Anda di halaman 1dari 20

Kehamilan Dengan

HIV/AIDS
Disusun Oleh : Kelompok 4 Ahmad Fauzan Muttaqin
Nindie Tresia
Rike Agustika Boldy
Yuni Monesa

POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA


PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN
DEFINISI HIV/AIDS
• HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus pada manusia yang
menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang
relatif lama dapat menyebabkan AIDS.
• AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang
menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang.
ETIOLOGI
Virus penyebab defisiensi imun yang dikenal dengan nama Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Sampai sekarang baru dikenal dua serotype HIV
yaitu HIV-1 dan HIV-2 yang juga disebut Lymphadenopathy Associated Virus
type-2 (LAV-2) yang sampai sekarang hanya dijumpai pada kasus AIDS atau
orang sehat di Afrika. Spektrum penyakit yang menimbulkannya belum banyak
diketahui. HIV-1, sebagai penyebab sindrom defisiensi imun (AIDS) yang
tersering, dahulu dikenal juga sebagai Human T cell-lymphotropic virus type III
(HTLV-III), Lymphadenipathy Associated Virus (LAV) dan AIDS-associated
virus.
PATOFISIOLOGI
• Penularan ibu ke bayi merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak. Penularan
transplasental dapat terjadi sejak awal, dan virus pernah ditemukan pada janin yang
mengalami abortus pada kehamilan dini. Namun kondisi tersebut terutama terjadi bila ada
kerusakan pada sawar plasenta. Sebagian besar kasus, penularan terjadi saat persalinan
mencapai 15 sampai 25 persen pada ibu yang terinfeksi HIV namun tidak diterapi.
• Penularan vertikal lebih sering terjadi pada kelahiran preterm, terutama yang berkaitan
dengan ketuban pecah lama. Landesman melaporkan bahwa penularan HIV-1 saat lahir
meningkat dari 14 menjadi 25 persen pada wanita yang selaput ketubannya sudah pecah
lebih dari 4 jam. Infeksi sifilis yang terjadi bersamaan juga berkaitan erat dengan penularan
HIV vertikal perinatal. Menyusui meningkatkan penularan HIV pascasalin sebesar 10 sampai
20 persen.
TANDA DAN GEJALA
Masa tunas sejak pajanan sampai timbul gejala klinik biasanya beberapa hari sampai
beberapa minggu. Periode akut serupa dengan infeksi virus lainnya dan biasanya
berlangsung kurang dari 10 hari. Gejala umum adalah demam dan keringat malam, rasa
lelah, ruam, nyeri kepala, limfadenopati, faringitis, mialgia, artralgia, mual, muntah, dan
diare. Setelah gejala mereda, mulailah berlangsung viremia kronik.
Dalam masa sekitar 3 bulan setelah tertular, tubuh belum membentuk antibodi secara
sempurna sehingga tes darah tidak memperlihatkan bahwa orang tersebut telah tertular
HIV. Masa 3 bulan ini disebut dengan masa jendela (window period). Waktu 5-7 tahun,
pada saat tes darah sudah menunjukan adanya antibodi HIV dalam darah (artinya HIV
positif) namun penderita tampak sehat, dan tidak timbul gejala yang menunjukan orang
tersebut menderita AIDS dikenal sebagai masa tanpa gejala.
CARA PENULARAN
Kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain itu, bayi yang
disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Ada beberapa faktor risiko
yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang paling mempengaruhi
adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya. Oleh karena itu, salah
satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak dapat terdeteksi seperti
juga ART untuk siapa pun terinfeksi HIV. Viral load penting pada waktu melahirkan.
Penularan dapat terjadi dalam kandungan yang dapat disebabkan oleh kerusakan pada
plasenta, yang seharusnya melindungi janin dari infeksi HIV. Kerusakan tersebut dapat
memungkinkan darah ibu mengalir pada janin. Kerusakan pada plasenta dapat
disebabkan oleh penyakit lain pada ibu, terutama malaria dan TB.
FAKTOR RESIKO
• FAKTOR IBU
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi
adalah kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat
persalinan dan kadar HIV di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya.
Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi HIV, kadar HIV
akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang. Resiko penularan akan lebih
besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada menjelang ataupun saat
persalinan.
Lanjutan...

• FAKTOR BAYI
1. Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah.
2. Melalui ASI yang diberikan pada usia enam bulan pertama bayi,
3. Bayi yang meminum ASI dan memiliki luka di mulutnya.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metode ELISA/EIA
(Enzyme Linked Immunoadsorbent Assay). ELISA pada mulanya digunakan
untuk skrining darah donor dan pemeriksan darah kelompok risiko tinggi. Pada
bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV, tes ini efektif dilakukan pada bayi
yang berusia 18 bulan keatas. Pemeriksaan ELISA harus menunjuk kanhasil
positif 2 kali (reaktif) dari 3 tes yang dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai metode Western Blot.
Penggabungan test ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat
spesifik mutlak dilakukan untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS.
PEMERIKSAAN PENUNJANG LAINNYA

• Foto toraks
• Pemeriksaan fisik
• Mantoux test
• Pemeriksaan Laboratorium darah (Kadar CD4, Hepatitis, Papssmear,
Toxoplasma, Virus load)
PENATALAKSANAAN
Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi kita tidak terinfeksi dan kita tetap
sehat adalah dengan memakai terapi anti retroviral (ART). Perempuan terinfeksi
HIV di seluruh dunia sudah memakai obat antiretroviral (ARV) secara aman
waktu hamil lebih dari sepuluh tahun. ART sudah berdampak besar pada
kesehatan perempuan terinfeksi HIV dan anaknya. Oleh karena ini, banyak dari
mereka yang diberi semangat untuk mempertimbangkan mendapatkan anak.
PENCEGAHAN
Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi, dilaksanakan
secara komprehensif dengan menggunakan empat prong, yaitu:
• Prong 1: mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduktif.
• Prong 2: mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif.
• Prong 3: mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi
yang dikandungnya.
• Prong 4: memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV
positif beserta bayi dan keluarganya
ASUHAN KEPERAWATAN
• PENGKAJIAN
1. Biodata Klien
2. Riwayat Penyakit
3. Pemeriksaan Fisik, meliputi :
• Aktifitas / Istirahat
• Sirkulasi
• Eliminasi
• Makanan/Cairan
• Hygiene
• Neurosensori
• Nyeri/Kenyamanan
• Pernapasan
• Eliminasi
• Makanan / Cairan
• Hygiene
• Neurosensoro
• Nyeri / Kenyamanan
• Pernafasan
• Pemeriksaan diagnostik
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
• Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanya kontak darah dengan bayi
sekunder terhadap proses melahirkan.
• Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder
terhadap diare
• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.
• Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang,
meningkatnya kebutuhan metabolik, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
• Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.
INTERVENSI
• Monitor tanda-tanda infeksi baru.
• Gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum
memberikan tindakan.
• Anjurkan pasien mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
• Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order.
• Atur pemberian antiinfeksi sesuai order
Lanjutan...
• Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV
dan kuman patogen lainnya.
• Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bila merawat pasien. Gunakan
masker bila perlu.
• Kaji konsistensi dan frekuensi feses dan adanya darah.
• Auskultasi bunyi usus
• Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order
IMPLEMENTASI
Didasarkan pada diagnosa yang muncul baik secara aktual, resiko, atau
potensial. Kemudian dilakukan tindakan keperawatan yang sesuai berdasarkan
NCP
EVALUASI
Disimpulkan berdasarkan pada sejauh mana keberhasilan mencapai kriteria
hasil, sehingga dapat diputuskan apakah intervensi tetap dilanjutkan,
dihentikan, atau diganti jika tindakan yang sebelumnya tidak berhasil
TERIMA KASIH
MERCI