Anda di halaman 1dari 21

TANDA-TANDA VITAL POST PARTUM

DISUSUN OLEH :
Alfandy Costario : PO.62.20.1.17.315
Dea Fitri Melinda : PO62.20.1.17.322
Gusnadi : PO.62.20.1.17.327
Karina Ayu Serin : PO.62.20.1.17.331
Mega Sonia Vera : PO.62.20.1.17.336
Meinia Preti Anjelina : PO.62.20.1.17.337
M. Rizky Tristian : PO.62.20.1.17.334
Nindie Tresia : PO.62.20.1.17.339
Sindra : PO.62.20.1.17.346
Thalitha Novia : PO.62.20.1.17.347
Tuti Hariati : PO.62.20.1.17.348

DIV KEPERAWATAN REGULER 4


POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA
TAHUN AKADEMIK 2018
APA ITU POST PARTUM/NIFAS?

Periode pascapartum ialah masa enam min


ggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi kembali ke keadaan normal sebelu
m hamil. Periode ini kadang-
kadang disebut puerperium atau trimester ke
empat kehamilan.
BAGAIMANA PERUBAHAN TANDA-
TANDA VITAL POST PARTUM?
1. Suhu badan
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat
Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang
lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu
badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari
ke-4 post partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini
diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara
membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada
endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain.
Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada
terhadap infeksi post partum.
LANJUTAN
2. Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa
60-80 kali per menit. Pasca melahirkan,
denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun
lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100
kali per menit, harus waspada kemungkinan
infeksi atau perdarahan post partum.
LANJUTAN
3. Pernafasan
Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24
kali per menit. Pada ibu post partum umumnya pernafasan lambat
atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau
dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan
dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal,
pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan
khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum
menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu
dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak
normal,pernafasan juga akan mengikutinya kecuali ada gangguan
khusus pada saluran pernafasan.
LANJUTAN
4. Tekanan darah
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada
pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke
seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal
manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-
80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan
darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah
menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan
oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post
partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post
partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.

PROSEDUR PEMERIKSAAN
TANDA-TANDA VITAL
PELAKSANAAN PENGUKURAN SUHU
• Perawat cuci tangan
• Jelaskan kepada pasien tentang prosedur tindakan yang akan
dilaksanakan
• Atur posisi pasien
• Turunkan termometer di bawah suhu 34-35 derajat celcius
• Bersihkan daerah aksila menggunakan tisu
• Jepitkan ujung termometer pada ketiak pasien dan tangan pasien
dilipat ke arah dada, tangan yang satu menekan siku. (Sambil
menunggu 10 menit dilakuakn perhitungan denyut nadi dan pernafasan)
• Setelah 10 menit termometer diangkat kemudian dilap dengan tisu
• Termometer dibaca diletakkan horizontal setinggi mata
• Termometer dibersihkan dengan alkohol swab
• Hasil dicatat dalam buku
LANJUTAN
PELAKSANAAN PENGUKURAN DENYUT NADI
• Perawat meraba arteri radialis dengan jari
telunjuk, jari tengah dan jari manis sejajar
diatas daerah nadi, secara perlahan-lahan
sampai nadi teraba
• Hitung nadi selama 1 menit, irama (teratur atau
tidak) dan kekuatan denyutan
• Hasil dicatat dalam buku
LANJUTAN
PELAKSANAAN PENGHITUNGAN
PERNAFASAN
• Tangan perawat seolah-olah sedang mengukur
frekuensi denyut nadi, mata memperhatikan
pernafasan pasien
• Pernafasan dihitung selama 1 menit
• Hasil dicatat dalam buku
LANJUTAN
PELAKSANAAN PENGUKURAN TEKANAN DARAH
• Pasien dalam posisi berbaring
• Sphygmomanometer diletakkan disamping pasien sejajar dengan lengan atas, langan baju digulung
• Pasang manset 2-3 jari dari siku bagian dalam, jangan terlalu ketat maupun terlalu longgar
• Letakkan diafragma stetoskop pada arteri brachialis
Jari tangan kiri meraba arteri radialis, kemudian pompa sphygmomanometer hingga denyut nadi
arteri radialis tidak teraba
• Jari tangan kiri pindah, menekan stetoskop pada arteri brachialis
Dan tambahkan pompa 20-30 mmHg setelah nadi arteri radialis tidak teraba
• Membuka katup secara perlahan-lahan
Mendengarkan bunyi pertama (systole) dan bunyi terakhir (diastole)
• Jika akan melakukan cek ulang pengukuran, tunggu 1-2 menit kemudian ulangi prosedur pada
lengan yang sama
• Manset dilepas dan digulung
• Lengan baju dibereskan dan pasien diberitahu bahwa pengukuran telah selesai
• Beri posisi yang nyaman
• Hasil pengukuran dicatat
• Perawat cuci tangan
• Alat-alat dirapikan
PROSEDUR PEMERIKSAAN
WAJAH DAN LEHER
5. Wajah dan leher
• Pemeriksaan Wajah
Tujuan : Untuk mengenditifikasi adanya tanda anemis, eklampsi
postpartum biasa terjadi 1-2 hari postpartum.
• Cara Kerja
1. Inspeksi muka : Simetris, warna kulit muka, ekspresi wajah dan
pembengkakan daerah wajah dan kelopak mata.
2. Inspeksi konjungtiva, dengan cara:
3. Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan.
4. Tarik kelopak mata bagian bawah ke bawah dengan menggunakan
ibu jari.
5. Amati konjungtiva, untuk mengetahui ada tidaknya
kemerahan/atau keadaan vaskularisasinya.
LANJUTAN
• Pemeriksaan Leher
Tujuan : Untuk mengkaji adanya infeksi traktus pernafasan, jika ada panas
sebagai diagnose banding.
• Cara Kerja
1. Inspeksi leher untuk melihat bentuk dan kesimetrisan leher serta
pergerakannya.
2. Palpasi pada nodus limfe dengan cara:
3. Duduk dihadapan pasien
4. Anjurkan pasien untuk menengadah kesamping menjauhi pemeriksaan
sehingga jaringan lunak dan otot-otot akan relaks.
5. Lakukan palpasi secara sistematis dan determinasikan menurut lokasi,
batas-batas dan ukuran, bentuk dan nyeri tekan pada setiap kelompok
kelenjar limfe: Submandibular (ditengah-tengah antara sudut dan ujung
mandibular) dan sub mental (pada garis tengah beberapa cm dibelakang
ujung mandibula). Periksa ekspresi wajah, adaya oedema, sclera dan
konjuctiva mata, mukosa mulut, adanya pembesaran limfe, pembesaran
kelenjar thiroid dan bendungan vena jugolaris.
PROSEDUR PEMERIKSAAN
PAYUDARA
6. Pemeriksaan payudara
Tujuan: Sebagai pemeriksaan tindak lanjut dari pemeriksaa payudara
prenatal dan segera setelah melahirkan apakah ada komplikasi
postpartum misalnya bendungan pada payudara (3-5 hari postpartum),
abses payudara, mastitis (3-4 minggu postpartum).
• Cara Pemeriksaan:
1).Inspeksi Payudara:
a. Cek kecukupan penyangga dengan menggunakan bra
b. Bantu pasien mengatur posisi duduk menghadap kedepan, telanjang
dada dengan kedua tangan rileks di sisi tubuh.
c. Inspeksi kulit payudara mengenai warna, lesi, vaskularisasi dan
udema.
d. Inspeksi Epitelium putting: Karakteristik ukuran (kecil,besar), bentuk
(menonjol, datar, mendelep), pengeluaran cairan dan banyaknya
(kolostrum, ASI, pus, darah) dan luka/lecet pada putting susu.
LANJUTAN
2). Palpasi payudara untuk memastikan
a. Lakukan palpasi di sekeliling puting susu untuk mengetahui
adanya keluaran. Bila adanya maka identifikasi keluaran
tersebut mengenai sumber, jumlah, warna, konsistensi, dan
kaji terhadap adanya nyeri tekan.
b. Angkat dan lipat tangan pasien Palpasi daerah klavikula dan
ketiak terutama pada area limfe nodi.
c. Lakukan palpasi setiap payudara dengan teknis bimanual
terutama untuk payudara yang beukuran besar dengan cara:
d. pertama tekankan telapak tangan tiga jari tengah ke
permukaan payudara pada kuadran samping atas.
e. Lakukan palpasi dengan gerakan memutar terhadap dinding
dada dari tepi menuju areola dan memutar searah jarum jam.
LANJUTAN
7.Uterus
• Periksa tinggi fundus uteri apakah sesuai dengan involusi uteri
• Apakah kontraksi uterus baik atau tidak
• Apakah konsistensinya lunak atau keras
• Apabila uterus awalnya berkontraksi dengan baik maka pada
saat palpasi tidak akan tampak peningkatan aliran pengeluaran
lochea
• Diastasis Rectie
Kita melakukan pemerikasaan diastasis rectie yaitu tujuannya
adalah untuk mengetahui apakah pelebaran otot perut normal
atau tidak caranya yaitu dengan memasukkan kedua jari kita
yaitu jari telunjuk dan jari tengah ke bagian dari diafragma
dari perut ibu.Jika jari kita masuk dua jari berarti diastasis
rectie ibu normal.Jika lebih dari dua jai berarti abnormal.
LANJUTAN
8.Kandung Kemih
Jika kandung kemih ibu penuh,maka bantu ibu
untuk mengosongkan kandung kemihnya dan
anjurkan ibu agar tidak menahan apabila terasa
BAK.Jika ibu tidak dapat berkemih dalam 6 jam
post partum,bantu ibu dengan cara menyiramkan
air hangat dan bersih ke vulva dan perineum
ibu.Bila berbagai cara telah dilakukan namun ibu
tetap tidak bisa berkemih,maka mungkin perlu
dilakukan pemasangan kateterisasi.Setelah
kandung kemih dikosongkan,maka lakukan
massase pada fundus agar uterus berkontraksi
dengan baik.
LANJUTAN
9.Genitalia
• Periksa pengeluaran lochea,warna,bau dan
jumlahnya
• Hematom vulva (gumpalan darah)
• Gejala yang paling jelas dan dapat diidentifikasi
dengan inspeksi vagina dan serviks dengan cermat
• Lihat kebersihan pada genitalia ibu
• Ibu harus selalu menjaga kebersihan pada alat
genitalianya karna pada maa nifas ini ibu sangat
mudah sekali untuk terkena infeksi
LANJUTAN
10.Perineum
Pada pemeriksaan perineum sebaiknya ibu dalam
posisi dengan kedua tungkai dilebarkan.saat melakukan
pemeriksaan perineum periksalah:
• Jahitan laserasinya
Sebelum melakukan pemeriksaan jahitan
laserasinya,terlebih dahulu bersihkan pada bagian
jahitan laserasi dengan kasa yang dikasih betadine
supaya jahitan terlihat tampak lebih jelas
• Oedema atau tidak
• Hemoroid pada anus
• Hematoma (Pembengkakan jaringan yang isinya darah)
LANJUTAN
• Ekstremitas Bawah
Pada pemeriksaan kaki apakah ada:
Varises,oedema,Reflek patella,nyeri
tekan atau panas pada betis.Adanya tanda
Homan,caranya dengan meletakkan 1 tangan
pada lutut ibu dan di lakukan tekanan ringan
agar lutut tetap lurus.Bila ibu merasakan nyeri
pada betis dengan tindakan tersebut,tanda
Homan (+).
KESIMPULAN
Kesimpulan
Pelayanan pada masa nifas harus
terselenggara karena untuk memenuhi
kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya
pencegahan, deteksi dini dan pengobatan
komplikasi. Oleh karena itu bidan perlu
melakukan asuhan pelayanan kebidanan
terhadap ibu nifas dan bayinya dalam upaya
menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
THANK’S
FOR
ATTENTION