Anda di halaman 1dari 26

KONSEP MODAL DAN LABA

Oleh:
1. Augi Martika Sari
2. Indah Kusuma Dewi
3. Ayu Fitrianingsih
Agenda
1. Pendahuluan
2. Konsep Laba pada Tingkat Sintaktik
3. Konsep Laba pada Tingkat Pragmatik
PENDAHULUAN
Suatu pengetahuan atas pengukuran yang berbeda atas laba bersih
perusahaan dapat berguna untuk tujuan berbeda, tetapi ada pandangan bahwa
terdapat manfaat dari penerimaan umum konsep all-pervasive dari laba bersih untuk
tujuan pelaporan eksternal. Tujuan utama dari pelaporan laba adalah memberikan
informasi yang berguna bagi mereka yang berkepentingan dalam laporan keuangan.
Tetapi lebih banyak tujuan spesifik harus dinyatakan untuk mendapatkan
pemahaman yang lebih atas pelaporan laba. Salah satu tujuan dasar yang
diasumsikan paling penting untuk semua pemakai laporan keuangan adalah
kebutuhan untuk membedakan antara modal yang diinvestasikan dan laba antara
saham dan arus sebagai bagian dari proses deskriptif dari akuntansi. Tujuan yang
lebih spesifik mencakup :
1. Penggunaan laba sebagai pengukuran efisiensi manajemen.
2. Penggunaan angka laba historis untuk membantu meramalkan arah masa depan
perusahaan atau pembagian dividen masa depan.
3. Penggunaan laba sebagai pengukuran pencapaian dan sebagai pedoman untuk
keputusan manajerial masa depan.
KONSEP LABA PADA TIGKAT SINTAKTIK
Meskipun akuntansi memberi kata-kata manis pada interpretasi dunia nyata atas
laba akuntansi (umumnya laba ekonomi), atau dampak perilakunya (baik kemampuan
prediktifnya atau relevansi umum pada proses keputusan) mereka umumnya mendasarkan
prinsip dan aturan pada premis yang mungkin tidak berkaitan dengan fenomena dunia nyata
atau pengaruh perilaku. Ketentuan tersebut dibuat logis dan konsisten dengan mendasarkan
pada premis dan konsep yang telah dikembangkan dari praktik yang ada. Akan tetapi,
konsep tersebut seperti realisasi, penandingan, dasar akrual, dan alokasi biaya dapat
didefinisikan hanya dalam pengertian aturan yang tepat, karena hal itu tidak mempunyai
padanan dalam dunia nyata.
Laba akuntansi adalah penjumlahan dari banyak pos positif dan negatif, di mana
banyak daripadanya tidak mempunyai kandungan interpretif. Jika ada satu atau lebih pos-
pos ini tidak mempunyai signifikasi interpretif dan jumlahnya material, laba bersih yang
dihasilkan juga tidak mempunyai signifikasi interpretif, sekalipun hal itu mungkin berisi
informasi untuk pasar modal.
SFAC 1 mengasumsikan bahwa laba akuntansi merupakan ukuran yang baik dari
kinerja suatu perusahaan dan bahwa laba akuntansi dapat digunakan untuk meramalkan arus
kas masa depan.
1. Pendekatan Transaksi pada Pengukuran Laba
Pendekatan transaksi pada pengukuran laba adalah pendekatan leboh
konvensional yang digunakan oleh akuntan. Ini melibatkan pencatatan perubahan
dalam penilaian aktiva dan kewajiban bila ini merupakan hasil dari transaksi. Istilah
transaksi digunakan dalam pengertian luas untuk mencakup baik transaksi internal
atau transaksi eksternal. Transaksi eksternal berasal dari melakukan bisnis dengan
pihak luar transfer aktiva atau kewajiban ke atau dari perusahaan tersebut. Transaksi
internal berasal dari penggunaan atau konversi aktiva di dalam perusahaan.
Transasksi internal dapat menyebabkan perubahan penilaian, tetapi hanya
yang dihasilkan dari penggunaan atau konversi aktiva yang biasanya dicatat.
Apabila konversi terjadi, nilai aktiva lama biasanya ditransfer ke aktiva baru.
2. Pendekatan Aktivitas pada Pengukuran Laba
Laba aktivitas akan dicatat selama proses perencanaan, pembelian, produksi, dan
penjualan, termasuk selama proses penagihan. Dalam penerapannya, itu semata merupakan
perluasan dari pendekatan transaksi, karena hal itu dimulai dari transaksi sebagai dasar
untuk pengukuran. Perbedaan utama adalah bahwa pendekatan transaksi didasarkan pada
proses pelaporan yang mengukur suatu kejadian eksternal, yaitu transaksi. Sedangkan
pendekatan aktivitas didasarkan pada konsep aktivitas atau kejadian dunia nyata dalam
pengertian yang lebih luas.
Salah satu manfaat yang diasumsikan dari pendekatan aktivitas adalah bahwa hal
itu memungkinkan pengukuran beberapa konsep yang berbeda dari laba, yang dapat
digunakan untuk tujuan berbeda. Laba yang timbul dari produksi dan penjualan barang
dagang melibatkan jenis penilaian dan prediksi yang berbeda, yang dapat digunakan untuk
tujuan berbeda. Efesiensi manajemen dapat diukur lebih baik jika komponen-komponen
laba diklasifikasikan sesuai dengan jenis operasi atau aktivitas yang berbeda yang harus
lebih atau kurang dikendalikan oleh manajemen.
KONSEP LABA PADA TINGKAT SEMANTIK
1. Laba Sebagai suatu Pengukur Efisiensi
Operasi efisien dari sebuah perusahaan mempengaruhi baik aliran dividen saat ini maupun
penggunaan modal yang diinvestasikan untuk memberikan aliran dividen masa depan. Tujuan
mengukur efisiensi suatu perusahaan dicerminkan dalam SFAC 1. Dinyatakan bahwa “Pelaporan
keuangan harus memberikan informasi tentang kinerja keuangan selama suatu periode”.
Efisiensi mempunyai acuan dunia nyata paling tidak dalam konsep. Salah satu
interpretasinya adalah bahwa itu merupakan kemampuan relatif untuk mendapatkan keluaran
maksimum dengan jumlah sumber daya tertentu, atau suatu kombinasi sumberdaya yang optimum
bersama dengan permintaan tertentu akan produk guna memungkinkan imbalan yang maksimum bagi
pemilik.
Efisiensi adalah suatu istilah yang relatif dan hanya mempunyai arti bila dibandingkan
dengan yang ideal atau beberapa dasar lain. Hal itu juga tergantung apakah sasaran perusahaan untuk
memaksimalkan laba atau untuk memberikan imbalan atas investasi yang wajar. Jika laba bersih
dibagi dengan modal yang diinvestasikan, maka hasilnya disebut tingkat imbalan atas investasi.
Imbalan ini dapat dihitung dengan membagi laba bersih kepada pemegang saham dengan ekuitas
pemegang saham yaitu tingkat imbalan investasi pemegang saham atau dengan membagi laba bersih
ditambah bunga (sesudah pajak) dengan total kapitalisasi perusahaan, termasuk utang jangka panjang
dan ekuitas pemegang saham yaitu tingkat imbalan atas total ekuitas.
2. Laba Akuntansi lawan Laba Ekonomi
Penyusun dan pemakai informasi akuntansi berusaha selama bertahun-tahun
untuk memberikan kandungan ekonomi laba bersih. Tujuan utama dari upaya
mereka adalah menetapkan hubungan antara imbalan atas investasi dan tingkat
imbalan internal. Imbalan atas investasi (ROI) adalah :

𝑁𝐼
𝑅𝑂𝐼 = (1)
𝑇𝐴
Dimana :
NI = Laba bersih
TA = Total aktiva yang digunakan pada harga pokok
Tingkat imbalan internal adalah tingkat yang menyamakan nilai sekarang dari arus
kas masa depan yang diharapkan dari aktiva dengan harga pokok dari aktiva
tersebut, yaitu imbalan (r) yang muncul dari persamaan
𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑘𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
𝑇𝐴 = σ∞
𝑛=1 (2)
(1+𝑟)𝑛
Kedua persamaan itu dapat dimanipulasikan untuk menunjukkan bahwa :
Laba bersih akuntansi = Pendapatan – beban - penyusutan akumulasi
Laba bersih ekonomi = Pendapatan – beban – penyusutan ekonomi

Karena itu, perbedaan antara kedua angka itu berasal dari metode penyusutan yang
berbeda. Akuntan menggunakan metode penyusutan garis lurus (SL) sedangkan
ekonom menggunakan metode bunga (I).
3. Laba Banyak Orang
Hampir semua analisis laba akuntansi dalam kaitan dengan laba ekonomi
dilakukan dalam konteks kepastian. Dengan perkataan lain, semua fakta situasi
diasumsikan diketahui oleh setiap orang. Sebagai contoh, analisis nilai sekarang
biasanya dimulai dengan mengasumsikan satu tingkat diskonto. Dalam dunia yang
pasti, tidak hanya segala sesuatu diketahui, tetapi setiap orang sepakat atas fakta
tersebut. Professor New York dan sejarawan akuntansi Richard Brief mencatat
bahwa secara historis dan dalam praktik “suatu upaya dilakukan untuk
meminimasikan masalah yang berkaitan dengan ketidakpastian dengan menyatakan
bahwa tanggungjawab utama akuntan adalah untuk fakta-fakta yang prosiak dan
kenyataan kering. Ini tidak berlaku dalam praktik karena ketidakpastian sangat
mendasar dalam gagasan laba sebagai imbalan dari menanggung risiko”.
KONSEP LABA PADA TINGKAT PRAGMATIK
Konsep pragmatik dari laba berkaitan dengan proses keputusan dari investor dan kreditor,
reaksi harga sekuritas dalam pasar yang teratur terhadap pelaporan laba, keputusan pengeluaran
modal dari manajemen, dan reaksi umpan balik dari manajemen dan akuntan.
1. Laba Sebagai Alat Peramal
SFAC 1 menyatakan bahwa investor, kreditor, dan pihak yang berkepentingan dengan
menetapkan prospek arus kas bersih perusahaan, tetapi mereka sering menggunakan laba untuk
membantu mengevaluasi daya menghasilkan laba, meramalkan laba masa depan, atau menetapkan
risiko investasi atau memberikan pinjaman kepada perusahaan. Jadi ada hubungan yang diasumsikan
antara laba yang dilaporkan dan arus kas, termasuk kas yang dibagikan kepada pemilik.
Pemegang obligasi dan kreditor jangka pendek juga berkepentingan dalam meramalkan laba
masa depan. Makin besar harapan laba bagi perusahaan, makin besar penerapan bahwa kreditor akan
menerima imbalan tahunan dan juga makin besar penerapan bahwa akan menerima pembayaran
pokok pada saat utang jatuh tempo.
Pengambilan Keputusan Manajerial
Sejauh laba digunakan oleh manajemen untuk tujuan keputusan dan
pengendalian, harus berhati-hati untuk memastikan bahwa sifat arbitrer dari alokasi
dan penandingan diminimalisasi atau dinetralkan. Netralitas dicapai hanya jika
keputusan-keputusan tidak dipengaruhi oleh prosedur alokasi dan penandingan yang
diterapkan dalam pengukuran laba. Jika tidak dapat dihindari, laba tidak boleh
digunakan sebagai dasar untuk keputusan manajerial.
Pendekatan Pasar Modal
Pengamatan langsung dan tak langsung menyatakan bahwa laba per saham
dan proyeksi laba per saham yang dilaporkan mempunyai dampak langsung pada
harga saham biasa dan dalam permintaan oleh masing-masing investor meskipun
hipotesis pasar yang efisien menyiratkan bahwa perorangan tidak dapat memperoleh
pengetahuan dari informasi tersebut. Akan tetapi, dalam bentuk setengah kuat dari
hipotesis pasar efisien (harga sekuritas mencerminan sepenuhnya semua informasi
yang tersedia secara umum tentang perusahaan tersebut) penggunaan kandungan
informasi dari laba yang dilaporkan diasumsikan merupakan dasar dari reaksi pasar
terhadap informasi.
Penyusunan suatu model penerapan laba memerlukan pemahaman tentang
bagaimana laba berperilaku sepanjang waktu. Misalnya, properti seri-waktu, yaitu
properti statistik dari satu periode ke periode lain. Hasil kerja awal menunjukkan
bahwa laba per saham mengikuti suatu jalan acak, yaitu laba akuntansi mempunyai
tampilan yang sama seperti hasil dari lemparan mata uang. Dari sudut pandang
prediktif, berarti bahwa dugaan yang terbaik dari laba per saham tahun berikut
adalah laba per saham tahun ini. (Hasil kerja selanjutnya menunjukkan bahwa ada
sedikit pergerakan ke atas yang juga harus dipertimbangkan).
Pandangan Pendekatan Kontraktual dari Laba
Laba akuntansi yang dilaporkan telah menjadi dasar dari banyak hubungan
hukum dan kontraktual dalam masyarakat; sampai sejauh ini, hal itu mempunyai
implikasi perilaku sekalipun tidak mungkin mempunyai interpretasi semantik.
Peranan yang dimainkan oleh laba dalam kisar kontrak yang luas memberi banyak
pandangan ke dalam cara laba dapat diperkiran untuk berperilaku.
Kekuatan dari pendekatan kontraktual adalah bahwa hal itu tidak menuntut
interpretasi semantik dari perubahan akuntansi. Pendukung pendekatan ini
menyatakan bahwa masyarakat dapat sejutu untuk bermain dengan aturan apapun
yang dipilih tanpa memperhatikan apakah itu masuk akal atau tidak. Posisi ini
dipandang ektrem oleh beberapa pihak yang memperdebatkan bahwa semua teori
dalam jangka panjang harus didasarkan pada konsep yang mempunyai signifikansi
interpretif; teori laba pragmatik tidak dapat sah dalam jangka panjang tanpa konsep
laba dunia-nyata dan pembuktian dari implikasi perilakunya.
Apa yang Harus Dimasukkan dalam Laba
Salah satu tujuan utama perusahaan bisnis adalah memaksimalkan arus
dividen kepada pemegang saham selama keseluruhan umur perusahaan itu, atau
maksimalisasi dari nilai likuidasi atau nilai pasar dari perusahaan itu pada akhir
umunya, atau pada titik-titik interim atau beberapa kombinasi dari ini. Semua
perubahan ekonomi bagi evaluasi atas keseluruhan sukses atau kegagalan
perusahaan selama umurnya. Tetapi tujuan yang lebih umum dari pengukuran laba
memerlukan pengukuran laba untuk periode waktu yang lebih pendek guna
memberikan sarana pengendalian dan sebagai dasar berkelanjutan atau periodik.
1. Konsep Operasi Kini dari Laba
Konsep laba operasi kini (current operating concept of income) memusatkan pada
pengukuran efisiensi perusahaan bisnis. Dalam menghitung laba, penekanan tertentu diletakkan pada
istilah kini (masa berjalan) dan operasi. Hanya perubahan nilai dan kejadian yang dapat dikendalikan
oleh manajemen dan yang dihasilkan dari periode berjalan yang harus dimasukkan. Perubahan yang
harus dikeluarkan adalah yang benar-benar terjadi pada periode sebelumnya tetapi belum diakui atau
dicatat secara semestinya. Sebagai contoh, peralatan yang ditemukan menjadi usang dalam periode
berjalan dapat mungkin telah usang dalam periode-periode sebelumnya. Keputusan untuk
menghentikan penggunaannya dalam periode berjalan mungkin merupakan hasil dari manajemen
yang efisien dari periode berjalan.
Aspek kedua dari konsep ini adalah bahwa perubahan relevan hanya timbul dari operasi
normal, yang memungkinkan perbandingan yang lebih baik dengan operasi-operasi lain. Juga,
efisiensi relatif dari manajemen terlihat lebih jelas. Meskipun aktivitas non operasi juga dipengaruhi
oleh efisiensi manajerial, lebih sulit untuk mendapatkan standar untuk mengukur hasil-hasil periode
tersebut. Sedikitnya, hasil-hasil operasi dan non operasi harus dipisahkan dan disarankan bahwa
aktivitas non operasi harus dilaporkan secara terpisah agar tidak berulang.
Pendukung konsep operasi kini menyatakan bahwa laba bersih yang dilaporkan lebih berarti
untuk perbandingan antar periode dan antar perusahaan untuk membuat prediksi. Mereka
menyatakan bahwa, meski klasifikasi pos-pos operasi dan non operasi mungkin sulit, akuntan yang
terlatih berada pada posisi yang lebih baik untuk membuat klasifikasi ini daripada pada bukan
akuntan.
2. Konsep Laba All-inclusive (Laba
Komprehensif)
Konsep laba all-inclusive didefinisikan sebagai total perubahan dalam modal yang diakui dengan mencatat
transaksi atau revaluasi perusahaan selama suatu periode tertentu, kecuali untuk pembagian dividen dan transaksi
modal. Ini merupakan konsep yang dirujuk oleh FASB sebagai laba komprehensif. Laba komprehensif lebih luas dari
laba bersih karena mencakup:
Perubahan tertentu yang lain dalam aktiva bersih (terutama keuntungan dan kerugian tertentu yang
ditahan) yang diakui dalam periode itu, seperti beberapa perubahan dalam nilai pasar investasi dalam sekuritas
ekuitas yang mudah dipasarkan yang diklasifikasi sebagai aktiva tak lancar, beberapa perubahan dalam nilai pasar
investasi yang mempunyai praktik akuntansi khusus untuk sekuritas yang mudah dipasarkan, dan penyesuaian
transaksi valuta asing.
Laba bersih, dipihak lain berisi pos-pos tertentu yang secara nyata bukan dari masa berjalan. Secara spesifik, laba
bersih (dan laba komprehensif) mencakup:
Pengaruh dari penyesuaian akuntansi tertentu dari periode-periode sebelumnya yang diakui dalam periode tersebut,
seperti contoh utama dalam praktek saat ini pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi....
FASB memilih untuk menguraikan konsep laba yang mencerminkan hanya masa berjalan dengan istilah penghasilan
(earning). Dengan demikian diperoleh hirarki berikut:
Penghasilan = Laba operasi kini + pos tak berulang
Laba bersih = Penghasilan + efek kumulatif perubahan prinsip akuntansi pada tahun tahun sebelumnya
Laba komprehensif = Laba bersih + penyesuaian kumulatif periode sebelumnya + perubahan bukan pemilik
dalam ekuitas yang tersisa
Pendukung konsep all-inclusive mengemukakan alasan berikut untuk pengukuran laba ini:
• Laba bersih tahunan yang dilaporkan, apabila ditambahkan bersama untuk keseluruhan
perusahaan, harus sama dengan total laba bersih perusahaan. Dinyatakan bahwa pembebanan
yang berasal dari peristiwa luar biasa dan dari perbaikan periode sebelumnya cenderung labih
besar dari kredit, yang menimbulkan lebih saji pada laba bersih untuk serangkaian tahun jika ini
dihilangkan.
• Peniadaan beban dan kredit tertentu dari perhitungan laba bersih memberi peluang untuk
manipulasi atau perataan angka penghasilan tahunan. Kekhawatiran ini sudah ditemukan selama
bertahun-tahun.
• Laporan rugi laba yang memasukkan semua beban dan kredit laba yang diakui selama tahun itu
dikatakan lebih mudah untuk disiapkan dan lebih mudah dimengerti oleh pembaca. Klaim ini
didasarkan pada asumsi bahwa laporan auditor harus sedapat mungkin bisa diuji; beberapa
akuntan yang bekerja sendiri-sendiri pada angka yang sama akan dapat memperoleh hasil yang
sama.
• Dengan mengungkapkan penuh sifat perubahan laba selama tahun itu, pembaca laporan
dianggap lebih mampu membuat klasifikasi yang tepat untuk memperoleh pengukuran laba yang
tepat daripada akuntan dan manajemen yang tidak dapat mengantisipasi kebutuhan spesifik dari
para pemakai.
• Perbedaan antara beban dan kredit operasi dan non operasi belum jelas benar. Transaksi yang
diklasifikasikan sebagai bukan operasi oleh perusahaan lain. Selanjutnya, pos-pos yang
diklasifikasikan sebagai bukan operasi dalam satu tahun dapat diklasifikasikan sendiri
menyebabkan inkonsistensi dalam membuat perbandingan diantara perusahaan-perusahaan
yang berbeda atau beberapa periode dari perusahaan yang sama.
Perbedaan utama antara konsep laba operasi kini dan all-inclusive adalah
dalam tujuan yang diasumsikan untuk pelaporan bersih. Meskipun laba bersih
operasi kimi menekankan kinerja operasi kini atau efisiensi perusahaan dan
kemungkinan penggunaan angka ini untuk meramalkan kinerja dan daya
menghasilkan laba masa depan, pendukung laba bersih all-inclusive mengklaim
bahwa apabila hal itu didasarkan pada keseluruhan pengalaman historis perusahaan
selama serangkaian tahun.
3. Laba yang Berulang dan Tak Berulang
Pendukung konsep laba kinerja operasi kini seringkali mengklaim bahwa
pos-pos operasi pada umumnya didefinisikan sebagai berulang dalam operasi bisnis
dan bahwa pos non operasi umumnya dipandang tidak biasa dan tak dapat
diramalkan. Akan tetapi, ini tidak harus benar. Banyak pos bersifat operasi, tetapi
tidak harus berulang.
Angka laba bersih berdasarkan peristiwa-peristiwa berulang umumnya lebih
berguna bagi investor dalam meramalkan kemungkinan arus laba dan dividen masa
depan. Kejadian non operasi yang berulang sama pentingnya dengan kejadian
berulang yang berasal dari operasi normal.
Manfaat dari mengklasifikasikan beban dan kredit laba sebagai berulang dan
tak berulang didasarkan pada kegunaan yang meningkat dari angka laba bersih yang
dihasilkan dalam membuat prediksi oleh investor. Kelebihan dari klasifikasi dan
pelaporan laba berulang serupa dengan kekurangan konsep laba operasi kini.
Kekurangan ini dapat segera diketahui dalam pembahasan di atas tentang konsep
laba all-inclusive.
4. Penyesuaian Periode Sebelumnya
APB 20 membedakan tiga jenis perubahan: perubahan prinsip, perubahan estimasi dan
perubahan dalam satuan usaha yang melaporkan. APB 9 digantikan oleh SFAS 16, yang menyatakan
bahwa:
• Penyesuaian-penyesuaian yang berkaitan dengan periode sebelumnya – dan karenanya dikeluarkan
dalam penentuan laba bersih untuk periode berjalan – dibatasi pada penyesuaian material yang:
• Dapat secara spesifik diidentifikasikan dengan dan secara langsung berkaitan dengan aktivitas
bisnis dari perode sebelumnya tertentu.
• Tidak berasal dari kejadian ekonomi yang terjadi sesudah tanggal laporan keuangan untuk periode
sebelumnya.
• Tergantung terutama pada penentuan oleh selain manajemen.
• Tidak mudah dipengaruhi estimasi yang layak sebelum penentuan tersebut.
FASB memperketat kisar penyesuaian periode sebelumnya dalam SFAS 15, yang
menyatakan bahwa, dengan hanya dua pengecualian, semua pos laba dan rugi yang diakui dalam
periode tahunan dan dimasukkan dalam perhitungan penghasilan tahunan. Satu pengecualian
berkaitan dengan pajak penghasilan yang ditangguhkan dan ditiadakan leh SFAS 96. Pengecualian
selebihnya adalah koreksi kekeliruan dalam laporan keuangan periode sebelumnya.
5. Pos-pos Luar Biasa
APB 30 mendefinisikan pos-pos luar biasa sebagai kejadian dan transaksi
yang sering dan tidak biasa. Kedua criteria harus dipenuhi dalam klasifikasi pos-pos
luar biasa. Satu-satunya pengecualian dalam aturan umum ini adalah keuntungan
atau kerugian pelunasan utang, yang diperlukan sebagai pos-pos luar biasa. Tujuan
pendekatan APB 30 tampaknya adalah untuk membatasi penggunaan klasifikasi ini
pada waktu-waktu yang tidak biasa yang dapat mempengaruhi prediktabilitas, tetapi
tidak akan memungkinkan penggunaan kebijakan manajemen dalam menentukan
perhitungan laba bersih sebelum pos-pos luar biasa. Akan tetapi, alasan teoritis
untuk klasifikasi yang terpisah belum jelas.
6. Operasi yang Dihentikan
Operasi yang dihentikan diliput dalam APB 30, yang dimaksudkan untuk
mengklasifikasikan pos-pos sekuritas ekuitas demikian rupa sehingga memberi
kepada para pembacanya perasaan berapa laba yang mungkin layak diharapkan dari
operasi yang berlanjut. Perusahaan harus memisahkan laba atau rugi sesudah pajak
yang dihasilkan dari operasi yang dihentikan dalam periode berjalan dan sebelum
tanggal pengukuran, yang didefinisikan sebagai tanggal di mana manajemen
mengikat diri sendiri pada suatu rencana formal untuk melepaskan operasi
bersangkutan.
7. Pengungkapan
Biasanya, akan terdapat serangkaian angka penghasilan antara, masing-
masing akan diuraikan. Misalnya, baris kedua dari terakhir dapat terbaca
“Penghasilan sebelum efek kumulatif perubahan akuntansi.”
8. Laba Bersih Kepada Siapa?
Konsep Nilai-Tambah dari Laba. Dalam pengertian ekonomi, nilai-tambah adalah
harga pasar dari keluaran suatu perusahaan dikuragi harga barang dan jasa yang
diperoleh melalui transfer dari perusahaan lain. Jadi, semua karyawan, pemilik,
kreditor dan pemerintah (melalui pajak) adalah penerima dari laba perusahaan.
Konsep nilai-tambah menjadi paling berarti apabila diterapkan pada perusahaan
yang besar yang mempengaruhi hidup ribuan orang dan mempuntai kepentingan
social dan ekonomi di luar kepentingan sempit dari pemilik dan pemegang saham.
Laba nilai tambah mencangkup upah, sewa, bunga, pajak, dividen yang dibayarkan
kepada pemegang saham, dan penghasilan yang tidak dibagikan.
• Laba bersih Perusahaan. Menurut pernyataan 1957 dari American Accounting Association “…
beban bunga, pajak penghasilan, dan distribusi bagi-hasil yang sebenarnya adalah bukan
merupakan determinan dari laba bersih penghasilan…” lalu dapat disimpulkan bahwa pos-pos ini
lebih merupakan pembagian laba bersih, daripada pengurangan sebelum sampai pada laba bersih.
Konsep laba bersih mempunyai manfaat dari sudut pandang pemisahan aspek keuangan
perusahaan dari operasi. Laba bersih pada perusahaan adalah suatu konsep operasi dari laba bersih.
• Laba bersih Kepada Investor. Dalam konsep satuan usaha, laba kepada investor mencakup bunga
atas utang, dividen pada pemegang saham preferen dan saham biasa, dan sisa yang tak dibagikan.
Konsep laba ini mempunyai manfaat yang besar untuk beberapa tujuan:
• Keputusan mengenai sumber modal jangka panjang lebih bersifat keuangan daripada masalah
operasi.
• Karena membedakan struktur keuangan, perbandungan di antara perusahaan dapat dibuat lebih
segera dengan menggunakan konsep laba ini.
• Tingkat imbalan pada total investasi yang dihitung dalam konsep laba ini menggambarkan secara
lebih baik efisiensi relative dari modal yang diinvestasikan daripada konsep tingkat imbalan pada
pemegang saham.
• Laba bersih kepada Pemegang Saham. Tersirat dalam pernyataan FASB adalah konsep bahwa
laba bersih terutang kepada semua pemegang saham. SFAC 1 menekankan sifat prediktif dari
penghasilan yang dilaporkan. Meski definisi laba ekonomi berbeda dengan laba akuntansi, para
ekonom biasanya memperlakukan laba akuntansi secara statistik sebagai total imbalan dari
wiraswastawan dalam berbagai perannya sebagai manajer, investor modal, penanggung risiko, dan
penyedia sewa.
• Laba bersih kepada Pemegang Ekuitas Tersisa. Dalam laporan keuangan yang
disajikan terutama bagi pemegang saham dan investor, laba bersih yang tersedia
untuk pembagian kepada pemegang saham biasa biasanya dipandang merupakan
jumlah angka tunggal yang paling penting dalam laporan.
• Pemegang saham biasa dan calon pembeli saham biasa berkepentingan terutama
dengan arus dividen masa depan, tetapi pengetahuan laba bersih yang tersedia dan
kebijakan keuangan dari perusahaan dapat memberikan informasi yang berguna
bagi pemegang saham biasa dalam evaluasi mereka atas perusahaan dan prediksi
mereka atas total jumlah pembagian dividen di masa depan. APB 15 mengakui
kemungkinan dilusi dan merekomendasikan agar perhitungan laba per saham pro
forma tambahan sebaiknya disajikan, yang menunjukkan berapa laba per saham
seandainya konversi atau opsi dijalankan.