Anda di halaman 1dari 41

PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN

OGSIGENASI
Proses pengambilan udara bebas oksigen (O2) ke sel dan pengeluaran
CO2) sebagai hasil metabolisme tubuh dari sel ke udara bebas (Dorothy
A, Jones, Joyces, S. Martin, 1982 : 827).

RESPIRASI
Proses pertukaran gas antara individu dengan lingkungan proses terse-
but terdiri dari 3 bagian, yaitu :

1. VENTILASI PULMONAL
Fungsi mekanik pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru yg
dilakukan oleh sejumlah komponen yang saling mengadakan interaksi
(SILPIA AP, 1984 : 496) yang terdiri dari ; Inspirasi dan Ekspirasi
Faktor-faktor yang penting dalam ventilasi
a. O2 atmosfer yang adekuat
b. Kebersihan saluran nafas
c. Daya pengembang dan pengempisan paru
d. Pengaturan pernafasan

Ventilasi :
Udara ; reaksi dari seluruh tubh, darah dibawa oleh vena cava superior;
atrium kanan; ventrikel kanan; arteri pulmonalis;difusi;vena
pulmonalis;atrium kiri; ventrikel kiri; aorta; darah dibawa ke seluruh tubuh

2. DIFUSI O2 DAN CO2


Merupakan bergeraknya udara/partikel lain daerah yang tekanannya
fung-si atau konsentrasi tinggi ke daerah dengan tekanan dan
konsentrasi le-bih rendah ( KOZIER , 1991 : 1094)
difusi O2 dan CO2 antara alveoli dan kapiler paru yaitu perpindahan O 2 me
lalui membran alveoli dan dinding kapiler darah serta perpindahan CO 2 de
ngan arah yang berlawanan
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi
a. Kekebalan membran respirasi febal membran dapat meningkat karena
adanya peningkatan/kenaikan cairan dalam ruang interstitual dan alve-
olus ; sehingga difusi gas harus melalui membran dan cairan. Kecepat-
an difusi gas berbanding terbalik dengan ketebalan membran. Ketebal-
an membran meningkat ; difusi terhambat
b. Luas permukaan membran
c. Keofisien difusi gas
Difusi CO2 ± 20x kecepatan difusi O2 ; sehingga kekurangan O2 belum
tentu kelebihan CO2.
d. Perbedaan tekanan tiap sisi membran
Darah yang mengalir di bagian deoxgenatik mengandung CO 2 dengan
tekanan 46 mmHg sedangkan dialveoli CO2 memiliki tekanan 40 mmHg
sehingga mereka berdifusi dan akhirnya di bagian ogygenated tekanan
CO2 berkurang ( Menrun )
3. TRANSPORT O2 DAN CO2
- Secara fisik larut dalam plasma
- Secara kimiawi berkaitan dengan Hb sebagai HbO2 (± 97 %)

Faktor yang mempengaruhi kecepatan transprt O2 dari paru-paru ke jaringan;


a. Cardiac output (curah jantung)
b. Nilai eritrosit
c. Latihan
d. Hematokit darah

Sedangkan transport CO2 dari jaringan ke paru melalui 3 cara yaitu :


a. 5 % larut dalam plasma
b. 30 % bergabung dengan Hb→Carbino Hb.
c. 65 % ditransport sehingga H2CO3 (bicarbonat)

CO2 + H2O → H2CO3 → H + + HCO3


KEBUTUHAN OKSIGEN NORMAL PADA ORANG DEWASA

- Kebutuhan O2 pada setiap orang berbeda dipengaruhi oleh :


a. aktivitas
b. usia
c. ukuran tubuh
d. suhu lingkungan
e. kondisi sistem respirasi

- Kebutuhan O2 meningkat pada peningkatan metabolisme seperti pada :


a. aktivitas
b. demam
c. trauma dan kerusakan jaringan
d. gangguan emosi
e. peningkatan suhu
f. nyeri
- Kebutuhan O2 normal ± 10 – 15 cc/KgBB/ml
m ---- V = f x Vt
V = Vol. O2 yang dibutuhkan/mt
f = frekwensi nafas normal
<MARTHA L.MORRISON,1980 : 61>

- Volume Paru
1. Volume tidal : volume udara yang diinspirasikan setiap pernafasan nor-
mal ± 500 ml.
2. Volume cadangan inspirasi : volume cadangan yang dapat diinspirasi-
kan ± 3.000ml
3. Volume ekpirasi : jumlah udara yang dapat diekpirasikan dengan kuat
setelah ekspirasi tidal ± 1.100ml
4. Volume sisa : volume udara yang masih tersisa dalam paru-paru sete-
lah ekspirasi kuat ± 1.200ml
Kapasitas Baru
1. Kapasitas inspirsi : volume udara yang ditransportasikan setelah akhir
ekspirasi biasa ± 3.500ml
2. Kapasitas residual fungsional : jumlah udara yang masih tertinggal dan
paru-paru setelah ekspirasi biasa ± 2.300 ml
3. Kapasitas perial paru : jumlah udara yang dapat dikeluarkan dengan
ekpirasi maksimum setelah inspirasi maksimum ± 4.600 ml
4. Kapasitas total paru : udara yang dapat diinspirasi setelah ekspirasi bi-
asa ± 6.000 ml
ISTILAH ISTILAH DALAM PERNAFASAN

1. EUPNEA : Pernafasan normal


2. HIPERNEA : Pernafasan lebih cepat daripada peningkatan ventilasi
oleh karena meningkatnya aktivitas, penyakit dan histe-
ri.
3. BRADIPNEA : Pernafasan lambat dan dalam (± 10x/menit)
4. TACHYPNEA: Pernafasan cepat (± 24 x/menit)
5. DYSEPNIA : Pernafasan sesak dan berat
6. APNEA : Pernafasan terhenti sementara (3 – 10 detik), karena
ada gangguan nafas dan penyakit tertentu
7. OUGOPNEA : Pernafasan dangkal (jumlah udara yang masuk dan ke
luar sedikit)
8. ORTHOP: Pernafasan yang sangat sesak/tingkat dyspnea yang
sangat berat.
GANGGUAN GANGGUAN DALAM PERNAFASAN
1. GANGGUAN IRAMA/FREKWENSI PERNAFASAN
a. Gangguan irama
- Pernafasan “CHEYNE STOKES”
Siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula dangkal, makin naik
kemudian menurun dan berhenti. Kemudahan mulai lagi dengan siklus
baru. Biasanya pada gagal jantung congestive, meningkatnya tekanan
intra cranial, over dosis obat. Dapat merupakan fisiologis pada orang yg
berada pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki di atas permukaan laut dan
bunyi pada waktu tidur.
- Pernafasan “BIOT” yaitu pernafasan yang mirip dengan chengne stokes
tetapi amplitudonya sama/rata dan disertai apnea, dapat ditemukan pada
radang selaput otak.
- Pernafasan “KUSMUAL” yaitu peningkatan dan kedalamannya sering le-
bih dari 20 x/menit --- metabolik, asidosis dan gagal ginjal.
- Hidrocepalus ---- kepala yang besar karena terdapatnya cairan akibat
meningkatnya tekanan intrakranial.
- Asidosis ---- CO yang meningkat --- H+ meningkat --- PH darah naik juga
b. Gangguan Frekwensi
- Tachypnea/polypnea : frekwensi pernafasan meningkat. Dapat terjadi ke-
adaan nyeri pada saat bernafas, atelektasis, dan emboli pernafasan
- Bradipnea : frekwensi pernafasan menurun

2. INSUFISIENSI PERNAFASAN (KEMAMPUAN BERNAFAS YG


MENURUN)
Penyebab utama :
a. Yang menyebabkan hypoventilasi alveolus : ventilasi yang terhubung
dengan metabolisme menurun
- kelumpuhan otot pernafasan (misal : K, poliomyelitis)
- penyakit yang menyebabkan meningkatnya kerja ventilasi :
* Tahanan jalan udara meningkat (ashma, emphyema)
* Tahanan jaringan mengangkat paru dan rongga dada (emphysema,
fibresis paru, TBC dll)
* Menurunnya complemence paru dan thorax
* Menurunnya kapasitas depresif paru.
b. Kelainan yang menurunkan kapasitas difusi
- luas permukaan difusi menurun (kerusakan jaringan, TBC, kanker, dll)
- penebalan membrane pernafasan yang disebut BLOK ALVEOLAR
- KAPILER pada oedema paru, pneumonia, dll
- Ratio ventilasi dan perpusi yang tidak normal dalam beberapa bagian
paru (pada thrombosis)
c. Kelainan Pengangkatan O2 dari paru ke jaringan :
- Anemia ----) daya ikat O2 + Hb : 97 %
- Keracunan CO
- Menurunnya aliran darah ke jaringan K : curah jantung / ISCHEMIA
setempat (tidak ada aliran darah)

3. HIPOKSIA
Merupakan kekurangan oksigen di jaringan (di tingkat seluler), istilah ini
lebih tepat daripada analisa karena jarang terjadi tidak ada oksigen sama
sekali dalam jaringan.
Ada 4 kelompok hipoksia:

a. Hipoksemia (kekurangan O2 dalam arteri), terbagi menjadi 2 bagian


1. Hipoksia hipotonik (anoksia-anoksik), yaitu PO 2 darah arteri rendah,
terjadi karena CO2 meningkat dan hipoventilasi.
2. Hipoksia isotonic (anoksia-anoksik), yaitu hipoksia dimana O 2 normal
tetapi jumlah O2 yang dapat diikat darah sedikit karena anemia, ke-
racunan CO.

b. Hipoksia hipokinetik (stagment anoxia/ anoksia bendungan) yaitu anok-


sia yang terjadi karena bendungan sumbatan, terdiri dari :
- Hipoksia hiperkinetik iskemik, yaitu aliran darah berkurang krn sum-
batan
- Hipoksia hipokinetik kongestif, yaitu karena bendungan baik lokal
maupun umum

c. Overventilasi hipoksia
Terjadi karena aktivitas kelebihan sehingga kemampuan penyediaan O 2
lebih rendah daripada penggunaannya.

d. Hipoksia histotoksik (anoksia histotoksi) keadaan dimana darah kapiler


cukup tetapi karena pengaruh racun, jaringan tidak dapat mengguna-
kan O2 sehingga O2 dalam vena meningkat. Hal ini terjadi karena kera-
cunan sianida yang memblokir enzim.
Kepekaan jaringan terhadap hipoksia berdasarkan urutannya sebagai be-
rikut :
1. susunan saraf pusat
2. otot jantung
3. hati, ginjal dan saluran cerna (otot visetal)
4. otot rangka
5. kulit
Akibat hipoksia
Akibat hipoksia tergantung pada berat ringannya. Hipoksia ringan ditandai
dengan menurunnya melihat, bila lebih berat menyebabkan mengantuk,
euphoria, lesu, mulai sakit kepala dll.
Selanjutnya kemampuan menilai menurun, daya ingat menurun, kejang-ke
jang, koma dan kematian

4. HIPERKAPNIA ----) hipoventilasi (meningkat PCO2 )


Retensi CO2 dalam tubuh, sehingga terjadi peningkatan PCO2
Gejala klinik :
- kekacauan mental s/d koma
- sakit kepala akibat vasodilatasi
- Volume denyut nadi besar
- Tangan, kaki panas dan berkeringat

Penyebab :
- Penyakit obstruktif (penyempitan)
- Obat-obat penekan fungsi pernafasan
- Kelemahan/paraksis otot pernafasan
- Trauma dada, pembedahan abdominal yang menyebabkan pernafasan
dangkal
- Kekurangangan jaringan paru.

5. HIPOKAPNIA
Kekurangan CO2 dari paru-paru secara berlebihan
Penyebab :
Hiperpentilasi ----) PCO2 arteri menurun dari 35 mmHg s/d 15 mmHg se-
mentara PCO2 alveolar meningkat s/d 120 – 140 mmHg.

Gejala Klinik :
- sering mendesak dan menganga
- pusing
- palpitasi (berdebar-debar)
- tangan kaki sering semutan dan baal, kedutan otot
- pada hipokapnia berat, PCO2 < 25 mmHg dapat mengakibatkan kejang.

BUNYI NAPAS ABNORMAL

JENIS LOKASI PENYEBAB DESKRIPSI


Bunyi napas abnormal pada klien dewasa dan pediatrik
Ronki kasar (rales) Dimana saja; awalnya di dasar paru Udara melewati jalan napas yang Gemertak ringan, meletup-letup, suara
biasanya terdengar pada saat ins-pirasi, lembab, terutama yang kecil dan nonmusikal, se-perti rambut yang
juga pada bagian paru yang bergantung alveolus, dengan edema pulmonal digesekan bersamaan. Klasifikasi lebih
pada klien tirah bening. Jika bunyi ini jauh berdasarkan nada : tinggi,
terdengar jelas dgn batuk, bunyi tersebut menengah, atau rendah
tidak patolo-gis
Mengi Dimana saja; terdengar pada saat inspirasi Cairan atau sekresi pada ja-lan napas Suara bersiul, dapat digam-barkan
atau ekspirasi. Jika mengi terdengar jelas yang besar atau ja-lan napas yang sebagai sonor, meng-glegak, rintihan,
dengan batuk, bu-nyi ini dapat berasal menyempit karena mukus atau musikal ber
dari trakea atau jalan napas atas yang bronkos-pasme desis dan bergemuruh, ge-mertak,
lebih besar mengerang
Ronki (gurgles) Jalan napas sentral; terdengar selama Udara melewati jalan napas yang Suara menggelegak
inspirasi dan ekspirasi batuk dapat berisi cairan, seperti pd infeksi saluran
mempengaruhi su-ara pernapasan atas
JENIS LOKASI PENYEBAB DESKRIPSI
Bunyi napas abnormal pada klien dewasa dan pediatrik
Pleural friction rub Bidang paru lateral; terdengar selama ins- Inflamasi lapisan pleura parietal dan Decit superfisial atau suara gemerisik,
pirasi dan ekspirasi ( dengan klien pada po viseral yang saling bergesekan seperti beberapa lapis kertas yang
sisi tegak); batuk tidak mempengaruhi digesekkan bersamaan
suara

Bunyi napas tambahan pada klien pediatrik


Grunting Jalan napas sentral; terdengar pada saat Retensi fisiologis dari udara di dalam Bising seperti berkokok
ekspirasi paru-paru untuk mencegah kolaps
alveolar.
Stridor Trakea; terdengar selama inspirasi Gerakan mendorong udara melewati Bising seperti dengkuran
jalan napas bagian atas yang edema
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
1. Riwayat Keperawatan
a. Masalah pernapasan yang pernah dialami
- pernah mengalami perubahan pola pernapasan
- pernah mengalami batuk dengan sputum
- pernah mengalami nyeri dada
- aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala di atas

b. Riwayat penyakit pernapasan


- apakah sering mengalami ISPA, alergi, batuk, asma, TBC, dan lain-
lain ?
- Bagaimana frekwensi setiap kejadian ?

c. Riwayat kardiovaskuler
- Pernah mengalami penyakit jantung atau peredaran darah.
d. Gaya hidup
Merokok, keluarga perokok, lingkungan kerja dengan perokok

2. Pemeriksaan fisik
a. Mata
- konjungtiva pucat (karena anemia)
- konjungtiva sianosis (karena hipoksemia).
- konjungtiva terdapat petchechia (karena emboli lemak atau endokar-
ditis

b. Kulit
- sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer)
- sianosis secara umum (hipoksemia)
- penurunan turgor (dehidrasi)
- edema
- edema periorbital

c. Jari dan kuku


- sianosis
- clubbing finger
d. Mulut dan bibir
- membran mukosa sianosis
- bernafas dengan mengerutkan mulut

e. Hidung
Pernapasan dengan cuping hidung

f. Vena leher
Adanya distensi/bendungan

g. Dada
- Retraksi otot bantu pernapsasn (karena peningkatan aktivitas perna-
pasan, dispnea, atau obstruksi jalan pernapasan).
- Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan
- Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara
melewati
saluran/rongga pernapsan)
- Suara napas tidak normal (creckler/rales, ronkhi, wheezing, friction
rub/pleural friction).
- Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness).
h. Pola pernapasan
- pernapasan normal (eupnea)
- pernapasan cepat (tacypnea)
- pernapasan lambat (bradypnea)

3. Pemeriksaan penunjang
a. Tes untuk menentukan keadekuatan sistem konduksi jantung
- EKG
- Exercise stress test
b. Tes untuk menentukan kontraksi miokardium aliran darah
- Echocardiography
- Kateterisasi jantung
- Angiografi
c. Tes untuk mengukur ventilasi dan oksigenasi
- Tes fungsi paru-paru dengan spirometri
- Tes astrup
- Oksimetri
- Pemeriksaan darah lengkap
d. Melihat struktur sistem pernapasan
- X-Ray thoraks
- Bronkhoskopi
- CT Scan paru
e. Menentukan sel abnormal/infeksi sistem pernapasan
- Kultur apus ternggorok
- Sitologi
- Spesimen sputum (BTA)

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan masalah kebutuhan
oksigenasi diantaranya adalah :
1. Tidak efektifnya cara pembersihan saluran napas
Definisi : Kondisi dimana pasien tidak mampu membersihkan sekret/
slem sehingga menimbulkan obstruksi saluran pernapasan dalam
rang-
ka mempertahnkan saluran pernapasan.

Kemungkinan berhubungan dengan :


a. Menurunnya energi dan kelelahan
b. Infeksi trakheobronkhial
c. Gangguan kognitif dan persepsi
d. Trauma
e. Bedah thoraks

Kemungkinan data yang ditemukan :


a. Suara napas tidak normal
b. Perubahan jumlah pernapasan
c. Batuk
d. Sianosis
e. Demam
f. Kesulitan bernapas (dispnea)

Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :


a. ARDS, cystic fibrosis
b. Pneumonia, injuri dada
c. Ca. paru, gangguan neuromuskuler
d. COPD
Tujuan yang diharapkan :
a. Saluran pernapasan pasien menjadi bersih
b. Pasien dapat mengeluarkan sekret
c. Suara napas dan keadaan kulit menjadi normal

INTERVENSI RASIONAL
1. Sediakan alat suction dalam kondisi baik 1. Peralatan dalam keadaan siap
2. Monitor jumlah bunyi napas, AGD, efek 2. Indikasi dasar kepatenan/gangguan saluran
pengobatan bronkhodilator pernapasan
3. Pertahankan intake cairan 3.000 ml/hari jika 3. Membantu mengencerkan sekret
tidak ada kontra-indikasi 4. Mengeluarkan sekret
4. Terapi inhalasi dan latihan pernapasan 5. Memberikan rasa nyaman
dalam dan batuk efektif 6. Mempertahankan sirkulasi
5. Bantu oral hygiene setiap 4 jam 7. Mencegah komplikasi paru-paru
6. Mobilisasi pasien setiap 2 jam
7. Berikan pendidikan kesehatan (efek
merokok, alkohol, menghindari alergan,
latihan bernapas
2. Tidak efektifnya pola pernapasan
Definisi : Kondisi dimanapola inhalasi dan ekhalasi pasien tidak mampu
karena adanya gangguan fungsi paru

Kemungkinan berhubungan dengan :


a. Obstruksi trakheal
b. Perdarahan aktif
c. Menurunnya ekspansi paru
d. Infeksi paru
e. Defresi pusat pernapasan
f. Kelemahan otot pernapasan

Kemungkinan data yang ditemukan:


a. Perubahan irama pernapasan dan jumlah pernapasan
b. Dispnea
c. Penggunaan
d. Suara pernapasan tidak normal
e. Batuk disertai dahak
f. Menurunnya kapasitas vital
g. Kecemasan
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
a. Penyakit kanker, infeksi pada dada
b. Penggunaan obat dan keracunan alkohol
c. Trauma dada.
d. Myasthenia gravis, guillian Barre Syndrome

Tujuan yang diharapkan :


a. Pasien dapat mendemonstrasikan pola pernapasan yang efektif
b. Data objektif menunjukkan pola pernapasan yang efektif
c. Pasien merasa lebih nyaman dalam bernapas

INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan oksigen sesuai program 1. Mempertahankan oksigen arteri
2. Monitor jumlah pernapasan, penggunaan 2. Mengetahui status pernapasan
otot bantu pernapasan, batuk, bunyi paru, 3. Meningkatkan pernapasan
tanda vital, warna kulit, AGD 4. Meningkatkan pengembangan paru
3. Laksanakan program pengobatan 5. Membantu mengeluarkan sekret
4. Posisi pasien fowler 6. Kemungkinan terjadi kesulitan bernapas
5. Bantu dalam terapi inhalasi yangakut
6. Alat-alat emergensi disiapkan dalam kondisi 7. Perlu adaptasi baru dengan kondisi sekarang
baik
7. Pendidikan kesehatan (gaya hidup, alergan)
3. Menurunnya perfusi jaringan tubuh
Definisi : Kondisi dimana tidak adekuatnya pasokan oksigen akibat
menurunnya nutrisi dan oksigen pada tingkat seluler

Kemungkinan berhubungan dengan :


a. Vasokonstriksi
b. Hipovolemia
c. Thrombosis vena
d. Menurunnya aliran darah
e. Edema
f. Perdarahan
g. Immobilisasi

Kemungkinan data yang ditemukan :


a. Edema
b. Pulsasi perifer kecil
c. Capillary refill lambat
d. Perubahan warna kulit/pucat
e. Menurunnya sensasi
f. Penyembuhan luka lama
g. Cyanosis
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
a. CHF
b. Infark miokardial
c. Peradangan pada jantung
d. Pipertensi
e. Syok
f. COPD

Tujuan yang diharapkan :

a. Menurunnya insufisiensi jantung


b. Suara pernapasan dalam keadaan normal
INTERVENSI RASIONAL
1. Monitor denyut jantung dan irama 1. Mengetahui kelainan jantung
2. Monitor tanda vital, bunyi jantung, CVP, 2. Data dasar untuk mengetahui perkembangan
edema, tingkat kesadaran pasien
3. Kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksa- 3. Mengetahui keadaan umum pasien
an AGD, elektrolit, darah lengkap 4. Mengurangi kecemasan dan lebih kooperatif
4. Jelaskan semua prosedur yang akan dilaku- 5. Meningkatkan perfusi
kan 6. Mengetahui kelebihan atau kekurangan
5. Berikan oksigen sesuai kebutuhan 7. Menghindari gangguan integritas kulit
6. Ukur intake dan outtake cairan 8. Mempertahankan pasokan oksigen
7. Lakukan perawatan kulit, seperti pemberian 9. Mengurangi stres dan energi bicara
losion 10. Meningkatkan pengetahuan dan mencegah
8. Hindari terjadinya palsava manuver seperti terjadinya kambuh dan komplikasi
mengedan, menahan napas, dan batuk
9. Batasi pengunjung
10. Berikan pendidikan kesehatan :
- proses terapi
- perubahan gaya hidup
- teknik relaksasi
- program latihan
- diet
- efek obat
4. Gangguan pertukaran gas
Definisi : Suatu kondisi dimana pasien mengalami penurunan pengiriman
oksigen dan karbon dioksida diantara alveoli paru dan sistem vaskuler

Kemungkinan berhubungan dengan :


a. Penumpukan cairan dalam paru
b. Gangguan pasokan oksigen
c. Obstruksi saluran pernapasan
d. Bronkhospasme
e. Atelaktasis
f. Edema paru
g. Pembedahan paru

Kemungkinan data yang ditemukan :


a. Sesak napas
b. Penurunan kesadaran
c. Nilai AGD tidak normal
d. Perubahan tanda vital
e. Sianosis/takhikardia
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
a. COPD
b. CHE
c. Asma
d. Pneumonia

Tujuan yang diharapkan


a. Dapat menurunkan tanda dan gejala gangguan pertukaran gas
b. Pasien dapat menunjukkan peningkatan perubahan pertukaran gas se-
perti : tanda vital, nilai AGD, dan ekspresi wajah
INTERVENSI RASIONAL
1. Monitor/kaji kembali adanya, nyeri, 1. Data dasar untuk pengkajian lebih lanjut
kesulitan bernapas, hasil laboratorium, 2. Persiapan emergensi terjadinya masalah
retraksi sternal, penggunaan otot bantu akut pernapasan
pernapasan penggunaan oksigen, X-ray, 3. Meningkatkan pertukaran gas
catat tanda vital 4. Menjaga keseimbangan cairan
2. Jaga alat emergensi dan pengobatan tetap 5. Melonggarkan saluran pernapasan
tersedia seperti ambu bag, ET tube, 6. Mengurangi kesulitan bernapas
suction, oksigen 7. Mengurangi tingkat kecemasan
3. Suction jika ada indikasi 8. Menurunkan kebutuhan energi
4. Monitor intake dan output cairan pencernaan
5. Berikan terapi inhalasi 9. Membantu menghemat energi
6. Berikan posisi fowler/semifowler 10. Dapat mengerjakan sendiri di rumah jika
7. Batasi penunjung memungkinkan
8. Berikan nutrisi tinggi protein, rendah
lemak
9. Pendidikan kesehatan tentang (napas
dalam, latihan bernapas, mobilisasi,
kebutuhan istirahat, efek merokok dan
alkohol
10. Jelaskan tentang teknik suction pada
keluarga
I. ALAT ALAT TERAPI OKSIGEN
A. Nasal Canule : 1 – 6 liter/menit (F1 O2 24 – 44 %)
B. Nasal Cateter : 1 – 6 liter/menit (F1 O2 24 – 44 %)
C. Simple Mask Oxigen : 5 – 8 liter/menit (F1 O2 35 – 66 %)

II. HYGIENE BRONKIAL


Tujuan menghilangkan sekret, memperbaiki ventilasi dan oxigenisasi
Terdiri atas :
A. Terapi inhalasi bronkodilator (nebulizier)
B. Nafas dalam batuk efektif
C. Fisioterapi dada
D. Suctioning
E. Bronkial Woshing
F. Postural Drainage (CTT)