Anda di halaman 1dari 47

Prosedur

Pembuatan Sediaan
Sitologi

29 Juni 2019
MATERI PEMBELAJARAN
• Teknik dasar pembuatan pap-smear (sediaan sitologi
servikovaginal)
• Sitologi hormonal
• Pemeriksaan sitologi dahak
• Pengumpulan bahan & pemrosesan sitologi urin
• Sitologi cairan puting susu
• Sitologi efusi
• Pembuatan sediaan sitologi cairan pleura, cairan peritonium
& cairan perikardium

LGH 2019
CAPAIAN PEMBELAJARAN
• Menjelaskan teknik dasar pembuatan pap-smear (sediaan
sitologi servikovaginal)
• Menjelaskan teknik dasar pemeriksaan sitologi hormonal
• Menjelaskan teknik dasar pemeriksaan sitologi dahak
• Menjelaskan teknik dasar pemeriksaan sitologi urin
• Menjelaskan teknik dasar pemeriksaan sitologi cairan puting
susu
• Menjelaskan teknik dasar pemeriksaan sitologi efusi
• Menjelaskan teknik dasar pemeriksaan sitologi cairan pleura,
cairan peritonium & cairan perikardium

LGH 2019
Teknik Dasar Pembuatan
Pap-smear
(Sediaan Sitologi Servikovaginal)

LGH 2019
Tujuan Pemeriksaan
Tujuan utama:
 Menemukan sel-sel kanker dalam pre Ca & Ca insitu.

Tujuan umum:
Memeriksa apakah sel-sel mulut rahim:
 Normal atau tidak
 Jenis kelainan, radang atau keganasan
 Derajat kelainan
 Evaluasi hormonal

Kecuali melihat gambaran sel-selnya, pemeriksaan sitologi sekaligus


juga dapat memberikan informasi mengenai penyebab radang
(kuman, jamur, parasit).
Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum
Pengambilan Sampel
1. Isilah formulir permintaan pemeriksaan sitologi dengan lengkap. Nama
lengkap pasien, nama suami, tanggal lahir, riwayat persalinan, riwayat haid,
pemakaian kontrasepsi, gambaran klinik serviks, diagnosis klinik, dll.
2. Tandai kaca objek dengan baik agar tidak keliru dengan sediaan apus lain.
3. Tidak melakukan tindakan apapun sebelum mengambil bahan untuk
sediaan apus, mis. melakukan pemeriksaan dalam, jangan membersihkan
permukaan mulut rahim dengan bahan antiseptik, kapas, kasa, dll karena
membersihkan mulut rahim akan menghilangkan lendir endoserviks yang
kaya akan sel-sel yang melekat padanya.
4. Tidak membubuhkan bahan pelicin pada spekulum (vaselin, dll)
5. Paling sedikit H-2 pengambilan sediaan apus, pasien tidak boleh
menggunakan obat-obat lokal (supositoria vagina, dll).
6. Sediaan apus sebaiknya tidak diambil ketika haid karena sediaan apus akan
tercemar oleh darah & jaringan nekrotik. Saat yang paling baik adalah
pertengahan antara dua masa haid, lebih kurang menjelang ovulasi.
7. Bila menggunakan sarung tangan, serbuk talk harus dibersihkan dahulu
sebelum menyentuh pasien.
Alat & Bahan

 Spekulum kering
 Spatula Ayre (dari kayu atau plastik)
 Cytobrush
 Kaca objek & penutupnya
 Cairan fiksasi (alkohol 95%)
 Pensil 2B untuk menulis nama pasien atau memberi tanda
pada kaca objek
Cara Pengambilan Sampel & Pembuatan
Sediaan Pap-smear
1. Pasien ditidurkan telentang atau miring dengan kedua lutut ditekuk
(litotomi).
2. Spekulum (dalam keadaan tertutup) dimasukkan dengan hati-hati ke liang
vagina, kemudian spekulum dibuka sehingga terlihat mulut rahim.
3. Ujung spatula Ayre yang berlekuk dimasukkan ke dalam lubang mulut
rahim sedalam mungkin dan kemudian diputar 360 derajat. Spesimen yang
diperoleh di spatula diapuskan merata pada kaca objek yang telah diberi
nomor atau nama pasien.
4. Masukkan segera apusan ke dalam cairan fiksasi alkohol 95%.
5. Bila sediaan apus akan dikirim ke lab sitologi/P.A, sediaan direndam di
dalam cairan fiksasi sedikitnya 30 menit, keluarkan & keringkan di udara
terbuka.
6. Sediaan yang telah dikeringkan kemudian dikemas & dikirim ke lab
sitologi/P.A untuk diperiksa.
7. Pada wanita menopause, beberapa tetes sekret dari puncak vagina dapat
diapuskan pada kaca objek kedua untuk deteksi kelainan endometrium.
Cara Membuat Apusan yang Baik

 Meng-apuskan bahan sitologi sebaiknya dilakukan dengan


gerakan searah dari tengah ke arah luar.
 Apusan yang dilakukan melingkar/zig-zag biasanya akan
memberikan jumlah sel yang lebih sedikit & memberikan
kemungkinan pengeringan oleh udara yang lebih besar.
Hal-hal yang perlu diingat !!!

 Sediaan apus dapat direndam dalam cairan fiksasi sampai


+15 menit sebelum dilakukan pewarnaan.
 Sediaan apus jangan direndam dalam cairan fiksasi > 1
minggu karena akan terjadi distorsi sel.
 Bila mukosa atrofik, kaca objek & spatula sebaiknya
dibasahi dahulu dengan larutan garam fisiologis (NaCl).
 Bila karena sesuatu hal sediaan apus mengering, dapat
dilakukan rehidrasi dengan mengguyur dengan air ledeng
selama beberapa saat sebelum dilakukan fiksasi.
Kesalahan yang sering terjadi

 Sediaan apus terlalu tipis, hanya mengandung sangat


sedikit sel.
 Sediaan apus terlampau tebal & tidak dioleskan merata,
sel bertumpuk-tumpuk sehingga menyulitkan
pemeriksaan.
 Sediaan apus telah kering sebelum difiksasi (terlalu lama
diluar, tidak segera direndam di dalam cairan fiksasi).
 Cairan fiksasi salah atau terlampau encer.
 Sediaan apus hanya terdiri atas lendir, sel-sel radang atau
tercampur banyak darah.
 Menggunakan kaca objek yang tidak bersih (bekas pakai,
terkena debu).
Cara kemasan & pengiriman sediaan apus Pap-smear

 Sediaan apus yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam


kotak pengiriman & dikirimkan bersama-sama formulir
permintaan pemeriksaan pap-smear yang telah diisi
selengkapnya.
 Untuk menghindari perlekatan satu sama lain, dapat
digunakan penjepit kertas (clipper) yang dijepitkan pada
salah satu ujung kaca objek.
 Bila tempat pengiriman berdekatan, sediaan dapat dikirim
dalam keadaan terendam cairan fiksasi alkohol 95%.
Laporan Hasil Pemeriksaan Sitologi

Laporan hasil pemeriksaan sitologi servikovaginal akan memuat


data-data mengenai:
1. Keadaan sel epitel serviks.
Sel epitel normal adalah sel epitel skuamosa (epitel pipih
berlapis), sel metaplastik & sel epitel torak (sel endoserviks).
2. Ada radang atau tidak, yang digambarkan dengan jumlah sel
radang atau leukosit yang tampak pada sediaan apus. Dalam
keadaan normal sel leukosit (neutrofil) selalu ada namun tidak
terlampau banyak.
3. Mikroorganisme yang tampak, yang mungkin menjadi penyebab
peradangan mis. bakteri kokoid, basil bentuk batang, bakteri
campuran, jamur Candida albicans/Monilia, T. vaginalis atau
perubahan epitel akibat infeksi virus (HSV, HPV).
Sitologi
Hormonal

LGH 2019
Indikasi Evaluasi Sitohormonal

1. Menilai fungsi ovarium sudah: histerektomi, ada gangguan


siklus haid, pada haid prematur (pada anak-anak).
2. Menilai adanya produksi hormon yang abnormal.
 Sebelum, selama & sesudah kehamilan (pemeriksaan
fertilitas, ancaman abortus, ada sisa plasenta, mola
hidatidosa).
 Mengetahui adanya tumor yang menghasilkan hormon.
 Berbagai kelainan endokrin.
3. Menilai & memantau terapi hormonal.
Cara pengambilan

1. Isilah data klinik pasien dengan lengkap: umur, riwayat


haid, haid terakhir, adanya kelainan haid, terapi hormonal
(termasuk pemakaian pil KB). Tindakan pembedahan:
histerektomi dengan/tanpa oophorectomy atau kastrasi
dengan penyinaran.
2. Pasien diperlakukan seperti pada pemeriksaan pap-smear.
3. Sediaan diambil hanya dari dinding bagian tepi kanan/kiri
vagina sepertiga atas dengan spatula Ayre yang
runcing/seperti sendok.
Penyulit pada evaluasi hormonal

 Peradangan → dapat menambah pematangan sel-sel epitel


vagina. Sel-sel radang yang padat dapat menutupi struktur sel.
Juga dapat menimbulkan perubahan-perubahan degeneratif
pada sel.
 Erosi → bila ada erosi epitel serviks, maka sel-sel
basal/parabasal yang biasanya terletak didalam akan terpapar
dipermukaan & dapat memberikan gambaran epitel yang
atrofik palsu.
 Fiksasi salah → apusan mengering sebelum fiksasi. Apusan
terlampau tebal.
 Sitolisis → sitolisis menyebabkan sitoplasma menghilang,
meninggalkan inti yang telanjang.
Pemeriksaan
Sitologi Dahak

LGH 2019
Pendahuluan

Pemeriksaan sitologi dahak:


 Salah satu upaya yang tidak beresiko untuk menilai
kemungkinan kanker paru.
 Dapat mengevaluasi sel-sel epitel yang terlepas dari
bronkus & bercampur sekret.
Mutu Dahak

 Faktor utama yang penting → MUTU DAHAK


 Dahak yang lengkap→ harus mengandung makrofag
alveolus & lebih baik lagi jika mengandung pula banyak sel
epitel toraks.
 Dahak yang baik → diperoleh dengan batuk dalam
(diperkirakan berasal dari saluran napas bawah berukuran
kecil).
Cara pengumpulan dahak (untuk pasien)

 Pasien yang sukar mengeluarkan dahak → butuh teknik


perangsang batuk dengan menggunakan inhalasi uap atau
nebulizer.
 Inhalasi uap dapat menggunakan beberapa jenis cairan
antara lain air garam (NaCl) 3% dengan suhu 37oC. Setelah
menghirup gas ~20 menit, biasanya pasien mampu
menghasilkan dahak yang memadai. Agar dahak mudah
dikeluarkan, pasien dapat diberikan pengencer dahak &
ekspektoran.
 Pengumpulan dahak dapat dilakukan secara serial selama
3/5 hari berturut-turut.
Cara pengumpulan dahak (untuk pasien)

1. Dahak dikumpulkan pagi hari, sebelum makan & minum.


2. Sebelum mengeluarkan dahak, bersihkan mulut
(berkumur), jangan menggosok gigi.
3. Menarik napas dalam beberapa kali, lalu batuk yang keras
dan dalam.
4. Dahak dikeluarkan & ditampung dalam wadah plastik
bersih.
5. Sampel dahak segera dibawa ke lab P.A.
Pembuatan sediaan sitologi dahak

1. Pilih dahak yang tampak kotor dan mengandung darah.


2. Ambil dahak bagian tersebut dengan pinset dan letakkan
di atas gelas objek.
3. Apuskan tetesan dahak secara merata dengan
menggesekkan gelas objek lain.
4. Masukkan segera apusan tersebut ke dalam larutan fiksasi
alkohol 96% selama 30 menit.
5. Sediaan apus dapat dikirim ke lab P.A untuk diproses
selanjutnya.
Pengumpulan Bahan
& Pemrosesan
Sitologi urin

LGH 2019
Pemeriksaan Sitologi urin

 Tujuan pemeriksaan → menegakkan diagnosis tumor atau


pemantauan pasien yang pernah mengidap tumor.
 Untuk menegakkan diagnosis optimal dapat dilakukan
pemeriksaan 3 hari berturut-turut.
 Pemeriksaan urin dapat dilakukan setelah pemeriksaan
sistoskopi karena sebagian jenis neoplasma yang tidak
menunjukkan pertumbuhan (berbentuk datar) sulit
dideteksi dengan sistoskopi.
Pemilihan Sampel Urin

 Keuntungan urin mikstur → mudah diperiksa & bahan


pemeriksaan dapat diambil berulang tanpa tindakan
invasif.
 Pada pasien ♀ → perlu dipertimbangkan kontaminasi yang
berasal dari saluran keluar urin.
 Pada pasien ♂ dengan obstruksi saluran kemih (terutama
yang berusia lanjut) → dapat memiliki residu dalam
jumlah banyak. Sebagian besar sel dalam keadaan
degeneratif lanjut karena kontak yang lama dengan urin.
Pemilihan Sampel Urin

 Sel yang terlepas ke dalam urin mengalami lingkungan


yang destruktif → proses degeneratif segera berlangsung,
mengakibatkan perubahan menjadi sel yang tidak
representatif mewakili kondisi dalam jaringan.
 Bahan pemeriksaan urin pertama di pagi hari telah berada
dalam kandung kemih selama beberapa jam → sel telah
terpapar efek perusakan selama beberapa jam.
 Urin yang dipilih → urin yang berjumlah sedikit pada saat
tertentu, + 3 jam setelah pembuangan urin sebelumnya.
Bahan pemeriksaan yang diperoleh dengan kateter

 Prosedur invasif
 Biasanya hanya diambil pada keadaan tertentu.
 Kontaminasi sel dari tempat lain dapat dihindari.
 Dapat mengakibatkan perubahan bentuk sel yang
menyulitkan penafsiran.
 Prosedur dapat dilakukan jika tersangka keganasan
berasal dari lokasi letak tinggi, mis. tumor ginjal.
Cara pengumpulan urin (untuk pasien)

 Pasien diminta mengosongkan kandung kemih.


 Pasien diminta untuk minum air putih + 1-2 gelas.
 Pasien diminta untuk melakukan exercise + 30 menit.
 Kumpulkan urin setelah exercise.
 Kirim segera ke lab P.A.
Pengiriman spesimen

 Jika pengiriman segera sulit dilakukan → spesimen


diproses terlebih dahulu dengan sentrifugasi (lebih baik
lagi jika dilakukan dengan alat khusus Cytospin™).
 Dalam keadaan sangat terpaksa → spesimen urin dapat
dicampur EtOH 70% = 1 (urin) : 2 (EtOH 70%). TETAPI, bila
telah melampaui 8 jam, mutu sediaan sitologi tidak
terjamin lagi.
Sitologi Cairan
Puting Susu

LGH 2019
Pendahuluan

 Selain pada masa kehamilan akhir atau laktasi, cairan


(discharge) puting harus dianggap abnormal.
 Penyebab → sumbatan duktus atau suatu pertumbuhan,
terkadang ada kelainan endokrinopati (mis. galaktorea).
 Dari puting susu dapat keluar cairan secara spontan →
cairan dapat bercampur darah (sero-sanguinosa),
bercampur nanah/purulen, bening/serosa atau dengan
campuran susu.
Cairan puting bercampur darah

 Lesi yang mengandung sel tumor paling sering ditemukan


pada cairan bercampur darah.
 Kanker yang paling sering menyertai → karsinoma papiler
& penyakit Paget’s yang disertai karsinoma duktal.
 Lesi jinak dapat pula menyertai cairan puting yang
bercampur darah.
Pengumpulan bahan & pemrosesan

 Pada pasien tanpa gejala → penghisapan cairan melalui


puting membutuhkan alat khusus dengan sistem vakum
ganda (Sartorius).
 Cairan puting dapat diperoleh dari ½ sampel subjek
pemeriksaan, tetapi cara ini tidak efisien untuk
pemeriksaan skrining karena sel kanker yang terlepas ke
dalam saluran lebih jarang terjadi & dapat rusak selama
perjalanan ke muara duktus besar.
Pengumpulan bahan & pemrosesan

 Pada pasien dengan keluhan → pengeluaran cairan puting


susu spontan dilakukan pemijatan payudara untuk
mendorong cairan dari lobulus ke puting.
 Cairan yang keluar diupayakan diteteskan langsung ke
kaca objek agar hanya sedikit bercampur epitel kulit
puting → segera dibuat apusan & dimasukkan ke cairan
fiksatif.
 Jika cairan dalam jumlah banyak → sentrifugasi.
Sitologi
Efusi

LGH 2019
Pendahuluan

 Sitologi efusi → pemeriksaan bahan cairan abnormal yang


berasal dari berbagai rongga tubuh.
 Cairan yang terbanyak → efusi pleura & ascites.
 Bahan efusi:
1. Transudat → cairan dengan BJ rendah (< 1,010), hanya
mengandung sedikit protein & sel.
2. Eksudat → → efusi dengan BJ tinggi (> 1,010) dan
mengandung banyak protein & sel.
Transudat

 Produksi transudat disebabkan oleh perubahan tekanan


osmotik → menyebabkan filtrasi serum melalui dinding
kapiler yang utuh.
 Cairan transudat hanya mengandung sedikit sel mesotel
yang tersebar.
 Transudat yang berlangsung lama dapat pula
menunjukkan peningkatan populasi sel mesotel.
Eksudat

 Eksudat dihasilkan oleh peristiwa yang mengakibatkan


kerusakan dinding kapiler → terjadi karena proses radang
atau destruksi oleh kanker.
 Cairan eksudat mengandung populasi yang memiliki sel
dalam jumlah banyak → komposisi campuran sel ini sering
mengundang kesulitan penafsiran.
Pengumpulan bahan

 Pengumpulan cairan efusi dalam bentuk segar


memudahkan pemrosesan.
 Jika terjadi penundaan → cairan dapat disimpan beberapa
jam dalam pendingin 8-10oC.
 Jika penundaan lama → dapat dicampur etil alkohol 50%
sama banyak.
Pembuatan Sediaan
Sitologi Cairan Pleura,
Cairan Peritonium &
Cairan Perikardium

LGH 2019
Langkah persiapan
1. Pakailah spesimen yang tidak di fiksasi & tidak diberi antikoagulan.
2. Keluarkan semua bekuan & serpihan-serpihan, lalu tiriskan
seluruh cairannya dengan sedikit menekan sehingga yang tersisa
hanya massa kecil yang padat.
3. Rendam bekuan yang sudah ditiriskan tersebut ke dalam formalin
10% di dalam gelas petri.
4. Potong-potong menjadi potongan kecil & diproses seperti yang
biasa dilakukan pada jaringan.
5. Fiksasi selama 30 menit.
6. Sisa cairan dikocok agar sel-sel tersebar merata.
7. Tuangkan ke dalam tabung (untuk disentrifugasi) tidak lebih dari
100 ml.
8. Sentrifugasi 2000 rpm, 10 menit.
9. Buang supernatan (cairan yang jernih).
Teknik apusan basah

1. Siapkan larutan pewarna toluidine-blue untuk mewarnai


sediaan apusan basah.
2. Dengan colokan kawat yang ujungnya melingkar (seperti
yang digunakan di Mikrobiologi), ambil setetes sedimen
(endapan) bagian permukaan lalu letakkan di bagian tengah
kaca objek.
3. Teteskan sedikit pewarna toluidine-blue di sebelah tetesan
sedimen.
4. Campurkan kedua tetesan dengan colokan kawat.
5. Tutup dengan kaca penutup.
Sediaan apus untuk pewarnaan Papanicolaou

1. Ambil 1-2 tetes sedimen dari lapisan yang paling atas.


2. Letakkan tetesan sedimen pada kaca objek.
3. Dengan menggunakan colokan, tetesan sedimen segera
diratakan di atas kaca objek dengan gerakan memanjang
(longitudinal) atau gerakan zig zag.
4. Masukkan segera sediaan apus ke dalam cairan fiksasi
(jika tidak dimasukkan segera, akan timbul gambaran
bergaris-garis pada bahan apusan).
Teknik pembuatan blok sel

Setelah dibuat sediaan apus basah & sediaan apus untuk


pewarnaan Papanicolaou, sisa sedimen dibuat blok sel.
1. Tambahkan 3-4 tetes plasma ke dalam sedimen, lalu
campurkan (dapat menggunakan plasma yang sudah
kadaluarsa dari Bank darah).
2. Tambahkan 3-4 tetes larutan trombin ke dalam sedimen, lalu
campurkan.
3. Biarkan campuran membeku.
4. Tambahkan 10% formalin berwarna untuk melepaskan bekuan.
5. Tuangkan bekuan & formalin ke gelas petri.
6. Potong-potong bekuan, lalu proses seperti memproses
jaringan.
Formalin berwarna

 Formalin yang dipakai untuk fiksasi blok sel harus diwarnai merah
muda atau jingga → ditambahkan sedikit larutan eosin (seperti
yang digunakan pada pewarnaan HE.
 Penambahan eosin ke dalam formalin tidak akan mengganggu
gambaran sediaan histopatologi.
 Bekuan yang di fiksasi dalam formalin berwarna akan menyerap
warna eosin sehingga dalam blok parafin warnanya akan tampak
kontras dengan parafin disekitarnya → memudahkan teknisi lab
P.A. untuk memutuskan mulai dari mana potongan akan
dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Halimun WA, Hamdani C, Endardjo S. Petunjuk Praktis: Cara


Pembuatan Sediaan Sitologi. Jakarta: Departemen Patologi
Anatomi FKUI; 1998.

LGH 2019

Anda mungkin juga menyukai