Anda di halaman 1dari 42

CRS GLAUKOMA AKUT OS

Disusun oleh :

Dena Paramita Rustandi (4151414161)


Amah Salamah (4151151471)
Irman Adhika (4151141438)
Triandita Reviani (4151151001)

Pembimbing:
Dr. Diantinia., Sp.M
• Identitas Pasien
• Nama Pasien : Tn. D
• Jenis kelamin : L
• Usia : 59 Tahun
• Pekerjaan : Buruh
• Alamat : Kp.Cigentur RT 02 RW 17
Kec. Banjaran Kab. Bandung
• Pasien datang dengan keluhan penglihatan buram pada
mata kiri sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan penglihatan
buram dirasakan berangsur-angsur semakin lama
semakin buruk sejak 1 bulan yang lalu. Pasien merasakan
sejak 3 minggu yang lalu penglihatan kedua matanya
menjadi gelap, sehingga aktivitas sehari-harinya
terganggu. Keluhan disertai dengan mata merah sejak 3
hari yang lalu. Keluhan mata buram tidak disertai dengan
nyeri hebat dan penglihatan seperti melihat pelangi saat
melihat lampu. Pasien juga menyangkal adanya keluhan
mual dan muntah. Riwayat trauma pada mata disangkal.
• Penglihatan buram dirasakan seperti terhalang
oleh asap atau kabut berwarna putih tidak
ada. Penglihatan buram ini disertai
penglihatan sering silau sehingga lebih
nyaman melihat di tempat yang redup.
Keluhan mata buram tidak menjadi lebih jelas
dengan memicingkan mata. Keluhan mata
buram tidak disertai mata merah, nyeri
ataupun banyak mengeluarkan air mata.
• Keluhan tidak disertai bengkak pada kelopak mata. Keluhan tidak disertai
nyeri dan mata menonjol. Keluhan tidak disertai silau bila melihat cahaya.
• Pasien memiliki riwayat penyakit kencing manis sejak 10 tahun yang lalu,
dengan GDS terakhir 200. Pasien memiliki riwayat penyakit darah tinggi
yang sudah lama lebih dari 10 tahun yang lalu. Pasien tidak sedang
menggunakan obat tetes mata dalam jangka lama. Riwayat operasi mata
sebelumnya tidak ada.
• Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini dan pasien
sebelumnya belum pernah mengobati keluhannya.
• Pemeriksaan fisik
• Kesadaran : Composmentis
• Tekanan Darah : 170/100 mmHg
• Status oftalmikus :
• VOD : 6/12, PH 6/9
• VOS :0
• Konjungtiva bulbi OS: injeksi siler
• COA OS: dangkal
• Reflex pupil OS: -/+
• TIO : dextra : meningkat
• Sinistra : 50,6
• Usul Pemeriksaan
• - Funduskopi
• - pemeriksaan slit lamp
• - konsul penyakit dalam
• Diagnosis Kerja
• Glaukoma akut OS
Terapi
• Farmakologis:
• Timolol maleat 0.50 % 1 kali tetes sehari
• Asetazolamide 4 kali 250 mg perhari
• Pilokarpin 2 % 3 kali tetes sehari.
• Epinefrin 0,25-2% 1 hingga 2 kali sehari
• Memakai kaca mata baca
• Kontrol TIO setiap bulan
• Prognosis
• Quo ad vitam : ad bonam Quo ad
functionam : ad malam
TINJAUAN PUSTAKA GLAUKOMA
Definisi
Glaukoma merupakan suatu neuropati optik
yang ditandai dengan pencekungan “cupping”
diskus optikus dan penyempitan lapang
pandang yang disertai dengan peningkatan
tekanan intraokuler.
EPIDEMIOLOGI
• AS  1-40 per 1000 orang
• Ras Kaukasian = 1/1000
• Ras Asia = 1/100
• WHO  45 juta orang di dunia mengalami
kebutaan  1/3 nya ada di Asia Tenggara
• Kebutaan di Indonesia  1,5%
• Penyebab utama kebutaan di Indonesia adalah
Glaukoma
Etiologi & Faktor Risiko
• Glaukoma terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara
proses produksi dan ekskresi/ aliran keluar aqueous humor.
• Faktor Risiko:
• Umur lebih dari 40
tahun
• Peningkatan tekanan • Myopia
intraokuler • Diabetes mellitus
• Keturunan Amerika- • Penyakit vascular
Afrika karotis
• Riwayat trauma ocular • Anemia
• Penggunaan • Riwayat hipertensi
kortikosteroid topikal, sistemik
sistemik ataupun • Insufisiensi vascular
endogen
Fisiologi
• Humor aquos
– Volume humor aquos sekitar 250 μL
– kecepatan pembentukannya 2,5 μL/menit
– Komposisi humor aquos hampir sama dengan komposisi
plasma, yaitu mengandung askorbat, piruvat, laktat,
protein, dan glukosa
Fisiologi
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
• Glaukoma sudut terbuka
– Kerusakan visus yang serius
– Lapang pandang mengecil dengan macam – macam skotoma yang khas
– Perjalanan penyakit progresif lambat
• Glaukoma sudut tertutup
– Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
– Timbulnya halo disekitar cahaya
– Pandangan kabur
– Sakit kepala
– Mual, muntah
– Kedinginan
Diagnosis Glaukoma
1. Tonometri : Penilaian tekanan intraokuler normal berkisar 10-
22 mmHg. Pada usia lanjut rentang tekanan normal lebih
tinggi yaitu sampai 24 mmHg. Pada glaukoma sudut terbuka
primer , 32-50% pasien ditemukan dengan TIO yang normal
pada saat pertama kali diperiksa.
2. Penilaian Diskus Optikus :
Diagnosis
3. Lapang Pandang : Lapangan pandang normal adalah 90
derajat temporal, 50 derajat atas, 50 derajat nasal dan 65
derajat bawah. Gangguan lapangan pandang pada glaukoma
dapat mengenai 30 derajat lapangan pandang bagian
central.
4. Gonioskopi : mengidentifikasi sudut yang abnormal dan
menilai lebar sudut kamera okuli anterior
Penatalaksanaan
1. FARMAKOLOGI
– Supresi pembentukan humor aqueous : beta-
adrenergic blocker, apraclonidine, brimonidine,
acetazolamide, dichlorphenamide dan
dorzolamide hydrochloride
– Meningkatkan aliran keluar :bimatoprost,
latanoprost, pilocarpine dan epinefrin
– Menurunkan volume vitreous / agen hiperosmotik
Penatalaksanaan
2. NON FARMAKOLOGI / PEMBEDAHAN
– Trabekulotomi
– Trabekuloplasti
– Iridoplasti
– Iridotomi
– Iridektomi
Komplikasi
• Kebutaan permanen
Prognosis
• Tergantung beratnya penyakit
PEMBAHASAN
Keterangan Umum
• Berdasarkan identitas pasien yang ada,
berhubungan factor risiko etiologi
glaukoma yang sebagian besar terjadi
pada usia >40 tahun. Angka kejadian
glaukoma meningkat Dari keterangan
umum pasien mendukung diagnosis
Glaukoma.
Anamnesis

Keluhan utama penglihatan buram


Keluhan buram dapat dibedakan berdasarkan
onsetnya. Berdasarkan onsetnya keluhan mata buram dibagi
menjadi akut yang terjadi kurang lebih 2 minggu, sementara
mata buram kronis terjadi lebih dari 2 minggu. Pada
glaukoma biasanya pasien datang dengan keluhan matanya
terasa buram yang dirasakan kronik (berangsur-angsur)
adapun keluhan mata buram kronis seperti pada pasien ini
bisa dibagi dalam beberapa kemungkinan penyakit, yaitu
gangguan refraksi, gangguan degeneratif, gangguan
herediter, dan tumor.
Keluhan penglihatan buram dirasakan
berangsur-angsur semakin lama semakin buram pada
mata kiri sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu.
Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi
karena adanya apoptosis sel ganglion retina yang
menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan lapisan
inti dalam retina serta berkurangnya akson di nervus
optikus. Diskus optikus menjadi atrofi disertai
pembesaran cawan optik. Kerusakan saraf dapat
dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler.
Keluhan tidak disertai dengan nyeri hebat,
seperti melihat halo, mual dan muntah
Anamnesis tersebut untuk menyingkirkan
glaucoma sudut tertutup.
Keluhan penglihatan buram dirasakan
berangsur-angsur semakin lama semakin
buram pada mata kiri sejak kurang lebih 1
bulan yang lalu.
Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi karena adanya
apoptosis sel ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serat
saraf dan lapisan inti dalam retina serta berkurangnya akson di nervus
optikus. Diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cawan optik.
Kerusakan saraf dapat dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler.
Keluhan tidak disertai dengan nyeri hebat, seperti melihat halo,
mual dan muntah
Anamnesis tersebut untuk menyingkirkan glaucoma sudut
tertutup.
Keluhan penglihatan buram dirasakan
berangsur-angsur semakin lama semakin
buram pada mata kiri sejak kurang lebih 1
bulan yang lalu.
Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi karena
adanya apoptosis sel ganglion retina yang menyebabkan
penipisan lapisan serat saraf dan lapisan inti dalam retina serta
berkurangnya akson di nervus optikus. Diskus optikus menjadi
atrofi disertai pembesaran cawan optik. Kerusakan saraf dapat
dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler.
Keluhan tidak disertai dengan nyeri hebat, seperti
melihat halo, mual dan muntah
Anamnesis tersebut untuk menyingkirkan glaucoma
sudut tertutup.
Keluhan penglihatan buram dirasakan
berangsur-angsur semakin lama semakin buram
pada mata kiri sejak kurang lebih 1 bulan yang
lalu.
Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi karena adanya
apoptosis sel ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf
dan lapisan inti dalam retina serta berkurangnya akson di nervus optikus.
Diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cawan optik. Kerusakan
saraf dapat dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler.
Keluhan tidak disertai dengan nyeri hebat, seperti melihat halo, mual
dan muntah
Anamnesis tersebut untuk menyingkirkan glaucoma sudut tertutup.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Pada keadaan umum yang terpenting adalah tanda vital
terutama tekanan darah. Pada pasien ini tekanan
darahnya adalah 170/80 mmHg.
Visus
Hasil pemeriksaan menunjukkan visus pada
pasien menunjukkan penurunan visus, yaitu 6/12 pada
okuli dekstra dan 0 pada okuli sinistra, seperti gejala
pada glaukoma yaitu terjadi penurunan tajam
penglihatan yang brsifat progresif.
• Konjunctiva Bulbi
Hasil pemeriksaan menunjukan adanya injeksi Silier
pada okuli sinistra. Injeksi silier memang biasa terjadi pada
pasien glaukoma.
• CAO dangkal
Hal ini dikarenakan meningkatnya Tekanan Intra Okuli.
• Reflex pupil negative
Hasil pemeriksaan menunjukan reflex pupil yang
negative menunjukan adanya perubahan-perubahan elemen
penunjang struktural akibat tingginya tekanan intraokular di
saraf optikus
• Tonometri palpasi : TIO OD: 30,4 / TIO OS: 81, 5
Usul pemeriksaan

• Funduskopi
Diskus optikus normal memiliki cekungan di bagian
tengahnya yang ukurannya bervariasi bergantung pada
jumlah relative serat yang menyusun saraf optikus
terhadap ukuran lubang sklera yang harus dilewati oleh
serat-serat tersebut. Pada glaukoma mula-mula terjadi
pembesaran konsentrik cekungan optik yang diikuti
oleh pencekungan superior dan inferior serta disertai
pembentukan takik (notching) fokal di tepi diskus
optikus. Hasil akhir proses pencekungan pada glaukoma
adalah apa yang disebut sebagai cekungan “bean pot”,
yang tidak memperlihatkan jaringan saraf di bagian
tepinya.
• Slit Lamp
Merupakan suatu cara untuk menilai lebar dan sepitnya
sudut bilik mata depan. Lebar sudut bilik mata depan
dapat diperkirakan dengan pencahayaan bilik mata
depan, menggunakan senter atau dengan pengamatan
kedalaman bilik mata depan perifer. Berkas cahaya
langsung diarahkan ke kornea perifer menggunakan
sinar biru untuk mencegah penyinaran yang berlebih
dan dan terjadi miosis.
Diagnosis Kerja

• Glaukoma akut
Glaukoma merupakan suatu neuropati optik yang
ditandai dengan pencekungan “cupping” diskus
optikus dan penyempitan lapang pandang yang disertai
dengan peningkatan tekanan intraokuler. Mekanisme
peningkatan tekanan intraokuler pada glaukoma
dipengaruhi oleh gangguan aliran keluar humor
aquos, biasanya meningkat pada usia > 40 tahun dan
pada pasien penderita DM
Terapi
Farmakologis:
•Acetazolamide 250mg/hari dalam 4 dosis
•obat ini bekerja dengan cara menghalangi aktivitas
enzim karbonat anhidrase agar bisa mengurangi
tekanan di area mata pada penderita glaukoma.
•Timolol Maleat 0,5% 1 kali sehari
•Golongan beta bloker adalah obat yang paling sering
diresepkan sebagai terapi glaucoma. Golongan ini
menurunkan tekanan didalam mata dengan cara
menghambat produksi dari humor akuos.
• Pilocarpine
obat golongan kolinergik, yang menurunkan TIO dengan menaikan
keluaran cairan dari trabekulum meshwork. Kerjanya
merangsang saraf parasimpatik, shg terjadi kontraksi m.
longitudinalis ciliaris yang menarik taji sclera, akibatnya
membuka trabekulum meshwork. Bisa juga menyebabkan
kontraksi m. sfingter pupil shg pada glaucoma sudut tertutup
akan terjadi miosis dan sudut menjadi terbuka
Non farmakologi
• Menggunakan kacamata baca
Prognosis
• Quo ad vitam : ad bonam
• Quo ad functionam : ad malam
Glaucoma merupan satu keadaan yang
tidak bias dikembalikan fungsi penglihatannya
hingga kembali normal seperti sebelumnya.