Anda di halaman 1dari 17

CARA PENANAMAN YANG BAIK

DAN POLA TANAM BENAR


Atim Ilvi Nurvidiana 17025010005
Arifa Bingar Mulia 17025010009
Andriana Ela S 17025010017
Agnes Septiya Nuraning Tias 17025010018
Zulfikar Alvin Naufal 17025010023
Ika Santika Ratna S. S. 17025010116
Aldy Bagas S 17025010120
Ita Wahyu Lestari 17025010123
Berlian Rasul 17025010129

AGT-A
Pola Tanam

Pola tanam adalah pengaturan penggunaan lahan pertanaman dalam kurun


waktu tertentu (menyusun jenis dan tata letak tanaman). Dua hal pokok yang mendasari
diperlukannya pola tata tanam:
1. Persediaan air irigasi di musim kemarau yang terbatas.
2. Air yang terbatas harus dimanfaatkan sebaik-baiknya

Macam Jenis Pola Tanam  Monokultur.

 Rotasi Tanaman (crop rotation)

 Polikultur.

Pola tanam polikultur terbagi menjadi • Tumpang sari (Intercropping)


• Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping )
• Tanaman Campuran ( Mixed Cropping )
Pola Tanam
Tujuan dari penerapan pola tata tanam adalah
sebagai berikut:
○ Menghindari ketidakseragaman tanaman
○ Menetapkan jadwal waktu tanam agar
memudahkan dalam usaha pengelolaan
air irigasi.
○ Peningkatan efisiensi irigasi.
○ Persiapan tenaga kerja untuk penyiapan
tanah agar tepat waktu.
○ Meningkatkan hasil produksi pertanian
Pola Tanam
Faktor-faktor yang mempengaruhi pola tata tanam

01 02 03 04 05
Iklimmusim Topografi Jenis tanah Sosial ekonomi
Keadaan Debit air tersedia
hujan dan musim
. Merupakan letak Harus diperhatikan Berhubungan
kemarau akan Yaitu tentang
atau ketinggian apakah debit air dengan kebiasaan
sangat keadaan fisik,
lahan dari yang tersedia saat petani dalam
berpengaruh biologis, dan kimia
permukaan air laut, itu mencukupi jika menanam suatu
terhadap tanah..
berpengaruh akan ditanam suatu jenis tanaman..
ketersediaan air
terhadap suhu dan jenis tanaman.
untuk tanaman.
kelembaban udara
Pola Tanam
Yang harus diperhatikan untuk merencanakan pola tata tanam

1 2 3 4

Awal Tanam Jenis Tanaman Luas Areal Debit yang Tersedia


Untuk menghindari Semakin luas areal Penentuan jenis pola
kekurangan air, Setiap jenis tanaman persahawahan tanam disesuaikan
maka urutan tata mempunyai tingkat yang diari, maka dengan debit air
tanam pada waktu kebutuhan air yang kebutuhan air tersedia pada setiap
penyiapan lahan berbeda, sehingga jenis irigasi semakin musim tanam .
diatur sebaik- tanaman yang banyak.
baiknya. diusahakan harus diatur
agar kebutuhan air
terpenuhi.
Sebab Permasalahan
o Peningkatan harga karet menyebabkan
penanaman karet dan produksi karet rakyat
meningkat dari 150 ton pada tahun 1912 o Banyak petani padi daerah pasang surut
menjadi 128 ribu ton (850xlipat) pd tahun
tipe luapan C dan D (kedalaman air <50
1925
cm) beralih ke usahatani karet monokult-
o Sulitnya pengelolaan tanah dan air pada
ur karena produksi padi lahan tsb kurang
lahan pasang surut, pengelolaan air yang o Air tanah yang dangkal dan pH yang
salah mengakibatkan pirit (FeS2) teroksidasi
eks-trim yang menyebabkan
sehingga lahan menjadi masam (pH 1,3 - 3,3) pertumbuhan dan produksi karet
, pertumbuhan tanaman tertekan. tertekan dan dalam kondisi tergenang
akan menggugurkan daun.

Berdasarkan sebab di atas, maka diperlukan kajian


mengenai pola tanam tumpang sari padi dan karet,
pertumbuhan tanaman karet, dan hasil padi sebagai
tanaman sela karet dan pendapatan petani pola
tumpangsari karet padi di daerah pasang surut tipe
luapan C.
RumusanMasalah
Rumusan Masalah
1
Bagimana perbandingan 3
tata kelola air antara pola Bagaimana analsis usaha tani pola tanam
tanam tumpang sari padi tumpang sari padi karet dengan monokultur
karet dengan monokultur karet pada lahan pasang surut?
karet pada lahan pasang
surut?

2
Bagimana perbedaan pertumbuhan
tanaman karet pada pola tanam
tumpang sari padi karet dengan
monokultur karet pada lahan
pasang surut?
Perbandingan Tata Kelola Air Antara Pola Tanam Tumpang Sar
i Padi-Karet dengan Monokultur Karet
Sistem pengelolaan air usahatani karet-padi pada lokasi dilakukan dengan
sistem buka tutup pintu air, yaitu air masuk melalui sistem saluran pemasukan
(inlet) dan keluar melalui sistem saluran pengeluaran (outlet) sehingga
berpengaruh terhadap tata air mikro di lahan. Dengan adanya tata air mikro
di lahan akan terhindar dari keracunan besi dan unsur-unsur racun lainnya
seperti asam-asam organik.

Ilustrasi Irigasi Buka Tutup Pintu Air


Ilustrasi Tata Kelola Tanah & Air
Monokultur Karet

Ilustrasi Tata Kelola Tanah & Air


Tumpang Sari Padi - Karet
Perbandingan Tata Kelola Air Antara Pola Tanam Tumpang Sari Padi-Karet dengan
Monokultur Karet

Tumpang Sari Padi - Karet Monokultur Karet


• Dapat menciptakan lapisan jenuh air pada daerah perakaran tanaman
karet dan padi, tetapi tidak tergenang. • Tanpa adanya bedengan dan perbaikan drainase, tata air jadi
• Menghilangkan unsur racun seperti ion Al, H, SO4, Fe dari kelebihan buruk sehingga tanaman karet menjadi tergenang.
air pada daerah bedengan yang ditanami karet dan menjaga kondisi • Oksigen dan akumulasi CO2 di daerah perakaran berkurang,
reduktif pada daerah tabukan yang ditanami padi daun menguning, batang mengecil, produksi menurun dan
pengaruh lanjut akar tanaman karet membusuk dan tanaman
mati
Pertumbuhan Tanaman Karet pada Pola Tanam Tumpang Sari Padi-Karet dengan
Monokultur Karet
Panjang Lilit Batang Karet Klon PB 260 umur 3 tahun

Tumpang Sari Padi 22,46 cm 26,17 cm


Karet Panjang Lilit Batang
Monokultur
Karet

Pertumbuhan lilit batang karet klon PB260


umur 3 tahun di lahan pasang surut pola
Faktor penyebab perbedaan lilit batang karet:
tumpangsari karet-padi dengan sistem • Adanya tata air mikro pada sistem
bedengan,16,52% lebih tinggi bedengan tumpang sari
dibandingkan dengan pertumbuhan lilit • Adanya pemberian pupuk dan dolomit untuk
batang karet monokultur tanpa sistem padi pada sistem tumpang sari
bedengan • Adanya pembuatan saluran irigasi pada tab-
ukan untuk pencucian bahan beracun
Analisis Usaha Tani Tumpangsari Padi Karet

Analisis usaha tani padi per hektar pada tahun


pertama sebagai tanaman sela karet
Lanjutan : Analisis Usaha Tani

Menunjukkan bahwa :
secara ekonomis menguntungkan
Usahatani padi per hektar sebagai tanaman sela dan layak untuk dikembangkan
karet pada tahun pertama pada saat harga jual karena memiliki nilai R/C lebih dari 1
tinggi Rp 4.650/kg GKG, maka mendapatkan pada saat harga gabah rendah dan
penerimaan sebesar Rp 13.020.000,-,
tinggi
keuntungan sebesar Rp 6.313.162,- (R/C ratio
1,94) per 1 musim dengan biaya pengeluaran
sebesar Rp 6.706.838,-. Usahatani padi sebagai
tanaman sela karet pada saat harga jual rendah
Rp 3.500/kg GKG, maka mendapatkan
penerimaan sebesar Rp 9.800.000,-,
keuntungan sebesar Rp 3.093.162,- (R/C ratio
1,46) per satu musim dengan biaya
pengeluaran sebesar Rp 6.706.838,.
KESIMPULAN
1. Usaha pola tanam tumpang sari padi-karet dapat mencegah karet mengalami
hambatan pertumbuhan oleh unsur racun karena adanya sistem bedengan
dan tabukan, serta dapat memanfaatkan air secara efisien
2. Tumpangsari padi-karet dapat meningkatkan panjang lilit batang hingga 16,5
2% dibanding dengan monokultur karet
3. Penanaman padi sebagai tanaman sela menguntungkan walau saat harga
gabah rendah yaitu dengan Revenue/Cost ratio 1,46
4. Pola tanam Tumpangsari Padi-Karet di daerah pasang surut secara ekonomis
menguntungkan dan layak dikembangkan
ADA YANG BERTANYA?
Thank you