Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

SEPTIC ARTRITIS
dr. Martiana Helena
ANAMNESIS
◦ Keluhan utama: Muntah lebih dari 5 kali sejak 1 malam SMRS.
◦ Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke RSUD Anuntaloko dengan keluhan
muntah lebih dari 5 kali sejak 1 malam SMRS. Muntah hanya berupa cairan berwarna
bening dan tidak ada sisa makanan yang keluar bersama muntahan. Pasien juga
mengeluhkan BAB berwarna kehitaman sejak 1 malam SMRS. Konsistensi BAB agak
cair, tidak ada darah segar, tidak ada lendir, dan tidak berbau asam. Pasien merasa
lemas, mual, sulit makan karena muntah, dan nyeri di bagian ulu hati.
◦ Pasien juga merasakan bengkak dan sakit di lutut sebelah kiri sejak 1 bulan SMRS.
Awalnya pasien mengira lulutnya sakit karena asam urat, sehingga pasien hanya
mengonsumsi obat asam urat tiga kali sehari yang diberikan oleh mantri namun
keluhan tidak dirasa membaik dan pasien menjadi sulit berjalan karena nyeri. Bengkak
hanya terdapat di bagian lutut kiri saja, di sendi lain tidak terdapat bengkak.
◦ Satu minggu sebelum lutut pasien membengkak, pasien mengatakan pernah memiliki
luka di bagian tumit sebelah kiri. Pasien mengaku sering menggaruk tumit bagian kiri
karena gatal sehingga kulit telapak kaki luka dan terkelupas, pasien hanya
membersihkan luka dengan rivanol dan tidak pernah mengobati luka dengan baik.
Dua hari SMRS pasien merasa meriang dan demam namun tidak diukur dengan
termometer, pasien hanya mengonsumsi obat warung dan demam dirasakan
berkurang.
◦ Pasien memiliki riwayat penyakit kencing manis namun tidak minum obat secara
teratur dan jarang mengontrol kadar gula darahnya ke puskesmas. Pasien hanya
mengonsumsi obat-obatan herbal untuk mengobati penyakit kencing manisnya.
Pasien juga memiliki riwayat penyakit TBC sejak 2 tahun yang lalu dan sudah berobat
rutin selama 6 bulan.
PEMERIKSAAN FISIK
◦ Kesadaran : compos mentis
◦ Keadaan Umum : tampak sakit sedang
◦ Tekanan Darah : 130/90 mmHg
◦ Nadi : 80 x/menit
◦ Suhu : 36,1°C
◦ Pernapasan : 18 x/menit
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN PENUNJANG
RESUME
◦ Pasien seorang perempuan berusia 52 tahun datang ke RSUD Anuntaloko dengan
keluhan muntah lebih dari 5 kali sejak 1 malam SMRS. Muntah hanya berupa cairan
berwarna bening. Pasien juga mengeluhkan BAB berwarna kehitaman sejak 1 malam
SMRS dan konsistensi BAB agak cair. Pasien merasa lemas, mual, sulit makan karena
muntah, dan nyeri di bagian ulu hati.
◦ Pasien juga merasakan bengkak dan sakit di lutut sebelah kiri sejak 1 bulan SMRS.
Awalnya pasien mengira lulutnya sakit karena asam urat, sehingga pasien hanya
mengonsumsi obat asam urat tiga kali sehari yang diberikan oleh mantri namun
keluhan tidak dirasa membaik dan pasien menjadi sulit berjalan karena nyeri. Bengkak
hanya terdapat di bagian lutut kiri saja.
◦ Satu minggu sebelum lutut pasien membengkak, pasien mengatakan pernah memiliki
luka di bagian tumit sebelah kiri. Pasien mengaku sering menggaruk tumit bagian kiri
karena gatal sehingga kulit telapak kaki luka dan terkelupas, pasien hanya
membersihkan luka dengan rivanol. Dua hari SMRS pasien merasa meriang dan
demam namun tidak diukur dengan termometer, pasien hanya mengonsumsi obat
warung dan demam dirasakan berkurang.
◦ Pasien memiliki riwayat penyakit kencing manis namun tidak minum obat secara
teratur dan jarang mengontrol kadar gula darahnya ke puskesmas. Pasien hanya
mengonsumsi obat-obatan herbal untuk mengobati penyakit kencing manisnya.
Pasien juga memiliki riwayat penyakit TBC sejak 2 tahun yang lalu dan sudah berobat
rutin selama 6 bulan.
◦ Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah pasien normal tinggi, nyeri ulu hati,
lutut kiri pasien terasa nyeri, membengkak, teraba fluktuasi dan sulit digerakkan. Pada
pemeriksaan penunjang didapatkan kadar gula darah yang sangat meningkat dan
nilai HbA1C yang tinggi menunjukkan pasien menderita diabetes melitus tipe 2 dan
kontrol pasien terhadap gula darahnya sangat rendah.
◦ Jumlah leukosit yang meningkat menunjukkan bahwa terdapat infeksi di dalam darah
pasien. Dari analisa gas darah didapatkan pasien mengalami asidosis metabolik,
sedangkan dari hasil urea dan kreatinin dapat disimpulkan pasien mengalami gagal
ginjal akut.
DIAGNOSIS
◦ Septik Artritis
RENCANA PENATALAKSANAAN
◦ Bedrest total
◦ Guyur NaCl 0,9% 1500cc
◦ Novorapid drip 1 unit per jam kemudian ganti cairan dengan D5% 500cc per 8 jam
◦ Asam traneksamat 500mg per 8 jam/IV
◦ Inj. Omeprazole 80mg bolus, lalu drips Omeprazole per jam/SP
◦ Inj. Vit K 1 amp per 8 jam
◦ Inj. Cefotaxime 1 gr per 8 jam
◦ Inj. N-acetylsistein 200 mg per 8 jam/IV
◦ Inj. Metoclopramide 10mg per 8 jam/IV
PENCEGAHAN
◦ Menjaga kesehatan dengan olahraga teratur dan istirahat yang cukup
◦ Mengonsumsi makanan bergizi dan mengurangi konsumsi gula
◦ Minum obat teratur dan rajin mengontrol kadar gula darah
◦ Melakukan perawatan luka dengan baik
PEMBAHASAN
◦ Penetapan diagnosis artritis bakterialis didasarkan pada hasil anamnesis dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluh nyeri
dan bengkak di lutut kiri sejak 1 bulan SMRS. Satu minggu sebelum lutut pasien
membengkak, pasien mengatakan pernah memiliki luka di bagian tumit sebelah kiri.
Pasien mengaku sering menggaruk tumit bagian kiri karena gatal sehingga kulit
telapak kaki luka dan terkelupas, pasien hanya membersihkan luka dengan rivanol.
Dua hari SMRS pasien merasa meriang dan demam namun tidak diukur dengan
termometer, pasien hanya mengonsumsi obat warung dan demam dirasakan
berkurang. Luka di tumit in kemungkinan menjadi port de entry bagi bakteri sehingga
akhirnya menginfeksi lutut pasien. Penanganan luka yang tidak tepat juga dapat
memperparah infeksi.
◦ Pasien juga diberikan antibiotik dan anti nyeri. Dilakukan juga pungsi di lutut pasien
untuk mengetahui warna cairan, didapatkan cairan berwarna hijau, biasanya
menunjukkan bahwa penyebabnya adalah bakteri.
KESIMPULAN
◦ Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius dan sampai saat
ini masih merupakan tantangan bagi para klinisi karena prognosis tidak berubah
selama dua dekade terakhir ini. Infeksi pada sendi dapat melalui hematogen ataupun
inokulasi langsung melalui prostetik sendi. Penyebab yang paling banyak adalah
Staphylococcus aureus.
◦ Proses kerusakan sendi melalui tiga tahap yaitu kolonisasi bakteri, terjadinya infeksi, dan
induksi respon inflamasi hospes. Faktor predisposisi menderita artritis septik oleh adanya
faktor lokal dan kondisi sistemik yang memudahkan terjadinya infeksi.
◦ Diagnosis arthritis septik adalah ditemukannya kuman patogen dari cairan sendi. Bila
ada gejala dan tanda klasik artritis septik sebaiknya tidak sampai menunda diagnosis
artritis septik. Sekali artritis septik diduga maka segera dilakukan pengambilan sampel
untuk pemeriksaan serta berikan terapi antibiotika yang sesuai dan segera dilakukan
drainase cairan sendi.