubuh bayi saat lahir.
• Secara simultan, tangan atas (anterior) untuk
menelusuri dan memegang bahu, siku dan lengan
bawah anterior.
• Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi ke
bagian punggung, bokong dan kaki.
Melahirkan seluruh tubuh bayi
Melahirkan seluruh tubuh bayi
• Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas
di antara kedua kaki bayi yang kemudian dipegang
dengan ibu jari dan ketiga jari tangan lainnya.
• Letakkan bayi di atas kaki atau handuk yang telah
disiapkan pada perut bawah ibu dan posisikan kepala
bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
• Segera keringkan sambil melakukan rangasangan
taktil pada tubuh bayi dengan kain atau selimut di
atas perut ibu. Pastikan bahwa kepala bayi tertutup
dengan baik
Evaluasi
Pengkajian Kala III
Diagnosa Keperawatan Kala III
Intervensi dan Implementasi
Manajemen Aktif Kala III
1. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit
pertama setelah bayi lahir
2. Melakukan penegangan tali pusat terkendali
3. Masase fundus uteri
Penegangan tali pusat terkendali
• Berdiri disamping ibu
• Pindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm
dari vulva
• Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu
tepat di atas simfisis pubis.
• Setelah terjadi kontraksi yang kuat tegangkan tali
pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain
menekan uterus ke arah lumbal dan kepala ibu
(dorso-kranial)
• Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus
berkontraksi kembali kemudian lakukan
peregangan kembali.
Penegangan tali pusat terkendali
 Saat mulai kontraksi (uterus
menjadi bulat, tali pusat
menjulur), tegangkan tali pusat
ke arah bawah, lakukan dorso-
kranial hingga tali pusat makin
menjulur dan korpus uteri
bergerak ke atas yang
menandakan plansenta telah
lepas dan dapat dilahirkan

 Saat plasenta telah terlihat di introitus vagina, lahirkan plasenta


dengan cara pegang plasenta pada kedua tangan dan secara
lembut putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin menjadi
satu.
Evaluasi
Pengkajian Kala 4
• Tanda vital
• Fundus
• Jumlah lokhea, adanya bekuan darah
• Perineum dan penilaian derajat laserasi
• Distensi kandung kemih
• Interaksi keluarga
Penilaian Derajat Laserasi
Derajat 1 (Satu) : Derajat 2 (Dua) : Derajat 3 (Tiga) : Derajat 4 (Empat) :

• Mukosa vagina • Mukosa vagina • Mukosa vagina • Mukosa vagina


• Komisura • Komisura • Komisura • Komisura
posterior posterior posterior posterior
• Kulit perineum • Kulit perineum • Kulit perineum • Kulit perineum
• Otot perineum • Otot perineum • Otot perineum
• Otot spingter ani • Otot spingter ani
• Dinding depan
rektum
Diangosa Keperawatan kala 4
• Nyeri yang berhubungan dengan involusio uteri
• Perubahan menjadi orang tua (parenting) yang
berhubungan dengan tidak berpengalaman
(kurang model)
• Risiko infeksi berhubungan dengan invasi bakteri
sekunder terhadap trauma selama persalinan dan
episiotomi.
• Perilaku sehat yang berhubungan dengan bayi
baru lahir, perawatan diri, peristiwa fisiologi
pascapartum.
Intervensi dan Implementasi
• Rangsangan taktil (masase) fundus uteri
• Letakkan telapak tangan pada fundus uteri
• Jelaskan tindakan kepada ibu, katakan bahwa ibu
mungkin merasa agak tidak nyaman karena
tindakan yang diberikan. Anjurkan ibu untuk
menarik nafas dalam.
• Dengan lembut tapi mantap gerakkan tangan
dengan arah memutar pada fundus uteri supaya
uterus berkontraksi. Jika uterus tidak berkontraksi
dalam waktu 15 detik lakukan penatalaksanaan
atonia uteri
• Penjahitan episiotomi dan laserasi
• Personal hygiene
• Bimbingan menyusui
Evaluasi