Anda di halaman 1dari 24

FLUIDISASI

 APLIKASI FLUIDISASI
 PENGERTIAN FLUIDISASI
 LAJU ALIR PADA FLUIDISASI MINIMUM (VOM)
 TIPE FLUIDISASI
 FLUID-SOLID CONVEYING; PNEUMATIC CONVENYING
Pengertian Fluidisasi

Fluidisasi adalah metode pengontakan butiran


butiran padatan dengan fluida baik gas maupun
cair. Pada laju alir yang rendah butiran padat
pada kolom fluidisasi akan tetap diam karena
fluida hanya mengalir melalui ruang antar
partikeltanpa menyebabkan perubahan pada
susunan partikel tersebut.
APLIKASI FLUIDISASI

Sistem operasi dalam proses kimia yang


menggunakan konsep fluidisasi:

• Reaktor (fluidized bed reactor)

• Pengeringan (fluidized bed drier)

• Transportasi partikel
Reaktor (fluidized bed reactor)

• i-dimethyl-benzen ammoxidation to IPN two stage turbulent fluidized bed


reactor (500 ton/a) 2 unit
• Naphthalene oxidation to phenly acetate turbulent fluidized bed reactor (20
KT/a) 10 unit
• HCl and acetylene to vinyl C2H3Cl multistage fluidized bed reactor (3
KT/a,100KT/a) 3 unit
Reaktor (fluidized bed reactor)
HCl and oxygen to Cl 2
multistage fluidized bed reactor
(300 tone/a) 1 unit
Faktor-Faktor Fluidisasi

• Kecepatan Minimum Fluidisasi


Yang dimaksud kecepatan minimum fluidisasi (Umf), adalah
kecepatan superficial fluida minimum dimana fluida mulai terjadi.

• Karakteristik Unggun Terfluidakan


Karakter unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk
grafik antara penurunan tekanan (ΔP) dan kecepatan superficial
fluida (Vo).
Jenis-Jenis Fluidisasi

Fluidisasi partikulat
Dalam fluidisasi air dan pasir, partikel bergerak menjauh satu
sama lain dan gerakannya bertambah dengan bertambahnya
kecepatan, tetapi densitas hamparan rata-rata pada suatu
kecepatan tertentu sama disegala arah hamparan
Fluidisasi Gelembung
Hamparan zat padat yang terfluidisasi di dalam udara biasanya
menunjukan fluidisasi yang dikenal sebagia fluidisasi agregativ.
Fluidisasi ini terjadi jika kecepatan superficial gas diatas
kecepatan fluidisasi minimum.
Parameter-parameter didalam Peristiwa
Fluidisasi

 Densitas partikel
Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang masih dan tidak
menyerap air atau zat cair lain, bisa dilakukan dengan memakai piknometer
 Bentuk partikel
Dalam persamaan yang telah diturunkan, partikel padatnya dianggap
sebagai butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp
 Diameter partikel
Diameter partikel biasanya diukur berdasarkan analisa ayakan (ukuran
mesh).
 Porositas unggun
Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun. Granulasi
unggun yang terfluidisasikan adalah pembesaran ukuran umum di industri
farmasi, di mana bubuk halus adalah diaglomerasi menggunakan pengikat
cair untuk memberikan butiran yang lebih besar.
Industri yang menggunakan metoda
fluidisasi

 Proses desulfurisasi batubara


 Pembuatan Gas Sintetis Dari Batubara
Dengan Teknologi Gasifikasi Unggun
Terfluidisasi
Dryer (fluidized bed dryer)
Dryer (fluidized bed dryer)
Dryer (fluidized bed dryer)
PENGERTIAN FLUIDISASI
P2
Bila suatu fluida cair atau gas dialirkan
melalui unggun (tumpukan partikel
padat), penurunan tekanan (pressure
drop) fluida akibat dari hambatan partikel
padat mengikuti persamaan Ergun:

P2 < P1 P.g c S.DP3 150.(1  )


  1,75
L .Vo (1  ) S.DP Vo . / 
2

P1 Porositas unggun: 0,55 – 0,75


P = P1 - P2
Unggun diam
PERSAMAAN ERGUN ?

P.g c S.DP3 150.(1  )


  1,75
L .Vo (1  ) S.DP Vo . / 
2

S = sphericity, perbandingan luas permukaan bola terhadap luas


partikel sesungguhnya pada volume yang sama
 = bed porosity, perbandingan volume rongga/sela unggun
terhadap volume unggun
Vo = superficial velocity, Vo = V., V = laju alir rata-rata
L = tinggi unggun
 = density fluida
Dp = diameter partikel
PENGERTIAN FLUIDISASI (CONT.)

 Jika laju fluida (aliran gas)


dinaikkan maka pressure
drop oleh tahanan partikel
padat juga meningkat.
P meningkat

 Jika laju alir fluida terus


ditingkatkan, partikel padat
mulai tergerak dan terangkat
sampai terjadi suspensi
sempurna (fluidized bed)
P konstan
Unggun Unggun
diam terfluidakan
PENGERTIAN FLUIDISASI (CONT.)

 Bila laju alir fluida dinaikkan lagi,


maka partikel zat padat akan ikut
mengalir seperti fluida, yang
biasanya dimanfaatkan untuk
transportasi zat padat bentuk
partikel halus (pneumatic
convenyor)
PRESSURE DROP DAN TINGGI UNGGUN

Fluidized bed
Fixed bed C
L

Pressure drop dan tinggi bed


B
L A
P P

VOM Superficial velocity, VO

A = partikel masih diam; B = saat mulai terfluidakan


Udara
/ fluidisasi menurun; BC = fluidisasi sempurna
FLUIDISASI MINIMUM

Pressure drop unggun diam:


P.g c S.DP3 150.(1  )
  1,75
L .Vo (1  ) S.DP Vo . / 
2

Pressure drop unggun terfluidakan:


g
P  (1   M )(P  )L
gc

150..VoM (1   M ) 1,75..VoM2
1
g.( P  )  
S2 .D 2P  3M S .D P  3M
Fenomena Fluidisasi
 Fenomena fixed bed, terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju
minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini
partikel padatan tetap diam. Pada saat udara dimasukkan dibawah plat
distributor dengan laju lambat, dan naik melalui hamparan tanpa
menyebabkan terjadinya gerakan pada partikel.
 Fenomena minimum or incipient fluidization, terjadi ketika laju alir
fluida mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses
fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi.
 Fenomena smooth or homogenously fluidization, terjadi saat
kecepatan dan distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi
partikel dalam unggun sama atau homogen sehingga ekspansi pada
setiap partikel padatan seragam
Fenomena Fluidisasi
 Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung–
gelembung pada unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel
tidak homogen.
 Fenomena slugging fluidization, terjadi ketika gelembung-gelembung
besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-
partikel padat
 Fenomena chanelling fluidization, terjadi ketika dalam unggun partikel
padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal
 Fenomena disperse fluidization, terjadi saat kecepatan alir fluida
melampaui kecepatan maksimum aliran fluida
 Fenomena Turbulance Bed, terjadi ketika kecepatan udara melewati
Bubbling Fluidized Bed telah meningkat diatas kecepatan minimum
gelembung, hamparan partikel akan meluas.
LAJU ALIR SEMU GAS PADA FLUIDISASI
MINIMUM

Dua kondisi ekstrim

150..VoM (1   M ) 1,75..VoM2
1
g.( P  )  
S2 .D 2P  3M S .D P  3M

NRe,P < 1

NRe,P > 1000

150..VoM (1   M )
g.( P  )  1,75..VoM2
1
S2 .D 2P  3M g.( P  ) 
S .D P  3M

g.( P  )  3M S .D P .g.( P  ) 3M


VoM  S2 .D 2P VoM 
150. (1   M ) 1,75.
LAJU ALIR SEMU GAS PADA FLUIDISASI
MINIMUM (cont.)

Bilangan Reynold partikel :

D P .U t . NRe,P < 1000


N Re,P 
 g.D 2P ( P  )
Ut 
18.
DP = diameter partikel
Ut = terminal velocity NRe,P = 1000 - 20000
 = density fluida
 = viskositas fluida 1,75.g.D P ( P  )
Ut 

Rasio terminal velocity terhadap kecepatan
fluidisasi minimum

Aliran laminer, NRe,P < 1 dan ukuran partikel sangat kecil:

Ut g.D 2P ( P  ) 150. (1   M ) 8,33.(1   M )


 
Vo,M 18. g.( P  ).S .D P  M
2 2 3
S2 . 3M

NRe,P > 1000 dan DP > 1 mm


1/ 2 1/ 2
Ut  g.D 2P ( P  )   1,75.  2,32
 1,75   3 

Vo,M     g.D 2
P .( P  ). M  3M/ 2