Anda di halaman 1dari 35

PENGOMPOSAN

Oleh :
Ita Wahju Nursita
DEFINISI
 Pengomposan :
dekomposisi b.o sec.
biologis aerobik terkontrol
m’jadi produk stabil spt
humus, disebut kompos.

 Proses sama dg
dekomposisi alami, kecuali
bhw proses tsb dipacu &
diakselerasi (dg m’campur
b.o dg bahan2 lain) utk
optimalkan pertumbuhan
mikrobial.
MANFAAT PENGOMPOSAN
 perbaikan penanganan manure
 reduksi bau, lalat & vektor lain
 tingkatkan kesuburan, tilt dan kapasitas
simpan air tanah
 dpt disimpan lama
ELEMEN PERENCANAAN
FASILITAS PENGOMPOSAN
 Investigasi tempat
 Rancang resep
 Rancang fasilitas
 Rencana pemanfaatan limbah
 Rencana pengoperasian & pemeliharaan
PRINSIP PENGOMPOSAN
LATAR BELAKANG
 Pengomposan: proses dekomposisi b.o oleh
b’bagai m.o aerobik utk dapatkan enerji dan
materi yg diperlukan utk tumbuh &
reproduksi.
 Kompos : hasil dekomposisi + m.o hidup &
mati + bahan tidak t’dekomposisi.
 M.o butuh kondisi nutrisi (makro, mikro) &
lingkungan (air, oksigen, t, pH)
PROSES PENGOMPOSAN
 M.o aerobik mendominasi oki perlu
manjemen nisbah C:N, suplai oksigen,
kelembaban, t & pH tumpukan kompos.
 2 periode:
1. Pengomposan aktif
2. Pemulihan (curing, 1-6 bulan)
KISARAN SUHU KOMPOS
 Pengomposan aktif: 3 kisaran suhu
a. Psychrofilik (< 50°F)
b. Mesofilik (50 - 105°F)
c. Thermofilik (> 105°F).
Kisaran t tunjukan puncak pertumbuhan &
efisiensi.
 Ada short lag period di awal.
 Pada saat curing: t rendah.
MIKRO ORGANISME
 3 kelas: bakteri, fungi, actinomycetes.
 Bakteri: dekomposer cepat, bbrp dpt
degradasi selulosa, pH 6 – 7,5 , tdk thn RH/
pH rendah, bs bentuk endospora.
 Fungi: lbh besar dr bakteri, t’susun dr
filamen, ada di thp akhir, urai senyawa tahan
busuk/b’kayu, thn RH/ pH rendah, tdk thn O2
rendah, t > 140°F.
BAKTERI & ACTINOMYCETES
MIKRO ORGANISME (lanjut)
 Actinomycetes: dilihat dr struktur & ukuran = bakteri,
tp krn buat filamen & bs pakai substrat b’variasi =
fungi.
Hslkn protease ekstrasel, bs lisis bakteri lain, nyata
di thp akhir (RH rendah, pH asam).
 Organisme lbh tinggi (protozoa, rotifer, nematoda)
ada bl t rendah. Bantu degradasi lignin & pectin.
TRANSFORMASI KIMIAWI (1)
 Proses katabolis: senyawa kompleks ->
sederhana dg bbrp reaksi kimia.
 Proses sintesis: bentuk senyawa kompleks
baru, butuh enerji.
 2 cara dpt enerji metabolisme utk m.o
heterotrofik:
a. Respirasi
b. Fermentasi
TRANSFORMASI KIMIAWI (2)
 Respirasi: bs aerobik & non aerobik.
 Respirasi aerobik:
- gunakan oksigen molekuler (O2)
[C,O,4H] + O2  CO2 + 2H2O + enerji
- bukan reaksi tunggal
- lbh disukai (lbh efisien, enerji hsl >,
pd t tinggi, tdk ada senyawa bau).
TRANSFORMASI KIMIAWI (3)
 Respirasi anaerobik:
- gunakan akseptor elektron nitrat
(NO3-), sulfat (SO42-) & karbonat
(CO32-) utk dptkn enerji.
- hslkan senyawa b’bau (H2S & CH4).
- formasi as. org. intermediat,
detrimental utk m.o aerob.
TRANSFORMASI KIMIAWI (4)
 Fermentasi:
- plg simpel (tdk perlu O2, konversi
ke produk akhir; bukan bhn sel), tdk
efisien (enerji hsl sedikit).
TRANSFORMASI KIMIAWI (5)
 Katabolis protein:
Proteins + O2 seny. amino kompl. +
CO2 + enerji + produk lain
Proteosa  pepton asam amino 
asam amida
 Sintesis material seluler:
- gunakan produk digesti protein & aa
- hanya bila t’sedia cukup karbon.
TRANSFORMASI KIMIAWI (6)
 Bila karbon tdk cukupamonifikasi, hslkn
amonia (NH3) atau ion amonium (NH4+)
a. R-NH3 + HOH  R-OH + NH3+enerji
(pH>7/ t tinggi), atau interkonversi
b. 2NH3 + H2CO3  (NH4)2CO3
<-->2NH4+ + CO32-
(pH<7)
TRANSFORMASI KIMIAWI (7)
 Nitrifikasi:
- ion NH3/NH4+ dioksidasi  nitrat
- 2 proses & macam bakteri:
a. NH4+ + 1½ O2  NO2- + H2O + 2H+
+ enerji (b. autotrofik)
b. NO2- + ½ O2  NO3- + enerji
(b. nitrifikasi)
- terjadi pada p. curing; krn NO2- toksik
bg tanaman, perlu wkt cukup & aerasi
TRANSFORMASI KIMIAWI (8)
 Denitrifikasi:
- Terjadi pd lingk. kurang O2.
- Pelaku b. aerob & anaerob.
- NO3-  NO2-  N2O (nitrus oksida)
 N2 (gas) (b. aerob)
- HNO3- + H2  NH2 + N2O
(b.anaerob)
- N2O senyawa b’bau, tdk dikehendaki
- Hindari dg aerasi yg baik
NITROGEN HILANG
 N hilang selama pengomposan b’variasi tgt:
bahan, metode & manajemen; unggas 60-
70%, sapi 55 % (Martins & Dewes, 1992),
unggas 3-30 % (Hansen et al., 1990).
 Bisa kontaminasi air tanah, mslh bau, kand.
N kompos.
 3 jalur: emisi gas (utama), leaching &
denitrifikasi.
N hilang via emisi gas
 46,8-77,4 % (Martin & Dewes, 1992).
 Mayoritas sbg amonia (NH3) & persentase kecil sbg
nitrus oksida (N2O).
 Faktor pelepasan NH3:
a..pH; >8 promosi konversi NH4+ jd NH3
b. Ekuilibrium (NH4+/NH3)
c. Kecepatan mineralisasi seny. N organik.
d. Rasio C:N; rendah emisi meningkat.
e. Suhu; tinggi emisi meningkat.
f. Aerasi; sering dibalik emisi meningkat
N hilang via leaching
 Terutama sbg N terikat, ion amonium (NH4+), sebag.
kecil sbg nitrat (NO3-).
 Nitrat b’potensi kontaminasi air tanah, meski
jmlhnya tdk signifikan dlm leachate kompos.
 Terutama terjadi pd mgg pertama, stlh itu t’utama
krn air hujan (tdk diberi penutup).
 Faktor yg t’kait: jmlh leachate, kand. N leachate,
proporsi fraksi N pd leachate, tipe bahan, titik prses
pengomposan aktif, frek. pembalikan.
 Formasi NO3—N indikasi proses aerobik baik.
RASIO C:N
 M.o butuh makro nutrisi: C, N, P & K.
 C & N adlh nutrisi utama, punya efek t’besar
pd pengomposan, rasio baik b’arti nutrisi lain
jmlhnya memadai.
 C sbg sumber enerji & utuk pertumb. mikroba
 N utk sintesis material seluler.
 C:N awal 20-40 utk pengomposan cepat.
 Hal lain yg penting adalah bentuk k’t’sediaan.
OKSIGEN
 Penting utk kehidupan m.o aerobik.
 Jika tdk memadai, m.o anaerob akan
dominasi, proses lambat, timbul bau.
 Min. 5 %.
 Cara suplai: aerasi paksa atau pasif.
 Ingat! M.o butuh aqueous env. utk b’fungsi
shg oksigen mgkn t’hambat sampai ke m.o.
AIR
 M.o butuh aqueous env. utk b’gerak,
transport nutrisi, medium reaksi kimia.
 40-65 %, <15 % aktivitas mikroba t’henti.
 Selama pengomposan, b’fluktuasi, perlu
pemantauan.
 Faktor tipe bahan, porous vs padat.
 Air utk mekanisme pendinginan.
KONTROL & P’ATURAN PH (1)
 Kisaran ideal: 6,5-8, tp pH bahan baku tdk sign.
pengaruhi proses krn m.o hidup pd berbagai pH.
 Akhir proses pH 7,5-8, brppun pH awalnya.
 Variasi pH selama proses krn:
- pH bahan baku
- produk &intermediat selama proses
 Bbrp hr awal periode pengomp.aktif, pH 4-6 krn:
- formasi asam organik pd z. anerob
- formasi asam organik intermediat krn substrat C
b’lebih
KONTROL & P’ATURAN PH (2)
 Knds asam detrimental utk bakteri &
melambatkn proses. Tp fungi konsumsi seny.
asam.
 Ada kapasitas buffering alami dr
tumpukantdk perlu atur pH
 Perlu perhatian dg bhn N tinggibasaberi
bhn penurun pH (superfosfat, 2-5% BK manure
sapi)
 Bila knds asam b’langsung lama sejak
awalberi penaik pH (kapur (Ca(OH)2)).
Kendala: volatilisasi amonia.
KARAKTERISTIK FISIK
 Pengaruhi: aerasi, jumlah dekomposisi,
kemampuan p’tahankn konds aerobik tumpk.
 3 karaktrstk utama:
a. Porositas: ukuran ruang udara
b. Tekstur: proporsi relatif b’bagai ukuran
partikel bhn, luasan t’sedia utk m.o.
c. Struktur: kemampuan partikel utk menahan
pengompakan.
RANC. CAMPURAN KOMPOS
 Komponen camp. kompos: substrat primer (bhn
utama limbah yg diberi perlakuan), amandmen
(bahn tmbhn utk p’baiki C:N, pH, stabilitas,
kelembaban) & agen ‘bulking’ (bhn tahan p’busukan
utk struktur & porositas; bisa sbg amandment
sekaligus ).
 Tipikal bhn baku.
 Determinasi resep kompos, 2 cara:
* Tentukan prop. bhn diperlukan utk C:N camp.
* Tentukan C:N camp. b’dsrk. kuant. bhn t’sedia
kmdn seimbangkan C:N & kelembaban.
MONITORING SUHU
 Suhu: indikator aktv. mikrobial. Normal: suhu meningkat
dg berkembangnya pop. mikrobial.
 Penyebab gagal memanas (pd kedalaman 12-18 inch):
* Dekomp. aerobik tdk t’jadi: (aerasi kurang,
sumber C atau N tdk memadai, kelembaban
rendah, pH rendah).
* Kehilangan panas b’lebih: ukuran tumpk.
terlalu kecil.
* Campuran awal steril (pop. mikroba sedikit).
* Kehilangan struktur & porositas, biasanya stlh capai
thermofilik.
 Suhu tdk merata, ada cold spot (indks anaerobik).
 Over heat, why?
MONITORING KELEMBABAN
 Kelembabn b’variasi selama proses krn evaporasi
atau presipitasi. 40-60 % ideal.
 Tumpk. basah: proses lambat/t’henti anaerob
bau.
 Tump. kering: detrimental utk aktivitas mikrobial,
m’bentuk debu yg bawa bau & pathogen jamur
Aspergillus fumigatus.
 Terkait dg iklim.
 Metode koreksi: p’balikan/penyemprotan air.
 Squeeze test, how?
MONITORING O2 & CO2
 Kadar O2: indikator proses.
 Aktv aerobik  kons. O2  kadar O2 ↓.
Selama pengomps. aktif, kadar O2 rendah.
 Stlh matang (aktv. m.o lambat), kadar O2↑  .
 P’ukuran kelembaban tdk seakurat suhu.
 Krn CO2 adl produk respirasi aerobik, bs jg
sbg indikator aktv. mikrobial, tp kebalikannya.
MANAJEMEN BAU
 Stlh suhu, bau adl indikator t’mudah utk ketahui
apakah konds. tumpukan aerobik/tdk.
 2 mcm bau:
a. Bau busuk (spt belerang) anaerob,
penyebab: kelembbn  ↑ , porositas ↓. Jk
kelembbn tdk mslh, mungkin ukuran terlalu
besarkompakaerasi kurang.
b. Bau amonia: kurangi frek. pembalikan, atau
tambah bhn kaya karbon.
 Metode deteksi terbaik dg hidung. CO2