Anda di halaman 1dari 31

UNIVERSAL

PRECAUTION

DISAMPAIKAN OLEH :
INSTALASI BEDAH SENTRAL
RSUD PROVINSI SUMATERA SELATAN

KAMIS, 19 APRIL 2018


DEFINISI
Universal precautions merupakan upaya-upaya yang
dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk
mengendalikan dan mengurangi resiko penyebaran
infeksi yang ditujukan pada semua pasien pada saat
melakukan setiap tindakan, dan dilakukan disemua
tempat pelayanan kesehatan tanpa memandang status
infeksi pasien (Kurniawati & Nursalam, 2009).
Rantai penularan infeksi
2. Agen penyebab
infeksi: jamur,
bakteri, virus,riketsa,
parasit

1. Penjamu (Host) rentan ; 3. Reservoir/ tempat


Immunocompromised, agent hidup
pasca bedah, luka bakar, Manusia, air & larutan,
penyakit kronik, umur muda obat, peralatan
dan lansia

4. Tempat keluar
6. Tempat masuk
Ekskret, sekret, droplet
Lapisan mukosa, luka ,
sal. Cerna, sal. Kemih,
sal. nafas

5. Cara penularan
Kontak langsung, tak langsung,
droplet, melalui udara melalui
(Perry & Potter, 2005) benda, vektor
TUJUAN UNIVERSAL PRECAUTION

 Kurniawati dan Nursalam (2007), menyebutkan


bahwa universal precautions perlu diterapkan dengan
tujuan :
1) Mengendalikan infeksi secara konsisten
2) Memastikan standar adekuat bagi mereka yang
tidak didiagnosis atau tidak terlihat seperti beresik
3) Mengurangi resiko bagi petugas kesehatan dan
pasien
4) Asumsi bahwa resiko atau infeksi berbahaya
KEWASPADAAN STANDAR
Universal precautions meliputi 5 kegiatan pokok
yaitu :
1. Mencuci tangan untuk mencegah infeksi
silang,
2. Pemakaian alat pelindung diri,
3. Pengelolaan jarum dan benda tajam untuk
mencegah perlukaan,
4. Pengelolaan limbah dan sanitasi lingkungan,
5. Pengelolaan alat kesehatan (Nursalam dan
Kurniawati, 2009).
CUCI TANGAN
 DEPKES, 2007. Mencuci tangan adalah proses yang
secara mekanis melepaskan kotoran dan Debris dari
kulit tangan menggunakan sabun biasa dan air.
 Tujuan mencuci tangan adalah untuk
menghilangkan kotoran dan mengurangi
mikroorganisme yang ada di tangan sehingga
penyebaran infeksi di lingkungan kerja dapat
dikurangi (Nursalam dan Kurniawati, 2009).
(WHO, 2006)
6 Langkah Cuci Tangan
Alat Pelindung Diri
Menurut OSHA atau Occupational Safety and Health Administration,
pesonal protective equipment atau alat pelindung diri (APD)
didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari
luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya
(hazards) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik,
elektrik, mekanik dan lainnya.
1. SARUNG TANGAN
1. Sarung Tangan
Melindungi tangan dari bahan infeksius & melindungi pasien
dari mikroorganisme pada tangan petugas

Williams dalam Potter & Perry (2005) berpendapat bahwa


tenaga kesehatan harus memakai sarung tangan dengan
beberapa alasan seperti :
(a) Mengurangi kemungkinan pekerja kontak dengan
organisme infeksius pada klien.
(b) Mengurangi kemungkinan pekerja memindahkan flora
endogen ke pasien.
(c) Mengurangi kemungkinan pekerja menjadi tempat
kolonisasi sementara mikroorganisme.
2. PERLINDUNGAN WAJAH (MASKER,
KACA MATA, PENUTUP KEPALA)
 (a) Masker
CDC dalam Potter & Perry (2005), pemakaian masker
dapat mencegah penularan infeksi melalui kontak
langsung dengan membran mukosa. Masker di kamar
operasi digunakan untuk melindungi perawat dari
percikan darah atau cairan tubuh pasien, melindungi
perawat dari menghirup partikel-partikel aerosol yang
melintas dalam jarak pendek dan cairan tubuh pasien
ke perawat.
 (b) Pelindung Mata (kaca mata)
Garner dalam Potter & Perry (2005) perawat diharuskan
memakai kacamata pada saat mengikuti prosedur invasif, irigasi
luka besar di abdomen, insersi catheter arterial, dan menjadi
partner dokter pada saat operasi yang bertujuan untuk
melindungi petugas dari percikan darah atau cairan tubuh lain.
 (c) Topi / Penutup Kepala
Topi digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala
perawat agar serpihan kulit dan rambut tidak masuk ke dalam
luka selama pembedahan dan melindungi perawat dari percikan
darah atau cairan tubuh pasien secara tidak sengaja. Topi yang
digunakan harus cukup besar agar dapat menutup semua
rambut (Potter & Perry, 2005).
3. Gaun Perlindung (baju kerja dan apron / celemek)
(a) Baju Kerja / Gaun Pelindung
Baju kerja / gaun pelindung digunakan untuk
menutupi atau mengganti pakaian pada saat merawat
pasien. Perawat kamar bedah yang mengikuti
tindakan operasi harus mengenakan baju atau gaun
steril (Potter & Perry, 2005).
(b) Apron / Celemek
Perawat harus memakai apron / celemek pada saat
melakukan perawatan langsung pada pasien,
membersihkan pasien, atau melakukan prosedur yang
beresiko dari tumpahan darah, cairan tubuh, atau
sekresi pada saat menjadi partner dokter bedah
(Potter & Perry, 2005).
4. Sepatu Pelindung
 Sepatu / pelindung kaki digunakan untuk melindungi
kaki dari cedera akibat benda tajam atau benda berat
yang jatuh secara tidak sengaja. Sepatu atau pelindung
kaki yang tahan terhadap benda tajam dan kedap air
harus tersedia di kamar bedah (Potter & Perry, 2005).
Pengelolaan Alat Kesehatan

Proses pencegahan dasar yang dianjurkan untuk


mengurangi penularan penyakit melalui instrumen bedah
meliputi dekontaminasi, pencucian, sterilisasi, dan

penyimpanan (Depkes. RI, 2007).


DEFINISI
1. Dekontaminasi
adalah proses menghilangkan mikroorganisme pathogen dan
kotoran pada benda atau alat bedah sehingga aman untuk
dilakukan pengelolaan lebih lanjut (Depkes. RI, 2007).

2. Pencucian / Pembersihan
adalah Proses menghilangkan kotoran yang terlihat. rumen / alat
bedah di rumah sakit besar biasanya dicuci oleh instalasi
tersendiri yang khusus mengelola instrumen pembedahan dan
perawatan luka dengan peralatan yang canggih (Depkes. RI,
2007).

3. Desinfeksi Tingkat Tinggi


adalah menghancurkan semua mikroorganisme dan beberapa
endospora.

4. Sterilisasi
adalah proses menghilangkan semua mikroorganisme beserta
endosporanya. Alat yang dipakai untuk sterilisasi adalah
autoclave
Penanganan linen
• Pemisahan linen kotor terkontaminasi darah
atau cairan tubuh dengan linen kotor tidak
terkontaminasi
• Tidak memempatkan linen di lantai
• Semua linen infeksius dimasukkan ke dalam
kantong kuning.
• Linen yang tidak terkontaminasi darah dan
cairan tubuh di masukan ke dalam kantong
hitam.
MANAJEMEN LIMBAH RS

• Sumber penularan penyakit infeksi


• Melindungi pengelola limbah dari cidera
yang tidak disengaja
• Tempat berkembang biak serangga/ tikus
• Mencegah penyebaran infeksi ke pasien,
personil rumah sakit, petugas pengelola
limbah dan masyarakat sekitar.
• Kode warna pembungkus :
☛ Kuning : sampah Infeksius
Infeksius
☛ Hitam : Non infeksius/
domestik
☛ Merah : Radioaktif
☛ Ungu : Cytotoksik
Penampungan sampah
Medis & Non Medis
 Benda-benda tajam sekali pakai (jarum suntik, silet,
pisau bedah) memerlukan pengelolaan khusus karena
benda-benda tajam tersebut dapat melukai perawat
dan masyarakat sekitarnya jika benda ini dibuang di
pembuangan limbah umum (Depkes. RI, 2007).
 Perawat sebaiknya menggunakan cara penutupan
jarum dengan satu tangan jika jarum harus ditutup
kembali (recapping) untuk mencegah jari tertusuk
jarum.
Resiko kecelakaan kerja

Menutup jarum spuit


dengan menggunakan 2
tangan

Tempat Limbah tajam


melampaui kapasitas
Penampungan limbah RS

• Sampah Medis ( Infeksius ): Kantong Kuning


Dresing bedah,kasa,verband,kateter,
plester,masker,sarung tangan dan semua sampah
yang TERKONTAMINASI dgn cairan tubuh pasien

• Sampah Non Medis( Domestik ): Kantong Hitam


Kertas,plastik,kardus,kayu,kaleng,sisa makanan atau
sampah yang TIDAK TERKONTAMINASI dengan
cairan tubuh pasien

• Sampah Benda Tajam : Kotak berwarna kuning


Jarum suntik, pisau cukur,silet,pecahan ampul, objek
gelas, sampah yg memiliki permukaan/ujung yg
tajam
Syarat penampung benda tajam

Tahan bocor dan tahan tusukan


Harus mempunyai pegangan yang dapat
dijinjing dengan satu tangan
Mempunyai penutup yang tidak bisa dibuka
kembali
Ditutup dan diganti setelah terisi 3/4 bagian
limbah