Anda di halaman 1dari 30

Bagian Ilmu Anestesi JOURNAL READING

Fakultas Kedokteran FEBRUARI 2019


Universitas Pattimura
HUBUNGAN ANTARA RESUSITASI CAIRAN INTRAVENA DAN
MORTALITAS PADA PASIEN LANJUT USIA DEPARTEMEN
EMERGENSI DENGAN KECURIGAAN INFEKSI

ELI EZER SIMANGUNSONG


2017-84-043

PEMBIMBING:
dr. Ony W Angkejaya, Sp. An

Bagian Ilmu Anestesi & Reanimasi


Fakultas Kedokteran
Universitas Pattimura
Ambon
2019
TAMPAK DEPAN JURNAL
2
ABSTRAK
3

 Tujuan : Membandingkan volume cairan intravena


(IV) pasien yang lebih tua (≥ 70 tahun) dan pasien
lebih muda (<70 tahun)  dugaan infeksi inisial TD
sistolik (SBP) sama menyelidiki terkait kematian
atau mortalitas di RS  pasien yang lebih tua.
 Metode:Penelitian observasional multicenter yang
menggunakan database
ABSTRAK
4

 Hasil: 981 (37%) pasien tua & 1678 (63%) pasien muda
 menerima volume cairan IV yang sama per kategori
SBP awal. Pasien lebih tua  SBP awal> 120 mmHg
OR yang lebih tinggi 2,06 (95% CI 1,02-4.16) dalam
kategori 0-1 L. Dalam kategori SBP ≤ 120 mmHg,
hubungan tidak ada.
ABSTRAK
5

 Kesimpulan: Pasien lebih tua dengan dugaan infeksi


perlu volume cairan yang lebih tinggi daripada pasien
yang lebih muda, walaupun memiliki SBP awal yang
tampaknya normal
PENDAHULUAN
6

 Resusitasi cairan  aspek penting dari perawatan


sepsis. Waktu dan volume yang tepat untuk resusitasi
dalam departemen emergensi (ED)  area perdebatan
 Penelitian sebelumnya berfokus perawatan intensif
(ICU) pasien dengan sepsis berat dan syok septik.
 Penelitian resusitasi cairan di EDpasien tahap awal
sepsis sebelum onset kegagalan organ akujarang.
PENDAHULUAN
7

 Resusitasimasalah utamapasien usia tua 


membutuhkan TD Sistolik yang lebih tinggi perfusi
yang memadai pengerasan arteri  tingkat respon
pompa jantung berkurang, curah jantung utama
tergantung pada tekanan pengisian jantung dengan
preload yang memadai memerlukan target cairan
resusitasi yang berbeda.
PENDAHULUAN
8

 Namun dalam praktik klinis, dokter sering menahan


sejumlah besar cairan pada pasien yang lebih tua
karena takut membebani jantung.
 Pedoman sepsis ambang batas untuk hipotensi
tekanan darah sistolik (SBP) <90-100 mmHg pasien
yang lebih tua mungkin sudah syok.
PENDAHULUAN
9

 Data pada pasien yang lebih tua di ED dengan dugaan


infeksi, SBP <140 mmHg secara linier berhubungan
dengan mortalitas yang lebih tinggi.
 Hal tersebut juga terjadi pada pasien yang lebih tua
dengan trauma atau sepsis karena bedah.
TUJUAN PENELITIAN
10

Pertama
• Menyelidiki berapa banyak cairan pasien ED
yang lebih tua dengan dugaan infeksi
dibandingkan pasien yang lebih muda dengan
SBP awal yang serupa.
Kedua
• Menyelidiki hubungan volume cairan yg diberikan
di ED dan perbandingan pencampuran kasus
mortalitas di rumah sakit lebih tua dengan yang
lebih mudadugaan infeksi.
METODE
11

 Multicenter observasional database data dikumpul


secara prospektif program berkelanjutan terhadap
peningkatan kualitas dalam tiga ED di Belanda

Universitas Leiden Medical Center (LUMC), data


dikumpulkan dari 1 April 2011 hingga 1 Februari 2016

Rumah Sakit Rijnstate dari 1 Maret 2012 hingga 1


April 2013

Rumah Sakit Albert Schweitzer (ASZ) dari 1 September


2015 hingga 1 Desember 2015
METODE
12

 Tujuan penelitian I: membagi 2 kelompok umur: <70


thn & ≥70 thnmembandingkan cairan yang
diberikan per inisial kategori SBP di kedua kelompok.
 Tujuan II: pertama-tamastratifikasi pasien sesuai
SBP awalSBP rendah indikator penting untuk
memulai resusitasi cairan. Stratifikasi pasien 
kelompok dengan SBP rendah (≤ 120 mmHg) atau SBP
"tampaknya normal” (> 120 mmHg)
METODE
13

 Pasien lebih tua dan lebih muda menerima jumlah


cairan yang sama dikaitkan dengan kematian yang
lebih tinggi pada pasien yang lebih tua membagi
pasien menjadi tiga kelompok volume cairan: 0–1 L, 1–
2 L, dan > 2 L.
METODE
14

 Pasien berusia ≥ 17 tahun kategori triase urgensi


yang dirawat di rumah sakit  infeksi  setelah
menerima antibiotik intravena di UGD dimasukkan.
 Tidak ada kriteria pengecualian.
 Demografi, komorbiditas, nilai laboratorium, TTV,
pengobatan yang diberikan (termasuk antibiotik,
cairan intravena, dan oksigen) dikumpulkan.
METODE
15
 SBP diukur secara non-invasif dengan:
Monitor MP52 (Philips, Eindhoven,
Belanda) di LUMC

M8007A Intellivue (Philips, Eindhoven,


Belanda) di ASZ

Infinity C700 / M540 (Sistem medis


Dräger, Telford, AS) di Rumah Sakit
Rijnstate
SBP awal diukur 1/2 jm stlah pndaftaran di EDdibagi 4
kategori: ≤ 100, 101–120, 121–140, dan ≥ 140 mmHg
METODE
16

 Predisposisi, Infeksi, Respons, dan skor kegagalan


organ (PIRO) ukuran tingkat keparahan, dengan
mempertimbangkan demografi akun, komorbiditas,
dan parameter fisiologi akut.
METODE
17

Semua jenis cairan dicatat. Pasien dengan ambulans


jumlah cairan dihitung ditambahkan ke jumlah yang
diberikan selama total tinggal di ED. Jika sebuah
formulir pendaftaran hilangdi asumsikan sebagai tidak
ada cairan yang diberikan.
HASIL
18

 1678 (63%) dari 2659 pasien berusia <70 thn & 981
(37%) berusia ≥ 70 tahun. Pasien lebih tua memiliki
detak jantung yang lebih rendah, SBP yang lebih tinggi,
dan skor PIRO lebih tinggi.
 Pasien tua dan muda menerima volume cairan serupa
di semua kategori SBP awal. Volume cairan yang
diberikan meningkat dengan penurunan kategori SBP
HASIL
19

 Pasien lebih tuavolume cairan 0–1 L & 1–2 L


tambahan oksigen & memiliki skor PIRO lebih tinggi.
 Hubungan antara usia dan kematian di rumah sakit
dalam berbagai kategori volume cairan, disesuaikan
dengan potensi perancu, dibagi ke dalam kategori SBP
awal
HASIL
20
HASIL
21
HASIL
22
HASIL
23
DISKUSI
24

 Kelompok yang menerima volume cairan rendah


disfungsi organ & mortalitas dua kali lebih tinggi
pada yang lebih tua dibandingkan dengan pasien yang
lebih muda dengan SBP "tampak normal" >120
mmHg menunjukkan bahwa pasien lebih tua
membutuhkan volume cairan lebih tinggi selama
resusitasi ED.
DISKUSI
25

 Dokter ED tidak memberikan volume cairan yang lebih


tinggi selama resusitasi karena tidak tepat waktu
mengenali keparahan penyakit awal pada pasien yang
lebih tua dengan dugaan infeksi.
 Mungkin karena awal SBP yang 120 mmHg tidak
diartikan hipotensi.Volume cairan lebih rendah dari 1
L  mortalitas pada pasien yang lebih tua  SBP awal
>120 mmHg di rumah sakit
DISKUSI
26

 Volume cairan yang lebih tinggi preload yang


lebihmenghasilkan volume stroke yang lebih tinggi
Mekanisme Frank-Starling
 Pasien lebih tua dengan gagal jantung kronis fraksi
ejeksi harus dipertahankan selama cairanhati-hati
dititrasimarginnya kecil diantara hipovolemia dan
kelebihan cairan.
DISKUSI
27

 Pasien yang lebih tua yang menerima 1-2 L cenderung


berkurang kemungkinan kematian di rumah sakit
dibandingkan dengan yang pasien lebih muda.
KESIMPULAN
28

 Penelitian pasien yang lebih tua menerima jumlah


cairan yang sama dengan pasien yang lebih muda
selama resusitasi di ED terlepas dari SBP awal
 Sementara pasien yang lebih tua diamati memiliki dua
kali lebih banyak peluang mortalitas di rumah sakit
dibandingkan dengan pasien yang lebih muda
 Studi masa depan harus fokus pada efek resusitasi
cairan awal yang lebih agresif pada yang lebih tua
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
29

KELEBIHAN KEKURANGAN

 Abstrak
• Memenuhi Kriteria  Tidak melihat variabel
Penyusunan Jurnal komplikasi dari pasien yang lebih
tua
• Dilakukan di tiga  Hasil penelitian masih memiliki
peluang untuk diperdebatkan
rumah sakit besar  (Jumlah sampel pasien tua dan
muda tidak sama dan tidak
mewakili populasi mengikti perkembangan pasien
Belanda dari awal sampai akhir hanya
dari data sekunder).
 Tidak menyajikan lampiran
penilaian skor PIRO
TERIMA KASIH
30