Anda di halaman 1dari 60

Case Report Session

KEJANG DEMAM KOMPLEKS


Disusun Oleh :
Puti Leviana
0810312041

Preseptor :
Dr. Didik Hariyanto, Sp.A (K)
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

 Kejang demam  bangkitan kejang yang terjadi


pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas
38°C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
 Terjadi pada usia antara 6 bulan dan 5 tahun
 Tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau
penyebab tertentu.
Klasifikasi
 Kejang demam
 kejang demam sederhana
 kejang demam kompleks.
Kejang Demam Sederhana (Simpeks)

 Berlangsung singkat (kurang dari 15 menit)


 Umumnya akan berhenti sendiri.
 Kejang berbentuk umum, tonik atau klonik, tanpa
gerakan fokal
 Tidak berulang dalam waktu 24 jam
Kejang Demam Kompleks
 Kejang lama > 15 menit.
 Atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan
diantara bangkitan kejang anak tidak sadar.
 Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang
umum didahului kejang parsial
 Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Epidemiologi

 Paling sering terjadi pada anak


 Sekitar 2 – 4 % dari populasi
 Terjadi pada usia antara 6 bulan dan 5 tahun dengan
manifestasi paling sering pada usia 2 tahun
 Insiden di seluruh dunia bervariasi, 5 – 10 % di India,
8,8 % di Jepang, 14 % di Guam, 0,35 % di Hongkong
dan 0,5 – 1,5 % di Cina.
 Kejang demam terjadi pada semua ras
 Sedikit lebih predominan pada anak lelaki.
 Kejang demam kompleks terjadi rata-rata 25 – 50 %
dari seluruh kasus kejang demam
Etiologi dan Faktor Risiko

 Sering berhubungan dengan infeksi virus penyebab


demam pada anak : herpes simpleks-6 (HHSV-6),
Shigella, dan influenza A
 Penyakit yang mendasari demam berupa infeksi
saluran pernapasan atas, otitis media, gastroenteritis,
dan infeksi saluran kemih
 Risiko berulangnya kejang demam akan meningkat
pada anak dengan riwayat orangtua dan saudara
kandungnya juga pernah menderita kejang demam
 Kejang demam diturunkan secara autosomal dominan
sederhana.
Etiologi dan Faktor Risiko
 Kejang demam kompleks berhubungan dengan
banyak faktor, seperti gejala klinisnya, infeksi virus,
faktor genetik dan metabolik, serta kemungkinan
adanya abnormalitas struktur otak.
 Gurner et al : lokus genetik di kromosom 12 yang
berhubungan dengan peningkatan risiko kejang
demam kompleks
 Kejang demam kompleks juga memiliki
kemungkinan untuk menjadi salah satu gejala
adanya infeksi meningitis bakterial akut.
Manifestasi Klinis KDK

 Dapat memiliki durasi yang lebih lama (hingga > 15 menit)


 Dapat muncul dengan beberapa kali kejang dalam 24 jam
 Dapat terjadi kejang lagi pada 24 jam berikutnya
 Kejang bersifat fokal, dengan kemungkinan tampilan :
 Klonik dan atau tonik
 Kehilangan tonus otot sesaat
 Dimulai pada salah satu sisi tubuh, dengan atau tanpa
generalisasi sekunder
 Gerakan kepala atau mata ke salah satu sisi
 Kejang diikuti paralisis unilateral transien (dalam beberapa menit
atau jam, kadang-kadang beberapa hari)
Diagnosis
Anamnesis :
 Tampilan kejang, umum atau fokal, dan berapa lama durasi kejangnya
 Riwayat demam dan penyakit lain yang diderita oleh anak
 Riwayat penyebab demam, misalnya penyakit virus dan gastroenteritis
 Riwayat penggunaan obat pada anak
 Riwayat kejang pada anak sebelumnya, masalah neurologik, keterlambatan tumbuh
kembang, atau penyebab lain dari kejang seperti trauma.
 Tanyakan faktor risiko terjadinya kejang demam, seperti :
 Riwayat keluarga yang pernah atau tidak menderita kejang demam
 Suhu tubuh yang tinggi
 Riwayat prenatal dan keterlambatan perkembangan
 Penyakit perinatal (saat usia 28 hari pertama)
 Riwayat konsumsi alkohol dan rokok saat kehamilan ibu, karena dapat meningkatkan
risiko terjadinya kejang demam sebanyak 2 kali lipat
Diagnosis
Pemeriksaan fisik :
 Pemeriksaan sistem untuk mencari penyebab

demam, misalnya otitis media, faringitis, atau


penyakit virus lain
 Pemeriksaan neurologis

 Tanda rangsangan meningeal

 Tanda-tanda trauma atau keracunan


Diagnosis Banding
 Bakteremia dan sepsis
 Meningitis dan ensefalitis
 Status epileptikus
Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan Laboratorium
 tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam,
tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber
infeksi penyebab demam
 darah perifer, elektrolit, dan gula darah

 Pungsi Lumbal
 untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan
terjadinya meningitis
 Elektroensefalografi (EEG)
 Pencitraan
Penatalaksanaan

 Pengobatan fase akut saat anak kejang


 semua pakaian yang ketat dibuka
 anak dimiringkan apabila muntah untuk mencegah
aspirasi
 Bebaskan jalan napas untuk menjamin oksigenasi

 Pengisapan lendir dapat dilakukan secara teratur,


berikan oksigen, kalau perlu dilakukan intubasi.
 Tanda vital mesti dipantau dan diawasi, sperti
kesadran, suhu tubuh, tekanan darah, pernafasan, dan
fungsi jantung
 Saat pasien kejang  Diazepam IV
 dosis0,3 – 0,5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan
kecepatan 1 – 2 mg/ menit atau dalam waktu 3 – 5
menit dengan dosis maksimal 20 mg.
 Diazepam rektal dengan dosis 0,5 – 0,75 mg/kgBB
 diazepam rektal 5 mg  BB < 10 kg
 diazepam rektal 10 mg  BB > 10 k

 diazepam rektal 5 mg  usia < 3 tahun

 Diazepam rektal 7,5 mg  usia > 3 tahun.


 Kejang belum berhenti  dapat diulangi lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval
waktu 5 menit
 Bila setelah 2 kali pemberian masih kejang 
fenitoin intravena dengan dosis awal 10 – 20
mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit
atau kurang dari 50 mg/menit
 Bila kejang berhenti  fenitoin dengan dosis
selanjutnya 4 – 8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam
setelah dosis awal
 Kejang berhenti dengan pemberian diazepam, 
fenobarbital loading dose secara intramuskular
dengan dosis awal 10 – 20 mg/kgBB, lalu
dilanjutkan setelah 24 jam dosis awal dengan 4 – 8
mg/kgBB/hari
Pemberian obat saat demam dan
mencari penyebab demam
 Antipiretik
 parasetamol dengan dosis 10 – 15 mg/kgBB/kali
sebanyak 4 kali dan tidak lebih dari 5 kali.
 ibuprofen 5 – 10 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari

 Antibiotik bila ada indikasi, misalnya otitis media


dan pneumonia
Terapi Profilaksis
 Indikasi
 Kejang lama > 15 menit
 Ada kelainan neurologis yang nyata sebelum atau
sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd,
serebral palsi, retardasi mental, hidrosefalus
 Kejang fokal

 Dipertimbangkan bila :
 kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
 terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
 kejang demam terjadi > 4 kali per tahun.
Jenis Profilaksis
 Profilaksis intermittent
 hanya diberikan pada saat pasien demam
 diazepam rektal dengan dosis 5 mg (untuk anak dengan berat
badan < 10 kg) atau 10 mg ( anak dengan berat badan >10
kg), bila anak menunjukkan suhu ≥ 38,5°C.
 Profilaksis terus menerus
 pemberian antikonvulsan setiap hari.
 Asam valproat dengan dosis 15 – 40 mg/kgBB/hari dalam 2-3
dosis
 Fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis

 Pengobatan ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang,


kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.
Prognosis

 Kejang demam kemungkinan akan berulang bila ada faktor


risiko berikut : 1
 Ada riwayat kejang demam dalam keluarga
 Usia terjadinya kejang demam kurang dari 12 bulan
 Suhu tubuh yang rendah saat kejang
 Cepatnya terjadi kejang setelah demam
 Bila seluruh faktor risiko ada, maka kemungkinan
berulangnya kejang demam adalah 80 %, sedangkan bila
tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya
sekitar 10 – 15 %.
 Kejang demam lebih besar kemungkinan berulangnya pada
tahun pertama kehidupan
 Kematian karena kejang demam tidak pernah
dilaporkan.
 Kejang demam kompleks, yang terjadi sebelum usia
1 tahun, atau dipicu oleh suhu <39°C dihubungkan
dengan peningkatan mortalitas 2 kali lipat pada 2
tahun pertama setelah kejang terjadi.
 Kejang demam kompleks, riwayat epilepsi atau
abnormalitas neurologis pada keluarga, dan
keterlambatan tumbuh kembang dapat menjadi
faktor risiko terjadinya epilepsi.
ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS PASIEN
 Nama : FA
 Umur : 2 tahun 11 bulan
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Alamat : Simp. Ikal Rawang
 Seorang anak perempuan umur 2 tahun 11 bulan
dirawat di Bangsal Anak RSUP. Dr. M. Djamil
Padang sejak 28 Juli 2013 dengan :

 Keluhan Utama :
Kejang berulang 3 jam yang lalu sebelum masuk
rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang
 Demam sejak 12 jam yang lalu, tinggi, terus-
menerus, tidak menggigil dan tidak berkeringat
 Muntah sejak 10 jam yang lalu, frekuensi ± 3 kali,
jumlah ± ¼ gelas / kali, isi sisa makanan dan
minuman, tidak menyemprot
 Berak-berak encer sejak 6 jam yang lalu, frekuensi
± 4 kali, jumlah ± 4-6 sendok makan perkali, tidak
berlendir, tidak berdarah
Riwayat Penyakit Sekarang
• Kejang berulang 3 jam yang lalu, frekuensi 4 kali, lama
kira-kira 2-5 menit per kali, jarak antara kejang sekitar
15 sampai 30 menit, kejang seluruh tubuh dengan mata
melihat ke atas. Ini merupakan episode kejang yang
pertama, anak tidak sadar setelah kejang yang terakhir.
• Anak kurang mau makan sejak sakit, minum masih mau,
oralit belum dicoba, berat badan terakhir 9 kg
(ditimbang 1 bulan yang lalu)
Riwayat Penyakit Sekarang
 Batuk pilek tidak ada, sesak nafas tidak ada
 Riwayat kontak dengan penderita batuk-batuk
lama tidak ada
 Riwayat nyeri telinga dan keluar cairan dari telinga
tidak ada
 Riwayat nyeri saat buang air kecil tidak ada,
buang air kecil warna dan jumlah biasa, terakhir 3
jam yang lalu
 Riwayat perdarahan dari hidung, gusi dan saluran
cerna tidak ada
Riwayat Penyakit Sekarang
 Anak telah dibawa ke RS Reksodiwiryo, tleah diberi
oksigen 2 liter / menit, IVFD KaEN 1B 10 tetes/ menit
(makro), stesolit supp, dumin supp, fenobarbital IM 75
mg, diazepam IV 3 mg (2kali), anak kemudian dirujuk
dengan keterangan infeksi SSP + GEA derajat ringan –
sedang
 Di IGD RSUP M. Djamil Padang, anak telah dikonsulkan
ke bagian mata dengan hasil konsul saat ini tidak
ditemukan tanda-tanda papil udem
 Anak sudah dikonsulkan ke supervisor neurologi anak
dan dianjurkan untuk pemeriksaan CT Scan Kepala
 Riwayat Penyakit Dahulu :
Tidak pernah menderita kejang dengan atau tanpa
demam sebelumnya

 Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita
kejang dengan atau tanpa demam

 Riwayat Kehamilan Ibu :


Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit
berat, tidak mengkonsumsi obat-obatan atau jamu,
tidak pernah mendapat penyinaran selama hamil,
kontrol teratur ke bidan, riwayat imunisasi TT tidak
diketahui, dan gestasi cukup bulan
 Riwayat Kelahiran :
Lahir spontan ditolong bidan, langsung menangis kuat.
Berat badan lahir 2500 gram, tetapi panjang badan
lupa.

 Riwayat Makanan dan Minuman :


ASI : 0 bulan – 18 bulan
Bubur susu : 2 bulan - 6 bulan
Nasi Tim : 6 bulan – 8 bulan
Nasi Lunak : 9 bulan – 12 bulan
Nasi Biasa : 12 bulan - sekarang, 3x 1 porsi perhari,
telur 4 kali seminggu, daging ayam 2 kali seminggu,
sayur 4 kali seminggu
- Kesan : kualitas dan kuantitas cukup
 Riwayat Imunisasi :
BCG : umur 1 bulan (scar +)
DPT : umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Polio : umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Hepatitis B : umur 0 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Campak : 9 bulan
Kesan : imunisasi dasar lengkap

 Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien merupakan anak kedua, ayah tamat SMA,
pekerjaan buruh. Ibu tamat SMP, tidak bekerja.
Penghasilan keluarga ± Rp 2.000.000 sebulan.
 Riwayat Lingkungan dan Perumahan :
Tinggal di rumah semi permanen, pekarangan luas,
sumber air minum dari sumur gali, buang air besar
di WC dalam rumah, sampah dibakar. Kesan :
higiene dan sanitasi kurang baik
Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : sakit berat
 Kesadaran : tidak sadar. GCS E1M4V1 = 6
 Tekanan Darah : 90 / 50 mmhg
 Frekuensi denyut nadi : 140 x /menit
 Frekuensi nafas : 28 x/ menit
 Suhu : 39,2 oC
 Sianosis : tidak ada
 Edema : tidak ada
 Anemis : tidak ada
 Ikterus : tidak ada
 Panjang badan : 88 cm
 Berat badan : 10 kg
 Status gizi :
 Badan menurut Umur : 72,5 %
 Tinggi Badan menurut Umur : 93,7%
 Berat Badan menurut Tinggi Badan : 79,3 %

Kesan : Gizi Kurang


Kulit : Teraba hangat, sianosis tidak ada, pucat tidak ada,
kuning tidak ada, turgor kembali cepat

Kelenjar Getah Bening : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

Kepala : Bentuk bulat, simetris, lingkar kepala 48 cm (normal


standar Nellhaus)
Mata : Tidak cekung, air mata ada, Konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter pupil 1 mm/
1mm, reflek cahaya +/+ normal
Telinga : Tidak ditemukan kelainan

Hidung : Tidak ditemukan kelainan


Tenggorokan : Tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak
hiperemis
Mulut : Mukosa bibir dan mulut basah. Oral trush tidak ada
Leher : JVP 5-2 cmH20, kaku kuduk tidak ada
Dada : Paru
- Inspeksi : Normochest, simetris kiri dan kanan,
retraksi tidak ada
- Palpasi : Fremitus sukar dinilai
- Perkusi : Sonor
- Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi tidak
ada , wheezing tidak ada
Dada : Jantung
- Inspeksi: Iktus tidak terlihat
- Palpasi : Iktus teraba 1 jari medial linea mid
clavicularis sinistra RIC V
- Perkusi :
 Batas kanan : Linea Sternalis dextra
 Batas kiri : 1 jari medial linea mid clavicularis
sinistra RIC V
 Batas atas : RIC II
- Auskultasi : Bunyi jantung normal, irama teratur, bising tidak
ada
Perut : Inspeksi : Distensi tidak ada
Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba, turgor kembali cepat
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Punggung : Tidak ditemukan kelainan
Alat kelamin : Tidak ditemukan kelainan. Status pubertas A1, M1,P1
Anus : Colok dubur tidak dilakukan
Anggota : Akral hangat, perfusi baik
gerak Reflek fisiologis : +/+ normal
Reflek patologis : Reflek babinsky (-/-), Reflek openheim (-/-
), Reflek chaddock (-/-), Reflek scaefer (-/-), Reflek Gordon
(-/-)
Tanda : Kaku kuduk tidak ada
Rangsangan Brudzinsky I (-)
Meningeal Brudzinsky II (-)
Kernig Sign (-)
Pemeriksaan Laboratorium
Darah :
 Hemoglobin : 12 gr%
 Leukosit : 12.100/ mm3
 Hitung jenis leukosit : 0/ 0/ 25/ 42/26/3

 Hematokrit : 29 %
 Trombosit : 251.000/mm3
Pemeriksaan Laboratorium
Urin :
 Protein : (-)
 Reduksi : (-)
 Bilirubin : (-)
 Eritrosit : (-)
 Bilirubin : (-)
 Urobilin : (+)
Kesan : urin dalam batas normal
Pemeriksaan Laboratorium
Feses :
 PH netral

 Makroskopis : warna kuning

 Mikroskopis : leukosit (-), eritrosit (-), telur cacing (-)


Diagnosa Kerja
 Kejang Demam Kompleks
 Diare Akut Tanpa Deidrasi
 Suspek Sepsis
 Gizi kurang
Terapi
 O2 1 liter / menit
 IVFD 2A 85 cc/kgBB/hari = 850 cc/ hari = 12 tetes /
menit (makro)
 Sementara puasa

 Ampicillin 4 x 500 mg IV

 Kloramphenicol 4 x 250 mg IV

 Paracetamol 4 x 100 mg P.O

 Luminal 2 x 40 mg P.O

 Zinc 1 x 20 mg P.O
Rencana
 Na, K, Ca, GDR
 PT / APTT
 Kultur Darah
 CT Scan Kepala
 Lumbal Pungsi
Follow Up
Tanggal 28 Juli 2013 pukul 19.00 WIB
S/
 Anak mulai bangun

 Kejang tidak ada

 Demam masih ada, tidak tinggi

 Sesak nafas tidak ada

 Muntah tidak ada

 Berak-berak encer tidak ada

 BAK warna dan jumlah biasa

 Keluarga pasien masih menyiapkan dana untuk CT-Scan


O/
 Tampak sakit berat. GCS E4 M5 V3 = 12

 Tekanan Darah : 90 / 60 mmhg


 Frekuensi denyut nadi : 132 x /menit
 Frekuensi nafas : 28 x/ menit
 Suhu : 37,8 0C
 Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik
 Thorax : Retraksi (-)
 Cor : Irama teratur, bising (-)
 Pulmo : Vesikuler, rhonkhi -/-,
wheezing-/-
 Abdomen : Distensi (-), BU (+) normal,
turgor kembali cepat
 Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik
 Laboratorium
 Na : 125 mmol/l
 K : 3,4 mmol/l

 GDR : 185 mg/dl

 Calcium : 9 mg/dl

 Kesan : perbaikan kesadaran

 Konsul dr. Iskandar Syarif, Sp.A (K), advise :


 Setuju
untuk penundaan CT Scan kepala
 Observasi klinis pasien
 Terapi :
 O2 1liter/menit
 IVFD 2A 12 tetes/menit (makro)
 Makanan Cair 8 x 25 cc / NGT
 Oralit 100 cc / BAB encer / muntah
 Ampicillin 4 x 500 mg IV
 Kloramphenicol 4 x 250 mg IV
 Luminal 2 x 40 mg P.O
 Paracetamol 4 x 100 mg P.O
 Zink 1 x 20 mg

 Rencana :
 Tunda CT Scan dan Lumbal Pungs
Follow Up
Tanggal 29 Juli 2013 pukul 06.00 WIB
S/
 Demam masih ada, tidak tinggi

 Kejang tidak ada

 Sesak nafas tidak ada

 Muntah tidak ada

 Berak-berak encer ada, frekuensi 4 x, jumlah ±2-3


sdm/kali, tidak berlendir, tidak berdarah
 Anak sudah menangis minta minum

 BAK warna dan jumlah biasa


O/
 Tampak sakit sedang. Sadar

 Tekanan Darah : 100 / 70 mmhg


 Frekuensi denyut nadi : 112 x /menit
 Frekuensi nafas : 24 x/ menit
 Suhu : 37,6 0C
 Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik
 Thorax : Retraksi (-)
 Cor : Irama teratur, bising (-)
 Pulmo : Vesikuler, rhonkhi -/-,
wheezing -/-
 Abdomen : Distensi (-), BU (+) normal,
turgor kembali cepat
 Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik
 Kesan :
 Masih febris
 Diare akut tanpa dehidrasi

 Terapi :
 O2 1liter/menit
 IVFD 2A 6 tetes/menit (makro)
 Makanan Cair 8 x 50 cc / NGT
 Oralit 100 cc / BAB encer / muntah
 Ampicillin 4 x 500 mg IV
 Kloramphenicol 4 x 250 mg IV
 Luminal 2 x 40 mg P.O
 Paracetamol 4 x 100 mg P.O
 Zink 1 x 20 mg
Follow Up
Tanggal 30 Juli 2013

S/
 Demam tidak ada

 Kejang tidak ada

 Sesak nafas tidak ada

 Muntah tidak ada

 BAK dan BAB biasa


O/
 Tampak sakit sedang. Sadar

 Tekanan Darah : 100 / 70 mmhg


 Frekuensi denyut nadi : 100 x /menit
 Frekuensi nafas : 20 x/ menit
 Suhu : 37 0C
 Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik
 Thorax : Retraksi (-)
 Cor : Irama teratur, bising (-)
 Pulmo : Vesikuler, rhonkhi -/-,
wheezing -/-
 Abdomen : Distensi (-), BU (+) normal,
turgor kembali cepat
 Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik
 Kesan :
 Hemodinamik stabil

 Terapi :
 Makanan Cair 4 x 120 cc
 Makanan lunak 500 kkal

 Ampicillin 4 x 500 mg IV

 Kloramphenicol 4 x 250 mg IV

 Luminal 2 x 20 mg P.O

 Paracetamol 4 x 100 mg P.O

 Zink 1 x 20 mg
DISKUSI
 Kejang berulang yang dialami anak lebih dari 1x
dalam 24 jam merupakan salah satu ciri-ciri dari
kejang demam kompleks.
 Pasien tidak sadar, dengan frekuensi nadi 140 x/
menit, frekuensi pernafasan 28 x / menit dan suhu
39,2 serta adanya leukositosis pada pemeriksaan
laboratorium pada tanggal 28 Juli 2013 dengan
nilai 12.100 /uL menunjukkan adanya tanda-tanda
infeksi berat yang mengarah pada sepsis
 Mata tidak cekung, air mata ada, dan turgor kulit
kembali cepat, menunjukkan tidak terdapat tanda-
tanda dehidrasi pada pasien ini.
 Pemeriksaan rangsangan meningeal dengan hasil
negatif menunjukkan tidak terdapat infeksi pada
otak dan meningen.
 Diagnosis banding kejang demam kompleks adalah
epilepsi yang diprovokasi demam dan
meningoensefalitis
 Pada terapi, antibiotik yang digunakan adalah
ampicillin dan klorampenicol, digunakan sebagai terapi
untuk mengatasi suspek sepsis yang didiagnosis pada
pasien ini.
 Pada pasien ini, terapi profilakasis jangka panjang
digunakan karena terdapat indikasi kejang berulang
lebih dari 2x dalam 24 jam. Terapi rumatan yang
diberikan adalah fenobarbital dengan dosis 3-4
mg/kgBB/2 dosis/hari. Terapi rumatan diberikan
selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan. Sebaiknya terapi
rumatan yang diberikan adalah asam valproat dengan
dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis
karena efek samping dari fenobarbital adalah anak
dapat mengalami gangguan prilaku dan kesulitan
belajar.