Anda di halaman 1dari 48

GIZI BURUK

OZZY MUKTI YUNANDAR


1810029032

Pembimbing:
dr. Herwina Brahmantya, Sp.A
Pendahuluan
• Gizi berperan dalam berbagai kurun usia dalam daur kehidupan. Peranan ini
meliputi dalam pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak dan kecerdasan,
produktivitas kerja serta daya tahan terhadap infeksi.
• Gizi Buruk (Severe Malnutrition) merupakan salah satu masalah gizi utama
di negara berkembang seperti di Indonesia, kejadian ini terutama pada
anak-anak di bawah usia 5 tahun (balita)
• Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) 2017 yang dilakukan Kementerian
Kesehatan, bayi usia di bawah lima tahun (Balita) yang mengalami masalah
gizi pada 2017 mencapai 17,8%, sama dengan tahun sebelumnya. Jumlah
tersebut terdiri dari Balita yang mengalami gizi buruk 3,8% dan 14% gizi
kurang
Laporan Kasus
• Anamnesis :
Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 12 Agustus 2019 di ruang
melati kamar 08.
• Keluhan Utama
Muntah-muntah
• Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan muntah-muntah yang dialami sudah 10 hari sebelum
masuk rumah sakit. Muntah dapat terjadi 2-3x sehari. Muntah seperti berlendir,
warna putih, kadang berisi nasi dan apa yang dimakan, jumlahnya sedikit, selalu
dipicu oleh makan dulu, dan tidak pernah muntah merah atau coklat. Keluhan lain
yang menyertai yaitu pasien batuk-batuk dan demam selama ±2 bulan. Batuk-
batuk terus ada dan tidak ada periode sembuh. Semakin parah jika pasien
kedinginan. Pasien juga nafsu makannya menurun sejak batuk-batuk dan ibu pasien
merasakan anaknya semakin tampak kurus. BAK tidak ada masalah namun pada
BAB pernah ada riwayat BAB hijau selama 3 hari saat di rumah. Kedua kaki pasien
dirasakan bengkak oleh ibu pasien sejak beberapa hari sebelum masuk rumah sakit.
• Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan-keluhan seperti ini
sebelumnya. Ada alergi dari dulu pada pampers. Kulit disekitar bokong
dan alat kelamin muncul merah merah dan luka. Alergi ini sudah ada
dari usia 8 bulan sejak menggunakan pampers.
• Riwayat Penyakit Keluarga :
Nenek pasien sebelumnya mengalami keluhan yang serupa yaitu
batuk-batuk lama dan didiagnosis TB serta sudah selesai pengobatan
OAT (akhir 2018). Pasien sempat 1 bulan tinggal bersama neneknya.
Ibu pasien bercerita nenek pasien sering mencium cium pasien bahkan
memberikan makanan (dari mulutnya) ke pasien. Nenek pasien sudah
selesai 6 bulan pengobatan namun tidak jelas apakah sudah
terkonfirmasi sembuh dari TB atau belum.
• Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Selama hamil ibu pasien tidak rutin ANC dan mengaku tidak memiliki
penyakit selama kehamilan. Pasien lahir spontan di bidan dengan usia
kehamilan cukup bulan dan berat lahir 2000 gram, PBL 45 cm.
• Riwayat Makanan dan Minuman
Pasien sempat mengkonsumsi ASI, air gula dan air susu kental manis
selama 1 tahun. Air gula masih dikonsumsi sampai sekarang. Saat
mengkonsumsi susu kental manis pasien sempat tidak cocok dan
mengalami berak-berak. Makanan pengganti ASI yaitu bubur sun beras
merah dimulai usia 6 bulan hingga usia 8 bulan. Lalu pada usia 9 bulan
mulai mengkonsumsi nasi hingga sekarang dengan sayur bening, labu dan
lauk sesekali seperti ikan. Bisa diberikan hingga 4x sehari dengan porsi
secukupnya. Air gula yang dikonsumsi hingga sekarang bisa mencapai 3
botol, per botol isi sekitar 300 cc dengan takaran gula 2 sendok makan.
• Riwayat Imunisasi
Imunisasi tidak lengkap, ibu pasien lupa apa saja yang telah diberikan.
Yang diingat yaitu baru 3x datang ke posyandu untuk divaksin.
• Riwayat sosial ekonomi
Pasien merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Pasien tinggal
bersama ayah dan ibunya, nenek-kakeknya, beserta saudara-saudaranya,
ayah pasien bekerja sebagai buruh. Kehidupan ekonomi menengah ke
bawah
Pertumbuhan dan perkembangan anak

BB Lahir : 2.000 gram BB sekarang : 4.7 kg


PB Lahir : 45 cm PB sekarang : 65 cm
Gigi : Tumbuh Berdiri : belum bisa
Tersenyum : Ibu lupa Berjalan : belum bisa
Miring : belum bisa Berbicara 2 suku kata : belum bisa
Tengkurap : belum bisa
Duduk : belum bisa
Merangkak : belum bisa

Pasien sudah dicoba untuk main kerincingan usia 6 bulan, mobil-


mobilan mainan usia 1 tahun tapi tampak cepat bosan. Tidak masalah
saat menggerakkan mainan. Bermain seperti cilukba masih mau dan
masih bisa merespon dengan tawa. Kakak-kakaknya tidak ada masalah
dalam perkembangannya dan normal bermain sesuai usianya.
Pemeriksaan Fisik Antropometri
• Keadaan umum :Tampak sakit
• BB : 4.700 gram
sedang, sangat kurus, wajah seperti
orang tua • PB : 65 cm
• Kesadaran : komposmentis, GCS • BBL : 2.000 gram
E4V5M6, cengeng
• PBL : 45 cm
Tanda-tanda vital • LK : 43 cm
• Frekuensi Nadi : 126x / menit • LILA : 9 cm
(reguler, kuat angkat)
• Status gizi : gizi buruk
• Frekuensi Napas : 24x / menit
(reguler)
• Suhu Badan : 35.8OC (axillar)
• SpO2 : 97 % dengan NK 1 LPM
Status generalisata
Kepala
• Rambut : warna hitam kecoklatan, tampak kering, tipis, tidak
mudah dicabut.
• Mata : tampak dalam, konjungtiva anemis (+/+), sclera ikterik
(-/-), pupil isokor diameter 3mm/3mm, refleks cahaya (+/+)
• Hidung : nafas cuping hidung (-/-) , terdapat selang O2 NK
• Mulut : bibir kering dan tampak krusta, mukosa basah, tidak
pucat, faring tidak hiperemis.

Leher
• KGB : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Thorax
Paru
• Inspeksi : gerakan dinding dada simetris, retraksi (-)
• Palpasi : fremitus raba dextra = sinistra
• Perkusi : sonor
• Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-, S1S2 tunggal reguler,
murmur (-) gallop (-)

Jantung
• Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak pada ICS 4 midklavikula line
sinistra
• Palpasi : iktus kordis teraba pada ICS 4 midklavikula sinistra
• Perkusi : normal pada batas jantung
• Auskultasi : s1 s2 tunggal, regular, murmur -, gallop –
Abdomen
• Inspeksi : tampak cembung, lesi eritema di sekitar organ genitalia.
• Palpasi : soefl, nyeri tekan (-), organomegali (-), turgor kulit menurun
(+)
• Perkusi : timpani di empat kuadran
• Auskultasi : bising usus (+)

Ekstremitas
Atas
• Akral hangat, CRT < 2 detik, kedua lengan atas tampak lebih kecil
daripada lengan bawah, edema (+/-)
Bawah :
• Akral hangat, CRT < 2 detik, kedua paha tampak lebih kecil daripada
betiis, edema (+/+)
Pemeriksaan Penunjang
No Parameter 09/08/2019 11/08/19 12/0819 13/08/19 14/08/19
1. Leukosit 11.70(4.50-14.90) - - 7.92 -
2. Eritrosit 3.27 (4.10-5.30) - - 2.53 -
3. Hemoglobin 8.6 (13.4-19.8) - - 6.7 -
4. Hematokrit 26.4 (33.0-41.0) - - 21.0 -
5. MCV 80.6 (81.0-99.0) - - 82.7 -
6. MCH 26.2 (27.0-31.0) - - 26.6 -
7. MCHC 32.5 (33.0-37.0) - - 32.1 -
8. 48.000 -
Trombosit 353.000 (150.000-450.000) - -
9. Glukosa Sewaktu 45 (70-140) - 75 90 54
10. Albumin 2.0 (3.5-5.5) 2.2 - 2.2 -
11. Sa. Transferin - - - 28 (>20) -
12. Serum ion - - - 25 (23-168) -
13. UIBC - - - 63 (120-470) -
14. TIBC - - - 88 (143-480) -
15. Natrium 135 (135-155) 139 - 138 143
16. Kalium 1.8 (3,6-5,5) 2.5 - 2.1 2.1
17. Chloride 107 (98-108) 109 - 107 105
18. 7.6 7.5
Kalsium - 6.9 (8.1-10.4) 7.6
19. Ab HIV Non Reaktif - - - -
20. Ureum - - - - 5.7
Hapusan Darah Tepi (13/08/2019)
• Eritrosit : Hipokrom anisopoikilositosis
• Leukosit : Jumlah normal didominasi limfosit sel muda
• Trombosit : Jumlah sangat menurun
• Kesan : Susp. Hemoglobinopathy dd An. Penyakit kronis, dd
An. Def. Fe, limfositosis relatif, trombositopenia
Pemeriksaan
Radiologi
Grafik Gizi Menurut WHO
Panjang Badan Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)
Berat Badan Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)
Berat Badan Menurut Panjang Badan ( Z score = <-3 SD)
Lingkar Lengan Atas Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)
Lingkar Kepala Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)
Grafik Tumbuh
Kembang Denver II

Usia Kronologis : 1
tahun 6 bulan 13
hari (18 bulan)
Personal Sosial Bahasa
Gosok gigi dengan bantuan : F Bicara sebagian dimengerti : F
Menyuapi boneka : F Kombinasi kata : F
Membuka pakaian : F Menunjuk 2 gambar : F
Menggunakan sendok garpu : F Menyebutkan 6 kata : F
Kemampuan aktual : Menyebutkan 2 kata : F
Berusaha mencapai mainan : P (4-6 bulan) Kemampuan aktual :
Mengamati tangannya : P (1-4 bulan) Bicara satu silabel : P (5-8 bulan)
Tersenyum spontan : P (1-2 bulan) Menoleh ke arah suara : P (4-7 bulan)
Menoleh ke arah icik-icik : P (3-5 bulan)
Adaptif Motorik Halus Motorik kasar
Menyusun menara dari 4 kubus : No Melempar bola : F
Menyusun menara dari 2 kubus : No Menendang bola : F
Ambil manik-manik ditunjukkan : No Berjalan naik tangga : F
Kemampuan aktual : Lari : F
Memegang dengan ibu jari : P (7-10 bulan) Kemampuan aktual :
Mengambil 2 barang : P (6-9 bulan) Duduk kepala tegak : P (2-4 bulan)
Memindahkan barang : P (5-8 bulan) Kepala terangkat 90 derajat : P (2-4 bulan)
Kepala terangkat 45 derajat : P (1-3 bulan)
Diagnosa di IGD :
• Gizi Buruk Marasmik + Hipoalbumin + Hipokalemi

Diagnosa DM
• Gizi Buruk (Marasmik-Kwarsiorkor) + suspect TB + Dermatitis

Penatalaksanaan di IGD :
• Bolus D10% 20 cc secepatnya, cek GDS 1 jam selanjutnya
• IVFD RD5% 280 cc dalam 10 jam
• Pasang NGT
• Diet F75 8x20 cc
• Ampisilin Sulbaktam 125 mg/8 jam/IV
• Zink 1x20 mg
• B. Complex ½ tab, asam folat 1 tab, vitamin C 25 mg/ 1x1 pulv
• Metoklopramide 0.7 mg/8 jam/IV
• Albumin 20% 20 cc 1x pemberian
• 3.2% KCL + aquadest 1:1 dalam spuit 20 cc
Tanggal Pemeriksaan Terapi
10 Agustus 2019 S: - IVFD D5 ¼ NS 280 cc/24 jam
(07.00) Batuk (+), tampak mual (+), luka di sekitar organ genital - F50/F75 8x20 cc via NGT
semakin merah. BAB (+) BAK (+) - Vitamin B1 ½ tab, B6 ½ tab, B12 ½ tab dalam pulv
1x1
O: - Drip KCl 7.4 % maintenance 5 cc/24 jam
CM, KU lemah - Ampicilin Sulbactam 450 mg/12 jam/IV
N:126x/menit, reguler, kuat angkat - Hydrocortison 1% 2x pemberian
RR:24x/Menit - Ondancentron 1.5 mg/12 jam/IV
T:35.80C - Koreksi Ca Glukonas 5 cc dalam NaCl 0.9% 20 cc
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), rh (-/-) habis dalam 4 jam/syringe pump
Abdomen : BU (+) N, ruam eritema pada kulit sekitar - Koreksi Albumin 20% 20 cc dalam 6 jam/syringe
organ genitalia pump
Ekstremitas : Akral hangat, bengkak pada ekstremitas
bawah (+/+), CRT<2”

A: Gizi buruk + suspect TB + dermatitis numularis

12 Agustus 2019 S: - IVFD D5 ¼ NS 100 cc/24 jam


(07.00) Batuk (+) - F75 8x40 c
- Drip KCl 7.4% 4.5 cc/24 jam
O: - Drip Ca gluconas 10% 2.5 cc/24 jam
CM, KU lemah - Gentamicyn 2x pemberian pada luka bekas infus
N:123x/menit, reguler, kuat angkat - Tatalaksana lain lanjut
RR:26x/Menit
T:36.20C
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), rh (-/-)
Abdomen : BU (+) N, ruam eritema pada kulit sekitar
organ genitalia
Ekstremitas : Akral hangat, bengkak pada ekstremitas
bawah (+/+), CRT<2”

A: Gizi buruk + suspect TB + dermatitis numularis


13 Agustus 2019 S: - Cek GDS tiap pagi, DL, HDT, SI/TIBC,
(07.00) Batuk (+), rewel, ingin melepas selang NGT Fe, SE, Kalsium, Albumin
- IVFD D5 ¼ NS 100 cc/24 jam
O: - F75 8x40 per NGT
CM, KU lemah - Koreksi KCl 7.4% 1.4 cc/6 jam
N:144x/menit, reguler, kuat angkat - Koreksi Ca gluconas 10% 4.7 cc/6 jam
RR:28x/Menit - Maintenance drip KCl 7.4% 4.5 cc/24
T:37.60C jam dan drip Ca gluconas 10% 2.5
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), rh (-/-) cc/24 jam
Abdomen : BU (+) N, ruam eritema pada kulit sekitar organ genitalia - Tatalaksana lain lanjut
Ekstremitas : Akral hangat, bengkak pada ekstremitas bawah (+/+), CRT<2” - Konsul Sp. KK

A: Gizi buruk + suspect TB + dermatitis numularis

14 Agustus 2019 S: - Transfusi PRC 40 cc dalam 4 jam


(07.00) Batuk (+), demam (+) - IVFD D5 ½ NS 100 cc/24 jam
- F100 8x40 cc via oral+feed tube
O: - Ampicilin 125 mg/6 jam/IV
CM, KU lemah - Gentamycin 25 mg/24 jam/IV
N:123x/menit, reguler, kuat angkat - Gentamycin krim 2x pemberian
RR:26x/Menit - Maintenance KCl 7.4% 4.7 cc dan Ca
T:36.20C Gluconas 4.7 cc dalam 24 jam
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), rh (-/-) - Tatalaksana lain lanjut
Abdomen : BU (+) N, ruam eritema pada kulit sekitar organ genitalia
Ekstremitas : Akral hangat, bengkak pada ekstremitas bawah (+/+), CRT<2”

A: Gizi buruk + suspect TB + SIRS+ Impetigo Vesicobulosa


14 Agustus 2019 S: - RJP
(21.30) Penurunan kesadaran, sebelumnya tampak kejang - Bagging
- Epinefrin 1x pemberian/IV
O: - Pasien dinyatakan meninggal di depan
Apnea (+), arteri carotis tidak teraba, GCS E1M1V1, GDS 16 mg/dL, pupil midriasis orang tua
maksimal, RC (-/-)

A: Cardiac arrest + hipoglikemi + Gizi buruk + SIRS + suspect TB paru + severe PEM +
imbalance electrolit + hipoalbumin
Tinjauan Pustaka
• Gizi buruk atau malnutrisi energi protein adalah keadaan
kurang gizi pada anak yang disebabkan oleh kurangnya asupan
energi dan protein.
• Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk
karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena
kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan
kekurangan kedua-duanya
Klasifikasi
Klasifikasi Berdasarkan Baku Median WHO-NCHS
Klasifikasi MEP BB/U BB/TB
Ringan 70-80% 80-90%
Sedang 60-70% 70-80%
Berat <60% <70%

Klasifikasi Menurut Departemen Kesehatan RI

BB/TB TB/U
(berat menurut (tinggi menurut umur)
tinggi)
Mild 80 – 90 % 90 – 94%
Moderate 70 – 79 % 85 – 89 %
Severe < 70 % <85 %
Klasifikasi Menurut McLaren (1967)

Gejala klinis / laboratoris Angka Penentuan tipe berdasarkan atas


Edema 3 jumlah angka yang dapat
Dermatosis 2 dikumpulkan tiap penderita:
Edema disertai dermatosis 6 0-3 angka = marasmus
Perubahan pada rambut 1 4-8 angka = marasmic-kwashiorkor
Hepatomegali 1 9-15 angka = kwashiorkor
Albumin serum atau protein total serum/g %
<1,00 <3,25 7
1,00-1,49 3,25-3,99 6
1,50-1,99 4,00-4,74 5
2,00-2,49 4,75-5,49 4
2,50-2,99 5,50-6,24 3
3,00-3,49 6,25-6,99 2
3,50-3,99 7,00-7,74 1
>4,00 >7,75 0
Klasifikasi Menurut Waterlow (1973) Waterlow berpendapat bahwa
defisit berat terhadap tinggi
Gangguan Derajat Stunting (BB/U) Wasting(BB/TB) mencerminkan gangguan gizi
0 >95% >90%
yang akut dan menyebabkan
keadaan wasting (kurus kering).
1 95-90% 90-80% Sedangkan defisit tinggi menurut
2 89-85% 80-70% umur merupakan akibat
3 <85% <70% kekurangan gizi yang berlangsung
lama atau kronis. Akibatnya laju
tinggi badan akan terganggu,
hingga anak akan menjadi
Klasifikasi menurut Jelliffe pendek (stunting) untuk
seusianya
Kategori BB/U (% baku)
MEP I 90 – 80
MEP II 80 – 70
MEP III 70 – 60
MEP IV <60
Epidemiologi
Etiologi
Penyebab terjadinya gizi buruk adalah inadekuatnya intake
protein yang berlansung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan
hal tersebut antara lain:
1. Pola Makan
2. Faktor Sosial
3. Faktor Ekonomi
4. Faktor Infeksi dan Penyakit lain
Patogenesis
1. Respon Metabolik terhadap Pemasukan Energi Inadekuat
Hormon cortisol akan meningkat pada keadaan kelaparan dan stress. Sekresi insulin akan menurun dan akan
terjadi resistensi insulin di perifer. Aktivitas insulin-growth faktor 1 serta efektor metabolik pertumbuhan yang
mempengaruhi hormon pertumbuhan juga berkurang. Efek keseluruhan dari perubahan hormon ini adalah
mobilisasi lemak, degradasi protein otot, dan penurunan basal metabolic rate
2. Adaptasi terhadap Penurunan Pemasukan Protein
Sintesis albumin, transferrin dan apolipoprotein B akan menurun
3. Perubahan Elektrolit
Retensi sodium sehingga akan terjadi peningkatan total sodium dalam tubuh, total potasium dalam
tubuh akan menurun. Elektrolit lain juga akan berubah seperti fosfat , magnesium dan kalsium.
Hipokalemia juga bisa menyebabkan hipotonus dan kematian mendadak (sudden death).
4. Interaksi dengan Infeksi
Pemasukan energi dan protein yang tidak cukup berhubungan dengan kondisi peningkatan bakteri dan
mikroba lain.
5. Sitokin
Pada anak yang malnutrisi berat didapatkan penurunan reaksi inflamasi dan menumpulnya respon
febrile
6. Protein Fase Akut
Pada anak malnutrisi berat akan terjadi penurunan protein fase akut negatif seperti albumin,
prealbumin, fibronektin dan retinol binding protein.
7. Kwashiorkor
Kwashiorkor berhubungan dengan kurangnya diet protein dan edema yang terjadi adalah akibat dari
rendahnya albumin
Manifestasi Klinis
Marasmus Kwashiorkor Marasmik
Kwashiorkor

 Pertumbuhan  Perubahan mental  Terlihat sangat kurus.


berkurang atau sampai apatis  Edema.
berhenti  Anemia  BB/TB < -3 SD.
 Terlihat sangat kurus  Perubahan warna dan  LILA< 11,5 cm
 Penampilan wajah tekstur rambut, mudah
seperti orangtua dicabut / rontok
 Perubahan mental  Gangguan sistem
 Cengeng gastrointestinal
 Kulit kering, dingin,  Pembesaran hati
mengendor, keriput  Perubahan kulit
 Lemak subkutan  Atrofi otot
menghilang hingga  Edema simetris pada
turgor kulit berkurang kedua punggung kaki,
 Otot atrofi sehingga dapat sampai seluruh
kontur tulang terlihat tubuh.
jelas
 Vena superfisialis
tampak jelas
 Ubun – ubun besar
cekung
 tulang pipi dan dagu
kelihatan menonjol
 mata tampak besar dan
dalam
 Kadang terdapat
bradikardi
 Tekanan darah lebih
rendah dibandingkan
Diagnosis • Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil
Anamnesis dari normal.
Keluhan yang sering ditemukan adalah • Maturasi tulang terlambat.
pertumbuhan yang kurang, anak kurus, • Rasio berat badan terhadap tinggi
atau berat badannya kurang. Selain itu badan normal/ menurun.
ada keluhan anak kurang / tidak mau • Tebal lipatan kulit normal atau
makan, sering menderita sakit yang berkurang.
berulang atau timbulnya bengkak pada • Anemia ringan
kedua kaki, kadang sampai seluruh
tubuh • Aktivitas dan perhatian berkurang jika
dibandingkan dengan anak sehat.
Pemeriksaan Fisik
MEP ringan MEP berat/Gizi Buruk
• Sering ditemukan gangguan • Kwashiorkor.
pertumbuhan: • Marasmus.
• Anak tampak kurus. • Marasmik-kwashiorkor.
• Pertumbuhan linier berkurang atau
terhenti. Kriteria diagnosis: terlihat sangat kurus,
• Berat badan tidak bertambah,bahkan edema nutrisional (simetris), BB/TB <-
turun. 3SD, lingkar lengan atas <11,5 cm
Penentuan status gizi dapat ditentukan secara klinis dan
antropometri (disesuaikan dengan grafik WHO):

Status gizi Klinis Antropometri (BB/TB-


PB)

Gizi buruk Tampak sangat kurus dan atau < -3 SD


edema pada kedua punggung
kaki sampai seluruh tubuh.

Gizi kurang Tampak kurus -3 SD - < -2 SD


Gizi baik Tampak sehat -2 SD – 2SD
Gizi lebih Tampak gemuk >2 SD
Pemeriksaan Penunjang
Penemuan hasil laboratorium sebagai berikut :
• Konsentrasi total protein serum dan terutama albumin secara nyata
berkurang pada KEP edematus, dan normal atau rendah pada
marasmus.
• Hemoglobin dan hematokrit biasanya rendah, terlebih pada
kwashiorkor daripada marasmus.
• Rasio asam amino nonesensial dan esensial plasma meningkat pada
kwashiorkor dan biasanya normal pada marasmus.
• Level Free Fatty Acid (FFA) serum meningkat, terutama pada
kwashiorkor.
• Level glukosa darah normal atau rendah setelah 6 hari atau lebih.
• Eksresi urin kreatinin, hidroksiprolin, 3-metil histidin, dan urea
nitrogen rendah.
Penatalaksanaan
Kondisi I • Berikan 50ml glukosa atau larutan gula pasir 10%
Jika ditemukan: Renjatan (syok), letargis, muntah dan (oral/NGT)
atau diare atau dehidrasi. Lakukan Rencana I, dengan • 2 Jam pertama
tindakan segera, yaitu • berikan ReSoMal secara oral / NGT setiap 30 menit,
• Pasang O2 1-2 L/menit dosis 5ml/kgBB setiap pemberian
• Pasang infus Ringer Laktat dan Dextrosa / Glukosa • catat nadi, frekuensi nafas dan beri ReSoMal setiap
10% dengan perbandingan 1:1 (RLG 5%) 30 menit
• Berikan glukosa 10% intravena (IV) bolus, dosis
5ml/kgBB bersamaan dengan Kondisi IV
• ReSoMal 5ml/kgBB melalui NGT Jika ditemukan: letargis. Lakukan Rencana IV, dengan
tindakan segera, yaitu
Kondisi II • Berikan bolus glukosa 10% intravena, 5ml/kgBB
Jika ditemukan: letargis, muntah dan atau diare atau • Lanjutkan dengan glukosa atau larutan gula pasir
dehidrasi.Lakukan Rencana II, dengan tindakan segera, 10% melalui NGT sebanyak 50ml
yaitu • 2 jam pertama
• Berikan bolus glukosa 10 % intravena, 5ml/kgBB • berikan F 75 setiap 30 menit, . dari dosis untuk 2 jam
• Lanjutkan dengan glukosa atau larutan gula pasir sesuai dengan berat badan (NGT)
10% melalui NGT sebanyak 50ml • catat nadi, frekuensi nafas
• 2 jam pertama
• berikan ReSoMal secara Oral/NGT setiap 30 menit, Kondisi V
dosis : 5ml/kgBB setiap pemberian Jika tidak ditemukan: renjatan (syok), letargis, muntah
• catat nadi, frekuensi nafas dan pemberian ReSoMal dan atau diare atau dehidrasi. Lakukan Rencana V,
setiap 30 menit dengan tindakan segera, yaitu
• Berikan 50ml glukosa atau larutan gula pasir 10%
Kondisi III oral
Jika ditemukan: muntah dan atau diare atau • Catat nadi, pernafasan dan kesadaran
dehidrasi.Lakukan Rencana III, dengan tindakan segera,
yaitu
Pelaksanaan Rawat Inap
Penerapan tatalaksana anak gizi buruk yang dirawat inap:
• Pelayanan Medis, keperawatan dan konseling gizi sesuai dengan
penyakit penyerta/penyulit.
• Pemberian formula dan makanan sesuai dengan fase sebagai
berikut:
Kriteria sembuh: • Selera makan sudah baik,
Bila BB/TB atau BB/PB > -2 SD dan makanan yang diberikan dapat
tidak ada gejala klinis dan dihabiskan.
memenuhi kriteria pulang sebagai
berikut: Pelaksanaan Rawat Jalan
• Edema sudah berkurang atau • Pemberian Konseling
hilang, anak sadar dan aktif. • Pemberian paket obat dan
• BB/PB atau BB/TB > -3 SD. makanan untuk pemulihan gizi
• Komplikasi sudah teratasi . • Kunjungan rumah
• Ibu telah mendapat konseling • Rujukan
gizi.
• Ada kenaikan BB sekitar 50
g/kgBB/minggu selama 2
minggu berturut-turut.
Prognosis
Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi,
kematian sering disebabkan oleh karena infeksi, sering tidak
dapat dibedakan antara kematian karena infeksi atau karena
malnutrisi sendiri. Prognosis tergantung dari stadium saat
pengobatan mulai dilaksanakan. Dalam beberapa hal walaupun
kelihatannya pengobatan adekuat, bila penyakitnya progesif
kematian tidak dapat dihindari, mungkin disebabkan perubahan
yang irrever-sibel dari set-sel tubuh akibat under nutrition
maupun overnutrition.
Pembahasan
• Anamnesis
Fakta Teori
Keluhan : Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang,
 Muntah-muntah 10 hari, 2-3x/hari. Muntah dapat anak kurus, atau berat badannya kurang. Selain itu ada keluhan
terjadi 2-3x sehari. Muntah seperti berlendir, warna anak kurang / tidak mau makan, sering menderita sakit yang
putih, kadang berisi nasi dan apa yang dimakan, berulang atau timbulnya bengkak pada kedua kaki, kadang sampai
jumlahnya sedikit, selalu dipicu oleh makan dulu, dan seluruh tubuh
tidak pernah muntah merah atau coklat Sebagai faktor resiko :
 Batuk-batuk dan demam selama ±2 bulan  Pola makan yang salah
 Nafsu makannya menurun sejak batuk-batuk dan ibu  Faktor sosial
pasien merasakan anaknya semakin tampak kurus  Faktor ekonomi
 Kedua kaki pasien dirasakan bengkak oleh ibu pasien  Faktor infeksi dan penyakit lain
sejak beberapa hari
Riwayat :
 Alergi pada pampers
Faktor Resiko :
 Pernah serumah dengan keluarga yang mengidap TB
 Pola makan minum yang salah
 Sosial ekonomi menengah
• Pemeriksaan Fisik
Fakta Teori
Keadaan umum : sakit sedang, sangat kurus  Pertumbuhan berkurang atau berhenti
Kesadaran : Composmentis GCS E4V5M6, cengeng  Terlihat sangat kurus
HR : 126x/menit, reguler kuat angkat  Penampilan wajah seperti orangtua
RR : 24x/menit, reguler  Perubahan mental
T : 35.8 C  Cengeng
Pertumbuhan dan perkembangan terhambat  Kulit kering, dingin, mengendor, keriput
Antropometri  Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang
Usia : 1 tahun 6 bulan  Otot atrofi sehingga kontur tulang terlihat jelas
BB : 4.700 gram  Vena superfisialis tampak jelas
PB : 65 cm  Ubun – ubun besar cekung
BBL : 2.000 gram  Tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol
PBL : 45 cm  Mata tampak besar dan dalam
LK : 43 cm  Kadang terdapat bradikardi
LILA : 9 cm  Perubahan mental sampai apatis
Status gizi : gizi buruk  Anemia
Kepala/Leher : Tampak anemis, bibir kering dan tampak krusta, mata tampak dalam, wajah seperti  Perubahan warna dan tekstur rambut, mudah dicabut / rontok
orang tua, yang lain DBN  Gangguan sistem gastrointestinal
Paru/Jantung : dalam batas normal  Pembesaran hati
Abdomen : Turgor kulit menurun, lesi eritema di sekitar organ genitalia, yang lain DBN  Perubahan kulit
Ekstremitas : Bengkak infeksi pada ekstremitas superior dextra karena bekas infus, edema pada kedua  Atrofi otot
ekstremitas inferior, proksimal ekstremitas tampak lebih kecil daripada bagian distal keempat  Edema simetris pada kedua punggung kaki, dapat sampai
ekstremitas. seluruh tubuh
PB menurut usia : <-3 SD  Terlihat sangat kurus.
BB menurut usia : <-3 SD  Edema.
BB menurut PB : <-3 SD  BB/TB < -3 SD.
LK menurut usia : <-3 SD  LILA< 11,5 cm
LILA menurut usia : <-3 SD
• Pemeriksaan Penunjang
Fakta Teori
Lab Darah : Penemuan hasil laboratorium sebagai berikut :
Leukosit : 11.700 sel/uL  Konsentrasi total protein serum dan terutama albumin turun
Hemoglobin : 8.6 g/dL  Hemoglobin dan hematokrit biasanya rendah.
Hematokrit : 26.4%  Rasio asam amino nonesensial dan esensial plasma meningkat pada
Trombosit : 353.000 sel/uL kwashiorkor dan biasanya normal pada marasmus.
GDS : 45 mg/dL  Level Free Fatty Acid (FFA) serum meningkat, terutama pada
Albumin : 2.0 g/dL kwashiorkor.
Natrium : 135 mmol/L  Level glukosa darah normal atau rendah setelah 6 hari atau lebih.
Kalium : 1.8 mmol/L
Klorida : 107 mmol/L
Foto Thorax : Dapat mendukung hasil diagnosis infeksi jika merupakan
Kalsium: 6.9 mg/dL
suatu komorbid atau sebagai penyebab
Ab HIV : Non Reaktif

Foto thorax :
Tampak pembesaran kelenjar getah bening di para hilus
dextra

HDT :
Susp. Hemoglobinopathy dd An. Penyakit kronis, dd An. Def.
Fe, limfositosis relatif, trombositopenia
• Diagnosis
Fakta Teori
Anamnesis Jika ditemukan tanda-tanda marasmus dan kwarsiorkor
 Muntah lama serta keempat tanda utama yakni :
 Batuk dan demam 2 bulan  Terlihat sangat kurus.
 Nafsu makan menurun 2 bulan  Edema.
 Tampak semakin kurus  BB/TB < -3 SD.
 Kedua kaki bengkak  LILA< 11,5 cm
 Pernah serumah dengan penderta TB  Disertai penyulit (anoreksia, infeksi paru, anemia
Pemeriksaan Fisik berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi,
 Tampak cengeng penurunan kesadaran)
 Usia 1 tahun 6 bulan Maka pasien termasuk Gizi buruk (Marasmik-
 BB : 4.700 gram Kwarsiorkor) dengan komplikasi dan harus MRS
 PB : 65 cm
 LK : 43 cm
 LILA 9 cm
 K/L: Tampak anemi, bibir kering tampak lesi, mata tampak dalam, wajah seperti orang tua
 Turgor kulit menurun
 Edema pada ekstremitas inferior. Ekstremitas proksimal lebih kecil daripada distal
 PB menurut usia : <-3 SD
 BB menurut usia : <-3 SD
 BB menurut PB : <-3 SD
Pemeriksaan Penunjang
 Hb : 8.6 g/dL
 Ht : 26.4 %
 GDS : 45 mg/dL
 Albumin : 2.0 g/dL
 Kalium : 1.8 mmol/L
 Kalsium : 6.9 mg/dL
• Penatalaksanaan
Fakta Teori
IGD : - Cari tanda bahaya dan tangani sesuai terapi setiap kondisi Sepuluh langkah utama pada tata
- Bolus D10% 20 cc secepatnya, cek GDS 1 jam laksana gizi buruk
selanjutnya
- IVFD RD5% 280 cc dalam 10 jam
- Pasang NGT
- Diet F75 8x20 cc
- Ampisilin Sulbaktam 125 mg/8 jam/IV
- Zink 1x20 mg
- B. Complex ½ tab, asam folat 1 tab, vitamin C 25 mg/
1x1 pulv
- Metoklopramide 0.7 mg/8 jam/IV
- Albumin 20% 20 cc 1x pemberian
- 3,2 KCL + aquadest 1:1 dalam spuit 20 cc

Ruangan :
- IVFD D5 ¼ NS 280 cc/24 jam
- F50/F75 8x20 cc via NGT
- Asam folat 1 g, B complex ½ tab, vitamin C 25 mg/
pulv 1x1
- Drip KCL 7.4 % maintenance 5 cc/24 jam
- Ampicilin Sulbactam 450 mg/12 jam/IV
- Hydrocortison 1% 2x pemberian
- Ondancentron 1.5 mg/12 jam/IV
- Koreksi Ca Glukonas 5 cc dalam NaCl 0.9% 20 cc
habis dalam 4 jam/syringe pump
- Koreksi Albumin 20% 20 cc dalam 6 jam/syringe
pump
Kesimpulan
Gizi buruk masih merupakan masalah di Indonesia maka diperlukan
kesadaran untuk mengetahui bagaimana mencegah, mendiagnosis dan
mengetahui 10 langkah penatalaksanaan gizi buruk yang telah
dijelaskan di atas. Telah dilaksanakan pemeriksaan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien An. H usia
1 tahun 6 bulan dengan hasil pemeriksaan menyatakan pasien
merupakan pasien gizi buruk dengan suspek TB dan dermatitis.
Menurut penulis alur diagnosis dan pelaksanaan terapi yang dilakukan
di IGD maupun ruangan sudah sesuai dengan tatalaksana seharusnya,
serta kematian yang terjadi pada pasien kemungkinan besar
disebabkan oleh keadaan hipoglikemi dan hipokalemi yang terjadi
sesaat sebelum kematian. Adapun faktor resiko yang berperan pada
pasien ini terdiri dari pola makan, faktor sosial, faktor ekonomi dan
faktor infeksi yang saling berkaitan.
TERIMA KASIh