Anda di halaman 1dari 90

FARMAKOTERAPI

INFEKSI SALURAN
PERNAPASAN ATAS
Otitis Faringitis

tonsilitis sinusitis
FARINGITIS
FARINGITIS

– Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring dan


sering meluas ke jaringan sekitarnya yaitu dari orofaring
dan nasofaring
– Faringitis biasanya timbul bersama -sama dengan
tonsilitis, rhinitis dan laryngitis.
– Faringitis banyak diderita anak -anak usia 5-15 th di
daerah dengan iklim panas.
– Penyakit ini ditularkan melalui kontak dari sekret
hidung dan ludah (droplet infections)
ETIOLOGI

Virus Bakteri
 Streptokokus beta
hemolitikus grup A
 Terbanyak pada usia ≤
 Streptococcus non group
3 tahun A
 Influenzae A dan B  Staphylococcus aureus
 Parainfluenzae
 Haemophilus influenzae
 Adenovirus
 Bacteroides fragilis
 Rhinovirus
 Diphtheriae
 Jamur (yaitu Candida)  Kuman atipikal (klamidia
 Iritasi makanan yang dan mikoplasma)
merangsang
ETIOLOGI
FAKTOR PREDISPOSISI

Eksogen Endogen Prediposisi lokal

• Musim • Avitaminosis A • Bahan iritan


• Cuaca • Alergi • Pernafasan
• Temperatur • Imunodefisiensi melalui mulut
• Polusi • Konsumsi • Refluks
• Debu alkohol esofagus
• Pemakaian AC • Paparan rokok
PATOGENESIS

– Pada faringitis yang disebabkan infeksi bakteri ataupun


virus dapat secara langsung menginvasi mukosa faring
menyebabkan respon inflamasi lokal.
– Bakteri menginfiltrasi lapisan epitel sampai epitel terkikis
sehingga akan merangsang aktivitas jaringan limfoid
superfisial melalui infiltrasi leukosit polimorfonuklear.
– Streptococcus beta-hemolyticus grup A menyebabkan
inflamasi pada faring bagian atas.
– Infeksi ini memiliki karakteristik khusus yaitu invasi lokal,
pelepasan extracellular toxins yang dapat menyebabkan
kerusakan jaringan yang hebat.
– Infeksi oleh Streptococcus beta-hemolyticus grup A sering diikuti
oleh komplikasi non suppurative dan suppurative.
– Komplikasi Suppurative :
– abses peritonsilar, abses retrofaringeal, limfadenitis cervical, otitis media, sinusitis
dan
 necrotizing fasciitis.
– komplikasi non suppurative :
– demam rematik akut, glomerulonefritis akut, dan artritis reaktif.
FARINGITIS VIRAL

 Gejala klinis :
 Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok, disfagia.
• Virus influenza, Coxsachievirus dan Cytomegalovirus tidak menghasilkan
eksudat.
• Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesikuler di orofaring dan kulit
• Epstein Barr Virus (EBV) dapat menimbulkan pembesaran KGB
• Pemeriksaan fisik :

―Tonsil dan faring hiperemis


GAMBARAN KLINIS

Faringitis yang disebabkan oleh rhinovirus


• rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis, demam disertai rinorea,
mual, nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil
hiperemis.
Virus influenza, coxsachievirus, dan cytomegalovirus
• tidak menghasilkan eksudat.

Coxsachievirus dapat
• lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash.

Adenovirus
• selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada
anak.
Epstein-Barr virus (EBV)
• menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak.
FARINGITIS BAKTERIAL

 Gejala klinis :
 Nyeri kepala yang hebat, vomitus, demam dengan suhu yang tinggi,
jarang disertai batuk.
 Pemeriksaan fisik :
 Tonsil hiperemis dan hipertrofi, dengan eksudat diatas nya
 Faring hiperemis
 Petechiae di palatum dan faring
 Pembesaran KGB
GAMBARAN KLINIS

 Faringitis yang disebabkan bakteri :


 Demam atau menggigil
 Nyeri menelan
 Faring posterior merah dan bengkak
 Terdapat folikel bereksudat dan purulen di dinding faring
 Mungkin batuk
 Pembesaran kelenjar getah bening leher bagian anterior
 Tidak mau makan/ menelan
 Onset mendadak dari nyeri tenggorokan
 Anoreksia
ALGORITMA DIAGNOSIS FARINGITIS
 CDC
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Penisilin

•Pemilihan golongan obat Penisilin


untuk ISPA dikarenakan obat ini bekerja
secara efektif untuk membunuh bakteri
gram positif di bandingkan dengan yang
negatif dan yang termasuik baktericid
sehingga Faringitis yang disebabkan
oleh streptococus Grup A dapat di
eradikasi.
PENISILIN

 Golongan penisilin adalah antibiotik lini pertama untuk pengobatan


faringitis karena merupakan anibiotik spectrum sempit dan lebih
efektif untuk gram positif seperti streptokocus grup A ,
 Penisilin V merupakan salah satu dari kelompok antibiotik
betalaktam. Bersama dengan penisilin G termasuk dalam jenis
penisilin alam, akan tetapi penisilin V memiliki sifat tahan asam
sehingga dapat diberikan peroral.
 Penicillin bekerja dengan menghambat pembentukan mukopeptida
yang diperlukan oleh kuman untuk sintesis dinding sel mikroba
dimana terhadap mikroba yang sensitif maka penisilin akan
menghasilkan efek bakterisid .
 Mekanisme kerja penisilin dengan urutan sebagai berikut:
 (1) obat bergabung dengan penisilin binding protein pada kuman;
 (2) Terjadi hambatan sintesis dinding sel kuman karena proses
transpeptidasi antar rantai peptidoglikan terganggu;
 (3) Terjadi aktivasi enzim proteolitik pada dinding sel.
PENISILIN

 Berdasarkan literatur -literatur antibiotik yang dapat k ita


gunakan adalah penicillin apabila pasien tidak memiliki
riwayat alergi terhadap penicillin.
 Namun penisilin saat ini sudah tidak digunakan karena
resistensinya tinggi.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Amoxiciline

• Amoksisilin adalah antibakteri dolongan penisilin


aminopenisilin yang memiliki spektrum luas
sehingga dapat digunakan untuk pengobatan
infeksi saluran pernapasan dan alternatif untuk
penisilin V, K
• Amoksisilin dikembangkan untuk patogen
penghasil β-laktamase, dan profil farmakinetika/
farmakodinamika yang menguntungkan.
• Amoksisilin mepunyai efektif dan aman untuk
anak dalam persistensi dan otitis media akut yang
berulang.
 Golongan ini terhadap bakteri yang sensitif penisilin akan
menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada
mikroba yang sedang aktif membelah sedangkan pada
mikroba dalam keadaan metabolik tidak lengkap tidak aktif
(tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh penisilin
kalau pun ada pengaruhnya hanyak bersifat bakteriostatik
(menghambat pertumbuhan bakteri)
 Pada wanita hamil Amoxilin termasuk kategori B sehingga
lebih safety.
 Demikian juga pada pasien anak amoxicilin juga tergolong
aman dan suspensi lebih enak dari pada penisilin
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

cephalosporin

•Cephalosporin adalah antibiotik golongan betalaktam


spectrum luas, kerjanya sama seperti golongan
penisilin,
•Cepalosporin yang digunkan pada ispa adalah
cepalosporin generasi pertama seperti cephalexin dan
cefadroxil yang lebih efekti untuk membunuh bakteri
gram positif dibandingakn dengan generasi lainnya.
•Di indonesia Cephalosporin generasi pertama yang
sering digunakan adalah cefadroxil.
•Untuk pasien dengan alergi penisilin nonanaphylactic,
cephalosporin generasi pertama dianjurkan.
CEPHALOSPORIN

 Untuk pasien dengan alergi penisilin nonanaphylactic,


cephalosporin generasi pertama dianjurkan.
 cephalosporin generasi pertama lebih sensitif terhadap
bakteri gram positif
 Pada wanita hamil cephalosporin generasi pertama termasuk
kategori B sehingga lebih safety. Dan dapat juga diberikan
pada ibu menyusui.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Makrolida

•Golongan makrolida yang digunakan yaitu


Azitromisin, yang memiliki mekanisme kerja
mempengaruhi sintesis protein bakteri dengan cara
berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri,
sehingga menghambat translokasi peptida.
•Makrolida aktif terhadap bakteri Gram positif, tetapi
juga dapat menghambat beberapa Enterococcus dan
basil Gram-positif. Sebagian besar Gram-negatif
aerob resisten terhadap makrolida, namun
azitromisin dapat menghambat Salmonela.
•Azitromisin mempunyai efektivitas yang tinggi
terhadap H.influenzae
MAKROLIDA

 Resistensi terhadap Streptococcus Grup A dijumpai di


beberapa negara terhadap golongan makrolida dan azalida,
namun tidak terhadap Penicillin.
 Dapat diberikan pada pasien yang mengalami alergi terhadap
betalaktam.
 Waktu paruh azithromycin ini panjang sehingga dapat
dikonsumsi sehari sekali
 Pada wanita hamil cephalosporin generasi pertama termasuk
kategori B sehingga lebih safety. Dan dapat juga diberikan
pada ibu menyusui.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Clindamicin

•Clindamicin adalah antibiotik yang bekerja


menghambat sintesis protein dengan cara
berikatan dengan ribosom 50s.
•Clindamicin merupakan antibiotik
golongan lincosamida simesintetik yang
memiliki spektrum luas dan bersifat
bakteriostatik, dapat juga bersifat
bakteriosidal pada konsentrasi tertentu.
•Kerjanya efektif pada bakteri gam positif
dan anaerob
CLINDAMICIN

 Indikasi pemakaian yaitu pada pasien alergi antibiotik beta


hemolitik streptococus, kegagalan mengobati dengan
penicillin,amoksisilin, sefaleksin, azitromisin atau
klaritromisin, dan sebagai profilaksis bakteri endokarditis.
 Selain itu klindamicin juga dapat digunakan pada kasus
karier GAS dan pada recurent faringitis.
 Menurut penelitian sebelumnya clindamicin terbukti lebih
efektif mengobati tonsilitis dari pada golongan betalaktam.
 Pada wanita hamil clindamicin termasuk kategori B sehingga
aman digunakan untuk ibu hamil, namun harus hati – hati
karena clindamicin dapat dieksresikan melalui asi.
OTITIS
DEFINISI DAN KLASIFIKASI

 Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa


telinga tengah, tuba eustachius,antrum mastoid, dan sel-sel
mastoid.
 Klasifikasi :
 Gejala
1. otitis media supuratif
2. otitis media non supuratif ( otitis media serosa, otitis media efusi, otitis media
musinosa, otitis media sekretoria).
 Waktu
1. akut
2.kronis
 Jenis otitis media spesifik : otitis media tuberkulosa, otitis media
sifilitika, otitis media adhesive.
ETIOLOGI

 1. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang paling
sering. Seperti : Streptococcus pneumoniae (40%),
Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella
catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% seperti Streptococcus
pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus
aureus, dan organisme gram negatif.
 2. Virus
respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau
adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai
parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus.
ETIOLOGI

– Anatomi saluran eustasia  anak-anak lebih pendek dan


letaknya lebih horizontal terhambatnya pengeluaran cairan
pada telinga tengah  rentan terhadap infeksi bakteri.
– penyumbatan pada sinus atau tuba eustasia akibat
alergi atau pembengkakan amandel.
– Streptococcus pneumoniae & Haemophilus Influenza :
Tidak mengeluarkan eksotoksin
Berkembang biak dengan cepat
Membentuk kapsul
– Pseudomonas aeruginosa
 Eksotoksin A  Nekrosis Jaringan
 Pili  Antigen
 Enzym  Hemolisin, Protease, Fosfolipase
– Moraxella catarrhalis
Endotoksin, Faktor-Faktor Kemotaksis
PATOGENESIS

ISPA, alergi, Tumor, hipertrofi adenoid

Gangguan tuba Eustachius

Tekanan negative telinga tengah


Refluks bakteri atau virus
Akumulasi cairan di telinga tengah (-) infeksi
OME

(+) infeksi OMA


GEJALA KLINIS

 Rasa nyeri di dalam telinga


 Sekret mengalir ke liang telinga
 Gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga
atau rasa kurang mendengar.
 Suhu tubuh yang tinggi 39,5°C
 Riwayat batuk pilek sebelumnya
 Gelisah dan sukar tidur, diare,
PENATALAKSANAAN

 Stadium oklusi tuba : obat tetes hidung HCl efedrin 0,5 % dalam
larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin
1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas 12
tahun pada orang dewasa. Mengobati sumber infeksi lokal dengan
antibiotika bila penyebabnya kuman.
 Stadium hiperemis : amoksisilin 50 mg/k gBB/hari 3X1 selama 7
hari, HCl efedrin 0,5 %/1% dalam larutan fisiologik , parasetamol
3x500mg
 Stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk
untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh.
 Stadium per forasi : ear toilet H2O2 3% selama 3 sampai dengan 5
hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya
sekret akan hilang dan per forasi akan menutup kembali dalam 7
sampai dengan 10 hari.
TERAPI FARMAKOLOGI

- Delayed Antimicrobial therapy


– menurunkan kegunaan antibiotik sekitar 30%, shg menurunkan efek samping,
dan meminimalkan resistensi bakteri
- Antimicrobial therapy
– untuk otitis media akut yang menunjukkan gejala yang parah
- Short course therapy
– peningkatan kemungkinan ketaatan pasien untuk memenuhi pengobatan,
penurunan efek samping dan harga, dan penurunan bakteri selektif pada
individu maupun komunitas
DELAYED ANTIMICROBIAL THERAPY

 Pasien yang dipilih untuk delayed therapy adalah anak -anak


umur 6 bulan sampai 2 tahun dengan gejala yang timbul
tidak parah
 Dilakukan pengobatan nyeri, seperti pengobatan dengan
ibuprofen atau asetaminofen sangat dianjurkan. Jika kondisi
memburuk dalam 48 sampai 72 jam, terapi antimikroba
harus dilakukan
ANTIMICROBIAL THERAPY

 Dilakukan jika terjadi peningkatan gejala secara tiba -


tiba/akut
 pencegahan mastoiditis dan meningitis.
 Amoxicillin adalah obat pilihan untuk otitis media akut
dengan dosis tinggi (80 sampai 90 mg/kg per hari)
 Jika terapi dengan amoxicillin gagal, maka harus dipilih obat
yang melawan aktifitas H. influenza dan M.catarrhalis yang
menghasilkan β-lactamase, yaitu: amoxicillin-clavulanate
dosis tinggi, cefuroxime, cefdinir, cefpodoxime, cefprozil,
atau ceftriaxone i.m.
SHORT COURSE THERAPY

 Pengobatan jangka pendek pada anak -anak berumur kurang


dari 2 tahun tidak dianjurkan. Pada anak -anak kurang dari
enam tahun yang mempunyai otitis media akut ringan sampai
sedang, pengobatan 5 sampai 7 hari dapat digunakan.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Amoxiciline

• Amoksisilin adalah antibakteri dolongan penisilin


aminopenisilin yang memiliki spektrum luas
sehingga dapat digunakan untuk pengobatan OMA
• Amoksisilin mepunyai efektif dan aman untuk
anak dalam persistensi dan otitis media akut yang
berulang.
• Amoksisilin adalah antibiotik golongan penisilin
yang merupakan derivat β-laktam yang memiliki
aksi bakterisidal dengan mekanisme kerja
menghambat sintesis dinding sel bakteri.
AMOXICILINE

 Pola resistensi terhadap H. influenzae dan M. catarrhalis


dijumpai di berbagai belahan dunia. Organisme ini
memproduksi enzim β-laktamase yang menginaktifasi
antibiotika β-laktam, sehingga terapi menggunakan
amoksisilin seringkali gagal. Namun dengan penambahan
inhibitor β-laktamase ke dalam formula amoksisilin
dapat mengatasi permasalahan ini
 Golongan ini terhadap bakteri yang sensitif penisilin akan
menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada
mikroba yang sedang aktif membelah sedangkan pada
mikroba dalam keadaan metabolik tidak lengkap tidak
aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh
penisilin kalau pun ada pengaruhnya hanyak bersifat
bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri)
AMOXICILINE

 Pada wanita hamil Amoxilin termasuk kategori B sehingga lebih


safety. Demikian juga pada pasien anak amoxicilin juga tergolong
aman dan suspensi lebih enak
 Amoksisilin sangat efektif karena dengan pemberian antibiotik
amoksisilin 20 mg/k g 13 selama 2-6 bulan dapat menurunkan insiden
otitis media sebesar 40-60%
 Amoxiline clavulanate dapat di berikan sebagi lini pertama
oma yang severe.
 Profilaksis bagi pasien dengan riwayat otitis media ulangan
menggunakan amoksisilin 20mg/kg satu kali sehari selama 2 -
6 bulan berhasil mengurangi insiden otitis media sebesar 40 -
50%.
 Antibiotika pada lini kedua diindikasikan bila:

 antibiotika pilihan pertama gagal


 riwayat respon yang kurang terhadap antibiotika pilihan pertama
 Hipersensitivitas
 Organisme resisten terhadap antibiotika pilihan pertama yang
dibuktikan dengan tes sensitifitas
 adanya penyakit penyerta yang mengharuskan pemilihan antibiotika
pilihan kedua.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

cephalosporin

• Cephalosporin adalah antibiotik golongan


betalaktam spectrum luas, kerjanya sama
seperti golongan penisilin,
• Cepalosporin yang digunkan pada OMA adalah
cepalosporin generasi kedua seperti cefuroxim
yang lebih efekti untuk membunuh bakteri
gram negatif dan kurang aktif terhadap gram
positif sehingga dapat membunuh h.
Influenzae, E. Coli, dan enterococus.
• Dapat digunakan Untuk pasien dengan alergi
amoxiline,
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Ceftriaxon

• Cephalosporin adalah antibiotik golongan


betalaktam spectrum luas, kerjanya sama
seperti golongan penisilin,
• Cepalosporin yang digunkan pada OMA adalah
cepalosporin generasi ketiga seperti yang lebih
efekti untuk membunuh bakteri gram negatif
dan kurang aktif terhadap gram positif sehingga
dapat membunuh pseudomonas aeruginosa
• Dapat digunakan Untuk pasien dengan
hipersensitivitas tipe 1 dan memiliki kegawatan.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Makrolida

•Golongan makrolida yang digunakan yaitu


Azitromisin, yang memiliki mekanisme kerja
mempengaruhi sintesis protein bakteri dengan cara
berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri,
sehingga menghambat translokasi peptida.
•Makrolida aktif terhadap bakteri Gram positif, tetapi
juga dapat menghambat beberapa Enterococcus dan
basil Gram-positif. Sebagian besar Gram-negatif
aerob resisten terhadap makrolida, namun
azitromisin dapat menghambat Salmonela.
•Azitromisin mempunyai efektivitas yang tinggi
terhadap H.influenzae
AZITROMISIN

 Azitromisin ini sudah digunakan lebih dari satu dekade dalam


pengobatan OMA pada bayi dan anakanak
 Penggunaan suspensi azitromisin dosis tunggal memiliki
keefektifan yang sama dengan azitromisin dosis terbagi
dalam pengobatan OMA dengan rinitis akut dengan dosis
cukup besar bagi pediatri yaitu 30 mg/kg BB dapat
mengakibatkan efek samping seperti muntah.
 Azitromisin merupakan drug dependent dose yang
aktivitasnya tergantung pada jumlah dosis yang diberikan
,hal-hal yang dapat mengakibatkan kurangnya dosis yang
harus diterima pasien memerlukan pemantauan.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Clindamicin

•Clindamicin adalah antibiotik yang bekerja


menghambat sintesis protein dengan cara
berikatan dengan ribosom 50s.
•Clindamicin merupakan antibiotik
golongan lincosamida simesintetik yang
memiliki spektrum luas dan bersifat
bakteriostatik, dapat juga bersifat
bakteriosidal pada konsentrasi tertentu.
•Kerjanya efektif pada bakteri gam positif
dan anaerob
CLINDAMICIN

 Clindamycin dapat dipertimbangkan untuk sinusitis kronis


atau otitis media kronis, yang dapat disebabkan oleh anaerob,
dan merupakan pengobatan alternatif untuk memberantas
pengangkutan Corynebacterium diphtheriae.
 Digunakan saat pemberian lini pertama gagal setelah 72 jam
terapi.
SINUSITIS
DEFINISI

 Sinusitis adalah kondisi klinis yang karakteristiknya


adalah adanya radang pada mukosa sinus
paranasalis

 Sinusitis maksilaris adalah peradangan atau


inflamasi pada mukosa sinus maksilaris
ETIOLOGI

• Virus, bakteri atau infeksi jamur dari saluran pernafasan


• Rhinitis alergi dan rhinitis kronik
RINOGEN • Obstruksi mekanik
• Polusi udara

•Granuloma pada akar gigi


•Ekstrasi gigi yang menyebabkan akar gigi masuk ke dalam
sinus
•Tindakan yang menyebabkan akar gigi masuk ke dalam sinus
•Adanya alat yang merusak lapisan epitel sinus
ODONTOGEN •Tindakan pada gigi impaksi M3
•Fraktur prosesus maksilaris yang melibatkan beberapa gigi
sehingga sinus terbuka
•Adanya radicular cyst yang menyangkut kedalam sinus
•Adanya dry socket akibat pencabutan gigi
•Abses akar gigi yang mengalami gangren
GEJALA KLINIS

Sinusitis maksilaris
Sinusitis Maksilaris Kronis
akut

Gejala sistemik:
demam sampai menggigil, malaise, - Gejala berat  menghalangi
lesu serta nyeri kepala terutama pada penderita untuk bekerja atau dapat
sisi yang sakit ringan tetapi berlangsung lama.
- Selama eksaserbasi akutgejala
mirip dengan gejala sinusitis akut,.
- Di luar masa eksaserbasi akut
Gejala lokal: gejala sesuai dengan faktor
nyeri tumpul dan menusuk di predisposisinya
daerah pipi atau di bawah kelopak
mata, Nyeri semakin berat jika
kepala digerakkan mendadak,
sekret mukopurulen kadang berbau
busuk dan bercampur darah, <
sensitifitas bau
PATOGENESIS
Streptococcus dan Staphylococcus
Infeksi gigi yang
kronis dapat
inflamasi mukosa hidung menyebabkan
pembengkakan dan eksudasi menimbulkan
jaringan granulasi di
dalam mukosa sinus
mengakibatkan obstruksi sinus maksilaris
Hematogen/limfogen
dari granuloma apical
atau kantung gangguan ventilasi dan drainase,
resorbsi oksigen yang ada di
periodontal gigi ke rongga sinus
sinus maksilaris menghambat gerakan silia
kearah ostium dan
terjadi hipoksia (oksigen menurun, menghalangi drainase
PH menurun, tekanan negative)

diikuti permeabilitas kapiler meningkat, sekresi


kelenjar meningkat, transudasi, peningkatan
eksudasi serous, penurunan fungsi silia

retensi sekresi di sinus dan pertumbuhan


kuman.

sinus mudah mengalami infeksi


ETIOLOGI

Gangguan Bersihan
oleh RokokSilia Polip, Tumor, Benda Asing,
seperti Asap rokok Blokade Sinus Ostia Pembesaran Tulang Konka,
Tulang hidung bengkok

Inflamasi
Mukosa Infeksi
jamur,virus, alergi

PenumpukanCairan
Imunodefisiensi

InfeksiBakteri:
infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae (30-40%), SINUSITIS
Haemophilus influenza (20-30%), Streptococcus
pyrogenes, Streptococcus aureus dan Moxarella AKUT
catarrhalis (12-20%)PenyakitSinusitis
TANDA-TANDA DAN GEJALA(LANJUTAN)

– DEWASAGejala bertambah parah, atau bertahan > 7 hari


Infeksi Bakteri Terapi antimikroba

– ANAK-ANAK Demam di atas 390 C/ Pembengkakan di


wajah/Rasa sakit  Terapi antimikroba
DIAGNOSIS

Kriteria Mayor Kriteria Minor :

•Nyeri •Nyeri kepala,


•tertekan pada •napas bau,
wajah •nyeri gigi,
• hidung tersumbat •batuk,
•ingus kekuningan •nyeri/tertekan
/ kehijauan, pada telinga
•gangguan
membau

– Sangkaan sinusitis apabila terdapat


– minimal 2 gejala mayor atau
– 1 gejala mayor disertai dengan minimal 2 gejala minor
TERAPI NON FARMAKOLOGI

• Menurunkan viskositas mukus


– Irigasi larutan garam
– Inhalasi Uap

 PEMBEDAHAN  hanya bila tidak ada respon yang baik


setelah pengobatan farmakologi maksimal

1.Pembedahan dengan endoskopi


 Pengambilan sebagian mukosa atau pembuatan pembukaan
baru

2.Baloon Sinuplasty
 Metode baru
TERAPI

 Tujuan:
 mengurangi tanda dan gejala, mempertahankan fungsi ostia,
membatasi penggunaan antimikroba, eradikasi infeksi bakteri
dengan terapi antimikroba yang sesuai, meminimalkan durasi sakit,
mencegah komplikasi, dan mencegah progress penyakit dari akut
menjadi kronis.
 Pilihan obat untuk rhinosinusitis non bacterial adalah:
 dekongestan oral / nasal: mempermudah pengeluaran sekret,
Penggunaan dibatasi tidak boleh lebih dari 3 hari untuk mencegah
rebound congestion.
 Irigasi dengan saline dan inhalasi uap untuk meningkatkan
kelembaban mukosa,
 Mukolitik: menurunkan viskositas sekresi nasal
TERAPI

• Amoxicillin adalah first-line treatment untuk sinusitis bacterial


akut.
• Durasi terapi: 5 - 7 hari

• Antihistamin dan dekongestan oral tidak boleh diberikan pada


sinusitis bacterial akut karena ada efek antikolinergik →
mengeringkan mukosa dan mengganggu klirens sekresi
mukosa.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Amoxiciline

• Amoksisilin adalah antibakteri dolongan penisilin


aminopenisilin yang memiliki spektrum luas
sehingga dapat digunakan untuk pengobatan OMA
• Amoksisilin mepunyai efektif dan aman untuk
anak dalam persistensi dan otitis media akut yang
berulang.
• Amoksisilin adalah antibiotik golongan penisilin
yang merupakan derivat β-laktam yang memiliki
aksi bakterisidal dengan mekanisme kerja
menghambat sintesis dinding sel bakteri.
AMOXICILINE

 Pola resistensi terhadap H. influenzae dan M. catarrhalis


dijumpai di berbagai belahan dunia. Organisme ini
memproduksi enzim β-laktamase yang menginaktifasi
antibiotika β-laktam, sehingga terapi menggunakan
amoksisilin seringkali gagal. Namun dengan penambahan
inhibitor β-laktamase ke dalam formula amoksisilin
dapat mengatasi permasalahan ini
 Golongan ini terhadap bakteri yang sensitif penisilin akan
menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada
mikroba yang sedang aktif membelah sedangkan pada
mikroba dalam keadaan metabolik tidak lengkap tidak
aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh
penisilin kalau pun ada pengaruhnya hanyak bersifat
bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri)
AMOXICILINE

 Pada wanita hamil Amoxilin termasuk kategori B sehingga lebih


safety. Demikian juga pada pasien anak amoxicilin juga tergolong
aman dan suspensi lebih enak
 Amoksisilin sangat efektif karena dengan pemberian antibiotik
amoksisilin 20 mg/k g 13 selama 2-6 bulan dapat menurunkan insiden
otitis media sebesar 40-60%
 Amoxiline clavulanate dapat di berikan sebagi lini pertama
oma yang severe.
 Profilaksis bagi pasien dengan riwayat otitis media ulangan
menggunakan amoksisilin 20mg/kg satu kali sehari selama 2 -
6 bulan berhasil mengurangi insiden otitis media sebesar 40 -
50%.
 Antibiotika pada lini kedua diindikasikan bila:

 antibiotika pilihan pertama gagal


 riwayat respon yang kurang terhadap antibiotika pilihan pertama
 Hipersensitivitas
 Organisme resisten terhadap antibiotika pilihan pertama yang
dibuktikan dengan tes sensitifitas
 adanya penyakit penyerta yang mengharuskan pemilihan antibiotika
pilihan kedua.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

cephalosporin

• Cephalosporin adalah antibiotik golongan


betalaktam spectrum luas, kerjanya sama
seperti golongan penisilin,
• Cepalosporin yang digunkan pada OMA adalah
cepalosporin generasi kedua seperti cefuroxim
yang lebih efekti untuk membunuh bakteri
gram negatif dan kurang aktif terhadap gram
positif sehingga dapat membunuh h.
Influenzae, E. Coli, dan enterococus.
• Dapat digunakan Untuk pasien dengan alergi
amoxiline,
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Ceftriaxon

• Cephalosporin adalah antibiotik golongan


betalaktam spectrum luas, kerjanya sama
seperti golongan penisilin,
• Cepalosporin yang digunkan pada OMA adalah
cepalosporin generasi ketiga seperti yang lebih
efekti untuk membunuh bakteri gram negatif
dan kurang aktif terhadap gram positif sehingga
dapat membunuh pseudomonas aeruginosa
• Dapat digunakan Untuk pasien dengan
hipersensitivitas tipe 1 dan memiliki kegawatan.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Makrolida

•Golongan makrolida yang digunakan yaitu


Azitromisin, yang memiliki mekanisme kerja
mempengaruhi sintesis protein bakteri dengan cara
berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri,
sehingga menghambat translokasi peptida.
•Makrolida aktif terhadap bakteri Gram positif, tetapi
juga dapat menghambat beberapa Enterococcus dan
basil Gram-positif. Sebagian besar Gram-negatif
aerob resisten terhadap makrolida, namun
azitromisin dapat menghambat Salmonela.
•Azitromisin mempunyai efektivitas yang tinggi
terhadap H.influenzae
AZITROMISIN

 Azitromisin ini sudah digunakan lebih dari satu dekade dalam


pengobatan OMA pada bayi dan anakanak
 Penggunaan suspensi azitromisin dosis tunggal memiliki
keefektifan yang sama dengan azitromisin dosis terbagi
dalam pengobatan OMA dengan rinitis akut dengan dosis
cukup besar bagi pediatri yaitu 30 mg/kg BB dapat
mengakibatkan efek samping seperti muntah.
 Azitromisin merupakan drug dependent dose yang
aktivitasnya tergantung pada jumlah dosis yang diberikan
,hal-hal yang dapat mengakibatkan kurangnya dosis yang
harus diterima pasien memerlukan pemantauan.
ALASAN PEMILIHAN TERAPI

Clindamicin

•Clindamicin adalah antibiotik yang bekerja


menghambat sintesis protein dengan cara
berikatan dengan ribosom 50s.
•Clindamicin merupakan antibiotik
golongan lincosamida simesintetik yang
memiliki spektrum luas dan bersifat
bakteriostatik, dapat juga bersifat
bakteriosidal pada konsentrasi tertentu.
•Kerjanya efektif pada bakteri gam positif
dan anaerob
CLINDAMICIN

 Clindamycin dapat dipertimbangkan untuk sinusitis kronis


atau otitis media kronis, yang dapat disebabkan oleh anaerob,
dan merupakan pengobatan alternatif untuk memberantas
pengangkutan Corynebacterium diphtheriae.
 Digunakan saat pemberian lini pertama gagal setelah 72 jam
terapi.