Anda di halaman 1dari 34

Rigid Frame Structure

Struktur Rangka Kaku

Syahfira Dwinda (03061281722027 ) Nadya Ardiana (03061381722056) Cornelia Pricilya (03061381722066) Chintia Viandani (03061381722073)
Pada bangunan tinggi, gaya-gaya yang bekerja dari luar bangunan sangat
mempengaruhi perancang dalam memilih sistem struktur dan kinerja yang dihasilkan.
Adapun gaya yang dominan berpengaruh adalah gaya tekan angin dan gaya lateral.
Gaya tekan angin yang menghasilkan eksentrisitas dimana menimbulkan gaya torsi
pada bangunan, membuat kecenderungan bangunan memerlukan sistem struktur yang
dapat menahan gaya torsi dan puntir untuk mencegah terjadinya buckling.
Selain itu gaya horizontal, gaya lateral yang bekerja mengenai sebuah bangunan juga
perlu direspon dalam suatu sistem struktur. Maka dari itu diperlukan sebuah sistem
struktur yang mampu menahan beban gaya tekan angin dan gaya lateral. Struktur rigid
frame merupakan salah satu struktur yang dianggap dapat menjadi respon dalam
permasalahan ini.
PENGERTIAN RIGID FRAME
• Struktur rangka kaku (rigid frame) adalah struktur yang
terdiri atas elemen-elemen linier, umumnya balok dan
kolom, yang saling dihubungkan pada ujung-ujungnya
oleh joints (titik hubung) yang dapat mencegah rotasi
relatif di antara elemen struktur yang dihubungkannya.

• Sistem struktur ini terdiri dari kolom dan balok yang


bekerja saling mengikat satu dengan yang lainnya.
Kolom sebagai unsur vertikal yang bertugas menerima
beban dan gaya, sedangkan balok sebagai unsur
horizontal media pembagi beban dan gaya. Sistem ini
biasanya berbentuk pola grid persegi, organisasi grid
serupa juga di gunakan untuk bidang horizontal yang
terdiri atas balok dan gelagar. Dengan keterpaduan
rangka spasial yang bergantung pada kekuatan kolom
dan balok, maka tinggi lantai ke lantai dan jarak antara
kolom menjadi penentu pertimbangan rancangan.

• Jadi ciri-ciri rigid frame yaitu:


- gabungan komponen struktural: kolom & balok.
- rangka melintang sejajar pada dua sumbu.
- Posisi kolom membentuk grid-grid dengan jarak yang
sama
DIAGRAM SISTEM STRUKTUR RIGID FRAME
SISTEM STRUKTUR RIGID FRAME DAN CORE
Rangka kaku akan bereaksi terhadap
beban lateral. Terutama melalui lentur
balok dan kolom. Perilaku demikian
berakibat ayunan (drift) lateral yang
besar pada bangunan dengan ketinggian
tertentu. Akan tetapi apabila di lengkapi
dengan struktur inti, maka ketahanan
lateral bangunan akan sangat
meningkat karena interaksi inti dan
rangka. Sistem inti ini memuat sistem-
sistem mekanis dan transportasi
vertikal.
Prinsip Rangka Kaku
Cara yang paling tepat untuk memahami perilaku struktur rangka sederhana adalah dengan membandingkan perilakunya
terhadap beban dengan struktur post and beam. Perilaku kedua macam struktur ini berbeda dalam hal titik hubung, dimana
titik hubung ini bersifat kaku pada rangka dan tidak kaku pada struktur post and beam.

Beban Vertikal Beban Horisontal


• Pada struktur post and beam, struktur akan memikul beban vertikal dan • Perilaku struktur post and beam dan struktur rangka terhadap beban
selanjutnya beban diteruskan ke tanah. Pada struktur jenis ini, balok horisontal sangat berbeda. Struktur post and beam dapat dikatakan
terletak bebas di atas kolom. Sehingga pada saat beban menyebabkan hampir tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk memikul
momen pada balok, ujung-ujung balok berotasi di ujung atas kolom. Jadi, beban horisontal. Adanya sedikit kemampuan, pada umumnya
sudut yang dibentuk antara ujung balok dan ujung atas kolom berubah.
Kolom tidak mempunyai kemampuan untuk menahan rotasi ujung balok. hanyalah karena berat sendiri dari tiang / kolom (post), atau adanya
Ini berarti tidak ada momen yang dapat diteruskan ke kolom,sehingga kontribusi elemen lain, misalnya dinding penutup yang berfungsi
kolom memikul gaya aksial. Apabila suatu struktur rangka kaku sebagai bracing. Tetapi perlu diingat bahwa kemampuan memikul
mengalami beban vertikal, beban tersebut juga dipikul oleh balok, beban horisontal pada struktur post and beam ini sangat kecil.
diteruskan ke kolom dan akhirnya diterima oleh tanah. Beban itu
Sehingga struktur post and beam tidak dapat digunakan untuk
menyebabkan balok cenderung berotasi. Tetapi pada struktur rangka
kaku akan terjadi rotasi bebas pada ujung yang mencegah rotasi bebas memikul beban horisontal seperti beban gempa dan angin. Sebaliknya,
balok. Hal ini dikarenakan ujung atas kolom dan balok berhubungan pada struktur rangka timbul lentur, gaya geser dan gaya aksial pada
secara kaku. semua elemen, balok maupun kolom. Momen lentur yang diakibatkan
oleh beban lateral (angin dan gempa) seringkali mencapai maksimum
• Perilaku yang dijelaskan di atas secara umum berarti bahwa balok pada pada penampang dekat titik hubung. Dengan demikian, ukuran
sistem rangka kaku yang memikul beban vertikal dapat didesain lebih elemen struktur di bagian yang dekat dengan titik hubung pada
kecil daripada balok pada sistem post and beam. Sedangkan kolom pada
struktur rangka kaku harus didesain lebih besar dibandingkan dengan
umumnya dibuat besar atau diperkuat bila gaya lateralnya cukup
kolom pada struktur post and beam, karena pada struktur rangka kaku besar. Rangka kaku dapat diterapkan pada gedung besar maupun
ada kombinasi momen lentur dan gaya aksial. Sedangkan pada struktur kecil. Secara umum, semakin tinggi gedung, maka akan semakin besar
post and beam hanya terjadi gaya aksial. Ukuran relatif kolom akan pula momen dan gaya-gaya pada setiap elemen struktur. Kolom
semakin dipengaruhi bila tekuk juga ditinjau. Hal ini dikarenakan kolom terbawah pada gedung bertingkat banyak pada umumnya memikul
pada struktur rangka mempunyai tahanan ujung, sedangkan kolom pada
post and beam tidak mempunyai tahanan ujung. Perbedaan lain antara
gaya aksial dan momen lentur terbesar. Bila beban lateral itu sudah
struktur rangka kaku dan struktur post and beam sebagai respon sangat besar, maka umumnya diperlukan kontribusi elemen struktur
terhadap beban vertikal adalah adanya reaksi horisontal pada struktur lainnya untuk memikul, misalnya dengan menggunakan pengekang
rangka kaku. Sementara pada struktur post and beam tidak ada. (bracing) atau dinding geser (shear walls).
efek beban lateral terhadap struktur rangka kaku yang
struktur rangka kaku tingkat memikul beban vertikal
banyak

perbedaan
post and beam
dan struktur
rangka kaku
DIAGRAM AKSI-REAKSI
MOMEN YANG TERJADI TERHADAP BEBAN MOMEN

KOMPONEN
PENDUKUNG
Kekakuan Relatif Balok dan Kolom
Pada setiap struktur statis tak tentu, termasuk juga rangka (frame), besar momen dan
gaya internal tergantung pada karakteristik relatif antara elemen-elemen strukturnya.

• Struktur pelengkung tiga sendi. Momen negatif besar terjadi pada balok.
• Struktur ’post and beam’. Momen positif besar terjadi pada balok. Kolom tidak
menahan rotasi pada ujung
• Rangka dengan kolom sangat fleksibel dan balok kaku. Kolom fleksibel memberikan
sedikit tahanan terhadap rotasi, sehingga balok berlaku seperti sendi.
• Rangka dengan kekakuan balok & kolom normal. Kolom dapat memberi tahanan
rotasi, sehingga terjadi rotasi titik hubung.
• Rangka dengan kolom sangat kaku & balok fleksibel. Kolom dapat memberi tahanan
rotasi cukup besar, sehingga bersifat jepit terhadap ujung balok.
Goyangan (Sideways)
Pada rangka yang memikul beban vertikal, ada fenomena yang disebut goyangan (sidesway).
Bila suatu rangka tidak berbentuk simetris, atau tidak dibebani simetris, struktur akan
mengalami goyangan (translasi horisontal) ke salah satu sisi.

Penurunan Tumpuan (Support Settlement)


Seperti halnya pada balok menerus, rangka kaku sangat peka terhadap turunnya tumpuan.
Berbagai jenis tumpuan (vertikal, horisontal, rotasional) dapat menimbulkan momen. Semakin
besar differential settlement, akan semakin besar pula momen yang ditimbulkan. Bila gerakan
tumpuan ini tidak diantisipasi sebelumnya, momen tersebut dapat menyebabkan keruntuhan
pada rangka. Oleh karena itu perlu diperhatikan desain pondasi struktur rangka kaku untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya gerakan tumpuan.

Efek Kondisi Pembebanan Sebagian


Seperti yang terjadi pada balok menerus, momen maksimum yang terjadi pada struktur rangka
bukan terjadi pada saat rangka itu dibebani penuh. Melainkan pada saat dibebani sebagian. Hal
ini sangat menyulitkan proses analisisnya. Masalah utamanya adalah masalah prediksi kondisi
beban yang bagaimanakah yang menghasilkan momen kritis.
Rangka Bertingkat Banyak
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan analisis rangka bertingkat
banyak yang mengalami beban lateral. Salah satunya adalah Metode Kantilever, yang
mulai digunakan pada tahun 1908. Metode ini menggunakan banyak asumsi, yaitu
antara lain :
• ada titik belok di tengah bentang setiap balok
• ada titik belok di tengah tinggi setiap kolom
• besar gaya aksial yang terjadi di setiap kolom pada suatu tingkat sebanding dengan
jarak horisontal kolom tersebut ke pusat berat semua kolom di tingkat tersebut.
Desain Rangka Kaku
Struktur rangka adalah jenis struktur
yang tidak efisien apabila digunakan
untuk beban lateral yang sangat besar.
Untuk memikul beban yang demikian
akan lebih efisien menambahkan
dinding geser (shear wall) atau
pengekang diagonal (diagonal bracing)
pada struktur rangka. Apabila
persyaratan fungsional gedung
mengharuskan penggunaan rangka,
maka dimensi dan geometri umum
rangka yang akan didesain sebenarnya
sudah dipastikan. Masalah desain yang
utama adalah pada penentuan tiitik
hubung, jenis material dan ukuran
penampang struktur.
Pemilihan Jenis Rangka
• Derajat kekakuan struktur rangka tergantung antara lain pada banyak dan lokasi
titik-titik hubung sendi dan jepit (kaku). Titik hubung sendi dan jepit seringkali
diperlukan untuk maksud-maksud tertentu, meminimumkan momen rencana dan
memperbesar kekakuan adalah tujuan-tujuan desain umum dalam memilih jenis
rangka. Tinjauan lain meliputi kondisi pondasi dan kemudahan pelaksanaan.
• Momen yang diakibatkan oleh turunnya tumpuan pada rangka yang mempunyai
tumpuan sendi akan lebih kecil daripada yang terjadi pada rangka bertumpuan jepit.
Selain itu, pondasi untuk rangka bertumpuan sendi tidak perlu mempunyai
kemampuan memikul momen. Gaya dorong horisontal akibat beban vertikal juga
biasanya lebih kecil pada rangka bertumpuan sendi dibandingkan dengan rangka
yang bertumpuan jepit. Rangka bertumpuan jepit dapat lebih memberikan
keuntungan meminimumkan momen dan mengurangi defleksi bila dibandingkan
dengan rangka bertumpuan sendi. Dalam desain harus ditinjau berbagai macam
kemungkinan agar diperoleh hasil yang benar-benar diinginkan.
Momen Desain
• Untuk menentukan momen desain, diperlukan momen gabungan akibat beban vertikal
dan beban horisontal. Dalam beberapa hal, momen akibat beban vertikal dan lateral
(horisontal) ini saling memperbesar. Sementara dalam kondisi lain dapat saling
mengurangi. Momen kritis terjadi apabila momen-momen tersebut saling memperbesar.
Perlu diingat bahwa beban lateral umumnya dapat mempunyai arah yang berlawanan
dengan yang tergambar. Karena itu, umumnya yang terjadi adalah momen yang saling
memperbesar, jarang yang saling memperkecil. Apabila momen maksimum kritis, gaya
aksial dan geser internal telah diperoleh, maka penentuan ukuran penampang elemen
struktural dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
(1) Mengidentifikasi momen dan gaya internal, maksimum yang ada di bagian
elemen struktur tersebut, selanjutnya menentukan ukuran penampang di seluruh
elemen tersebut berdasarkan gaya dan momen internal tadi, sampai ukuran
penampang konstan pada seluruh panjang elemen struktur tersebut. Cara ini
seringkali menghasilkan elemen struktur yang berukuran lebih (over-size) di
seluruh bagian elemen, kecuali titik kritis. Oleh karena itu, cara ini dianggap
kurang efisien dibanding cara kedua berikut ini.
(2) Menentukan bentuk penampang sebagai respon terhadap variasi gaya momen
kritis. Biasanya cara ini digunakan dalam desain balok menerus.
Desain Elemen dan Hubungan
• Penentuan bentuk elemen struktur dapat pula dilakukan dengan menggunakan
profil tersusun. Titik hubung yang memikul momen umumnya dilas/disambung
dengan baut pada kedua flens untuk memperoleh kekakuan hubungan yang
dikehendaki. Umumnya digunakan plat elemen pengaku di titik-titik hubung kaku
agar dapat mencegah terjadinya tekuk pada elemen flens dan badan sebagai akibat
dari adanya tegangan tekan yang besar akibat momen. Rangka beton bertulang
umumnya menggunakan tulangan di semua muka sebagai akibat dari distribusi
momen akibat berbagai pembebanan. Tulangan baja terbanyak umumnya terjadi di
titik-titik hubung kaku. Pemberian pasca tarik dapat pula digunakan pada elemen
struktur horisontal dan untuk menghubungkan elemen-elemen vertikal. Rangka
kayu biasanya mempunyai masalah, yaitu kesulitan membuat titik hubung yang
mampu memikul momen. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengatasinya
adalah dengan memakai knee braces. Titik hubung perletakannya biasanya berupa
sendi.
DESAIN SAMBUNGAN
• Desain sambungan dengan bahan baja
dan beton
• Prinsip utama: kekuatan, kekakuan,
dan kapasitas deformasi
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
Nama :Lake Shore Drive Apartements
Arsitek :Mies Van Der Rohe
Lokasi :Chicago, IL 60611, USA
Fungsi :apartemen
Tinggi :254ft (82 meter)
Tingkat :26 lantai
Area :33, 804 ft2
Insiyur struktural :Frank J. Kornacker
Kontraktor :Sumner S. Sollitt
Company
Tahun Proyek :1951
Material : Baja
Material fasad :Kaca
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS

Siteplan Tampak Potongan


Kolom Struktur Baja
SIRKULASI HORIZONTAL Balok Struktur Baja

SIRKULASI VERTIKAL Sirkulasi


Vertikal
Sirkulasi Horizontal
RUANG HIJAU SELAIN BERFUNGSI SEBAGAI
STRUKTUR, BAJA JUGA
MODUL GRID
DIGUNAKAN SEBAGAI ELEMEN
DEKORASI EKSTERIOR
(PENGEKSPOSAN STRUKTUR
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS

DENGAN ADANYA CORE INI,


MAKA KETAHANAN LATERAL
PADA DENAH INI TERLIHAT BANGUNAN MENINGKAT
GRID – GRID STRUKTUR KARENA NITERAKSI INTI DAN
YANG BERFUNGSI UNTUK RANGKA. SISTEM CORE INI
MENAHAN GAYA VERTIKAL MEMUAT SISTEM MEKANIS
DAN GAYA HORIZONTAL DAN TRANSPORTASI
YANG BERKERJA PADA VERTIKAL
CORE SEBAGAI
BANGUNAN UTILITAS

DIKATAKAN CORE UTILITAS


KARENA TERDAPAT KOLOM DI
PADA FASAD BANGUNAN
SUDUT-SUDUT CORE YANG
TERDAPAT BAJA NON-
BERFUNGSI UNTUK MENAHAN
STRUKTURAL SEBAGAI
GAYA / BEBAN YANG BERKERJA
ORNAMEN EKSTERIOR UNTUK
PADA BANGUNAN
MENUNJUKKAN STRUKTUR DAN
MENINGKATKAN VERTIKALITAS
BANGUNAN DENAH
TIPIKAL
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS

STRUKTUR LAKE SHORE TIDAK


DIPERKUAT OLEH TIPIKAL
TRIANGULASI (PERSILANGAN SAN
ANDRES, BRACING IN K), KARENA
TIDAK MEMUNGKINKAN UNTUK
MEMILIKI BANYAK PERMUKAAN KACA
SEPERTI PADA FASAD BANGUNAN.
NAMUN, LAKE SHORE APARTEMENTS
MENJADI LEBIH KAKU KARENA INTI /
CORE (TANGGA DAN LIFT), YANG
DILETAKKAN SATU PADA MASING-
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
SISTEM STRUKTUR BANGUNAN INI TERDAPAT PADA KOLOM DAN
BALOK YANG BERKERJA SALING MENGIKAT SATU SAMA LAIN.
KOLOM SEBAGAI UNSUR VERTIKAL YANG BERTUGAS UNTUK
MENERIMA BEBAN DAN GAYA. SEDANGKAN BALOK SEBAGAI
UNSUR HORIZONTAL MEDIA PEMBAGI/PENYALUR BEBAN DAN
GAYA MENUJU KE KOLOM

SKEMA PENYALURAN BEBAN


BAIK BEBAN VERTIKAL MAUPUN BEBAN BEBAN HORIZONTAL
YANG BERKERJA PADA BANGUNAN DISALURKAN MELALUI
BALOK MENUJU KE KOLOM DAN KEPONDASI UNTUK
SETERUSNYA DISALURKAN KE TANAH
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
RENCANA PONDASI
Dinding pemikul Basement
Pondasi Pile cap
Pondasi Foot Plat A

Pondasi Foot Plat B


LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
PONDASI
APARTEMENT INI MEMILIKI 40 PONDASI SETEMPAT
(FOOTPLAT) DAN 8 PONDASI PILE CAP PADA STRUKTUR
DINDING PEMIKUL BASEMENT.
- FOOTPLAT : YANG MENERIMA BEBAN DARI KOLOM
STRUKTUR (BAJA, DITUTUPI DENGAN BETON), KE
TANAH.
- FOOTPLAT SENDIRI TERRDIRI DARI 2 JENIS:
• PONDASI FOOT PLAT A ADALAH YANG SESUAI
DENGAN PONDASI BANGUNAN
• PONDASI FOOT PLAT B SESUAI DENGAN GRID
DI ANTARA RUANG YANG DIPERPANJANG PADA
RUANG BAWAH TANAH.
- PONDASI PILE CAP : YANG MEMBANTU
MENYALURKAN BEBAN DARI DINDING PEMIKUL
BASEMENT KE TANAH, MENGINGAT RUANG
BASEMENT YANG LEBIH LEBAR DARI RUANG
DIATASNYA.
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
STRUKTUR BANGUNAN DIBENTUK OLEH RANGKA KAKU (KOLOM DAN
BALOK) YANG DISAMBUNGKAN MENGGUNAKAN PELAT BAJA DAN BAUT.
KOLOM-KOLOM BAJA PROFIL DISATUKAN PER 3 LANTAI DAN DILAPISI
DENGAN BETON DAN DITUTUPI DENGAN LEMBARAN LOGAM PADA
BAGIAN LUAR. BAJA PROFIL-I NON-STRUKTURAL DI SAMBUNGKAN
DENGAN BALOK PERIMETRAL MENGGUNAKAN PELAT BAJA/LOGAM.

RENCANA PEMBALOKAN, PERLETAKAN


KOLOM DAN PELAT LANTAI (METAL DECK)
KEDUA APARTEMENT
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
DETAIL SAMBUNGAN KOLOM DAN BALOK

4 4

3
4
4 2

KETERANGAN :
1 : PROFIL BAJA LAMINASI W 310 X 310 X 313
2 : BAUT Ø12MM

ANTAR KOLOM DAN BALOK DISAMBUNGKAN 3 : PELAT BAJA E = 20MM


4 : MORTIR LEVING EKSPANSIF E = 3MM
DENGAN CARA DIBAUT, NAMUN TETAP
5 : BALOK UTAMA , PROFIL BAJA LAMINASI W
DIPERLUKAN PELAT BAJA SEBAGAI MEDIA
360 X 170 X 57.8,
PENYAMBUNG ANTAR BAJA.
LAKE SHORE DRIVE
APARTEMENTS

PENGHUBUNG KEDUA BANGUNAN


LAKE SHORE DRIVE
APARTEMENTS
SAMBUNGAN LANGIT- LANGIT PENGHUBUNG JALAN KEDUA BANGUNAN
TERDAPAT 3 KANTILEVER PADA BANGUNAN INI, YAITU PADA PENGHUBUNG
ANTAR KEDUA BNGUNAN, DAN YANG LAINNYA PADA TERAS MASING-MASING
BANGUNAN. KANTILEVER INI DISAMBUNGKAN PADA BALOK UTAMA DENGAN
MEMBERIKAN CELAH ANTARA KANTILEVER DAN SLAB / PELAT LANTAI.
KANTILEVER MASUK KE DALAM BANGUNAN SEJAUH 110CM. TEKNIK
PENYAMBUNGAN INI MEMBUAT STRUKTUR KANTILEVER TAMPAK MELAYANG.
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
DETAIL KANTILEVER PENGHUBUNG KEDUA BANGUNAN

PROFIL BAJA LAMINASI W 310 X 310 X 313, DI LAPISI


DENGAN BETON 60 X 60 CM
PROFIL BAJA UB 8X4 (NON-STRUKTURAL)
PROFIL BAJA LAMINASI W 250 X 250 X 149, DI LAPISI
DENGAN BETON 60 X 60 CM

PROFIL BAJA
LAMINASI W
200 X 200 X PROFIL BAJA
LAPISAN BETON LAMINASI W 200 X
150 DIBAUT
KE BALOK 200 X 150
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
DETAIL KANTILEVER PADA TERAS BANGUNAN

PROFIL BAJA LAMINASI W 310 X 310 X 313, DI LAPISI


DENGAN BETON 60 X 60 CM
PROFIL BAJA UB 8X4 (NON-STRUKTURAL)
PROFIL BAJA LAMINASI W 250 X 250 X 149, DI LAPISI
DENGAN BETON 60 X 60 CM

PROFIL BAJA PROFIL BAJA


LAMINASI W LAPISAN BETON LAMINASI W 200 X
200 X 200 X
200 X 150
150 DIBAUT
KE BALOK
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS
RENCANA LANGIT-LANGIT
BANGUNAN
STRUKTUR INI DIULANG PADA
TIAP LANTAI BANGUNAN BAIK
PADA LANTAI BASEMENT HINGGA
KE LANTAI PALING ATAS.
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS

DETAIL SUDUT DENGAN BAJA


KOLOM STRUKTURAL
L-PROFIL TANPA FUNGSI
BAJA I-PROFIL STRUKTURAL DAN PANEL BAJA
NON-STRUKTURAL HITAM YANG MENUTUPI KOLOM

BAJA DILAPISI DENGAN


BETON, SESUAI DENGAN
KETENTUAN DARI KODE
BANGUNAN CHICAGO

BAJA -PROFIL NON


STRUKTURAL, BERFUNGSI
UNTUK MENUNJUKKAN
STRUKTUR DAN
MENINGKATKAN VERTIKAITAS
BANGUNAN
LAKE SHORE DRIVE APARTEMENTS

JENDELA/KACA YANG
TERDAPAT PADA FASAD
MENYATU DENGAN BAJA /
STRUKTUR BANGUNAN.
15 3 6 7 4

2
1 : Profil baja lamniasi W 310x310x313
2 : Profil baja UB 8x4 (non-struktural)
3 : Lembaran logam
4 : Bekisting untuk kolom dengan
cladding baja (e = 1 cm)
5 : Beton (untuk melapisi struktur utama 7 1
6
baja)
6 : Balok perimetral, profil baja W
MODUL YANG BERULANG DISEPANJANG
250x250x149
FASAD BANGUNAN 7 : Baja profil-U sebagai penahan
THANK YOU