Anda di halaman 1dari 22

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang

digunakan sebagai acuan untuk menentukan


panjang pendeknya interval yang ada dalam alat
ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan
dalam pengukuran akan menghasilkan data
kuantitatif
MACAM-MACAM SKALA PENGUKURAN

Skala nominal

Skala rasio Skala ordinal

Skala interval
MACAM-MACAM SKALA PENGUKURAN

Skala sikap :

Skala likert

Skala Rating
guttman scale

Semantic
deferential
Skala Nominal: adalah skala yang dipakai untuk
mengklasifikasikan objek, individu maupun kelompok.
Contohnya mengklasifikasi agama, jenis kelamin, area
geografis, dan pekerjaan. Pada saat mengidentifikasi hal-
hal tersebut dipakai angka-angka sebagai simbol. Jika kita
memakai skala pengukuran nominal, maka statistik non-
parammetik dipakai dalam menganalisa datanya.
Skala ordinal:
skala yang memberikan informasi mengenai jumlah relatif
karakteristik berbeda yang dimiliki suatu objek ataupun individu
tertentu. Untuk tingkat pengukurannya memiliki informasi skala
nominal ditambah sarana peringkat relatif tertentu yang dapat
memberi informasi apakah objek tersebut mempunai karakteristik
lebih ataukah kurang namun tidak dilihat dari berapa banyak
kelebihan dan kekurangannya.
Skala Interval adalah skala yang memiliki karakteristik
seperti skala nominal dan skala ordinal dengan ditambahi
karakteristik yang lain yakni adanya interval tetap. Dengan
begitu maka seorang peneliti bisa melihat seberapa besar
perbedaan karakteristik antara individu atau objek satu
dengan yang lain. Skala pengukuran interval memang
merupakan angka. Angka-angka yang dipakai bisa
digunakan dan dapat dilakukan operasi aritmatika,
misalkan dikalikan atau dijumlahkan. Untuk menganalisa,
skala pengukuran ini dapat dengan statistik parametric.
skala rasio adalah skala yang memiliki seluruh karakteristik
yang dimiliki skala nominal, skala ordinal dan skala interval
dengan kelebihan yang dimiliki skala ini memiliki nilai nol (0)
empiris absolut. Terjadinya nilai absolut nol tersebut ketika
ketidak hadiran suatu karrakteristik yang diukur. Biasanya
pengukuran rasio dalam bentuk perbndingan antara satu objek
atau individu tertentu dengan yang lain
SKALA SIKAP

Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan


menjadi indikator variabel.Jawaban setiap item yang
menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari yang positif
sampai yang negatif. Instrumen penelitian yang menggunakan
skala likert dapat dibuat dalam bentuk checklist atau pilihan
ganda.
SS = Sangat Setuju di beri skor 5
ST = Setuju di beri skor 4
RG = Ragu –ragu di beri skor 3
TS = Tidak setuju di beri skor 2
STS = Sangat tidak setuju di beri skor 1
Dengan teknik pengumpulan data angket, instrumen
tersebut diberikan kepada100 orang.
Dari 100 orang pegawai setelah dilakukan analisis, misalnya :

25 orang menjawab SS
40 orang menjawab ST
5 orang menjawab RG
20 orang menjawab TS
10 orang menjawab STS

Berdasarkan data tersebut 65 orang (40 + 25) atau 65%


stakeholder menjawab setuju dan sangat setuju. Jadi
kesimpulannya mayoritas stakeholder setuju dengan sekolah
yang akan menggunakan teknologi informasi dalam pelayanan
administrasi dan akademik
Jumlah skor untuk 25 orang yang menjawab SS = 25 x 5 =125
Jumlah skor untuk 40 orang yang menjawab ST = 40 x 4 =160
Jumlah skor untuk 5 orang yang menjawab RG =5X3 =15
Jumlah skor untuk 20 orang yang menjawab TS = 20 x 2 =20
Jumlah skor untuk 10 orang yang menjawab ST = 10 x 1 =10

Jumlah total =350


Jumlah skor ideal (kriterium) untuk seluruh item = 5 x 100 = 500
(Seandainya semua jawaban SS). Jumlah skor yang diperoleh dari
penelitian = 350. Jadi berdasarkan data itu maka tingkat
persetujuan stakeholder terhadap penggunaan teknologi informasi
dalam pelayanan administrasi dan akademik sekolah = (350 : 500)
x 100 % = 70% dari yang diharapkan (100%)

STS TS RG ST SS

100 200 300 350 400 500

Jadi berdasarkan data yang diperoleh dari 100


responden maka rata-rata 350 terletak pada daerah
mendekati setuju.
Contoh bentuk pilihan ganda
Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan di
perusahaan anda ?
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu – ragu
d. Setuju
e. Sangat tidak setuju
Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan di
dapat jawaban yang tegas , yaitu “ ya-tidak” ; “
benar-salah” dan lain-lain.
Contoh :
1. Bagaimana pendapat anda, bila orang
itu menjabat pimpinan di perusahaan
ini ?
a. Setuju b. Tidak setuju
Semantic defferensial

Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap


hanya bentuknya tidak pilihan ganda, tetapi tersusun
dalam bentuk satu garis kontinum.
Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan Kepala
Sekolah
Contoh:
Bersahabat 5 44 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memenuhi
Memberi pujian 5 4 3 2 11 Mencela
Mempercayai 5 4 33 2 1 Mendominasi
Responden dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban
yang positif sampai dengan negatife. Hal ini tergantung pada
persepsi responden kepada yang dinilai.
Reponden yang member penilian dengan angka 5, berarti
persepsi responden terhadap Kepala Sekolah itu sangat
positif, sedangkan bila member jawaban pada angka 3, berarti
netral dan bila member jawaban angka 1, maka persepsi
responden terhadap Kepala Sekolah sangat negative.
Rating Scale
Skala pengukuran ini merubah angka kemudian
ditafsirkan dalam pengertian kuantitatif
Contoh:

Seberapa tinggi pengetahuan anda terhadap mata pelajaran


berikut sebelum dan sesudah mengikuti dan latihan. Arti setiap
angka adalah sebagai berikut,
0= bila sama sekali belum tahu
1=telah mengetahui sampai dengan 25%
2=telah mengetahui sampai dengan 50%
3= telah mengetahui sampai dengan 75%
4=telah mengetahui 100% (semuanya)
Mohon dijawab dengan cara melingkari nomor sebelum dan sesudah latihan

Pengetahuan sebelum mengikuti dklat Mata pelajaran Pengetahuan sesudah


mengikuti diklat

0 1 2 3 4 Komunikasi 0 1 2 3 4

0 1 2 3 4 Tata ruang kantor 0 1 2 3 4

0 1 2 3 4 Pengambilan keputusan 0 1 2 3 4

0 1 2 3 4 Sistem pembuatan laporan 0 1 2 3 4

0 1 2 3 4 Pemasaran 0 1 2 3 4

0 1 2 3 4 Akutansi 0 1 2 3 4

0 1 2 3 4 Statistik 0 1 2 3 4
Dengan dapat diketahuinya pengetahuan sebelum dan sesudah
mengikuti diklat, maka pengaruh pendidikan dan latihan dalam
menambah pengetahuan para pegawai yang mengikuti diklat dapat
dikenali.