Anda di halaman 1dari 19

Persamaan Diferensial Biasa

Ririn Amelia, ST., M.Si

Program Studi Teknik Sipil


Fakultas Teknik
Universitas Bangka Belitung 2016
PENDAHULUAN
Persamaan Diferensial biasa adalah
persamaan yang mengandung turunan
fungsi yang memuat satu variabel bebas.
Contoh:
dy
x  y3 Orde satu
dx
2
d y dy
x  2  3  2y  0 Orde dua
dx dx
PENDAHULUAN Penyelesaian
analitis
y
y=ex Penyelesaian
numerik

(x2,y2)

(x1,y1)

(x0,y0)

x x x
Metode Satu Langkah
 f  x, y 
dy
dx
Persamaan tersebut dapat didekati dengan bentuk:
dy y yi 1  yi
   f  x, y 
dx x xi 1  xi
atau
yi 1  yi  f  x, y  xi 1  xi 
atau
yi 1  yi  x Dengan  adalah perkiraan kemiringan garis

Beberapa metode satu langkah yang dapat digunakan


antara lain Metode Euler, Metode Heun, Metode Poligon dan
Metode Runge-Kutta
Metode Euler
Metode Euler dapat diturunkan dari Deret Taylor:
x 2
yi 1  yi  y 'i x  y"i  ... 1
2!
Jika x kecil, maka persamaannya dapat ditulis:

yi 1  yi  y 'i x 2
yi 1  yi  f  xi , yi x 3
Contoh: Selesaikan Persamaan berikut dari x =0 sampai x = 4
dengan x = 0,5 dan x = 0,25:

 f x, y   2 x  12 x  20 x  8,5
dy 3 2

dx
y 0   1
Penyelesaian:
y  0,5 x 4  4 x 3  10 x 2  8,5 x  1
Penyelesaian numerik dilakukan secara bertahap pada beberapa titik yang
berurutan. Dengan menggunakan persamaan [3] dihitung nilai yi+1 yang berjarak
x=0,5 dari titik awal x=0.
y1  y0  f  x0 , y0 x
Dari kondisi awal, pada x=0 nilai fungsi y(0)=1, sehingga:
y 0,5  y 0   f 0;10,5
Kemiringan garis di titik (x0; y0) :  f 0; 1  20   120   200   8,5  8,5
dy 3 2

dx
sehingga: y 0,5  1  8,5 x 0,5  5,25
Nilai eksak pada titik x=0,5 adalah:
y  0,50,5  40,5  100,5  8,50,5  1  3,219
4 3 2

Jadi kesalahan relatif terhadap nilai eksak adalah:


3,219  5,25
e  x100%  63,1%
3,219
Metode Euler
Tabel Penyelesaian dengan Metode Euler:
 x=0.5  x=0.25
x y eksak
y perk  (%) y perk  (%)
0.00 1.000 1.000 0.0% 1.000 0%
0.25 2.561 3.125 -22%
0.50 3.219 5.250 -63.1% 4.180 -30%
0.75 3.279 4.492 -37%
1.00 3.000 5.875 -95.8% 4.344 -45%
1.25 2.592 3.969 -53%
1.50 2.219 5.125 -131.0% 3.555 -60%
1.75 1.998 3.242 -62%
2.00 2.000 4.500 -125.0% 3.125 -56%
2.25 2.248 3.250 -45%
2.50 2.719 4.750 -74.7% 3.617 -33%
2.75 3.342 4.180 -25%
3.00 4.000 5.875 -46.9% 4.844 -21%
3.25 4.529 5.469 -21%
3.50 4.719 7.125 -51.0% 5.867 -24%
3.75 4.311 5.805 -35%
4.00 3.000 7.000 -133.3% 5.000 -67%
Metode Euler
8.00

7.00

6.00

5.00

4.00
y

3.00

2.00 Eksak
euler 0,5
1.00
euler 0,25
0.00
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00
x
Metode Euler
Kesalahan pemotongan pada metode Euler
Kesalahan pemotongan untuk persamaan polinomial orde tiga dapat dihitung
dengan: 2
x 3
x 4
x
Et  f ' ( xi , yi )  f " ( xi , yi )  f ' " ( xi , yi )
2! 3! 4!
Contoh:
Didasarkan pada contoh soal sebelumnya. Pada langkah pertama x1=0,
sehingga nilai turunan pertama, kedua dan ke tiga adalah:

f ' ( xi , yi )  6 x 2  24 x  20  6(0) 2  24(0)  20  20


f ' ' ( xi , yi )  12 x  24  12(0)  24  24
f ' ' ' ( xi , yi )  12
Dengan demikian, kesalahan yang terjadi:

(0.5) 2 (0.5)3 (0.5) 4


Et  20  24  12  2,03125
2! 3! 4!
Metode Heun

Modifikasi dari metode Euler adalah metode Heun. Modifikasi


dilakukan dalam memperkirakan kemiringan .
Metode ini memperkirakan dua turunan pada interval, yaitu pada
ujung awal dan akhir. Kedua turunan tersebut kemudian dirata-
ratakan untuk mendapatkan perkiraan kemiringan yang lebih
baik.
Metode Heun
Berdasarkan metode Euler, kemiringan pada ujung awal:

y 'i  f  xi , yi  1
Kemiringan tersebut digunakan untuk menghitung nilai yi+1
dengan ekstrapolasi linier, sehingga:

yi01  yi  f  xi , yi x 2


0
Nilai y dari persamaan [2] tersebut digunakan untuk
i 1
memperkirakan kemiringan pada ujung akhir interval:

y 'i 1  f xi 1 , yi01  3
Kedua kemiringan yang diberikan oleh Persamaan [1] dan [3]
kemudian dirata-ratakan untuk memperoleh kemiringan
rerata pada interval:

y'  

y 'i  y 'i 1 f  xi , yi   f xi 1 , yi01  4
2 2
Nilai yang didapat dari Persamaan [4] digunakan untuk
ekstrapolasi linier dari yi ke yi+1.

yi 1  yi 

f  xi , yi   f xi 1 , yi01x
2
Metode Heun
Contoh: (Soal sama dengan metode Euler)
Kemiringan fungsi dititik (x0,y0) adalah:

f ( x0 , y0 )  f 0; 1  20   120   200   8,5  8,5


3 2

Perkiraan nilai awal dari y di titik x1 = 0.5 adalah:

y10  y0  f  x0 , y0 x Sehingga : y  0,5   1   8,5  0,5  5, 25


Kemiringan fungsi di titik x1 = 0.5 adalah:
 
y '1  f x1 , y10  f (0,5;5,25)
 2(0.5) 3  12(0.5) 2  20(0.5)  8.5  1.25
Kemiringan rerata:

y 'i  y 'i 1
y' 
2



f  xi , yi   f xi 1 , yi01  
f  x0 , y0   f x1 , y10   8.5  1.25
2 2 2
 4.875
Perkiraan nilai y di titik i=0 adalah:

yi 1  yi 

f  xi , yi   f xi 1 , yi01
x

2

y1  y0 

f  x0 , y0   f x1 , y10 x
2
y (0.5)  1  4.875(0.5)
 3.4375
Metode Runge-Kutta
Metode Runge-Kutta memberikan ketelitian hasil yang lebih besar
dan tidak memerlukan turunan dari fungsi. Bentuk umum Runge-
Kutta adalah:
yi 1  yi   ( xi , yi , x)x
 ( xi , yi , x) Adalah fungsi pertambahan yang merupakan
kemiringan rerata pada interval.
  a1k1  a2 k2   an kn Dengan a merupakan konstanta dan k:

k1  f ( xi , yi )
k2  f ( xi  p1x, yi  q11k1x )
k3  f ( xi  p2 x, yi  q21k1x  q22 k2 x )

kn  f ( xi  pn 1x, yi  qn 1,1k1x  qn 1,2 k 2 x   qn 1,n 1k n 1x )


Order Satu: Metode Runge-Kutta
  a1k1 Untuk a1  1 maka: yi 1  yi  f  xi , yi  x
 a1 f ( xi , yi )

Order Dua:

yi 1  yi  (a1k1  a2 k2 )x
Dengan : k1  f ( xi , yi )
k2  f ( xi  p1x, yi  q11k1x )

Dengan menggunakan Deret Taylor nilai a1 , a2 , p1 dan q11 adalah:


a1  1  a2
1
p1 = q11  Dapat dicari secara sembarang
2a2
3 Metode Runge-Kutta dengan a ditentukan :
 1
1. Metode Heun ( 2 2 ) :
a yi 1  yi  ( 12 k1  12 k2 )x
a1  1  12  1
2
k1  f ( xi , yi )
1
p1 = q11  1  1 k2  f ( xi  x, yi  k1x)
22

2. Metode Poligon ( a2  1 ) :
yi 1  yi  k2 x
a1  1  1  0
k1  f ( xi , yi )
1 1
p1 = q11   k2  f ( xi  12 x, yi  12 k1x)
2.1 2
3. Metode Raltson ( a2  2
3 ) : yi 1  yi  ( 1 k1  1 k2 )x
3 3
a1  1  32  13
k1  f ( xi , yi )
1 3
p1 = q11   k2  f ( xi  34 x, yi  34 k1x)
2. 32 4
Contoh aplikatif :
Tiang vertikal menerima tekanan angin yang terbagi merata
pada seluruh tingginya. Karena tiupan angin tersebut, tiang akan
mengalami defleksi yang besarnya diberikan oleh persamaan
berikut:
d2y

f
 L  z 2

dz 2 2 EI
yz  0  0
f
L
dy
0
dz
z

dengan y: defleksi, z: jarak vertikal, f: tekanan angin,


E: modulus elastisitas, I: momen inersia dan L: panjang
tiang. Diketahui L=10 m, f=80 kgf/m’, E= 1x 109
kgf/m2, I= 0,0005 m4. Hitung defleksi tiang
menggunakan metode Euler dengan z=0,5 m.
PR
Selesaikan persamaan berikut dengan metode Poligon dan Raltson
dy
 3 x3  5 x 2  20 x  6
dx
Dari x = 0 sampai x = 4 dengan menggunakan langkah x  0.5
Kondisi awal pada x = 0 adalah y = 1.