Anda di halaman 1dari 76

I Gusti Ayu Rai Rahayuni, S.

Kep, Ners, MNS


Introduction

Napza can influence central nervous


system expecially brain ( otak )

User napza have nonpsikotik disturbance


until can effect to psikotik disturbance
( mental disorders )

nonpsikotik disturbance
(waham, halusinasi etc) rehabilitation center

psikotik disturbance
(Anxiety, stress,etc) Mental health hospital (RSJ )
Bahan/zat mempengaruhi kondisi
kejiwaan/psikologis seseorang (pikiran,
perasaan dan perilakunya) dapat
menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologik.
Menurut UU R.I. No. 22/1997 tentang
Narkotika zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan
 penurunan atau perubahan kesadaran
 hilangnya rasa
 mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri
 dapat menimbulkan ketergantungan
 Golongan I
 Hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan
 Tidak untuk terapi
 Ketergantungan kuat
 Contoh : Heroin, Kokain dan Ganja
 Golongan II

 Pilihan Terakhir untuk terapi


 Ketergantungan kuat tetapi kurang dari gol. I
 Contoh : Morfin, Petidin.
 Golongan III

 Sering untuk therapy


 Ketergantungan lebih ringan, contoh : Codein
menurut UU.RI. No.5/1997
Psikotropika : adalah zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan narkotika,
yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktivitas mental dan perilaku.
 Golongan I
 Hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan
 Tidak untuk Terapi
 Ketergantungan kuat
 Contoh : Ecstasy, MDMA, LSD.
 Golongan II
 Bisa Untuk therapi, tetapi pilihan terakhir
 Ketergantungan tinggi tetapi kurang dari gol I
 Contoh : Amfetamin, metil fenidat (Ritalin),
metakualon.
- Golongan III
 Sering untuk terapi
 Ketergantungan sedang
 Contoh : Fenobarbital, flunitrazepam.

- Golongan IV
 Untuk terapi
 Ketergantungan ringan
 Contoh : Diazepam, klobazam, bromazepam.
bahan atau zat yang Mempengaruhi
psikoaktif tubuh manusia diluar narkotika
dan psikotropika diantaranya :
Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol,
yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat,
dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia
sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika
digunakan bersamaan dengan Narkotika atau
Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat
itu dalam tubuh manusia.
Ada 3 golongan minuman beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai
minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 %
( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).
 Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan
solven ( zat pelarut ) mudah menguap
berupa senyawa organik, yang terdapat
pada berbagai barang keperluan rumah
tangga, kantor, dan sebagai pelumas
mesin. Yang sering disalahgunakan
adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat
Kuku, Bensin.
Nikotin
Pemakaian tembakau atau nikotin masih
kontroversi didalam masyarakat, dimana
sebagian menganggap bagian dari napza
dan sebagian lagi tidak, karena dianggap
tidak merusak susunan saraf pusat.

rokok dan alkohol sering menjadi pintu


masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang
berbahaya.
1. Golongan Depresan ( Downer ).
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh.
Jenis ini membuat pemakainya menjadi
tenang dan bahkan membuat tertidur
bahkan tak sadarkan diri. Contohnya:
Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ),
sedative ( penenang ), Hipnotik (obat
tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ).
2. Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang
merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan
kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar
dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu,
Ekstasi), Kokain.

3. Golongan Halusinogen.
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek
halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran
dan seringkali menciptakan daya pandang yang
berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu.
Contoh: Kanabis ( ganja ) dan LSD.
Di dalam masyarakat NAPZA yang sering
disalahgunakan adalah :
1. Opiada, terdapat 3 golongan besar :
a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw,
Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.

Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown


sugar.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan
yang tidak murni berwarna putih keabuan.
- Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi
morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw,
yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.
- opioda sintetik (methadon) mempunyai kekuatan
400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein,
Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter
sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya
pada operasi, penderita cancer,reaksi dari
pemakaian ini sangat cepat yang kemudian
menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk
menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan
pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak
mempunyai keinginan untuk bersosialisasi, pupil
mata mengecil, rasa mengantuk, bicara pelo,
paranoid, euforia berlebihan, hingga bisa
menimbulkan gangguan psikotik.
2. Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit
dan lebih mudah larut,nama jalanan : koka, coke,
happy dust, chalie, srepet, snow / salju.

Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain


menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas
permukaan kaca atau alas yang permukaannya
datar kemudian dihirup dengan menggunakan
penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar
bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan
cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada
sekitar lubang hidung bagian dalam.

Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa


segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya
diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah
hingga gangguan psikotik
Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish,
marijuana, grass, bhang. berasal dari tanaman
kanabis sativa atau kanabis indica.

Cara penggunaan : dihisap dengan cara


dipadatkan menyerupai rokok atau dengan
menggunakan pipa rokok.

Efek rasa dari kanabis tergolong cepat,


pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa
gembira berlebihan ( euphoria ), sering
berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi,
selera makan tinggi, sensitive, kering pada
mulut dan tenggorokan, halusinasi, waktu
terasa lamban ( 10 menit terasa 1 jam ) dan
memicu gangguan psikotik.
Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz.
Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan
keabuan dan juga tablet.Cara penggunaan : dengan cara
dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum
dengan air. Ada 2 jenis Amphetamine :
a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine )
Nama jalanan : Inex, xtc.
Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice, nama jalanan : SHABU, SS, ice.
Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan
alumunium
foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan
menggunakan botol kaca yang dirancang khusus
(boong).
Bahan-bahan amphetamine ini sering dijumpai
ditempat-tempat hiburan seperti diskotik.
Di Aceh, pengguna shabu sudah cukup
meningkat bahkan menurut data kepolisian
kasus shabu-shabu sudah melebihi kasus
pengguna ganja.
Efek samping yang ditimbulkan dari
penggunaan amphetamine ini : denyut nadi
meningkat, tekanan darah tidak teratur,
kelainan jantung, banyak keluar keringat hingga
dehidrasi, paranoid, emosi labil, hingga
menimbulkan gangguan psikotik.
5. LSD ( Lysergic Acid ), termasuk dalam golongan
halusinogen. Nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
Bentuk : biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran
kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak
warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil dan
kapsul.
Cara penggunaan : meletakan LSD pada permukaan
lidah, dan bereaksi setelah 30 – 60 menit kemudian,
menghilang setelah 8 – 12 jam.
Efek rasa : terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu
sehingga timbul obsesi yang sangat indah dan bahkan
menyeramkan dan lama – lama menjadikan
penggunaanya paranoid dan cemas berlebihan hingga
psikotik.
Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang )
dan hipnotika ( obat tidur ).
Nama jalanan : Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG,
Rohyp.

Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau


dimasukan lewat anus.
Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien
yang mengalami kecemasan, kejang, stress, serta sebagai
obat tidur.
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara
dihirup. Contohnya : Aerosol, Lem, Isi korek
api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap
bensin.

Biasanya digunakan dengan cara coba – coba


oleh anak di bawah umur, pada golongan yang
kurang mampu.

Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala


berputar, halusinasi ringan, mual, muntah
gangguan fungsi paru, jantung dan hati.
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan
manusia

Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari


buah dan umbi – umbian yang mengahasilkan kadar
alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan
proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar
alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 %.

Nama jalanan : booze, drink.


Efek yang ditimbulkan : euphoria, penurunan
kesadaran, gangguan fungsi hati, bahkan
menimbulkan gangguan psikotik.
 FAKTOR NAPZA ITU SENDIRI

 FAKTOR INDIVIDU
- Perubahan Biologik
- Perubahan Psikologik
- Perubahan Sosial

 FAKTOR LINGKUNGAN
- Lingkungan keluarga
- Lingkungan sekolah
- Lingkungan Masyarakat
 Coba – coba
 Sosial atau rekreasi
 Situasional
 Penyalahgunaan
 Ketergantungan
 Sekalipun tidak mudah mengenalinya
namun seseorang dengan ciri-ciri tertentu
(kelompok yang beresiko tinggi) mempunyai
potensi yang lebih besar dibandingkan
dengan yang tidak mempunyai ciri-ciri
kelompok resiko tinggi.
 Contoh: Kurang pengetahuan agama, Anak
yang merokok, Anak Broken Home, kurang
perhatian dari orang tua, lingkungan yang
mendukung penyalahgunaan tersebut.
 Dalam tahap coba-coba pemakai belum
memiliki pengetahuan yang cukup
tentang napza dan ikut-ikutan dengan
teman, tapi lama kelamaan dapat timbul
beberapa keadaan yang tidak diinginkan,
seperti Intoksikasi (keracunan) dan
reaksi panik, curiga dan sebagainya
tergantung dari zat apa yang dia
gunakan.
 Prestasi sekolah menurun
 Mudah marah
 Sering berbohong
 Pola tidur berubah
 Kehilangan minat terhadap hobi yang
disenanginya
 Sering mengurung diri
 Sering pulang larut malam
 Suka pergi ketempat hiburan (maksiat)
 Apatis
 Tampak mengantuk
 Jalan sempoyongan
 Bicara cadel atau pelo
 Bila kelebihan dosis:
 Denyut nadi dan detak jantung lambat
 Kulit teraba dingin
 Nafas melambat
 Kejang
 Keluar busa dari mulut sampai meninggal
 Mata dan hidung berair
 Mengantuk
 Mual-mual muntah hungga sakit perut
 Nyeri otot tulang hingga seluruh tubuh
 Takut air sehingga tidak mau mandi
 Depresi (stress)
 Kejang
 Menggigil
 Prestasi akademik menurun
 Kebanyakan badan menjadi kurus
 Penampilan tampak seperti orang sakit (pucat)
 Tidak peduli terhadap kebersihan diri dan
kesehatan
 Gigi tidak terawat (gigi rapuh dan ompong)
 Tampak deretan bekas suntikan atau sayatan pada
lengan atau bagian tubuh lain
 Anti sosial dan tidak peduli terhadap lingkungan
 Psikotik: - bicara kacau
- waham
- halusinasi
 Prestasi akademik menurun
 Tidak disiplin
 Kriminalitas
 Anti sosial
 Menarik diri dari lingkungan
 Apa yang harus dilakukan apabila
menemukan anak atau remaja dengan
ciri-ciri menggunakan napza atau sedang
menggunakan napza?
 Untuk orang tua:
 Jangan panik, dan jangan langsung menghukum anak
tersebut
 Dekati dia dan ajak berkomunikasi sehingga dia mau
berterus terang
 Bila ternyata anak tersebut telah mengkonsumsi napza
dalam waktu yang lama segera minta bantuan tenaga
dokter/psikiater (dokter ahli jiwa), dan orang tua tidak
perlu malu.
 Mengasuh anak dengan baik.
- penuh kasih sayang
- penanaman disiplin yang baik
- ajarkan membedakan yang baik dan yang buruk
- mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan
bertanggung
jawab
- mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat
baik
atau mencapai prestasi tertentu.
Memperkuat kehidupan beragama.
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan
memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
 PENCEGAHAN PRIMER
 Deteksi dini resiko tinggi + intervensi

 PENCEGAHAN SEKUNDER
 Mengobati  tidak lagi memakai

 PENCEGAHAN TERSIER
 Rehabilitasi
 Penyalahgunaan Napza ini dapat
mengalami kondisi lanjut yaitu :
KETERGANTUNGAN NAPZA.
 Yaitu suatu kondisi yg cukup berat dan
parah, sehingga mengalami sakit yg
cukup berat.
 Kondisi ini juga ditandai dg adanya
KETERGANTUNGAN FISIK yaitu
SINDROMA PUTUS OBAT dan
TOLERANSI.
 SINDROMA PUTUS ZAT adalah : suatu
kondisi dimana individu yg
menggunakan napza menurunkan atau
menghentikan penggunaan napza yg
biasanya digunakannya, akan
menimbulkan gejala kebutuhan
biologik terhadap napza.
 TOLERANSI adalah suatu kondisi klien yg
menggunakan napza memerlukan
peningkatan jumlah napza yg dikonsumsi
untuk mencapai tujuan yg dikehendaki.
 Beberapa macam napza secara alamiah
ada didalam tubuh individu.
 Zat ini berguna bagi tubuh untuk
kebutuhan hidup sehari-hari, seperti
melakukan aktivitas fisik, meditasi;
kadar napza ini selslu dalam keadaan
seimbang didalam tubuh individu.
 Apabila individu mengkonsumsi napza
seperti tembakau, kafein, alkohol,
obat2an yg legal, obat terlarang dg
penggunaan jarang, maka akan terjadi
peningkatan kadar napza tersebut
didalam tubuh.

 Kondisi ini mengakibatkan terjadinya


ketidakseimbangan kimiawi tubuh,
sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan perilaku yg lazim disebut
INTOKSIKASI.
 1.Tinggi alamiah :aktivitas fisik,
meditasi.
 2.Penggunaan jarang dari
nikotin,kafein,dll.
 3.Penggunaan sering dari : sda.
 4.Ketergantungan,penyalahgunaan,gejala
putus zat,toleransi.
 Untuk membantu pasien dg gangguan
penggunaan zat adiktif adalah : dengan
menggunakan proses perawatan,tahap
pertama yg dilakukan adalah ;
pengkajian.

 Dalam pengkajian ada beberapa faktor


yg penting untuk diketahui yaitu
:f.predisposisi; f.presipitasi; tingkah laku
pasien,mekanisme koping.
 Beberapa faktor predisposisi terjadinya
gangguan penggunaan zat adiktif adalah

 1.Faktor Biologis;
 Kecenderungan keluarga, terutama orang
tua yg menyalahgunakan napza.
 Perubahan metabolik alkohol yg
mengakibatkan respon fiiologik yg tdk
nyaman.
 Penyakit kronis: Asma
Bronchiale,kanker, penyakit lain dg
masa sakit yg menahun.

2.Faktor Psikologis
 Tipe kepribadian yg tergantung.

 Harga diri yg rendah: terutama untuk


ketergantungan alkohol,sedatif
hipnotik yg diikuti oleh rasa bersalah
 Pembawa keluarga : kondisi keluarga
yg tidak stabil,role model yg negatif,
 Kurang dipercaya, dan orang tua yg
ketergantungan zat adiktif.

 Individu dg perasaan tidak aman


(permusuhan dg orang
tua,penganiayaan masa kanak2).

 Individu dg krisis identitas:


kecenderungan homoseksual,krisis
identitas dg menggunakan obat untuk
menunjukkan kejantanan.

 Cara pemecahan masalah yg


menyimpang.
3.Faktor Sosial Kultural
 Sikap masyarakat yg ambivalensi
terhadap penggunaan napza seperti
nikotine,ganja,alkohol.

 Norma kebudayaan: suku bangsa ttt


menggunakan alkohol untuk upacara adat
dan keagamaan.

 Lingkungan: tempat yg rentan untuk


transaksi napza:diskotik,tempat hiburan
malam,mall,lokalisasi
pelacuran,lingkungan rumah yg kumuh
dan padat.
 Penggunaan zat atau penyalahgunaan
zat sering kali merupakan suatu cara dari
seseorang untuk mengatasi stres yg ada
dalam kehidupannya.

 Tanpa disadari kondisi atau cara ini


merupakan suatu lingkaran untuk
mendapatkan stres selanjutnya akibat
dari penggunaan zat tersebut.
 Semakin banyak penggunaan zat
adiktif, semakin banyak pula stres yg
ditimbulkan, akibat tergantungnya
fungsi biopsikososial sebagai dampak
penggunaan zat adiktif.

 Stresor presipitasi untuk terjadinya


penyalahgunaan zat adiktif adalah :
 1.Pernyataan untuk mandiri dan
membutuhkan teman sebaya sebagai
pengakuan.
 2.Reaksi sebagai prinsip kesenangan:
menghindari dari rasa sakit, mencari
kesenangan, relaks agar menikmati
hubngan interpersonal.

 3.Kehilangan sesuatu yg berarti: orang yg


dicintai/pekerjaan/drop out dari sekolah.

 4.Diasingkan oleh lingkungan:


rumah,sekolah,kelompok teman sebaya.

 5.Dampak kompleksitas era globalisasi


:ketegangan akibat modernisasi, lancarnya
transportasi,film,iklan
 Penyalahgunaan zat dapat berkembang
menjadi ketergantungan psikologik dan
toleransi.

 Ketergantungan fisik adalah tubuh


membutuhkan zat adiktif, dan jika tidak
dipenuhi maka akan terjadi gejala putus
obat pd fisik.

 Ketergantungan psikologik adalah efek


subyektif dari si pengguna zat.
 TINGKAH LAKU PASIEN PENGGUNA
SEDATIF HIPNOTIK
 Menurunnya sifat2 menahan diri.
 Jalan tdk stabil,koordinasi motorik
kurang.
 Bicara cadel,bertele2
 Sering datang ke dokter untuk minta
resep.
 Acuh,kurang perhatian.
 Mengantuk.
 Membanggakan diri, perilaku
menampakkan percaya diri yg
meningkat.
 Agresif.
 Bingung.
 Gelisah.
 Perilaku menampakkan ilusi,halusinasi.
 Perilaku sangat gembira.
 Mondar-mandir tampak cemas.
 Gerakan tidak terkoordinir.
 Mengantuk.
 Tampak lebih bodoh; karena terganggu
proses kognitif.
 Perilaku tampak kecemasan.
 Sikap bermusuhan.
 Kadang2 bersikap murung, berdiam diri
(depresi).
 Suara keras, bicara cadel, dan kacau.
 Agresif.
 Minum alkohol tanpa kenal waktu.
 Koordinasi motorik terganggu,akibatnya
cenderung mendapat kecelakaan.
 Terkantuk-kantuk.
 Bicara cadel.
 Koordinasi motorik terganggu.
 Acuh terhadap lingkungan,krg perhatian.
 Perilaku manipulatif untuk mendapatkan
zat adiktif.
 Hiperaktif.
 Euphoria,elasi sampai agitasi.
 Irritabilitas.
 Perilaku curiga.
 Kewaspadaan yg berlebihan.
 Semangat kerja meningkat.
 Perilaku tampak gembira.
 Tingkah laku yg tak dapat diramalkan.
 Tingkah laku merusak diri sendiri.
 Halusinasi,ilusi.
 Distorsi waktu dan jarak.
 Sikap merasa diri besar.
 Depersonalisasi.
 Pengalaman yg gaib/ajaib.
 Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu
representasi dari mekanisme pertahanan
diri yg tidak sukses dan tingkah laku
adaptif yg tdk adekuat atau tidak
berkembang.
 Mekanisme yg biasa digunakan pd
penyalahgunaan zat adiktif adalah :
 1.Denial dari masalah.
 2.Proyeksi merupakan tingkah laku
untuk melepaskan diri dari tanggung
jawab.
 3.Rasionalisasi.
 Masalah keperawatan sehubungan dg
gangguan penggunaan zat adiktif
terutama masalah : gangguan proses
pikir,

 Gangguanpersepsi sensori (visual,


pendengaran, rasa, raba, penciuman),

 Gangguan konsep diri (HDR).


 Menurut NANDA diagnosis
keperawatan adalah sebagai berikut :
 1.Gangguan persepsi sensori pada
penggunaan halusinogen

 2.Gangguan hubungan sosial


manipulatif

 3.Gangguan konsep diri:HDR


4.Tidak mampu mengenal kualitas yg positif
dari diri sendiri.

5.Gangguan pemusatan perhatian

6.Partisipasi keluarga yg kurang dalam


program pengobatan pasien

7.Menolak mengikuti aktifitas program .


 Tujuan yg ingin dicapai dalam
memberikan tindakan keperawatan pd
pasien dg gangguan penggunaan zat
adiktif adalah :

 Agar tidak terjadi ancaman terhadap


kehidupan.
 Tidak memburuknya keadaan kesadaran
pasien
 Aman dari kecelakaan terutama pd
kondisi intoksikasi.
 Setelah masa detoksifikasi :
 Termotivasi untuk mengikuti program
terapi jangka panjang.

 Mengenal hal2 positif pada dirinya.

 Menggunakan koping yg sehat dalam


mengatasi masalahnya.

 Keluarga bekerjasama dalam program


terapi pasien.

 Mempunyai pengetahuan untuk merawat


pasien dirumah.
 1.Pendidikan kesehatan jiwa untuk
pencegahan penggunaan zat adiktif.

 2.Mengganti koping respon yg sehat,


pengganti tingkah laku menyalahgunaan
zat.
 3.Membahas dg pasien tingkah laku
menyalahgunakan zat dan resiko
penggunaan.

 4.Membantu pasien untuk


mengidentifikasi masalah
menyalahgunakan zat.

 5.Memotivasi pasien agar mau


mengikuti /berpartisipasi dalam
program terapi.
 6.Konsisten memberikan dukungan dan
pengalaman bahwa pasien mempunyai
kekuatan untuk menghadapi masalah
yg akan datang.

 7.Memberikan perawatan
fisik;observasi tanda
vital,makanan,keseimbangan cairan
dan kejang.

 8.Memberikan pengobatan ssi dg terapi


detoks.
 1.Klien mengalami/mencapai keutuhan
fisik dan harga diri secara alamiah.

 2.Tingkah laku klien merefleksikan


meningkatnya pengertian ttg adanya
hubungan antara stres dg kebutuhan
untuk menggunakan napza.

 3.Sumber koping klien adekuat untuk


membantu klien berubah.
 4.Klien mengenal kecemasannya dan
sadar akan perasaannya.

 5.Klien menggunakan koping yg


adaptif.

 6.Klien mempunyai alternatif atau


belajar pendekatan alternatif untuk
mengatasi stres dan ansietasnya.

 7.Klien mampu secara periodik tetap


tidak menggunakan napza.
Cuplikan film “Detik Terakhir”
Cuplikan film “Detik Terakhir”
Cuplikan film “Detik Terakhir”
Cuplikan film “Detik Terakhir”
Cuplikan film “Detik Terakhir”
Cuplikan film “Detik Terakhir”
Cuplikan film “Detik Terakhir”