Anda di halaman 1dari 22

TAHUN 2018

Pengertian

Depresi postpartum adalah keadaan emosi yang


ditandai oleh episode menangis ringan sesaat dan
perasaan sedih selama 10 hari pertama setelah
melahirkan. Depresi postpartum adalah depresi yang
bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan
kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan,
dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk
melakukan hubungan intim dengan suami). Tingkat
keparahan depresi postpartum bervariasi.
Klasifikasi :
 Postpartum blues

 Severe postpartum depression

 Women with borderline personalities

 Postpartum psychosis
Penyebab

Penyebab depresi postpartum belum diketahui secara


pasti, tetapi kemungkinan merupakan kombinasi dari
aspek biologis, psikososial dan stres situasional (Beck,
1999). Ini juga berhubungan dengan latar belakang
depresi personal atau keluarga, dukungan sosial
yang rendah, serta masalah selama kehamilan dan
kelahiran (Stewart dan Robinson, 1998).
Ada hal-hal yang dapat memicu terjadinya
depresi selama dan setelah kehamilan, yaitu:
 Pernah menderita depresi atau  Pengalaman kelahiran yang
menderita kekerasan traumatic
 Ada di dalam keluarga  Kehamilan tidak diinginkan
penderita penyakit mental  Penggunaan kontrasepsi oral
 Kurangnya support dan atau suntik segera setelah
dukungan keluarga dan teman melahirkan
 Kekhawatiran akan bayi yang  Infeksi kronis pada vagina,
kandung penggunaan antibiotik atau
 Masalah kehamilan atau steroid yang lama
kelahiran terdahulu  Diet rendah lemak, rendah
 Masalah perkawinan atau protein atau rendah nutrient lain
keuangan  Penghentian menyusui segera
 Rendahnya dukungan sosial setelah melahirkan
 Berbagai stressor yang serius  Riwayat masalah tiroid
dalam kehidupan  Hamil usia muda
Patofisiologi
Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh
pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki
efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim
otak yang bekerja menginaktifasi nonadrenalin dan serotonin yang
berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi. Karena
proses ini pula seorang ibu setelah melahirkan mengalami perubahan
pada tingkat emosional. Biasanya ibu akan mengalami kenaikan
dalam resons psikologisnya, sensitive dan lebih membutuhkan
perhatian, kasih sayang dari orang di sekitarnya yang di anggap
penting baginya. Keabnormalitasan pada post partum blues ini
mengakibatkan rasa tidak nyaman, kecemasan yang mendalam
pada diri ibu, tek jarang terkadang seorang ibu menangis tanpa
sebab yang pasti. Khawatir pada bayinya dengan kekhawatiran
yang berlebihan.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala postpartum blues
 Ibu sangat emosional, sedih, khawatir, mudah tersinggung, cemas.
 Ibu merasa ‘hilang semangat’, mudah marah, sedih tanpa ada sebabnya, menangis berulang kali.

Tanda dan gejala depresi postpartum


 Tidak bisa tidur atau tidak nafsu makan (terjadi perubahan pola makan dan tidur).
 Ibu mungkin merasa marah, bingung, panik dan tidak berdaya.
 Merasa bahwa ia tidak dapat merawat dirinya sendiri atau bayinya.
 Berfikir untuk mencederai dirinya sendiri atau bayinya.
 Seolah mendengar suara-suara atau tidak dapat berfikir jernih.
 Perilakunya aneh.
 Kehilangan sentuhan / hubungan dengan kenyataan.
 Ibu mungkin takut menyakiti bayinya atau merasa akan menjadi gila.
 Ansietas atau kecemasan merupakan salah satu gejala utama depresi postpartum.
 Menyangkal bahwa bayi yang dilahirkan adalah anaknya.
Manajemen Medis
 Terapi terbaik dari depresi tersebut adalah kombinasi dari psikoterapi,
dukungan sosial, dan medikasi. Beberapa wanita mungkin membutuhkan ECT.
Psikoterapi mungkin lebih berguna dalam membantu ibu untuk mengatasi
perubahan hidup mereka. Pasangan dan keluarga terdekat harus ikut dalam
sesi konseling, sehingga mereka bisa memahami apa yang mereka butuhkan.
 Pengobatan psikoterapi, obat-obatan penenang, dan peningkatan suasana
hati atau gabungan obat-obat ini dapat di indikasikan. Terapi spesifik
bergantung pada sifat gangguan psikiatri yang terdapat pada ibu.
 Antidepresan sering digunakan untuk depresi postpartum dan mungkin
diteruskan selama 6 bulan atau lebih. Jika ibu ingin melanjutkan pemberian
ASI, obat-obatan yang digunakan harus aman selama laktasi, karena hal ini
dapat mempengaruhi proses bonding (Lawrence dan Lawrence, 1999).
 Rawat inap mungkin diperlukan untuk mencegah cedera diri atau kekejaman
terhadap janin. Rawat inap mungkin diperlukan bila ada ansietas yang tidak
tertahankan atau kelainan tingkah laku yang tidak dapat dikontrol.
Asuhan Keperawatan
Pengkajian Keperawatan
Identifikasi awal dari faktor risiko untuk depresi postpartum
akan memudahkan perawat dalam memberikan langkah-
langkah mencegah, sehingga gangguan depresi dapat
dicegah dan diminimalisasi. Latar belakang depresi
postpartum, gangguan afektif keluarga, atau depresi yang
tidak berhubungan dengan kehamilan dapat dihubungkan
dengan masalah potensial. Faktor risiko lain seperti status
sosial ekonomi yang rendah, masalah perkawinan, orang
tua tunggal dengan sistem pendukung yang rendah, serta
ambivalen atau pikiran negatif tentang peran sebagai
orang tua. Latar belakang child abuse, kekecewaan
terhadap diri sendiri, perasaan tidak mampu menjadi ibu,
dan stres baru.
Lanjutan…
Dalam memberikan asuhan keperawatan selama masa pascapartum, perawat mengkaji perilaku ibu
dan interaksi ibu dengan bayinya apakah ada tanda-tanda berikut:
 Ibu tidak memiliki pengunjung dan tidak berbagi kabar tentang kelahiran ke kerabat atau teman.
 Pasangan atau suami mereka tidak menunjukkan sikap hangat, mendukung, atau peduli terhadap
ibu.
 Ibu mengekspresikan sikap menolak atau ambivalensi terhadap kehamilan, kelahiran, atau bayi
baru lahir.
 Ibu memandang bayinya menolak dirinya, atau berperilaku nakal atau agresif; klien dapat
menyebut bayinya sebagai ‘monster’.
 Ibu mengalami gangguan tidur atau mimpi buruk yang hebat.
 Ibu memperlihatkan sikap kurang hangat dan tertarik pada bayinya ketika memberi makan atau
merawatnya; mungkin tidak ingin memeluk bayinya; sangat sedikit bercakap-cakap; kurang kontak
mata dengan bayinya; menunjukkan timbal balik yang sedikit.
 Ibu mengekspresikan perasaan yang intens mengenai kehilangan yang berhubungan dengan citra
tubuh, kemandirian, kegiatan rutin pribadi, status, tujuan.
 Ibu memperlihatkan perasaan kesedihan, kecemasan, perasaan bersalah, marah, serta sering
menangis secara ekstrem.
Diagnosa Keperawatan

 Koping individu tidak efektif yang berhubungan


dengan stres kelahiran, konsep diri negatif, sistem
pendukung yang tidak adekuat
 Gangguan interaksi sosial yang berhubungan dengan
depresi
 Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon
hormonal dan psikologis (sangat gembira, ansietas, dan
kegirangan), nyeri/ketidaknyamanan, proses persalinan
dan kelahiran melelahkan
 Koping keluarga yang tidak efektif, ketidaknyamanan
berhubungan dengan depresi mental dan efek pada
keluarga.
Intervensi Keperawatan
Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan stres kelahiran,
konsep diri negatif, sistem pendukung yang tidak adekuat, ditandai dengan:
Data objektif
 Ansietas atau depresi, kelelahan, dan insomnia.
 Ketidakmampuan menyelesaikan masalah dan tugas.
 Perubahan komunikasi dan interaksi sosial.
 Tingkah laku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain.
 Bimbang atau tidak yakin dengan keputusan yang diambil

Data subjektif
 Pengungkapan ketidakmampuan untuk melakukan koping.
 Mengungkapkan rasa kurang percaya diri.
 Mengeluh nyeri pada leher, ketegangan otot, dan sakit kepala.
Kriteria hasil :
 Ibu menunjukkan kewaspadaan dari koping.
 Ibu menunjukkan kemampuan menyelesaikan masalah.
 Ibu menunjukkan kemampuan memenuhi kebutuhan fisiologi dan psikologis dan
ekspresi perasaan.
 Ibu menunjukkan kemampuan mengambil keputusan dan kepuasan terhadap pilihan.

Intervensi mandiri :
 Tetapkan hubungan terapeutik perawat ibu.
Rasional: ibu mungkin merasa lebih bebas dalam konteks hubungan ini.
 Kaji munculnya kemampuan koping positif, misalnya teknik relaksasi, keinginan untuk
mengekspresikan perasaan.
Rasional: jika individu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan pada
masa lampau mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi ketegangan dan
kontrol individu.
Rasional: menginformasikan mengenai masalah keluarga akan membantu dalam
mengembangkan rencana keperawatan.
 Kaji tindakan orang terdekat sekarang ini dan bagaimana
mereka diterima ibu.
Rasional: sebagai orang terdekat mungkin berusaha membantu,
namun tidak dipersepsikan sebagai bantuan oleh ibu.
 Sertakan orang terdekat dalam pemberian informasi, pemecahan
masalah, dan perawatan ibu sesuai dengan kemungkinan.
Rasional: informasi dapat mengurangi perasaan tanpa harapan
dan tidak berguna. Keikutsertaan dalam perawatan akan
meningkatkan perasaan kontrol dan harga diri.
 Dorong pencarian bantuan sesuai dengan kebutuhan memberikan
informasi mengenai orang dan institusi yang tersedia bagi
mereka.
Rasional: izin untuk mencari bantuan sesuai kebutuhan dan
membuat mereka memilih untuk mengambil keuntungan dari apa
yang tersedia.
Gangguan interaksi sosial yang berhubungan dengan
depresi berat ditandai dengan:
Data subjektif
 Merasa tidak nyaman dengan situasi sosial.

 Merasa sulit menerima atau mengkomunikasikan


perasaan.

Data objektif
 Kurang responsif terhadap orang lain.

 Tidak berminat melakukan kontak emosi dan fisik.

 Gejala cemas berat.

 Kontak mata kurang.

 Perilaku tidak sesuai usia.


Kriteria hasil :
 Ibu menunjukkan sikap bekerja sama dalam membentuk
hubungan dengan orang lain.
 Ibu menunjukkan sikap tenang dalam mengontrol diri.

 Ibu menunjukkan adanya relaksasi.

Intervensi :
 Dorong pasien untuk berhubungan dengan orang lain.

Rasional: hubungan dengan orang lain dapat mengurangi


tingkat stresor.
 Dorong pasien untuk beraktifitas dalam masyarakat.

Rasional: aktifitas dapat membantu mengurangi beban


pikiran.
 Dorong pasien untuk berbagi masalah dengan orang lain.

Rasional: untuk mendapatkan solusi dari orang lain.


Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal dan
psikologis (sangat gembira, ansietas, dan kegirangan),
nyeri/ketidaknyamanan, proses persalinan dan kelahiran melelahkan
ditandai dengan:
Data subjektif
 Mengeluh sulit tidur.

 Mengeluh sering terjaga.

 Mengeluh tidak puas tidur.

 Mengeluh pola tidur tidak berubah.

 Mengeluh istirahat tidak cukup.

Data objektif
 Tidak tersedia.

Kriteria hasil :
 Ibu menunjukkan rasa puas dalam pola tidur yang dimilikinya.

 Ibu menujukkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas


dan istirahat.
Intervensi:
 Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat.

Rasional: persalinan atau kelahiran yang lama dan sulit, khususnya


bila ini terjadi malam dapat meningkatkan tingkat kelelahan.
 Kaji faktor-faktor, bila ada yang mempengaruhi istirahat.

Rasional: membantu meningkatkan istirahat, tidur dan relaksasi serta


menurunkan rangsangan.
 Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setelah
kembali ke rumah.
Rasional: rencana yang kreatif yang membolehkan untuk tidur
dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi
kebutuhan tubuh.
 Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada
suplai ASI.
Rasional: kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis, suplai
ASI, dan penurunan reflek secara psikologis.
Koping keluarga yang tidak efektif, ketidaknyamanan
berhubungan dengan depresi mental dan efek pada keluarga.
Data subjektif
 Merasa diabaikan

 Merasa tertekan

Data objektif
 Tidak toleran

 Mengabaikan anggota keluarga

 Perilaku menyerang (agresi)

 Perilaku menolak

 Perilaku bermusuhan

 Perilaku invidualistik

 Mengabaikan perawatan/pengobatan anggota keluarga

 Perilaku sehat terganggu


Kriteria hasil :
 Ibu menunjukkan kemampuan untuk menunjukkan identifikasi sumber-sumber dalam
diri sendiri untuk berhadapan dengan situasi.
 Ibu menunjukkan kemampuan untuk menghadapi situasi dengan caranya sendiri.

Intervensi :
 Kaji tingkat ansietas yang muncul pada keluarga atau orang terdekat.

Rasional: tingkat ansietas harus dihadapi sebelum pemecahan masalah dapat


dimulai.
 Kaji masalah sebelum sakit atau tingkah laku saat ini yang mengganggu perawatan
atau proses penyembuhan klien.
Rasional: informasikan mengenai masalah keluarga akan membantu dalam
mengembangkan rencana keperawatan yang sesuai.
 Kaji tindakan orang terdekat sekarang ini dan bagaimana mereka diterima oleh
klien.
Rasional: orang terdekat mungkin berusaha untuk membantu namun tidak
dipersepsikan sebagai bantuan oleh klien.
 Ikut sertakan orang terdekat dalam pemberian informasi, pemecahan masalah dan
perawatan klien sesuai kemungkinan.
Rasional: informasi dapat mengurangi perasaan tanpa harapan dan tidak berguna.
Keikutsertaan dalam perawatan akan meningkatkan kontrol perasaan dan harga
diri.
Implementasi Keperawatan
 Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan
yang telah direncanakan mencakup tindakan mandiri
dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan
perawat, dan bukan atas petunjuk tenaga kesehatan
lain. Tindakan kolaborasi adalah tindakan
keperawatan yang didasarkan hasil keputusan
bersama dengan dokter atau petugas kesehatan
lain.(Mitayani,2011)

Evaluasi Keperawatan
 Merupakan hasil perkembangan ibu dengan
berpedoman kepada hasi dan tujuan yang hendak
dicapai. (Mitayani,2011)