Anda di halaman 1dari 27

ATLAS ID 342794/ June 2016

DEFINISI

ASMA?

Menurut Global Initiative For Asthma (GINA


2017) asma adalah penyakit yang ditandai dengan
adanya inflamasi kronik saluran napas yang
menimbulkan karakteristik gejala berupa sesak napas,
mengi, dada terasa berat, dan batuk yang timbul
bervariasi dalam hal waktu dan intensitas, disertai
dengan derajat obstruksi yang bervariasi
EPIDEMIOLOGI

• PREVALENSI DI DUNIA : 4 – 5 %
• PREVALENSI DI INDONESIA : 5 – 7 %
• WANITA > LAKI
• USIA : BAYI - BALITA – ANAK – REMAJA – MUDA
– TUA BANGKA – MANULA
• PERKOTAAN > PEDESAAN
The Underlying Mechanism

Risk Factors (for development of asthma)

INFLAMMATION

Airway
Hyperresponsiveness Airflow Limitation

Symptoms- (shortness of
Risk Factors breath, cough, wheeze)
(for exacerbations)
Inflammatory cells
Mediators
Mast cells
Histamines
Eosinophils
Leukotrienes
Th2 cells
Prostanoids
Effects
Basophyls
PAF Bronchospasm
Neutrophils
Kinins Plasma exudation
Platelets
Adenosine Mucus secretion
Structural cells
Endothelins AHR
Epithelial cells
Nitric oxide Structural changes
Smooth muscle cells
Cytokines
Many cells and mediators are involved in asthma and have several
Endothelial cells effects in the airways
Chemokines
(Barnes, 2004)
Fibroblasts
Growth factors
Gejala ASMA: hanya puncak dari
gunung es1
• Batuk
• Sesak napas
GEJALA ASMA
• Mengi (wheezing)
• Dada rasa tertekan

• Bronkokonstriksi
• Edema bronkus
Obstruksi saluran napas • Hiper-sekresi mukus
• Keterlibatan sel-sel inflamasi
– eosinofil, dll
Hiper-responsif bronkus

Inflamasi saluran napas

1. Warner O. Am J Resp Crit Care Med 2003; 167: 1465–1466.


Klasifikasi berdasarkan serangan
FAKTOR PENCETUS
• Debu rumah, debu buku, debu pakaian atau kapok
• Kutu rumah, kotoran kecoak dan tangau
• Bulu-bulu : bulu kucing, B. Anjing dan marmot/kelinci
• Serbuk sari bunga
• Bau-bauan merangsang : parfum, menyengat lainnya
• Makanan yg sensitif
• Cuaca yg berlebihan : terlalu dingin/panas
• Polusi udara, asap pembakaran,asap rokok
• Flu pilek
• Kecapean
• Stres yg berlebihan, euphoria berlebihan
• Kehamilan
• Menstruasi
Classification of Asthma Severity

CLASSIFY SEVERITY
Clinical Features Before Treatment
Nighttime PEF
Symptoms
Symptoms
STEP 4 Continuous
<60% predicted
Severe Limited physical Frequent
Variability >30%
Persistent activity
STEP 3 Daily >60%-<80%
Moderate Use 2-agonist >1 time week predicted
Persistent daily Variability >30%
Attacks affect
STEP 2 activity
>1 time a week >80% predicted
Mild >2 times a month
but <1 time a day Variability 20-
Persistent
30%
STEP 1 < 1 time a week
Asymptomatic >80% predicted
Intermittent <2 times a month
and normal PEF Variability <20%
between attacks

The presence of one of the features of severity is sufficient to place a patient in that
category.
Global Initiative for Asthma (GINA) WHO/NHLBI, 2002
Klasifikasi Asma Menurut GINA 2017
Eksaserbasi Asma

Eksaserbasi asma adalah episode peningkatan


progresif dari sesak napas, batuk, mengi, atau
dada terasa berat dan penurunan progresif dari
fungsi paru

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Tujuan Penatalaksanaan Asma Eksaserbasi
Akut

 Menghilangkan obstruksi secepat mungkin


 Menghilangkan hipoksemia
 Ditujukan untuk menekan inflamasi yang
menjadi penyebab mendasar terjadinya
eksaserbasi
 Mencegah kekambuhan

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Manajemen Asma eksaserbasi akut

PENILAIAN AWAL Apakah salah satu dari berikut ini ada?


A: airway B: breathing C: circulation Mengantuk, kebingungan, Silent chest

TIDAK
YA

Triase lebih lanjut dengan status klinis Konsul ke ICU, mulai SABA dan O2,
berdasarkan pada fitur terburuk dan siapkan pasien untuk intubasi

RINGAN atau SEDANG BERAT


• Bicara dalam kalimat • Bicara kata demi kata
• Lebih senang duduk daripada berbaring • Duduk membungkuk
• Tidak gelisah • Gelisah
• Frekuensi pernapasan meningkat • Frekuensi pernapasan > 30 / menit
• Otot aksesori tidak digunakan • Otot aksesori yang digunakan
• Denyut nadi 100-120 bpm • Denyut nadi > 120 bpm
• Saturasi O2 ( udara kamar ) 90-95 % • Saturasi O2 ( udara kamar ) < 90 %
• PEF > 50 % prediksi atau terbaik • PEF ≤ 50 % prediksi atau terbaik
Beta 2 agonist kerja singkat
Beta 2 agonist kerja singkat Ipratropium bromida
Pertimbangkan ipratropium bromida Kendalikan O2 untuk mempertahankan saturasi 93–95%
Kendalikan O2 untuk mempertahankan (anak 94-98%)
saturasi 93–95% (anak 94-98%) Kortikosteroid oral atau IV
Kortikosterioid oral Pertimbangkan magnesium IV
Pertimbangkan ICS dosis tinggi

Jika terus memburuk, obati dengan


kriteria berat dan nilai ulang untuk ke ICU

NILAI KEMAJUAN KLINIS SECARA SERING


UKUR FUNGSI PARU
Pada semua pasien 1 jam sesudah pengobatan awal

FEV1 atau PEF < 60%


FEV 1 atau PEF 60-80% Atau kurangnya respon klinis
Dan ada perbaikan gejala BERAT
SEDANG Lanjutkan perawatan seperti di
Pertimbangkan untuk dipulangkan atas dan lakukan penilaian ulang
secara sering

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Manajemen Asma eksaserbasi akut

PENILAIAN AWAL Apakah salah satu dari berikut ini ada?


Mengantuk,, kebingungan, Silent chest
A: airway B: breathing C: circulation

TIDAK
YA

Triase lebih lanjut dengan status Konsul ke ICU, mulai SABA dan O2,
klinis berdasarkan pada fitur dan siapkan pasien untuk intubasi
terburuk

RINGAN atau SEDANG BERAT


 Bicara dalam kalimat  Bicara dalam kata
 Lebih suka duduk daripada berbaring  Duduk membungkuk
 Tidak gelisah  Gelisah
 Frekuensi pernapasan meningkat  Frekuensi pernapasan > 30 /
 Otot aksesori tidak digunakan menit
 Denyut nadi 100-120 bpm  Otot aksesori yang digunakan
 O2 saturasi ( udara kamar ) 90-95 %  Denyut nadi > 120 bpm
 PEF > 50 % prediksi atau terbaik  O2 saturasi ( on air ) < 90 %
 PEF ≤50 % prediksi atau terbaik

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Manajemen Asma eksaserbasi akut

Beta 2 agonist kerja singkat Beta 2 agonist kerja singkat


Pertimbangkan ipratropium bromida Ipratropium bromida
Kendalikan O2 untuk Kendalikan O2 untuk mempertahankan
mempertahankan saturasi 93–95% saturasi 93–95% (anak 94-98%)
(anak 94-98%) Kortikosteroid oral atau IV
Pertimbangkan magnesium IV
Kortikosterioid oral
Pertimbangkan ICS dosis tinggi

Jika terus memburuk, obati dengan


kriteria berat dan nilai ulang untuk ke ICU

NILAI KEMAJUAN KLINIS SECARA SERING


UKUR FUNGSI PARU
pada semua pasien 1 jam sesudah pengobatan awal

FEV 1 atau PEF 60-80% FEV1 atau PEF < 60%


Atau kurangnya respon klinis
Dan ada perbaikan gejala BERAT
SEDANG Lanjutkan perawatan seperti di atas
Pertimbangkan untuk dipulangkan dan lakukan penilaian ulang secara
sering

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Penatalaksanaan asma eks.akut

Terapi berikut ini biasanya diberikan bersamaan untuk


mencapai perbaikan secara cepat :

Oksigen
Untuk mencapai saturasi O2 93-95% (94-98% pada anak
usia 6-11 tahun) oksigen diberikan dengan nasal kanul
atau masker.

Inhalasi SABA
Terapi SABA inhalasi diberikan secara berulang kali pada
pasien asma akut ( 3 kali berturut-turut satu jam
pertama)
SABA: Short Acting Beta 2 Agonist
Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Terapi pada perawatan asma eks.akut
Terapi diberikan bersamaan untuk mencapai perbaikan
secara cepat :
Steroid sistemik, penting diberikan jika:
 Pengobatan awal dengan SABA tidak memberikan perbaikan
gejala
 Eksaserbasi terjadi pada pasien yang sedang menggunakan
oral kortikosteroid
 Pasien sebelumnya mempunyai riwayat eksaserbasi yang
memerlukan oral kortikosteroid

Inhalasi Kortikosteroid
ICS dosis tinggi yang diberikan pada satu jam pertama akan
mengurangi kebutuhan rawat inap pada pasien-pasien yang
tidak menerima kortikosteriod sistemik (Evidence A).
Secara keseluruhan ICS ditoleransi dengan baik.
SABA: Short Acting Beta 2 Agonist ; ICS : Inhalasi Kortikosteroid
Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
 Aminofilin : bolus 5 – 8 tmg/BB dan diikuti dg
drip. 0,5 – 0.8 mg/kgbb / jam.
 Mukolitik
 Antibiotika atas indikasi yg jelas.
 Tidak dianjurkan pemberian sedatif

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Evaluasi Respon

 Lakukan penilaian ulang untuk status klinis dan saturasi


oksigen, dan berikan terapi lanjutan sesuai respon
pasien

 Ukur fungsi paru setelah 1 jam, dg Peak flow meter


yaitu sesudah pemberian bronkodilator 3 kali berturut-
turut, bila perburukan meskipun sudah diberikan
bronkodilator dan kortikosteriod secara intensif maka
evaluasi ulang untuk dikirimkan ke ICU.

ICU : Intensive Care Unit

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Manajemen pasien pulang setelah rawat inap
atau dari unit gawat darurat karena asma

Pengobatan
• Oral Kortikosteroid
• Pelega
• Inhalasi Kortikosteroid: mulai berikan ICS bagi pasien
yang belum pernah diberikan ICS, atau tingkatkan dosis
untuk pasien yang sebelumnya sudah pernah
mendapatkan ICS selama 2-4 minggu, dan seharusnya
diingatkan pentingnya kepatuhan pasien pada
penggunaan harian ICS.

ICS : Inhalasi Kortikosteroid

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Peranan Inhalasi Kortikosteroid (ICS)
pada Asma Akut

1. Kortikosteroid inhalasi lebih aman dibandingkan


dengan steroid sistemik
2. Steroid sistemik membutuhkan waktu 4 s/d 24
jam untuk mendapatkan efek peningkatan nilai
faal paru dan mengurangi angka perawatan
3. Kortikosteroid inhalasi (ICS) hanya
membutuhkan waktu 1 s/d 2 jam bila diberikan
dosis multipel dengan interval waktu ≤ 30 menit
selama 90 s/d 120 menit

Rodrigo GJ. CHEST 2006;130:1301-1311


Simpulan

1. Eksaserbasi terjadi karena faktor pencetus & derajat


serangan bervariasi dari ringan sampai mengancam
jiwa
2. Pengobatan eksaserbasi akut adalah pemberian
oksigen, bronkodilator, kortikosteroid dan aminofi;in
3. Kortikosteroid mempercepat penyembuhan, mencegah
kematian dan mengurangi angka kekambuhan
4. Kortikosteroid sistemik memiliki risiko efek samping
yang serius seperti efek samping metabolik
5. ICS dapat mengurangi efek sistemik karena langsung
masuk ke saluran napas sehingga dapat mencegah
timbulnya efek sistemik yang tidak diinginkan
Simpulan

 Flixotide Respules® memperbaiki nilai PEF, FEV1 dan skor


gejala harian sama baiknya dengan Kortikosteroid sistemik
 Flixotide Respules® sama efektifnya dengan
Glukokortikosteroid (GCS) lainnya untuk mencegah
kekambuhan asma
TERIMA KASIH
Semoga
Bermanfaat bagi kita