Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

Hospital Acquired Pneumonia dan


Ventilator Acquired Pneumonia
Oleh:
Maimunah Faizin 6120018029

KEPANITERAAN SMF INTERNA-PULMO


RSI JEMURSARI SURABAYA
EPIDEMIOLOGI

• Hospital-acquired pneumonia (HAP) merupakan penyebab paling


umum kedua dari infeksi diantara pasien di Rumah Sakit, dan sebagai
penyebab utama kematian karena infeksi (mortalitas-rate sekitar 30-
70%), dan diperkirakan 27-50% berhubungan langsung dengan
pneumonia.
Definisi - etiologi
• Hospital-acquired pneumonia (HAP) adalah suatu pneumonia yang
terjadi 48 jam atau lebih setelah pasien masuk rumah sakit, dan tidak
dalam masa inkubasi atau diluar suatu infeksi yang ada saat masuk
rumah sakit.
• Streptococcus pneumonia, Staphylococcus aureus (MSSA dan MRSA),
Pseudomonas aeruginosa, Gram negatif batang yang tidak
memproduksi ESBL dan yang memproduksi ESBL (Enterobacter sp.,
Escherichi coli, Klebsiella pneumonia)
• Pneumonia Terkait Ventilator/ Ventilator Associated Pneumonia (VAP)
merupakan inflamasi parenkim paru yang disebabkan oleh infeksi
kuman yang mengalami inkubasi saat penderita mendapat ventilasi
mekanis.
• VAP didefinisikan sebagai pneumonia yang muncul lebih dari 48 jam
setelah intubasi endotrakeal dan inisiasi ventilasi mekanis.
• VAP dibagi menjadi onset dini (early onset) yang terjadi dalam 96 jam
pertama pemberian ventilasi mekanis dan onset lambat (late onset)
yang terjadi lebih dari 96 jam setelah pemberian ventilasi mekanis.
Patogen Frekuensi (%)
Pseudomonas aeruginosa 24,4

Acinetobacter spp 7,9


Stenotrophomonas maltophilia 1,7
Enterobacteriaceae 14,1
Haemophilus spp 9,8
Staphylococcus aureus 20,4
Streptococcus spp 8,0
Streptococcus pneumonia 4,1
Coagulase-negatif staphylococci 1,4
Neisseria spp 2,6
Anaerob 0,9
Jamur 0,9
Lain-lain 3,8
Faktor risiko pada pneumonia nosokomial
Gangguan pertahanan host / Tingkatkan Pertumbuhan berlebih dari organisme yang
aspirasi ganas

Endotracheal tube Penggunaan antibiotik dalam waktu lama

Posisi terlentang Iatrogenik (cuci tangan yang tidak memadai)

Gangguan status mental Saluran vena sentral

tabung nasogastrik Sering dirawat di rumah sakit, tinggal di


rumah sakit dalam waktu lama

Sedasi Peralatan pernapasan yang terkontaminasi

Administrasi H2 antagonis atau protein


reseptor inhibitor pompa
Patofisiologi
1. Zona luar : alveoli yang terisi dengan bakteri dan cairan edema. (
Kongestif )
2. Zona permulaan konsolidasi : terdiri dari PMN dan beberapa eksudasi
sel darah merah. ( Red Hepatization )
3. Zona konsolidasi yang luas : daerah tempat terjadi fagositosis yang
aktif dengan jumlah PMN yang banyak. (Grey Hepatization)
4. Zona resolusi : daerah tempat terjadi resolusi dengan banyak bakteri
yang mati, leukosit dan alveolar makrofag. (Resolution)

Red hepatization ialah daerah perifer yang terdapat edema dan


perdarahan 'Gray hepatization' ialah konsolidasi yang luas.
Manifestasi klinis
• Demam, menggigil, berkeringat, batuk (produktif, atau non produktif,
atau produksi sputum yang berlendir dan purulent), sakit dada karena
pleuritis dan sesak.
• Sering berbaring pada posisi yang sakit dengan lutut bertekuk karena
nyeri dada.
Diagnosis
1. Gambaran klinis
a. Anamnesis : Demam, batuk dengan dahak mukoid atau purulen
kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.
b. Pemeriksaan fisik
Temuan pemeriksaan fisik dada tergantung dari luas lesi di paru.
Pada inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu
bernapas, palpasi fremitus dapat mengeras, perkusi redup, auskultasi
terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin
disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar
pada stadium resolusi.
Diagnosis
• Pemeriksaan laboratorium
• Peningkatan jumlah leukosit, biasanya >10.000/ul kadang-kadang mencapai
30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta
terjadi peningkatan LED
• Pemeriksaan mikrobiologis.
• Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi
jarum transtorakal, torakoentesis, bronkoskopi, atau biopsy.
• Pemeriksaan hapus Gram, Burri Gin, Quellung test dan Z. Nielsen.
• Titer antibody
Gambaran radiologi
Tatalaksana
1. Antibiotik
Pemberian antibiotik pada penderita pneumonia sebaiknya
berdasarkan data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya, akan
tetapi karena beberapa alasan yaitu :
a. Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
b. Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai
penyebab pneumonia.
c. Hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu maka pada penderita
pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris
2. Suportif
Suportif
• O2 untuk mencapai PaO2 80-100 mmHg atau saturasi 95-96%
• Humidifikasi dengan nebulizer
• Pemberian cairan
• Pemberian kortikosteroid
• Obat inotropik seperti dobutamin atau dopamin * bila terdapat
komplikasi gangguan sirkulasi atau gagal ginjal prerenal.
Prognosis
• Angka mortalitas PN dapat mencapai 33-50%, yang bisa mencapai
70% bila temasuk yang meninggal akibat penyakit dasar yang
dideritanya. Penyebab kematian biasanya adalah akibat bakteriemi
terutama oleh Ps. Aeruginosa atau Acinobacter spp.
Komplikasi
• Endocarditis
• Pericarditis
• Empyema
• Acute respiratory distress syndrome (ARDS)