Anda di halaman 1dari 19

Dr.

Retno Sri Haswati


Seksi Pelayanan Kesehatan
Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga
 Secara geografi, Indonesia terletak di daerah
rawan bencana berpotensi menimbulkan
korban jiwa, pengungsian, kerugian harta benda
dan kerugian lain yang tidak ternilai.
 Selain itu Indonesia merupakan negara yang
heterogen  suku, adat, budaya dan agama ,
dimana hal ini menjadikan potensi konflik
 Bencana dan konflik  kedaruratan kompleks
dan menjadi masalah kesehatan. Pelayanan
kesehatan pada kegawardaruratan kompleks
membutuhkan keterpaduan dan kerjasama lintas
sektoral atau kemitraan.
 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan,
 Keppres no 111 tahun 2001 tentang Bakornas
Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi.
 Kepmenkes no 979 / Menkes / SK / IX / 2001 tentang
Protap Pelayanan Kesehatan Penanggulangan Bencana
dan Penanganan Pengungsi.
 Kepmenkes No 1277 / Menkes / SK / XI / 2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan
Republik Indonesia..
 Kepmenkes No 42 / Menkes / SK / V / 2002 tentang
Save Community (Masyarakat Hidup Aman dan Sehat).
• Kepmenkes No 1764./ Menkes / SK / XII / 2003
tentang Pedoman Kerja Brigade Siaga Bencana
• Kepmenkes No. 106 / Menkes / SK / I / 2004
tentang Tim SPGDT dan Pelatihan PPGD/GELS.
• Permenkes No. 19 tahun 2016 tentang Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu.
• Peraturan Gubernur Jawa Tengah No. 15 tahun
2017 tentang Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu di Prov Jateng.
• Peraturan Bupati no 109 tahun 2017 tentang
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu di
Kab Purbalingga
 Paradigma sehat, yaitu menjaga keseimbangan
antara menjaga risk management dengan (upaya
promotif dan preventif) dengan desease
management (upaya kuratif dan rehabilitatif).
 Profesionalisme, yaitu pengembangan SPGT
berdasarkan standar yang disepakati secara
profesional antara semua stake holder terkait
dan didukung peran serta masyarakat.
 Desentralisasi, yaitu advokasi dan pemberdayaan
daerah untuk pengembangan SPGDT yang sesuai
dengan kebutuhan dan kekhususan daerah (local
specific)
 Sistem pembiayaan yang efektif dan efisien.
KONSEP SAFE COMMUNITY

Shared Vision Masyarakat sehat, aman, sejahtera


Public safety center (ASTER)

Masya Pelayanan kesehatan


rakat Akses (Safe, aspek kesehatan SPGDT-S/B)

Instansi
Instansi
- Polisi NonKes
Non kes PERDA
- PMK APBD
- Asuransi Eksekutif
Eksekutif Pemberdayaan, pencegahan
Legislatif
Legislatif penyuluhan
- Pembiayaan
Masyarakat Umum - Perilaku sehat
Pendekatan
(Primary prevention)
struktural
Pendekatan kultural Semua stakeholder
berperan serta
(Pada paradigma sehat: fokus pada primary prevention)
6
SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU
( SPGDT )

SEHARI HARI ~ GADAR BENCANA ~ MASSAL


ADALAH

SUATU SISTEM NASIONAL PENANGGULANGAN


GAWAT DARURAT DAN BENCANA
YANG MELIPUTI PELAYANAN KESEHATAN
PRA RUMAH SAKIT, DI RUMAH SAKIT DAN
ANTAR RUMAH SAKIT
DENGAN MELIBATKAN
UNSUR PEMERINTAH DAN MASYARAKAT

7
 Umum : Mewujudkan Masyarakat Sehat aman dan
sejahtera ‘Safe Community’ melalui Implementasi SPGDT
 Khusus :
 Adanya komando kegiatan sesuai peran masing-masing
 Tersedianya SDM kesehatan dengan kualitas dan
kuantitas sesuai kebutuhan
 Tersedianya sarana/fasilitas yg standar
 Adanya sistem pembiayaan yg jelas
 Adanya dasar peraturan yang kondusif

8
Gawat darurat dapat terjadi
kapan saja,
dimana saja
pada siapa saja
Di Indonesia pasien gawat darurat cenderung meningkat
Sehari-hari Bencana
-Kecelakaan lalu lintas -Bencana alam
-Kematian ibu -Bencana akibat ulah
-Kematian bayi Manusia
-Penyakit Jantung
-Stroke
-Penyakit infeksi
Safe Community
SPGDT

 Preparedness • Awam
Umum
 Prevention •Awam
Petugas Dokter Dokter Spesialis
ambulans Perawat Perawat Mahir/ Spes.
Khusus
 Mitigation
Komunikasi
Transportasi
TKP ambulans Pusk RS RS
Klas C Klas A/B
Masyarakat
aman, sehat & Intra RS Intra RS
sejahtera Pra RS
Antar RS
PPGD
 PublicSafety Center (PSC)
 Brigade Siaga Bencana (BSB)
 Pelayanan Ambulans (Ambulance Service)
 Ujung tombak ‘ safe community”
 Sarana publik/masyarakat yang merupakan
perpaduan unsur ambulans gawat darurat,
pengamanan (kepolisian) danunsur
penyelamatan ( mispemadam kebakaran)

Penanganan pertama kegawatdaruratan,


menjamin respons cepat dan tepat untuk
menyelamatkan nyawa & mencegah kecacatan
sebelum di rujuk ke RS
 Hospital Disaster Plan ( intra hospital disaster maupun
extra hospital disaster)
 UGD  organisasi,pembiayaan, sdm terlatih, mengikuti
perkembangan iptek
 BSB di RS
 High Care Unit (HCU)
 Intensive care unit (ICU)
 Pelayanan kamar jenazah
 Penunjang diagnostik dan penunjang dalampengobatan
 Transport intra hospital (UGD-HCU-ICU-Kamar bedah) 
prosedur,peralatan,sdm profesional
 Pelatihan, simulasi,koordinasi
 Pembiayaan  menjamin pelayanan terstandar
 Jejaring rujukan
 Evakuasi  transportasi RS lapangan RS
rujukan; antar RS
 Sistem Informasi Manajemen
 Koordinasi dalam pelayanan rujukan (
pemberian informasi keadaan pasien dan
pelayanan yang dibutuhkan sebelum pasien
ditransportasi ke RS tujuan)
 Persiapan dan koordinasi
 Pemasangan jaringan telepon : 0281 8902119
 Perekrutan tenaga operator
 Orientasi dan pelatihan bagi petugas
 Sosialisasi dan koordinasi dg petugas terkait
 Pemantapan jaringan internal kesehatan
 Sosialisasi dan koordinasi dengan linsek
terkait
 Publikasi
 Monev
STRATEGI dan PRODUK YANMED

 Peningkatan SDM • Tersedianya SDM


SPGDT cukup
• SDM yang bermutu

 Peningkatan
mutu • Tersedianya sarana yg
pelayanan GADAR dan standar pada
Bencana pelayanan Gadar Pra
RS (PSC), RS & antar
RS
 Peningkatan Kinerja
Organisasi Bencana • Organisasi SPGDT yang
efektif
• Manajemen SPGDT
yang efektif
16
 Komitmen
 Kerjasama
 Sumberdaya :
 SDM : Kualitas dan Kuantitas

 Sarana dan Fasilitas

 Pembiayaan

17
BAGAIMANA SEKARANG
APAKAH KITA SUDAH SIAP

MAU RAPAT DULU YA NANTI SAAT TERJADI


BENCANA

18
TERIMA KASIH