Anda di halaman 1dari 116

TUTORIAL MINGGU 2

KELOMPOK 17.C
SKENARIO
Berawal dari susu yang kadaluarsa

Pak Hadi adalah ayah dari bayi berusia 9 bulan. Pada 6 Juli lalu,
putrinya menderita diare dan dibawa ke Puskesmas. Selama di
Puskesmas Pak Hadi merasa tidak puas karena lamanya waktu tunggu,
pelayanan yang tidak ramah dan kondisi puskesamas yang tidak
nyaman. Setelah diperiksa oleh Dokter Puskesmas, bayinya sudah dalam
kondisi dehidrasi sehingga dirujuk ke RS Melati.

Pak Hadi merasa cemas karena ia pernah membaca, bahwa tahun


2014 angka kematian bayi (AKB) masih cukup tinggi, yaitu 25 kematian
per 1000 kelahiran hidup dan sekitar 40% penyebab kematian bayi
dikarenakan oleh penyakit infeksi, yaitu pneumonia dan diare. Kejadian
Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan Case Fatality
Rate (CFR) yang masih tinggi. Berbagai program pemerintah sudah
dilaksanakan untuk pencegahan diare ini diantaranya PHBS, penyehatan
lingkungan, imunisasi, pemberian oralit dan lain-lain
SKENARIO
Bayi Pak Hadi mendapatkan susu formulabuatan X di Rumah Sakit
Melati Tetapi kondisi bayinya bertambah buruk. Belakangan diketahui bahwa
masa kadaluarsa susu itu sudah lewat satu bulan. Pak Hadi menduga, akibat
mengonsumsi susu itu kondisi bayinya bertambah buruk. Dia sudah
menanyakan persoalan ini kepada petugas kesehatan di RS tersebut dan
meminta catatan medis anaknya, namun tidak mendapat jawaban yang
memuaskan. Dia juga meminta bertemu dengan Direktur RS Melati, tetapi
karyawan RS Melati mengatakan bahwa direkturnya sedang menghadiri
seminar di luar kota.Pak Hadi akhirnya memindahkan bayinya ke RS lain.
Pekan lalu, Pak Hadi meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di
kotanya untuk menyelesaikan masalah ini secara hukum.

Pak Hadi adalah masyarakat awam tetapi dia juga sangat mengerti
dengan mutu pelayanan publik terutama pelayanan kesehatan. Dalam kasus
di atas ada beberapa dimensi mutu pelayan yang dilanggar oleh rumah sakit
dan kurangnya penerapan patient safety . Menurut Pak Hadi seharusnya ada
pedoman pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan dimensi mutu dan
patient safety di Puskesmas dan rumah sakit.

Bagaimana anda menjelaskan kondisi di atas?


Learning Objective
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang :
1. Manajemen klinik pratama
2. Prinsip manajemen layanan kesehatan
3. Manajemen mutu pelayanan, audit medik, dan rekam
medik kesehatan masyarakat
4. Statistik kesehatan dan indikator mutu layanan
kesehatan
5. Masalah kesehatan dan program pembangunan
kesehatan di Indonesia
6. Prinsip leadership dalam pengelolaan kesehatan
7. Aspek hukum, manajemen , sistem pencatatan,
pelaporan dan manage dalam patient safety
LO1
MANAJEMEN KLINIK
PRATAMA
Manajemen
• Proses perencanaan,pengorganisasian,
pengkoordinasian dan pengontrolan SDM
untuk mencapai sasaran secara efektif
dan efisien.
• Kepala klinik adalah manajer yang
bertugas untuk mengelola INPUT melalui
PROSES utk menghasilkan OUTPUT
Input
• Kebijakan (UU, Perpres, Permenkes, dll)
• Perizinan
• SDM (STR, SIP, SIK, SIPA)
• Sarana Prasarana (Bangunan dll)
• Standarisasi (SPM, SPO, PPK, dll)
• Sistem informasi
• Pemasaran
Proses
• Perencanaan
• Pengorganisasian
• Pengkoordinasian
• Pengontrolan
 Seluruh Sumber daya untuk menghasilkan
OUTPUT
Output
• Kepuasan pasien
• Kenyamanan dan keselamatan pasien
Klinik Pratama
Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan
yg menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan yg menyediakan pelayaan medis
dasar
Persiapan membangun klinik :
Fase persiapan (Preparation phase)
• Tentukan bentuk klinik yang akan dibuat, bisa
dlm bentuk klinik Pratama/Klinik Utama.
Fase Persiapan Lokasi, Fasilitas dan Infrastruktur
Berdasarkan Permenkes no. 9 thn 2014  bangunan klinik minimal terdapat:

• Ruang pendaftaran/ruang tunggu


• Ruang konsultasi
• Ruang administrasi
• Ruang obat dan bahan habis pakai untuk klinik yg
melaksanakan pelayanan farmasi
• Ruang tindakan
• Ruang /pojok ASI
• Kamar mandi/WC
• Ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan
Fase Sumber Daya Manusia/ SDM (Human
Resources)

• Penanggung jawab teknik Klinik harus seorang


tenaga medis yg memiliki SIP dan Tenaga Medis
hanya dapat menjadi penanggung jawab teknis pada 1
Klinik
• Tenaga Medis pada Klinik pratama yang
memberikan pelayanan kedokteran paling sedikit
terdapat 2 org dokter dan atau dokter gigi.
Menentukan Pembiayaan
Perlu diperhatikan:
• capital
• break event point
• depreciation period
• Biaya Maintenance
• Biaya Pengembangan Profesional
Promosi
• penting dan merupakam hak klinik untuk
mempromosikan pelayanan kesehatan yangg
ada di klinik sesuai peraturan perundang-
undangan.
LO 2
Prinsip Manajemen
Palayanan Kesehatan
Manajemen Kesehatan
• Tatanan yang menghimpun berbagai
upaya administrasi kesehatan yang
ditopang oleh pengelolaan data dan
informasi, pengembangan dan penerapan
IPTEK, serta pengaturan hukum
kesehatan secara terpadu dan saling
mendukung guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
(SKN,2004).
Ciri-ciri Manajemen
– Manajemen diarahkan untuk mencapai tujuan
– Manajemen sebagai proses; perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan,
pengarahan dan pengawasan
– Tersedia sumber daya; manusia, material dan sumber lain
– Mendayagunakan atau menggerakkan sumber daya
tersebut secara efisien dan efektif
– Terdapat orang yang menggerakkan sumber daya tersebut
(manajer)
– Penerapan manajemen berdasarkan ilmu dan juga seni
atau keahlian yang harus dimiliki oleh manajer
Fungsi Manajemen Pelayanan
Kesehatan
• Manajemen yang diterapkan di jajaran
Departemen Kesehatan, lebih mengacu
kepada konsep yang disampaikan G.
Terry, yaitu melalui fungsi-fungsi ;
perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing),
penggerakan pelaksanaan (actuating),
pengawasan dan pengendalian
(controlling).
Perbandingan Fungsi
Manajemen
George Terry L. Gullick H. Fayol Koonzt O’Donnel
Planning Planning Planning Planning
Organizing Organizing Organizing Organizing
Actuating Staffing, Commanding, Staffing,
Directing, Coordinating Directing
Coordinating

Controlling Reporting Controlling Controlling


Budgeting
Perencanaan
• Perencanaan merupakan salah satu fungsi
manajemen yang penting, karena
perencanaan memegang peranan yang
sangat strategis dalam keberhasilan upaya
pelayanan kesehatan di RS.
• Contoh : Perencanaan tenaga professional
kesehatan, perencanaan pengadaan obat
dan logistik, yang disusun berdasarkan
pola konsumsi dan pola epidemiologi.
Perencanaan
• Untuk dapat mencapai tujuan organisasi secara
efektif dan efisien, maka diperlukan suatu
perencanaan yang baik.
• Rencana yang baik adalah rencana yang
berdasarkan pada alternatif (pertimbangkan
keuntungan dan kerugian), ekonomis (untuk
menghindari pemborosan), fleksibel (Dalam praktek
keseharian tetap saja ada faktor yang tidak bisa atau
sulit diprediksikan sebelumnya, yang menyebabkan
tidak terpenuhinya asumsi yang mendasari misalnya
perencanaan yang telah dibuat munculnya outbreak
penyakit tertentu yang cukup sulit diperkirakan.
Perencanaan
• Rencana yang baik adalah realistis (hal ini
didasarkan pada kenyataan di lapangan, bahwa
banyak yang dibuat secara baik namun sulit
dilaksanakan karena ketidak-realistisan rencana
yang ada,misalnya RS ingin membuat ruangan
ICCU dengan teknologi modern dengan sumber
dana cukup atau tidak, pinjaman iuran dari
bank/sponsor asing diperoleh atau tidak).
• Rencana yang baik adalah rencana yang dilandasi
partisipasi segenap unsur dalam organisasi.
Pengorganisasian
• Pengorganisasian merupakan upaya
untuk menghimpun semua sumber daya
yang dimiliki RS dan memanfaatkannya
secara efisien untuk mencapai tujuannya.
Penggerakan pelaksanaan
• Penggerakan pelaksanaan sangat dipengaruhi
oleh dua aspek, yaitu : (1) sifat pelayanan
kesehatan yang berorientasi kepada konsumen
penerima jasa pelayanan kesehatan (customer
service), dengan hasil pelayanan kemungkinan ;
sembuh dengan sempurna, sembuh dengan cacat
dan meninggal. Apapun hasilnya kualitas pelayanan
diarahkan untuk kepuasan pasen dan keluarganya.
(2) Pelaksanaan fungsi actuating ini sangat
kompleks,karena tenaga yang bekerja di RS terdiri
dari berbagai jenis profesi.
Pengawasan dan pengendalian
• Pengawasan dan
pengendalian/pengontrolan, merupakan
proses untuk mengamati secara terus
menerus pelaksanaan rencana kerja yang
sudah disusun dan mengadakan koreksi
terhadap penyimpangan yang terjadi. Untuk
menjalankan fungsi ini diperlukan adanya
standar kinerja yang jelas. Dari standar
tersebut dapat ditentukan indikator kinerja yang
akan dijadikan dasar untuk kinerja pegawai.
Secara umum fungsi yang dimiliki kontrol adalah:
• pertama, mencegah terjadinya berbagai
penyimpangan atau kesalahan-keselahan. Kontrol
yang baik adalah pengawasan yang dapat
mencegah terjadinya berbagai penyimpangan
dalam pelaksanaan terhadap apa yang telah
ditetapkan dalam rencana.
• Kedua, jika terjadi penyimpangan atau kesalahan,
tindakan kontrol ini bisa segera mendeteksi dan
akhirnya mengatasinya.
• Ketiga, dengan adanya pengawasan,
maka akan tercipta suasana bahwa
pelaksana senantiasa berhati-hati dan
berusaha agar jangan sampai terjadi
kesalahan.
• Keempat, menciptakan tanggung jawab
bersama di antara para staf yang terlibat
dalam pelaksanaan.
Contoh Fungsi Manajemen di
Fungsi Manajemen
Puskesmas
Kegiatan
Perencanaan Micro planning (perencanaan tingkat Puskesmas yang dilakukan
setahun sekali, unsur yang direncanakan meliputi; kebutuhan
tenaga, alat dan sarana, serta penunjang lainnya). Sedangkan
perencanaan obat dan alat kesehatan dilakukan setiap bulan,
dengan cara mengajukan usulan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota
Pengorganisasian  Struktur organisasi Puskesmas, dengan jabatan struktural
Kepala Puskesmas, sedangkan lainnya bersifat fungsional
 Pembagian tugas, yang berdasarkan program pokok
Puskesmas, terdiri dari 12 s/d 18 program pokok, yang
melibatkan tenaga perawat dan bidan.
 Pembagian wilayah kerja, setiap petugas Puskesmas
melakukan pembinaan ke desa-desa
Contoh Fungsi Manajemen di
Puskesmas
Penggerakan  Lokakarya mini Puskesmas, dilakukan tiap bulan
Pelaksanaan
dalam rangka koordinasi lintas program dan sektor
 Adanya proses kepemimpinan
 Dilakukan koordinasi secara lintas program &
sektor
 Pelaksanaan program pokok puskesmas yang
melibatkan seluruh staf
Pengawasan dan  Melalui pemantauan laporan kegiatan
Evaluasi
 Pemantauan wilayah setempat (PWS)
 Supervisi
 Rapat rutin (staff meeting)
LO 3
Manajemen Mutu Pelayanan
Kesehatan Masyarakat
Pengertian Mutu Pelayanan
Kesehatan
• Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat
kesempurnaan pelayanan akan pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan standar profesi
dan standar pelayanan dengan menggunakan
potensi sumber daya yang tersedia di rumah
sakit atau puskesmas secara wajar, efisien dan
efektif serta diberikan secara aman dan
memuaskan norma, etika, hukum, dan sosial
budaya dengan memperhatikan keterbatasan
dan kemampuan pemerintah dan masyarakat
konsumen
Struktur Pelyanan Kesehatan
1. Masukan (Input)
 sarana fisik, perlengkapan dan peralatan, organisasi dan manajemen,
keuangan, serta sumber daya manusia dan sumber daya (resources)
lainnya di puskesmas dan rumah sakit.

2. Proses yang dilakukan


 semua kegiatan atau aktvitas dari seluruh karyawan dan tenaga profesi
dalam interaksinya dengan pelanggan, baik pelanggan internal (sesama
petugas atau karyawan) maupun pelanggan eksternal (pasien, pemasok
barang, masyarakat yang datang ke puskesmas atau rumah sakit untuk
maksud tertentu).

3. Hasil yang Dicapai


 tindak lanjut dari keluaran berupa hasil akhir kegiatan dan tindakan
tenaga profesi serta seluruh karyawan terhadap pelanggan
Standar Mutu Pelayanan Kesehatan
Standar Persyaratan Minimal
 yang menunjuk kepada keadaan minimal yang harus dipenuhi untuk dapat
menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bermutu.

• Standar Masukan
 persyaratan minimal unsur masukan yang diperlukan untuk dapat
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, yaitu jenis, jumlah,
dan kualifikasi tenaga pelaksana, jenis, jumlah dan spesifikasi pada tenaga
pelaksana, serta jumlah dana (standar tenaga, standar sarana)
• Standar Lingkungan
 persyaratan minimal unsur lingkungan yang diperlukan untuk dapat
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, yaitu garis-garis
besar kebijakan, pola organisasi serta sistem manajemen yang harus dipenuhi
oleh setiap pelaksana pelayanan (standar organisasi dan manajemen)
• Standar Proses
 persyaratan minimal unsur proses yang harus dilakukan untuk dapat
menyelenggaran pelayanan kesehatan yang bermutu yaitu tindakan medis
dan tindakan nonmedis pelayanan kesehatan (standar tindakan)
• Standar Penampilan Minimal|
 yang menunjuk kepada penampilan
pelayanan kesehatan yang masih dapat
diterima. Standar ini, karena menunjuk
kepada unsur keluaran, disebut dengan
nama standar keluaran atau standar
penampilan.
Syarat Pokok Pelayanan
Kesehatan yang bermutu
• Tersedia dan berkesinambungan
• Dapat diterima dan wajar
• Mudah dicapai
• Mudah dijangkau
• Bermutu
Pengukuran mutu pelayanan
kesehatan
Pengukuran mutu prospektif
 yaitu pengukuran mutu pelayanan
kesehatan yang dilakukan sebelum
pelayanan kesehatan diselengarakan.
a. Pendidikan profesi kesehatan
b. Perizinan atau ‘Licensure’
c. Standardisasi
d. Sertifikasi (certification)
e. Akreditasi
Pengukuran mutu konkuren
 yaitu pengukuran pengukuran mutu
pelayanan kesehatan yang dilakukan
selama pelayanan kesehatan sedang
berlangsung, yaitu dengan melakukan
pengamatan langsung dan kadang-kadang
perlu dilengkapi dengan melihat rekam
medik, wawancara dengan
pasien/keluarga/petugas kesehatan, dan
melakukan pertemuan dengan
Pengukuran mutu retrospektif
yaitu pengukuran mutu pelayanan kesehatan
yang dilakukan sesudah pelayanan kesehatan
selesai dilaksanakan dan biasanya merupakan
gabungan beberapa kegiatan yang berikut:
a. Menilai rekam medik
b. Wawancara
c. Membuat Kuisioner
d. Melakukan pertemuan
Audit Medik dan Rekam
Medik
Permenkes no.755/MENKES/PER/IV/2011 tentang
penyelenggaraan komite medik rumah sakit

definisi audit medis sebagai upaya evaluasi secara


profesional terhadap mutu pelayanan medis yang
diberikan kepada pasien dengan menggunakan
rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi
Tujuan
medis audit medis terkait dengan upaya
peningkatan mutu dan standarisasi, adalah
tercapainya pelayanan prima di rumah sakit
Kegiatan audit medis dilakukan:
• untuk mengevaluasi mutu pelayanan medis
• untuk mengetahui penerapan standar pelayanan
medis
• untuk melakukan perbaikan-perbaikan
upelayanan medis sesuai dengan kebutuhan
pasien dan standar pelayanan medis.
Definisi Audit Medik
Suatu proses peningkatan mutu yang
mencoba memperbaiki pelayanan pasien
dan hasilnya melalui aktifitas tinjauan
pelayanan sistimatis dibandingkan dengan
kriteria yang jelas dan penerapan
perubahan. (Principles for Best Practice in
Clinical Audit, NICE 2002)
Pelaksanaan Audit Medik
• Dalam peraturan perundang-undangan
tentang perumahsakitan, pelaksanaan
audit medis dilaksanakan sebagai
implementasi fungsi manajemen klinis
dalam rangka penerapan tata kelola klinis
yang baik di rumah sakit.
• Audit medis tidak digunakan untuk
mencari ada atau tidaknya kesalahan
seorang staf medis dalam satu kasus.
4 Peran Penting Audit Medis
• sebagai sarana untuk melakukan
penilaian terhadap kompetensi masing-
masing staf medis pemberi pelayanan di
rumah sakit;
• sebagai dasar untuk pemberian
kewenangan klinis (clinical privilege)
sesuai kompetensi yang dimiliki;
• sebagai dasar bagi komite medik dalam
merekomendasikan pencabutan atau
penangguhan kewenangan klinis (clinical
Tujuan Audit Medik
• Audit medis dapat pula diselenggarakan
dengan melakukan evaluasi
berkesinambungan (on-going professional
practice evaluation), baik secara
perorangan maupun kelompok
• Secara umum tujuan dari audit medik
adalah tercapainya pelayanan medis
prima di rumah sakit.
• Sedangkan secara khusus bertujuan
untuk melakukan evaluasi mutu layanan
Siklus Audit Medik
Penggunaan Rekam Medis
Untuk Peningkatan Mutu
• Dalam audit medis, umumnya sumber
data yang digunakan adalah rekam medis
pasien, baik yang rawat jalan maupun
yang rawat inap.
• Rekam medis adalah sumber data yang
paling baik di rumah sakit, meskipun
banyak memiliki kelemahan.
• Beberapa kelemahan rekam medis adalah
sering tidak adanya beberapa data yang
bersifat sosial-ekonomi pasien, seringnya
LO 4
Statistik Kesehatan
Statistik kesehatan adalah suatu
cabang dari statistik yang berurusan
dengan cara pengumpulan, kompilasi,
pengolahan, dan interpretasi fakta-fakta
numeric sehubungan dengan sehat dan
sakit, kelahiran, kematian, dan faktor-
faktor yang berhubungan dengan hal
tersebut pada populasi manusia
Fungsi Statistik Kesehatan
• Memeberikan gambaran/keterangan tentang masalah
kesehatan
• Penentuan prioritas masalah yang perlu ditanggulangi
• Bahan yang dapat digunakan untuk perencanaan bidang
kesehatan
• Dapat membandingkan tingkat kesehatan masyarakat
• Menilai dan menganalisa hasil usaha kesehatan
• Dapat menentukan kebutuhan dalam bidang kesehatan yang
sudah atau belum dipenuhi
• Dapat mencari hubungan sebab dan akibat
• Dokumentasi data kesehatan masyarakat
• Keperluan publikasi ilmiah dari media massa
• Meramalkan status kesehatan masyarakat di masa mendatang
Indikator Mutu Pelayanan
Kesehatan
Mutu pelayanan kesehatan adalah
pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan
tingkat kepuasaan rata-rata serata
penyelenggaraannya sesuai dengan
standart dan kode etik profesi
Indikator
• Emphaty
• Reliability
• Responsiveness
• Communication
• Caring
LO 5

Masalah Kesehatan dan Program


Pembangunan Kesehatan di Indonesia
4 ANCAMAN KESEHATAN MASYARAKAT
DI INDONESIA

• Unfinished agenda (yang tidak pernah selesai diatasi): diare,


demam berdarah (DBD), gizi kurang, penyakit yg menyerang
penduduk miskin.
• Re-emerging Diseases (penyakit yang diperkirakan turun
prevalensinya, justru kini meningkat kembali) seperti TB Paru,
dan Malaria.
• New-emerging Diseases (penyakit-penyakit baru): SARS,
HIV/AIDS, Flu Burung, penyakit akibat kecelakaan lalu lintas,
kecanduan alkohol, ketergantungan narkoba, dan penyakit
apa lagi?
• Seringnya terjadi bencana (disaster) baik alamiah (gempa,
banjir, gunung meletus, dsb) maupun buatan yang berdampak
terhadap kesehatan masyarakat. 9/27/19 promkes
Masalah Kesehatan di
Indonesia
1. Kematian Ibu Akibat Melahirkan
• Angka kematian ibu sudah mengalami penurunan, namun
masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs)
tahun 2015, meskipun jumlah persalinan yang ditolong oleh
tenaga kesehatan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan
oleh kualitas pelayanan kesehatan ibu yang belum memadai,
kondisi ibu hamil yang tidak sehat, dan faktor-faktor lainnya.

• Menurut data, penyebab utama kematian ibu adalah


hipertensi kehamilan dan perdarahan postpartum. Selain itu,
kondisi yang sering kali menyebabkan kematian ibu adalah
penanganan komplikasi, anemia, diabetes, malaria, dan umur
yang terlalu muda.
Beberapa keadaan yang dapat
menyebabkan kondisi ibu hamil tidak sehat :
- penanganan komplikasi,
- Anemia
- ibu hamil yang menderita diabetes
- Hipertensi
- Malaria,dan
- empat terlalu (terlalu muda < 20 tahun,
terlalu tua > 35 tahun, terlalu dekat
jaraknya 2 tahun, dan terlalu banyak
anaknya > 3 orang).
Data:
Sebanyak 54,2 per 1000 perempuan di
bawah usia 20 tahun telah melahirkan,
sementara perempuan yang melahirkan
pada usia di atas 40 tahun sebanyak 207 per
1000 kelahiran hidup. Masalah ini diperberat
dengan fakta masih adanya umur
perkawinan pertama pada usia yang amat
muda (< 20 tahun) sebanyak 46,7% dari
semua perempuan yang telah kawin.
JUMLAH KASUS KEMATIAN IBU
SUMBAR 2011 S/D 2016

AKI

129
116 110
104 108
90

th 2011 th 2012 th 2013 th 2014 th 2015 th 2016


2. Kematian Bayi dan Balita
- Dalam 5 tahun terakhir, angka kematian bayi dan balita
memang sudah mengalami penurunan. Namun serupa
dengan angka kematian ibu akibat melahirkan, ini
masih jauh dari target.
- Angka Kematian Neonatal (AKN) tetap sama yakni
19/1000 kelahiran dalam 5 tahun terakhir
- Angka Kematian Pasca Neonatal (AKPN) terjadi
penurunan dari 15/1000 menjadi 13/1000 kelahiran
hidup
- angka kematian anak balita juga turun dari 44/1000
menjadi 40/1000 kelahiran hidup.
Penyebab kematian pada kelompok
perinatal:
Intra Uterine Fetal Death (IUFD), yakni
sebanyak 29,5% dan Berat Bayi Lahir
Rendah (BBLR) sebanyak 11,2%. Hal ini
berarti faktor kondisi ibu sebelum dan
selama kehamilan amat menentukan kondisi
bayinya.
3. Meningkatnya Masalah Gizi Buruk

Perkembangan masalah gizi di Indonesia


semakin kompleks, sebab selain masih
menghadapi masalah kekurangan gizi,
masalah kelebihan gizi juga menjadi
persoalan yang harus kita tangani dengan
serius.
Data:
a. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007 dan 2013 menunjukkan fakta
- underweight meningkat dari 18,4% menjadi 19,6%
- stunting juga meningkat dari 36,8% menjadi 37,2%
- wasting (kurus) menurun dari 13,6% menjadi
12,1%

b. Riskesdas tahun 2010 dan 2013 menunjukkan


bahwa kelahiran dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) < 2500 gram menurun dari 11,1% menjadi
10,2%.
Tidak hanya terjadi pada usia balita,
prevalensi obesitas yang meningkat juga
terjadi di usia dewasa -> terbukti dari
peningkatan prevalensi obesitas sentral
(lingkar perut > 90 cm untuk laki-laki dan >
80 cm untuk perempuan) dari tahun 2007 ke
tahun 2013. Riskesdas (2013), prevalensi
tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (39,7%)
yaitu 2,5 kali lipat dibanding prevalensi
terendah di Provinsi NTT (15.2%).
4. Meningkatnya Penyakit Menular

Masalah penyakit menular juga masih


mendominasi dunia kesehatan Indonesia.
Prioritas utama pemerintah adalah
membasmi HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria,
DBD, influenza, dan flu burung. Indonesia
juga masih belum sepenuhnya
mampu mengendalikan penyakit seperti
kusta, filariasis, dan leptospirosis.
Strategi pemerintah dalam memberantas
masalah ini adalah dengan meningkatkan
vaksin dan imunisasi, seperti polio, campak,
difteri, pertusis, hepatitis B, dan tetanus.
Strategi ini terbukti ampuh, karena pada
tahun 2014 Indonesia sudah dinyatakan
bebas polio.
5. Penyakit Tidak Menular
- Penyakit tidak menular cenderung terus meningkat dan telah
mengancam sejak usia muda.
- Transisi epidemiologis telah terjadi secara signifikan selama 2
dekade terakhir, yakni penyakit tidak menular telah menjadi
beban utama, sementara beban penyakit menular masih berat
juga
- Indonesia sedang mengalami double burdendiseases, yaitu
beban penyakit tidak menular dan penyakit menular sekaligus.
- Penyakit tidak menular utama meliputi hipertensi, diabetes
melitus, kanker dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Jumlah kematian akibat rokok terus meningkat dari 41,75%
pada tahun 1995 menjadi 59,7% di tahun 2007.
Selain itu dalam survei ekonomi nasional
2006 disebutkan penduduk miskin
menghabiskan 12,6% penghasilannya untuk
konsumsi rokok. Oleh karena itu, deteksi
dini harus dilakukan secara proaktif
mendatangi sasaran, karena sebagian
besar tidak mengetahui bahwa dirinya
menderita penyakit tidak menular.
6. Kesehatan Jiwa
• Permasalahan kesehatan jiwa sangat besar dan
menimbulkan beban kesehatan yang signifikan.
• Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi
gangguan mental emosional (gejala-gejala depresi dan
ansietas) sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas-> lebih
dari 14 juta jiwa menderita gangguan mental emosional di
Indonesia.
• untuk gangguan jiwa berat seperti gangguan psikosis,
prevalensinya adalah 1,7 per 1000 penduduk. Ini berarti
lebih dari 400.000 orang menderita gangguan jiwa berat
(psikosis)
• Angka pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa
berat sebesar 14,3% atau sekitar 57.000 kasus.
• Berdasarkan laporan dari Mabes Polri pada tahun 2012
ditemukan bahwa angka bunuh diri sekitar 0.5 % dari
100.000 populasi, yang berarti ada sekitar 1.170 kasus
- Kecenderungan prevalensi kasus HIV pada
penduduk usia 15 – 49 tahun meningkat.
- Prevalensi kasus HIV pada penduduk usia 15
- 49 tahun hanya 0,16% pada awal tahun 2009
dan meningkat menjadi 0,30% pada tahun
2011, meningkat lagi menjadi 0,32% pada
tahun 2012, dan terus meningkat menjadi
0,43% pada tahun 2013
- Angka Case Fatality Rate (CFR) AIDS
menurun dari 13,65% pada tahun 2004
menjadi 0,85 % pada tahun 2013.
PROGRAM
PEMBANGUNAN
KESEHATAN
1. Definisi Pembangunan kesehatan

Pembangunan kesehatan adalah upaya


yang dilaksanakan oleh semua komponen
bangsa Indonesia yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
• Kebijakan pembangunan kesehatan tahun
2015-2019 difokuskan pada penguatan
upaya kesehatan dasar (Primary Health
Care) yang berkualitas terutama melalui
peningkatan jaminan kesehatan,
peningkatan akses dan mutu pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan yang
didukung dengan penguatan sistem
kesehatan dan peningkatan pembiayaan
kesehatan.
Dalam mendukung keberhasilan pencapaian sasaran
pembangunan kesehatan sesuai Renstra Tahun 2015-2019,
Kementerian Kesehatan telah menetapkan kebijakan
operasional, antara lain sebagai berikut:

1. Pembangunan kesehatan dalam periode 2015-2019 akan


difokuskan pada empat area prioritas, yakni:
a. Penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
b. Perbaikan Gizi Masyarakat, khususnya untuk Pengendalian
Prevalensi Balita Pendek (Stunting).
c. Pengendalian Penyakit Menular, khususnya Human
Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome
(HIV-AIDS), Tuberkulosis (TB), dan Malaria.
d. Pengendalian Penyakit Tidak Menular, khususnya Hipertensi,
Diabetes Mellitus, Obesitas, dan Kanker (khususnya Leher
Rahim dan Payudara) dan Gangguan jiwa.
2. Tujuan Pembangunan
Kesehatan
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia
yang ditandai penduduk yang hidup dengan perilaku dan dalam
lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki
derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Tujuan utama dari pembangunan kesehatan:
a) Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya
sendiri dalam bidang kesehatan.
b) Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin
kesehatan.
c) Peningkatan status gizi masyarakat.
d) Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
e) Pengembangan keluarga sehat sejahtera
3. Program Pembangunan Kesehatan
A. Program Indonesia SehaT
merupakan salah satu program dari agenda ke-5 Nawa Cita,
yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia.
- Program ini didukung oleh program sektoral lainnya yaitu
Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan
Program Indonesia Sejahtera.
- Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi program utama
Pembangunan Kesehatan yang kemudian direncanakan
pencapaiannya melalui Rencana Strategis (Renstra)
Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan
melalui Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor
HK.02.02/Menkes/52/2015.
STRATEGI UTAMA

• Menggerakkan dan
memberdayakan masyarakat
untuk hidup sehat
• Meningkatkan akses masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan
yang berkualitas
• Meningkatkan sistem surveilans,
monitoring dan informasi
4 STRATEGI UTAMA RENSTRA DAN SASARAN
MENTERI KESEHATAN • Seluruh Desa Menjadi Desa Siaga
Menggerakkan
Menggerakkan Dan
REPUBLIK INDONESIA
Dan • Seluruh Masyarakat Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Memberdayakan
Memberdayakan • Seluruh Keluarga Sadar Gizi
Masyarakat
Masyarakat Untuk
Untuk 1. Setiap orang miskin mendapat Pelayanan Kesehatan yang
Hidup
Hidup Sehat
Sehat berkualitas
2. Setiap Bayi,Anak, Bumi, Kelompk Masy Risiko Tinggi
Terlindungi dari Penyakit
Meningkatkan
Meningkatkan Akses
Akses 3. Di Setiap Desa tersedia SDM Kesehatan yang kompeten
Masyarakat
Masyarakat Terhadap
Terhadap 4. Di Setiap Desa tersedia cukup obat esensial dan alat
Pelayanan
Pelayanan Kesehatan
Kesehatan kesehatan dasar
Yang
Yang Berkualitas
Berkualitas 5. Setiap Puskesmas dan Jaringannya dpt menjangkau dan
dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya
6. Pelayanan Kes di setiap RS, Puskesmas dan Jaringannya
memenuhi Standar Mutu
1. Setiap kejadian Penyakit terlaporkan secara cepat kepada
Meningkatkan
Meningkatkan Kepala Desa/Lurah untuk kemudian diteruskan ke Instansi
Sistem
Sistem Kesehatan terdekat
Surveillance,
Surveillance, 2. Setiap Kejadian Luar Biasa/KLB dan Wabah Penyakit
Monitoring
Monitoring dan
dan tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tdk
Informasi Kesehatn
Informasi Kesehatn menimbulkan dampak Kes Mas
3. Semua sediaan Farmasi, Makanan dan Perbekalan Kes
memenuhi syarat
1. Pembangunan Kes Memperoleh Prioritas Penganggaran
4. Terkendalinya Pencemaran Lingkungan sesuai dengan standar
Meningkatkan Pemerintah Pusat dan Daerah
kesehatan
2. Anggaran Kesehatan Pemerintah Diutamakan utk Upaya
Pembiayaan 5. Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan yang Evidence Based
Pencegahan & Promosi Kesehatan
Kesehatan di seluruh Indonesia
3. Terciptanya Sistem Jaminan Pembiayaan Kes Terutama bagi
Rakyat Miskin.
1. Persalinan ditolong
oleh tenaga
kesehatan
2. Memberi bayi ASI
Eksklusif
3. Menimbang bayi dan
balita
4. Mencuci tangan
dengan air bersih dan
sabun
5. Menggunakan air
bersih
6. Menggunakan
jamban sehat
7. Memberantas jentik di
rumah
A. Program perilaku dan pemberdayaan
masyarakat
b. Program lingkungan sehat
c. Program upaya kesehatan
d. Program pengembangan sumber daya
kesehatan
e. Program pengawasan obat, makanan dan
obat berbahaya
f. Program kebijakan dan manajemen
pembangunan kesehatan
g. Program pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi kesehatan
A. program perilaku sehat dan
pemberdayaan masyarakat
1. Tujuan:
• untuk memberdayakan individu dan masyarakat
dalam bidang kesehatan melalui peningkatan
pengetahuan, sikap positif, perilaku dan peran
aktif individu, keluarga dan masyarakat sesuai
dengan sosial budaya setempat
• untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi
kesehatannya sendiri dan lingkungannya menuju
masyarakat yang sehat, mandiri dan produktif
2. Sasaran : 3. Fokus program:

- terciptanya keberdayaan - Kesehatan Ibu dan Anak


individu dan masyarakat - Keluarga sadar gizi
dalam bidang kesehatan - anti tembakau, alkohol
yang ditandai oleh: dan mandat
peningkatan perilaku sehat - pencegahan kecelakaan
dan peran aktif dalam dan rudapaksa
memelihara, melindungi dan - keselamatan dan
meningkatkan kesehatan
kesehatan kerja
diri dan lingkungannya
- kesehatan jiwa
sesuai dengan sosial
budaya setempat. - kesehatan lingkungan
gaya hidup termasuk olah
raga dan kebugaran.
Untuk menanggulangi hal ini, pemerintah
tengah menggencarkan program
pembangunan puskesmas, diiringi pula
dengan peningkatan kualitas pelayanannya.
Pemerintah juga sedang menciptakan pola
keanekaragaman makanan untuk gizi ibu
hamil. Program KB yang dicanangkan juga
digunakan untuk menurunkan angka
kematian ibu.
LO 6
PRINSIP LEADERSHIP
DALAM PENGELOLAAN
KESEHATAN
KEPEMIMPINAN

“Kepemimpinan adalah kegiatan


memengaruhi orang lain untuk
bekerja keras dengan penuh
kemampuan untuk tujuan
kelompok.”
-George R. Terry-
Teori kontinum berkesimpulan bahwa perilaku pemimpin berdasarkan
dua hal:

1. Gaya demokratis (orientasi pada bawahan)

2. Gaya otoriter (orientasi pada pimpinan)


Ditentukan oleh 3 faktor:

1. kekuatan pemimpin
2. kekuatan bawahan
3. kekuatan situasi
Gaya kepemimpinan berdasarkan
pendekatan pemecahan masalah

• Instruktif, telling atau direktif


• Konsultasi atau selling
• Partisipasif
• delegatif
Contoh pemimpin Administratif :
1. Panglima/Komandan (Tentara/Polisi)
2. Pemimpin (Cabang, Proyek)
3. Rektor (Universitas)

Defenisi kepemimpinan
Menurut Akademi Militer West PoInt ada dua:
1. Def Opr Kepemimpinan Umum
In its simplest sense, leadership can be defined as a process
of influencing human behavior-that is, people to behave in a way
which they might otherwise not behave.”
2. Def Opr Kepemimpinan organisasi
The process of influencing human behavior so as to
accomplish the goals prescribed by the organizationally
appointed leader.”
KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
•Organisasi : Bentuk sistem sosial yang
terorganisir
•Unit organisasi, sinerjik -> GOAL.
•GOAL -> Pemimpin administratif
•Pemimpin administratif: orang yang sah
menduduki suatu jabatan administrasi.
•Kualitas kepemimpinan
mengangkat/dipilih oleh pemilih.
kepemimpinan dalam Organisasi
Pelayanan kesehatan
Organisasi pelayanan kesehatan menggunakan
alat seperti akreditasi dan Sistem Manajemen Mutu
(SMM) ISO 9000 yang menekankan pada standar
struktur serta belum terkait dengan kepuasan
pelanggan.
Organisasi pelayanan kesehatan yang telah
mengimplementasikan SMM ISO 9000 adalah rumah
sakit, puskesmas, dan balai kesehatan. Menurut
Suardi (2004), terdapat delapan prinsip manajemen
mutu dalam ISO 9001: 2000 salah satunya yaitu
prinsip kepemimpinan.
kepemimpinan dalam Organisasi
Pelayanan kesehatan
Kinerja pemimpin kesehatan masyarakat
berkaitan dengan tugas- tugasnya sebagai mitra
pemerintah di bidang kesehatan adalah
sejauhmana dan/atau bagaimana pemimpin
kesehatan masyarakat menjalankan misi, tugas
dan tanggung jawabnya. Standar pelayanan
yang dilakukan pemimpin kesehatan
masyarakat dalam penerapan norma dan tingkat
kinerja yang diperlukan mencapai hasil yang
diinginkan.
kepemimpinan dalam Organisasi
Pelayanan kesehatan
Gaya kepemimpinan adalah pola
menyeluruh dari tindakan seorang
pemimpin, baik yang tampak maupun yang
tidak tampak oleh bawahannya.
Gaya kepemimpinan menggambarkan
kombinasi yang konsisten dari falsafah,
keterampilan, sifat, dan sikap yang
mendasari perilaku seseorang.
Kepemimpinan dalam Puskesmas
• Kepemimpinan Puskesmas hendaknya
diselenggarakan melalui kepemimpinan
kolektif dan integratif (kemanunggalan)
antara kepala puskesmas dengan para
penanggung jawab program Puskesmas
serta menciptakan kebersamaan dengan
semua pegawai puskesmas.
Kepemimpinan dalam Rumah Sakit

• Upaya peningkatan kinerja karyawan


menuntut peran manajemen dalam
melakukan pendekatan kepemimpinan
yang efektif, bahwa keberhasilan rumah
sakit sangat tergantung pada
kemampuan pemimpinnya.
PERAN DOKTER SEBAGAI
KAPTEN DEMOKRATIS
Di dunia kedokteran modern:
•penggunaan IT meningkat
•pelayanan yang terintegrasi oleh berbagai
profesional (medik,penunjang medik,
teknisi, administrasi, dll)
Peran dokter : ketua tim (playing captain)
dituntut memiliki kepemimpinan yang
demokratis dalam suatu tim profesional
Pergeseran Paradigma
Lama Baru
• Doctor oriented • Patient oriented
• Fragmented services • Integrated services
• Hieararchial • Team
• Vertical structure • Flat structure
• Patient • Partner/client
• Society demand • Market share
• Social activity • Business and industry
• Free for services • Prepaid system
Modal dokter menjadi pemimpin
“IDEAL”
• Kompetensi
• Etika
• Karakter
• Empati
• Kemampuan menginspirasi (inspiring
ability)
• Membangun semangat dan kerjasama tim
• Penyelesaian konflik (conflict resolution)
Kepemimpinan kesehatan bagi semua
tahun 2000/kepemimpinan untuk tinggal
landas kesehatan
Pra kondisi saat memasuki tahap
tinggal landas

1. Diterimanya primary health care (puskesmas) sebagai


salah satu pendekatan utama dalam pembangunan
kesehatan.
2. Dihayatinya wawasan kesehatan masyarakat oleh
setiap pengambil keputusan, perumus kebijaksanaan,
maupun perencana program kesehatan.
3. Tercapainya pemerataan pelayanan kesehatan dasar.
4. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan sesuai
dengan kebutuhan yang nyata.
5. Mulai berkembangnya dana upaya kesmas.
6. Mulai berfungsinya sistem rujukan medik
dan rujukan kesehatan.
7. Makin meningkatnya efisiensi dan efektivitas
manajemen kesehatan.
8. Telah berkembangnya mekanisme
kerjasama lintas sektoral/ LSM/ perhimpunan
profesi dalam pembangunan kesehatan.
9. Makin meningktanya keterlibatan
masyarakat dalam mengatur kesehatannya
sendiri, baik dalam pengambilan keputusan,
perencanaan, maupun pelaksanaan.
Ciri-ciri kepemimpinan tinggal landas

1. Memiliki keyakinian dan semangat untuk mewujudkan


keadilan sosial guna memeratakan kemampuan hidup
sehat bagi segenap penduduk.
2. Memiliki persepsi yang jelas, komitmen yang tinggi untuk
menggerakan orang lain dalam menuju tinggal landas.
3. Keberanian mengambil resiko dalam menetapkan
kkeputusan atau tindakan yang melawan arus, berbeda
dari yang lain, dan tidak populer.
4. MemiliKi rasa percaya diri yang kuat, kepekaan untuk
mengikutsertakan orang lain dalam mengembangkan
prinsip kepemimpinan.
LO 7
Manajemen Rumah Sakit Dan
Patient Safety
Pengertian
Patient safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah

suatu sistem
dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih
aman. Hal ini
termasuk
 :
• assesment/analisa resiko,
• identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan risiko pasien,
• pelaporan dan analisis insiden,
• kemampuan belajar dari insident dan tindak
lanjutnya
• implementasi solusi untuk meminimalkan
ASPEK HUKUM TERHADAP PATIENT
SAFETY
Aspek hukum terhadap “patient safety” atau keselamatan pasien adalah

sebagai berikut
1. UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit
 Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum
 Pasal 53 (3) UU No.36/2009
 “Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan
 Pasal 32n UU No.44/2009
nyawa
 “Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama
pasien.”
dalam

 perawatan
1) “Setiapdi orang
Rumahberhak
Sakit. menuntut G.R terhadap seseorang, tenaga
kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian
 Pasal 58 UU No.36/2009
 akibat kesalahan
2) “…..tidak atau kelalaian
berlaku dalam
bagi tenaga Pelkes yang
kesehatan yangditerimanya.”
melakukan tindakan
penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan

darurat.”
Tujuan Sistem Patient safety
tujuan keselamatan pasien secara internasional adalah:
1. Identify patients correctly (mengidentifikasi pasien secara benar)
2. Improve effective communication (meningkatkan komunikasi yang
efektif)
3.
Improve the safety of high-alert medications (meningkatkan
4. keamanan dari pengobatan resiko tinggi)
Eliminate wrong-site, wrong-patient, wrong procedure surgery
(mengeliminasi kesalahan penempatan, kesalahan pengenalan
5.
pasien, kesalahan prosedur operasi)
6. Reduce the risk of health care-associated infections (mengurangi
risiko infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan)
Reduce the risk of patient harm from falls (mengurangi risiko
pasien

(Buku Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah sakit, Depkes R.I. 2006)
terluka karena jatuh)
Tujuan Sistem Keselamatan Pasien Rumah

Sakit adalah:

1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di


Rumah Sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit
terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan di
Rumah Sakit
4. Terlaksananya program-program
pencegahan sehingga tidak terjadi
Elemen Patient safety
1. Adverse drug events(ADE)/ medication errors (ME) (ketidakcocokan
obat/kesalahan pengobatan)
2. Nosocomial infections (infeksi nosokomial)
3. urgical mishaps (kecelakaan operasi)
4. Pressure ulcers (tekanan ulkus)
5. Blood product safety/administration (keamanan produk
darah/administrasi)
6. Antimicrobial resistance (resistensi antimikroba)
7. Immunization program (program imunisasi)
8. Falls (terjatuh)
9. Blood stream – vascular catheter care (aliran darah – perawatan kateter
pembuluh darah)
10.
Systematic review, follow-up, and reporting of patient/visitor incident
reports (tinjauan sistematis, tindakan lanjutan, dan pelaporan
pasien/pengunjung laporan kejadian)
Etiologi
1.
Kesalahan Medis (Medical Error)Kesalahan yang
terjadi dalam proses asuhan medis yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan
cedera pada pasien. (KKP-RS)

Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)/ Adverse


2.
EventSuatu kejadian yang mengakibatkan
cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena
suatu tindakan (commission) atau karena tidak
bertindak (ommision), dan bukan karena
“underlying disease” atau kondisi pasien (KKP-RS).
3. Nyaris Cedera (NC)/ Near MissSuatu kejadian
akibat melaksanakan suatu tindakan (commission)
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil (omission), yang dapat mencederai pasien,
tetapi cedera serius tidak terjadi.
Jenis kesalahan berdasarkan kontribusi manusia pada

terjadinya suatu kesalahan :

1.
Kesalahan aktif (active errors), terjadi pada level
petugas kesehatan atau staf RS yang bekerja
didepan dan efeknya terjadi hampir secara tiba-tiba
2.
Kesalahan tersembunyi (letent errors), terjadi
dalam level manajemen seperti design yang
kurang baik, instalansi yang tidak tepat,
pemeliharaan yang gagal, keputusan manajemen
yang buruk, dan struktur organisasi yang kurang
baik. Kesalahan tersembunyi sulit untuk dicatat
sehingga sering kesalahan seperti ini tidak dapat
Langkah – Langkah Pelaksanaan
Patient Safety
WHO  Sembilan solusi keselamatan Pasien
1. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike,

2. sound-alike medication names)


3. Pastikan identifikasi pasien
4. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
5. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
6. Kendalikan cairan elektrolit pekat
Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan
7. pelayanan
8. Hindari salah kateter dan salah sambung slang
9. Gunakan alat injeksi sekali pakai
Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi
UNIVERSAL PRECAUTION


Universal Precaution (Kewaspadaan

Universal) adalah tindakan pengendalian

infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga

kesehatan untuk mengurangi resiko

penyebaran infeksi dan didasarkan pada

prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat


PRINSIP UNIVERSAL PRECAUTION

Menjaga Higyene sanitasi individu


 Higyene sanitasi ruangan
 Sterilisasi peralatan

Dasar kewaspadaan universal meliputi :



Pengelolaan alat kesehatan (dekontaminasi, disinfeksi dan
 sterilisasi)
 Cuci tangan untuk mencegah infeksi silang
Penggunaan alat pelindung diri ( sarung tangan, masker,

apron,

sepatu boot )
Pengelolaan jarum dan alat tajam
Pengelolaan Limbah