Anda di halaman 1dari 22

Evaluasi Cairan Tubuh

Mata Kuliah : Keperawatan


Medikal Bedah I
Pendahuluan
Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan
dan komposisi elektrolit di dalamnya tetap stabil adalah
penting bagi homeostatis. Beberapa masalah klinis timbul
akibat adanya abnormalitas dalam hal tersebut. Untuk
bertahan, kita harus menjaga volume dan komposisi
cairan tubuh, baik ekstraseluler (CES) maupun cairan
intraseluler (CIS) dalam batas normal. Gangguan cairan
dan elektrolit dapat membawa penderita dalam
kegawatan yang kalau tidak dikelolam secara cepat dan
tepat dapat menimbulkan kematian. Hal tersebut terlihat
misalnya pada diare, peritonitis, ileus obstruktif, terbakar,
atau pada pendarahan yang banyak.
Anatomi Cairan Tubuh
Total Body Water (TBW )
Air merupakan komponen utama dalam tubuh yaknii sekitar 60% dari
berat badan pada laki - laki dewasa. Persentase tersebut bervariasi
bergantung beberapa faktor diantaranya:

• TBW pada orang dewasa berkisar antara 45-65% dari berat badan.
Kisaran ini tergantung pada tiap individu yang memiliki jumlah
jaringan adipose yang berbeda, yang mana jaringan ini hanya
mengandung sedikit air.
• TBW pada wanita lebih kecil dibanding dengan laki-laki dewasa
pada umur yang sama, karena struktur tubuh wanita dewasa yang
umumnya lebih baNyak mengandung jaringan lemak
• TBW pada neonatus lebih tinggi yaitu sekitar 70- 80% berat badan
• Untuk beberapa alasan, obesitas serta peningkatan usia akan
menurunjkan jumlah kandungan total air tubuh
Kebutuhan Air dan Elektrolit

• Bayi dan anak: Pada bayi dan anak sesuai dengan perhitungan di bawah ini :
Berat badan Kebutuhan air perhari
• Sampai 10 kg 100 ml/kgBB
• 11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kgBB( untuk tiap kg diatas 10 kg)
• >20 kg 1500 ml + 20 ml/kgBB( untuk tiap kg diatas 20 kg)

• Kebutuhan kalium 2,5 mEq/kgBB/hari


• Kebutuhan natrium 2-4 mEq/kgBB/hari

• Orang dewasa:(2)Pada orang dewasa kebutuhannya yaitu :


• Kebutuhan air sebanyak 30 -50 ml/kgBB/hari

• Kebutuhan kalium 1-2 mEq/kgBB/hari


• Kebutuhan natrium 2-3 mEq/kgBB/har
Faktor yang Mempengaruhi
Kebutuhan Cairan
Yang menyebabkan adanya suatu peningkatan terhadap kebutuhan cairan harian
diantaranya :
• Demam ( kebutuhan meningkat 12% setiap 1 derajat Celcius, jika suhu > 37 drajat
Celcius )
• Hiperventilasi
• Suhu lingkungan yang tinggi
• Aktivitas yang ekstrim / berlebihan
• Setiap kehilangan yang abnormal seperti diare atau poliuria

Yang menyebabkan adanya penurunan terhadap kebutuhan cairan harian diantaranya


yaitu :
• Hipotermi ( kebutuhannya menurun 12% setiap setiap 1 derajat Celcius, jika suhu >
37 drajat Celcius )
• Kelembaban lingkungan yang sangat tinggi
• Oliguria atau anuria
• Hampir tidak ada aktivitas
• Retensi cairan misal gagal jantung
Perubahan Cairan Tubuh
• Gangguan cairan tubuh dapat dibagi dalam
tiga bentuk yakni perubahan :

1.Volume,
2.Konsentrasi, dan
3.Komposisi
1.Perubahan Volume
• Defisit Volume
Pada keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat
akan menimbulkan tanda gangguan pada
susunan saraf pusat dan jantung. Pada
kehilangan cairan yang lambat, lebih dapat
ditoleransi sampai defisit volume cairan
ekstraseluler yang berat
• Ditinjau dari segi banyaknya defisit cairan dan
elektrolit yang hilang, maka dehidrasi
dapat dibagi atas :
1.Dehidrasi ringan (defisit 4%BB)
2.Dehidrasi sedang (defisit 8%BB)
3.Dehidrasi berat (defisit 12%BB)
tabel 4. Rumatan Cairan menurut rumus Hollyday
-Segar

BERAT BADAN JUMLAH CAIRAN


< 10 kg 100 ml/kg/hari

11 –20 kg 1000 ml + 50 ml/kg/hari untuk setiap kg


di atas 10 kg

> 20 kg 1500 ml + 20 ml/kg/hari untuk setiap kg


di atas 20
kg
Cara rehidrasi yaitu hitung cairan dan elektrolit
total (rumatan + penggantian defisit) untuk 24
jam pertama. Berikan separuhnya dalam 8 jam
pertama dan selebihnya dalam 16 jam
berikutnya.
Kelebihan Volume
• Kelebihan volume cairan ekstraselular
merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic
(pemberian cairan intravena seperti NaCl yang
menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun
pemberian cairan intravena glukosa yang
menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat
sekunder akibat insufisiensirenal (gangguan
GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif
2. Perubahan Konsentrasi
Perubahan konsentrasi cairan tubuh dapat berupa
hipernatremia atau hiponatremia maupun hiperkalemia atau
hipokalemia. Rumus untuk menghitung defisit elektrolit :

• Defisit natrium (mEq total) = (Na serum yang diinginkan –


Na serum sekarang) x 0,6 x BB (kg)

• Defisit Kalium (mEq total) = (K serum yang diinginkan


[mEq/liter] –K serum yang diukur) x 0,25 x BB (kg)

• Defisit Klorida (mEq total) = (Cl serum yang diinginkan


[mEq/liter] –Cl serum yangdiukur) x 0,45 x BB (kg
3.Perubahan komposisi
Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri
tanpa mempengaruhi osmolaritas cairan
ekstraseluler. Sebagai contoh misalnya kenaikan
konsentrasi K dalam darah dari 4 mEq menjadi 8
mEq, tidak akan mempengaruhi osmolaritas cairan
ekstraseluler tetapi sudah cukup mengganggu otot
jantung. Demikian pula halnya dengan gangguan
ion kalsium, dimana pada keadaan hipokalsemia
kadar Ca kurang dari 8 mEq, sudah akan timbul
kelainan klinik tetapi belum banyak menimbulkan
perubahan osmolaritas
Gangguan Keseimbangan cairan
Gangguan keseimbangan air dan elektrolit dapat
terjadi karena:
• Gastroenteritis, demam tinggi ( DHF, difteri,
tifoid )
• Kasus pembedahan ( appendektomi,
splenektomi, section cesarea, histerektomi )
• Penyakit lain yang menyebabkan pemasukan
dan pengeluaran tidak seimbang ( kehilangan
cairan melalui muntah )
• Dehidrasi
Dehidrasi merupakan keadaan dimana kurangnya terjadi kekurangan
jumlah cairan tubuh dari jumlah normal akibat kehilangan, aasupan
yang tidak memadai atau kombinasi keduanya. Menurut jenisnya
dehidrasi dibagi atas ;
• Dehidrasi hipotonik
• Dehidrasi hipertonik
• Dehidrasi isotonik

Sedangkan menurut derajat beratnya dehidrasi yang didasarkan pada


tanda interstitial dan tanda intravaskuler yaitu ;
• Dehidrasi ringan ( defisit 4% dari BB)
• Dehidrasi sedang ( defisit 8% dari BB)
• Dehidrasi berat ( defisit 12% dari BB)
• Syok ( defisit dari 12% dari BB)
Defisit cairan interstitial dengan gejala sebagai berikut :
• Turgor kulit yang jelek
• Mata cekung
• Ubun-ubun cekung
• Mukosa bibir dan kornea kering

Defisist cairan intravaskuler dengan gejala sebagai berikut :


• Hipotensi, takikardi
• Vena-vena kolaps
• Capillary refill time memanjang
• Oliguri
• Syok ( renjatan)
Dehidrasi hipotonik ( hiponatremik )
• Pada anak yang diare yang banyak minum air atau cairan hipotonik
atau diberi infus glukosa 5%
• Kadar natrium rendah ( <130 mEq/L)
• Osmolaritas serum < 275 mOsm/L
• Letargi, kadang- kadang kejang

Dehidrasi hipertonik
• Biasa terjadi setelah intake cairan hipertonik ( natrium, laktosa )
selama diare
• Kehilangan air >> kehilangan natrium
• Konsentrasi natrium > 150 mmol/ L
• Osmolaritas serum meningkat > 295 mOsm/L
• Haus, irritable
• Bila natrium serum mencapai 165 mmol/L dapat terjadi kejang
Terapi Cairan
Penatalaksanaan terapi cairan meliputi dua bagian dasar
yaitu ;

1.Resusitasi cairan
Ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan
tubuh, sehingga seringkali dapat menyebabkan syok.
Terapi ini ditujukan pula untuk ekspansicepat dari cairan
intravaskuler dan memperbaiki perfusi jaringan.

2.Terapi Pemeliharaan
• Bertujuan untuk memelihara keseimbangan cairan
tubuh dan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh
Prinsip pemilihan cairan dimaksudkan untuk :
• Mengganti kehilangan air dan elektrolit yang normal melaui urine,
IWL, dan feses
• Membuat agar hemodinamik agar tetap dalam keadaan stabil

Pada penggantian cairan, maka jenis cairan yang digunakan didasarkan


pada :
• Cairan pemeliharaan ( jumlah cairan yang dibutuhkan selama 24
jam )
• Cairan defisit ( jumlah kekurangan cairan yang terjadi )

Cairan pengganti ( replacement )


• Sekuestrasi ( cairan third space )
• Pengganti darah yang hilang
• Pengganti cairan yang hilang melalui fistel, maag slang dan drainase
Pemilihan Cairan
Cairan intravena diklasifikasikan menjadi
kristaloid dan koloid. Kristaloid merupakan
larutan dimana molekul organik kecil dan
inorganik dilarutkan dalam air. Larutan ini ada
yang bersifat isotonik, hipotonik, maupun
hipertonik. Cairan kristaloid memiliki
keuntungan antara lain : aman, nontoksik, bebas
reaksi, dan murah. Adapun kerugian dari cairan
kristaloid yang hipotonik dan isotonik adalah
kemampuannya terbatas untuk tetap berada
dalam ruang intravaskular.
Perbandingan Kristaloid dan Koloid
Kristaloid Koloid
Keunggulan 1. Lebih mudah tersedia dan murah 1. Ekspansi volume
2. Komposisi serupa dengan plasma plasma tanpa ekspansi
(Ringer asetat/Ringer Laktat) interstitial
3. Bisa disimpan di suhu kamar 2. Ekspansi volume lebih
4. Bebas dari reaksi anafilaktik besar
5. Komplikasi minimal 3. Durasi lebih lama
4. Oksigenasi jaringan
lebih baik
5. Insiden edema paru
atau edema sistemik
lebih rendah
Kekurangan 1. Edema bisa mengurangi 1. Anafilaksis
ekspensibilitas dinding dada 2. Koagulapati
2. Oksigenasi jaringan terganggu karena 3. Albumin bisa
bertambahnya jaraj kapiler dan sel memperberat depresi
3. Memerlukan volume 4 kali lebih miokard pada pasien
banyak syok