Anda di halaman 1dari 49

Case Based Discussion

Pembimbing : dr. Brantas Pra Azari, Sp.B

Disusun oleh :
Sukiswanti Andryana Sari SN
1513010010
Identitas Pasien
• Nama : An. W
• Usia : 4 tahun
• Jenis kelamin : Perempuan
• Alamat : Cenang 01/03, Brebes
• No RM : 605283 Nama Orang Tua : Tn. T (Ayah)
Ny. N (Ibu)
Usia : 36 tahun (Ayah)
30 tahun (Ibu)
Pekerjaan : Swasta (Ayah)
Ibu RT (Ibu)
Riwayat Penyakit Sekarang
• Keluhan utama  nyeri pada kaki kiri
• Lokasi  kaki kiri
• Onset dan kronologi

Pasien datang ke IGD RSUD Soeselo Slawi dengan


keluhan nyeri pada kaki kiri post KLL tanggal 22/8/2019 pukul
19.00 WIB. Keluhan ini berawal karena pasien tersebut
terserempet motor ketika pasien sedang bermain di depan
rumah. Kaki kiri pasien membentur motor dan pasien terjatuh
ke arah kanan. Pasien masih sadar ketika terjatuh, mual (-),
muntah (-), sesak napas (-). Riwayat di urut SMRS disangkal.
Sebelum jatuh pasien masih dapat berjalan dengan baik.
Kemudian orang tua pasien tersebut langsung membawanya
ke RSUD Soeselo Slawi.
Riwayat Penyakit Sekarang
Faktor Pemberat
• kaki kiri semakin sakit saat digerakkan

Faktor Peringan
• Nyeri berkurang apabila istirahat atau dalam
posisi diam
Gejala Penyerta
• Pingsan (-), mual (-), muntah (-), sesak nafas (-)
Riwayat Penyakit Dahulu
• Pasien belum pernah mengalami kejadian serupa
sebelumnya, riwayat operasi disangkal, asma disangkal,
penyakit jantung bawaan disangkal, diabetes mellitus
disangkal, riwayat alergi disangkal, riwayat trauma
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


• Pada keluarga pasien tidak ada yang mengalami
kejadian serupa, hipertensi disangkal, diabetes
mellitus disangkal, penyakit jantung disangkal,
asma disangkal, riwayat alergi disangkal.
Pemeriksaan Fisik
I. Primary Survey
A : Airway dan C spine control  benda asing (-), jejas (-), sianosis (-),
agitasi (-), gargling (-), snoring (-), crawing sound (-), stridor (-),
posisi trachea dbn (+), bicara jelas (+). Kesan : Airway paten
B : RR 18x/menit, regular, pernapasan thorakal abdominal, gerakan
napas simetris pada hemithoraks kanan dan kiri, jejas (-), perkusi
sonor, suara napas vesikuler kanan kiri.
C : Wajah dan ekstremitas tidak berwarna pucat, nadi 120x/menit,
regular, isi cukup, akral hangat, CRT <2 detik.
D : GCS E4V5M6 15, pupil isokor, diameter 3mm/3mm, reflex
cahaya langsung dan tidak langsung +/+.
E : Jejas (+), vulnus ekskoriatum pada region cruris sinistra.
II. Secondary Survey
Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Kesan gizi : Gizi cukup, BB 11 kg

Tanda Vital
Nadi : 120x/menit, regular, isi cukup
Pernapasan : 18x/menit, teratur, tipe pernapasan
torakal abdominal
Suhu :
Kepala
Ekspresi wajah : Menangis kesakitan
Simetri muka : Simetris
Jejas : Tidak ditemukan
Bentuk : Normocephali
Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut
Mata Telinga
Exophtalmus : -/- Bentuk : Normotis
Kelopak mata : Oedem -/- Liang telinga : Lapang
Sklera : Ikterik -/- Serumen : +/+
Lapangan : Normal Cairan/secret : -/-
penglihatan Membran : Sulit dinilai
Nistagmus : -/- timpani
Konjungtiva : Anemia -/-, hiperemis -/- Penyumbatan : -/-
Subkonjungti Perdarahan : -/-
: -/-
va bleeding Tuli : -/-
Hidung Mulut
Bentuk : Normal Bibir : Hematoma bibir kanan
atas
Deformitas : (-)
Langit-langit : Tidak ada tonjolan
Pernapasan : (-)
cuping hidung Bau : Tidak ada
pernapasan
Sekret : -/-
Trismus : Tidak ada
Epistaxis : (-)
Mukosa : Tidak hiperemis
Thorax :
Leher :  Inspeksi  jejas (-), gerakan dada
jejas (-), perbesaran KGB (- tertinggal -/-, retraksi dinding dada (-),
), krepitasi (-). sikatrik (-)
 Palpasi  vocal vremitus normal +/+,
nyeri tekan (-), massa (-), krepitasi (-),
sensibilitas (+),
 Perkusi  sonor (+)
 Auskultasi  Paru : suaran nafas
vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung : S1S2 reguler, Murmur (-),
Gallop (-)
Abdomen :
 Inspeksi  jejas (-),hematom (-), sikatrik (-)
 Auskultasi  bising usus 6x/menit
 Palpasi  hepar tidak teraba, ren tidak
teraba, supel, nyeri tekan (-),
 Perkusi  timpani (+) di semua lapang
abdomen

Ekstremitas :
Atas  tidak terdapat kelainan edema
Bawah  terdapat edema di cruris dan dorsal
pedis sinisitra.
Status Lokalis
 Look  Pada regio cruris sinistra terdapat edema (+),
deformitas (+), hiperemis (-), jejas (+), false sendi (-),
angulasi (-), shortening (+), perdarahan (+), luka terbuka
(-)

Perbedaan Pedis dextra Pedis sinistra


Luka - +
Edema - +
Deformitas - +
Shortening - +
 Feel : nyeri tekan (+), Teraba hangat didaerah yang
dikeluhkan daripada daerah sekitarnya, krepitasi (+),
CRT <2 detik, pulsasi arteri dorsalis pedis(+), sensibilitas
(+).
• Move : Range of movement terbatas
Bagian Tubuh ROM

Regio cruris sinistra 150


Pemeriksaan Penunjang
• Rontgen pada bagian Cruris sinistra AP-Lateral
Laboratorium (23 Agustus 2019)
Leukosit 12.3
Eritrosit 3.8
Hb (L) 9.8
Ht (L) 29
MCV 76
MCH 26
MCHC 34
Trombosit 324
Eosinofil (H) 5.30
Basofil 0.80
Netrofil 57.10
Limfosit 29.50
Monosit 7.30
MPV (H) 11.3
RDW-SD 38.1
RDW-CV 13.8
Golongan Darah O
Rhesus Faktor Positif
Diagnosis
• Fraktur os tibia sinistra 1/3 distal oblique
displace tertutup non komplikata
• Fraktur os fibula sinistra 1/3 distal oblique
displace tertutup non komplikata
Managemen
1. Non-medikamentosa
• Menjelaskan mengenai diagnosa penyakit,
tatalaksana, komplikasi hingga prognosis
kepada penderita dan keluarga.
• Menjelaskan diperlukannya imobilisasi daerah
yang cedera.
• Pemasangan spaleg pada regio cruris sinistra
• Konsul Sp.OT untuk merencanakan program
reduksi tertutup + casting / pemasangan gips.
• Rawat inap
Managemen
2. Medikamentosa
– Cefadroxil syr 2x1/2 cth PO
– Paracetamol Syr 3x1 cth PO
– Kalk Syr 2x1 cth PO

Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
DASAR TEORI
Tibia terdiri dari tiga bagian :
1. Epiphysis proximalis
2. Diaphysis (corpus)
3. Epiphysis distalis (ujung bawah)

Fibula
Epiphysis proximalis membulat
disebut capitulum fibulae. Pada
capitulum terdapat dua dataran sendi
yang disebut facies articularis capitulli
fibulae, untuk bersendi dengan tibia.
Pada corpus terdapat empat buah
crista yaitu, crista lateralis, crista
anterior, crista medialis dan crista
interosssea.
Tulang panjang terdiri dari
epifisis, metafisis dan diafisis.

Pada anak-anak antara epifisis


dan metafisis terdapat
lempeng epifisis sebagai
daerah pertumbuhan
kongenital. Lempeng epifisis
ini akan menghilang pada
dewasa, sehingga epifisis dan
metafisis ini akan menyatu
pada saat itulah pertumbuhan
memanjang tulang akan
berhenti.
DEFINISI

Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas


struktur tulang. Patahan mungkin tak lebih dari suatu
retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks;
biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang
bergeser.
ETIOLOGI
• Trauma langsung  menyebabkan tekanan
langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada
daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut
mengalami kerusakan
• Trauma tidak langsung  apabila trauma
dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan
extensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan
lunak tetap utuh.
KLASIFIKASI
• Klasifikasi Penyebab
– Fraktur traumatik  trauma yang tiba-
tiba mengenai tulang dengan kekuatan
yang besar.
– Fraktur patologis  disebabkan oleh
kelemahan tulang sebelumnya akibat
kelainan patologis di dalam tulang.
– Fraktur stress  disebabkan oleh
trauma yang terus menerus pada suatu
tempat tertentu.
• Klasifikasi Klinis
– Fraktur tertutup (close fracture)
– Fraktur terbuka (open fracture)
– Fraktur dengan komplikasi  fraktur yang disertai
dengan komplikasi misalnya mal-union, delayed
union, non-union, serta infeksi tulang.

FRAKTUR FRAKTUR
TERBUKA TERTUTUP
Derajat fraktur terbuka
• Klasifikasi Jenis Fraktur
• Klasifikasi Radiologis

Keterangan :
a. Fraktur diafisis c. Dislokasi dan fraktur
b. Fraktur metafisis d. Fraktur intra-artikular
konfigurasi atau sudut patah dari suatu fraktur :
PATOFISIOLOGI
DIAGNOSIS
Riwayat
Anamnesis trauma

Ketidakmampuan
menggerakkan anggota
gerak

Nyeri terlokalisasi, bertambah


saat digerakkan

Sjamsuhidajat, R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah


Sjamsuhidajat-de Jong Ed. 3. Jakarta: EGC
Pemeriksaan fisik
Look
• Bandingkan dengan bagian yang sehat
• Perhatikan posisi anggota gerak secara
keseluruhan
• Ekspresi wajah karena nyeri
• Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
• Luka
• Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa
jam sampai beberapa hari
• Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi,
rotasi dan kependekan
• Perubahan warna/memar
Feel
• Temperatur setempat yang meningkat
• Nyeri tekan
• Krepitasi
• Sensibilitas
• Pemeriksaan vaskuler: pulsasi arteri &
capillary refill time
Movement
• Pergerakan aktif  minta pasien untuk
bergerak tanpa dibantu. Nilai kemampuan
pergerakan sendi dan terdapat nyeri atau
tidak. Juga dapat digunakan untuk menilai
kekuatan otot
• Pergerakan pasif: pemeriksa menggerakan
sendi pasien
• Range of movement (ROM) : terbatas
karena nyeri
Pemeriksaan Penunjang
• Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur  menentukan
lokasi, luasnya. Pada gambaran radiologis dapat
diklasifikasikan stabil dan instabil.
• Laboratorium  Pemeriksaan jumlah darah lengkap
• Arteriografi  dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
• Kreatinin  trauma otot meningkatkan beban kreatinin
untuk klirens ginjal
TATALAKSANA

RECOGNITION

REDUCTION

RETENTION

REHABILITASI
• Imobilisasi dengan bidai eksterna, Indikasi :
fraktur yang perlu dipertahankan posisinya
dalam proses penyembuhan seperti fraktur
femur.
• Reduksi tertutup dengan manipulasi dan
imobilisasi eksterna dengan menggunakan
gips. Indikasi: diperlukan manipulasi pada
fraktur displaced dan diharapkan dapat direduksi
dengan cara tertutup dan dipertahankan.
• Reduksi tertutup dengan traksi berlanjut
diikuti dengan imobilisasi. Dilakukan dengan
beberapa cara yaitu traksi kulit dan traksi tulang.
• Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter
traksi. Indikasi: bila reduksi tertutup dengan manipulasi dan
imobilisasi tidak memungkinkan, mencegah tindakan operatif,
terdapat angulasi, overriding, dan rotasi yang beresiko
menimbulkan penyembuhan tulang abnormal, fraktur yang
tidak stabil pada tulang panjang dan vertebra servikalis,
fraktur femur pada anak mupun dewasa. Terdapat empat jenis
traksi kontinu yaitu traksi kulit, traksi menetap, traksi tulang
serta traksi berimbang dan traksi sliding.
Reduksi terbuka dengan fiksasi interna (ORIF)
• Indikasi : diperlukan fiksasi rigid misalnya pada fraktur
leher femur, fraktur terbuka, fraktur dislokasi yang tidak
dapat direduksi dengan baik, eksisi fragmen yang kecil,
fraktur epifisis, dan fraktur multipel pada tungkai atas
dan bawah.

Reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna (OREF)


• Indikasi : fraktur terbuka grade II dan II, fraktur
dengan infeksi, fraktur yang miskin jaringan ikat,
fraktur tungkai bawah pada penderita diabetes
melitus.
PROSES PENYEMBUHAN
• Fase Hematoma
Pembuluh darah di sekitar tulang yang mengalami fraktur
robek, akibatnya, tulang disekitar fraktur akan kekurangan
nutrisi dan akhirnya mati sekitar 1-2 mm.
• Fase Proliferasi Sel
Pada 8 jam pertama fraktur merupakan masa reaksi
inflamasi akut dengan proliferasi sel di bawah periosteum
dan masuk ke dalam kanalis medulla. Bekuan hematom
diserap secara perlahan dan kapiler baru mulai terbentuk.
• Fase Pembentukan Kalus
Sel yang berproliferasi bersifat kondrogenik dan
osteogenik. Sel-sel ini akan membentuk tulang dan juga
kartilago. Selain itu sel yang berproliferasi tersebut juga
membentuk osteoklas yang memakan tulang-tulang yang
mati.
Massa seluler yang tebal tersebut dan garam-garam
mineralnya terutam kalsium membentuk suatu tulang
imatur yang disebut woven bone. Woven bone ini
merupakan tanda pada radiologik bahwa telah terjadi
proses penyembuhan fraktur
• Fase Konsolidasi

Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara


perlahan-lahan akan membentuk jaringan tulang yang lebih
kuat oleh aktivitas osteoblas.
• Fase Remodeling

Jika proses penyatuan tulang sudah lengkap, maka tulang


yang baru akan membentuk bagian yang menyerupai
dengan bulbus yang meliputi tulang tanpa kanalis
medularis. Pada fase ini resorbsi secara osteoklastik tetap
terjadi dan tetap terjadi osteoblastik pada tulang.
PROGNOSIS
• Ad vitam : dubia ad bonam
• Ad functionam : dubia ad bonam
• Ad sanationam : dubia ad bonam
KOMPLIKASI
DAFTAR PUSTAKA
1. Snell RS. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Ekstermitas
Superior: Lengan Bawah. EGC: Jakarta. Hal: 467.
2. Paulsen F, Waschke J. 2013. Sobotta atlas anatomi manusia jilid 1. Ed 23. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Solomon, L. Warwick, D. Nayagam, S. 2010. Apley’s System of Orthopaedics and
Fractures. United Kingdom: Hodder Arnold pp: 847-52.
4. Noor, Zain. 2016. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.
5. Sjamsuhidajat, R. 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah-de jong : Sistem Organ dan Tindak
Bedahnya (2). Jakarta : EGC.
6. Reksoprodjo, S., Ramli, M., Kartono, D., et al (ed). 2010. Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah. Tangerang : Balai Penerbit FKUI.
7. Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Chen, John W. 2007.
Musculoskeletal Imaging in Primer of Diagnostic Imaging, 4th Edition. Mosby
Elsevier. United States. Page 408-410.
8. Cuccurullo, S. 2002. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. New
Jersey:Demos pp 203-4.