Anda di halaman 1dari 17

“APOTEK”

KEL 3
Muh Dias Ismawan (20180311073)
Khansa Muthia N (20180311076)
Delicia A (20180311077)
Menurut Keputusan Menkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002
Apotek merupakan suatu tempat tertentu untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat.
Definisi apotek menurut PP 51 Tahun 2009
Apotek merupakan suatu tempat atau terminal distribusi obat perbekalan
farmasi yang dikelola oleh apoteker sesuai standar dan etika kefarmasian..
Apotek memiliki tugas dan fungsi sebagai :
1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah
mengucapkan sumpah jabatan
2. Sarana farmasi untuk melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk,
pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
3. Sarana penyaluran perbekalan farmasi dalam menyebarkan obat –
obatan yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.
Untuk mendapatkan ijin apotek, apoteker bekerjasama dengan pemilik
sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat,
perlengkapan dan perbekalan farmasi yang merupakan milik sendiri
atau milik pihak lain.
Tempat dan perlengkapan disesuaikan dengan kebutuhan untuk
pelayanan kefarmasian. Perbekalan farmasi sekurang-kurangnya terdiri
obat generik sesuai dengan daftar obat esensial untuk rumah sakit kelas
C dan kelas D.
a) Apoteker pengelola dan penangung jawab apotek
b) Asisten Apoteker
c) Asisten administrasi apotek
d) Pembantu asisten apoteker
e) Pembantu pembukuan administrasi
f) CS / cleaning service
STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI
APOTEK (PMK NO.35 TAHUN 2014)

Pengelolaan
Pelayanan
Sumber Daya

- Pengelolaan sumber daya


manusia - Pelayanan resep
- Sarana prasarana - Edukasi dan promosi
- Sediaan farmasi dan - Pelayanan Residential (Home
perbekalan kesehatan lain care)
- Administrasi
• meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian
• menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian
• melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang
tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety)
1. PEREDARAN
Pasal 5
(1) Narkotika dan Psikotropika dalam bentuk obat jadi hanya dapat
diedarkan setelah mendapatkan izin edar dari Menteri.
(2) Untuk mendapatkan izin edar Narkotika dan Psikotropika dalam
bentuk obat jadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melalui
pendaftaran pada Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Pasal 6
(1) Industri Farmasi yang memproduksi Narkotika dan PBF atau Instalasi Farmasi
Pemerintah yang menyalurkan Narkotika wajib memiliki izin khusus dari Menteri
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Izin khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. Izin Khusus Produksi Narkotika;
b. Izin Khusus Impor Narkotika; atau
c. Izin Khusus Penyaluran Narkotika.
(3) Lembaga Ilmu Pengetahuan yang memperoleh, menanam, menyimpan, dan
menggunakan Narkotika dan/atau Psikotropika untuk kepentingan ilmu pengetahuan
dan teknologi harus memiliki izin dari Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 24
Tempat penyimpanan Narkotika dan Psikotropika di fasilitas produksi, fasilitas
distribusi, dan fasilitas pelayanan kefarmasian harus mampu menjaga keamanan,
khasiat, dan mutu Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi.
Pasal 25
(1) Tempat penyimpanan Narkotika dan Psikotropika dapat berupa gudang,
ruangan, atau lemari khusus.
(2) Tempat penyimpanan Narkotika dilarang digunakan untuk menyimpan barang
selain Narkotika.
(3) Tempat penyimpanan Psikotropika dilarang digunakan untuk menyimpan
barang selain Psikotropika.
3. PEMUSNAHAN
Pasal 37
Pemusnahan Narkotika dan Psikotropika hanya dilakukan dalam hal:
a. diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau
tidak dapat diolah kembali;
b. telah kadaluarsa;
c. tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau
untuk pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sisa penggunaan;
d. dibatalkan izin edarnya; atau
e. berhubungan dengan tindak pidana.
4. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pasal 43
(1) Industri Farmasi, PBF, Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek,
Puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik,
Lembaga Ilmu Pengetahuan, atau dokter praktik perorangan yang
melakukan produksi, Penyaluran, atau Penyerahan Narkotika dan
Psikotropika wajib membuat pencatatan mengenai pemasukan
dan/atau pengeluaran Narkotika dan Psikotropika
Pasal 44
Seluruh dokumen pencatatan, dokumen penerimaan, dokumen
penyaluran, dan/atau dokumen penyerahan termasuk surat
pesanan Narkotika dan Psikotropika wajib disimpan secara terpisah
paling singkat 3 (tiga) tahun.
PELANGGARAN APOTEK

Pelanggaran Pelanggaran Pelanggaran


berat (kritikal) sedang (mayor) ringan (minor)

- Terlibat dalam - Menyebabkan potensi - Mengubah denah apotek


penyaluran/penyimpanan kerusakan mutu obat atau bahan tanpa izin
obat palsu/gelap obat - Melayani resep yang tidak
- Pindah alamat apotek tanpa - menyebabkan potensi jelas dokternya
izin penyimpangan pendistribusian - Salinan resep yang tidak
- Menjual narkotika tanpa dari dana atau ke fasilitas atau ditandatangani oleh
resep dokter ke pihak tidak berwenang apoteker
1) Rekomendasi peringatan, jika :
• Ditemukan pelanggaran sedang atau pelanggaran ringan dalam 3 x inspeksi
2) Rekomendasi penghentian sementara kegiatan, jika :
• Ditemukan pelanggaran berat
• Ditemukan pelanggaran sedang dalam 3x inspeksi dalam kurun waktu maksimal 3
tahun
• Melakukan pelanggaran pidana
3) Rekomendasi pencabutan izin, jika :
• Fasilitas berubah fungsi dan tidak ada aktifitas pelayanan kefarmasian
• Ditemukan pelanggaran berat dalam 3x inspeksi dalam kurun waktu maksimal 3
tahun
REFRENSI

• Keputusan Menkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002


• Peraturan Mentri Kesehatan No.35 TAHUN 2014

• Undang-undang NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA PERMENKES RI NO.3 TAHUN 2015