Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN JAGA

MINGGU, 28 JULI 2019

VISUM HIDUP
CURIGA KERACUNAN
Residen Jaga :
Penanggung Jawab : dr. Liya
dr. Bianti Hastuti Machroes, MH.,Sp.KF dr. Tri
COASS JAGA

1. Elike Oktorindah (UNDIP)


2. Rahmani Shofi(UNDIP)
3. Silka Roudhatul Jannah(UNDIP)
4. Salma Salsabila(UNDIP)
KRONOLOGI

Kurang lebih 2 hari yang lalu pada pukul 22.00 WIB


korban merasa mual, muntah, pusing dan dada berdebar-
debar setelah mengkonsumsi minuman beralkohol bersama 3
orang rekannya di Sunan Kuning. Korban mencurigai bahwa
minumannya telah dicampur oleh salah satu rekannya
(pelaku) dengan MSG dalam jumlah yang banyak. Sampai
saat ini korban mengaku masih merasakan gejala yang
sama. Keluhan pingsang disangkal oleh korban.
A. TEMUAN YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS KORBAN
1. Identitas Umum Korban
a. Jenis kelamin : Perempuan
b. Umur : 21 Tahun 9 Bulan
c. Berat badan : 52 kg
d. Tinggi badan : 148 cm
e. Warna kulit : Sawo matang
f. Ciri rambut : Warna hitam, lurus, panjang
distribusi merata
g. Keadaan gizi : Kesan gizi normal
(berdasarkan IMT 24,7 kg/m2)
B. TEMUAN DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN LUAR
KEADAAN UMUM/TANDA VITAL

1. Keadaan Umum dan Tanda Vital :


a. Tingkat kesadaran : Sadar penuh
b. Tekanan darah : 129/78 mmHg
c. Denyut nadi : 138 x/menit
d. Pernapasan : 18 x/menit
e. Suhu badan : 36,60C
2. PERMUKAAN KULIT TUBUH
a. Kepala : 7) Anggota gerak
1) Daerah berambut : tidak ada a) Anggota gerak atas:
kelainan. i. Kanan: Tidak ada kelainan.
2) Wajah : Tidak ada kelainan.
ii. Kiri: Tidak ada kelainan.
3) Leher: Tidak ada kelainan.
b) Anggota gerak bawah:
4) Bahu: Tidak ada kelainan.
i. Kanan: Tidak ada kelainan.
5) Punggung: Tidak ada kelainan.
ii. Kiri: Tidak ada kelainan.
6) Pinggang: Tidak ada kelainan.
3. BAGIAN TUBUH TERTENTU
a. Mata :
1) Alis mata : warna hitam, tidak ada kelainan.
2) Bulu mata : warna hitam, tidak ada kelainan.
3) Kelopak mata : tidak ada kelainan.
4) Selaput kelopak mata : tidak ada kelainan.
5) Selaput biji mata : tidak ada kelainan.
6) Selaput bening mata : tidak ada kelainan.
7) Manik mata : bentuk bulat, diameter tiga millimeter, ukuran manik mata
kanan dan kiri sama.
8) Iris mata : warna hitam, tidak ada kelainan.
b. Hidung :

1) Bentuk hidung : tidak ada kelainan.

2) Permukaan kulit hidung : tidak ada kelainan.

3) Lubang hidung : tidak ada kelainan.


c. Telinga :
1) Bentuk telinga : tidak ada kelainan.
2) Permukaan kulit telinga : tidak ada kelainan.
3) Lubang telinga : tidak ada kelainan.
d. Mulut :

1) Bibir atas : tidak ada kelainan

2) Bibir bawah : tidak ada kelaianan

3) Selaput lendir : tidak ada kelainan.

4) Gigi-geligi : tidak ada kelainan.

5) Lidah : tidak ada kelainan.

6) Langit-langit mulut : tidak ada kelainan


4. TULANG – TULANG
a. Tulang tengkorak : tidak ada kelainan.
b. Tulang leher : tidak ada kelainan.
c. Tulang belakang : tidak ada kelainan.
d. Tulang-tulang dada : tidak ada kelainan.
e. Tulang-tulang panggul : tidak ada kelainan.
f. Tulang anggota gerak : tidak ada kelainan.
KESIMPULAN
Berdasarkan temuan-temuan yang didapatkan dari pemeriksaan atas korban
tersebut, maka saya simpulkan bahwa korban adalah seorang perempuan, usia
dua puluh satu tahun sembilan bulan, kesan gizi normal. Tidak didapatkan luka
akibat kekerasan tumpul atau tajam. Akibat hal tersebut tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata
pencaharian.
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Toksikologi : Ilmu yang mempelajari tentang efek merugikan berbagai bahan kimia dan fisika pada semua
sistem kehidupan.

Toksikologi kedokteran didefinisikan sebagai efek merugikan pada manusia akibat paparan bermacam
obat dan unsur kimia lain serta penjelasan keamanan atau bahaya yang berkaitan dengan penggunaan
obat dan bahan kimia tersebut.

Toksikologi Forensik : Ilmu yang mempelajari tentang penerapan Ilmu toksikologi, yang berguna untuk
membantu proses peradilan. Toksikologi forensik tidak hanya untuk mengidentifikasi / mengetahui jumlah /
kuantitas dari obat, racun atau bahan-bahan dalam tubuh manusia tapi juga dapat menentukan akibat-
akibatnya.

Paracelsus menyebutkan “ semua substansi adalah racun; tiada yang bukan racun. Dosis yang tepat
membedakan racun dari obat (dosis sola facit venenum)”.
KLASIFIKASI KERACUNAN
Menurut Cara Terjadinya
1. Self poisoning : Pada keadaan ini pasien makan obat dengan dosis berlebihan tetapi dengan
pengetahuan bahwa dosis ini tidak membahayakan. Self poisoning biasanya terjadi karena kekurang
hati-hatian dalam penggunaan.

2. Attempted poisoning : Dalam kasus ini , pasien memang ingin bunuh diri, tetapi bisa berakhir dengan
kematian atau pasien sembuh kembali karena salah tafsir dalam penggunaan dosis.

3. Accidental poisoning : Kondisi ini merupakan suatu kecelakaan tanpa adanya unsur kesengajaan sama
sekali. Kasus ini banyak terjadi pada anak dibawah umur 5 tahun, karena kebiasaannya memasukkan
segala benda ke dalam mulut.

4. Homicidal poisoning : Keracunan ini terjadi akibat tindak kriminal yaitu seseorang dengan sengaja
meracuni seseorang.
MENURUT WAKTU TERJADINYA
Keracunan kronis
Diagnosis keracuna ini sulit dibuat, karena gejala timbul perlahan dan lama sesudah pajanan. Gejala
dapat timbul secara akut setelah pemajanan berkali-kali dalam dosis yang relatif kecil.

Keracunan akut
Terjadi secara mendadak setelah makan atau terkena sesuatu. Pada keracunan akut biasanya mempunyai
gejala hampir sama dengan sindrom penyakit, oleh karena itu harus diingat adanya kemungkinan
keracunan pada sakit mendadak.
EFEK BIOLOGIS
Potensiasi : satu dari dua bahan tidak menimbulkan toksik, namun ketika terjadi paparan kedua bahan
tersebut, efek toksik dari bahan yang aktif akan meningkat.

Sinergistik : Dua bahan yang mempunyai sifat toksik sama atau salah satu bahan memperkuat bahan yang
lain, maka efek toksik yang dihasilkan lebih bahaya.

Antagonistik : dua bahan toksik yang mempunyai kerja berlawanan, toksik yang dihasilkan rendah/ringan.

Toleransi: Merupakan keadaan yang ditandai oleh menurunnya reaksi terhadap efek toksik suatu bahan
kimia tertentu. Biasanya efek toksik campuran bahan kimia bersifat adiktif.
Penggolongan Alkohol menurut Permenkes
No. 86/Men/Kes/Per/IV/77
Gol. C
Kadar Etanol 20-55%
Gol. B
Kadar Etanol 5-20%

Gol. A
Kadar Etanol 1-5%

Dosis fatalnya sulit ditentukan karena adanya toleransi individual akibat kebiasaan, tetapi ekuivalensi
dari sekitar 400 ml etil alkohol murni yang diminum dalam satu jam bisa mematikan.

Etil alkohol cepat diabsorpsi dari saluran cerna bagian atas dan tersebar dalam jaringan-jaringan
sesuai dengan kandungan airnya, seperti metil alkohol. Efek utamanya adalah depresi saluran napas
pusat.
Keracunan Akut Alkohol

Terdiri dari 3 tahap:


1. Tahap euphoria : Pasien sadar dan merasa senang karena penekanan pada pusat hambatan
di otak (release phenomenon). Tahap ini bisa berlangsung lama dan dapat terlihat pada
semua kasus. Tanda-tanda: muka merah, banyak bicara, kehilangan kendali diri, gangguan
pengendalian gerakan halus, inkoordinasi, pupil sedikit mengalami dilatasi, napas berbau
alkohol.
2. Tahap kebingungan : Akibat penekanan pada pusat-pusat lainnya pada otak sehingga
berkaitan dengan inkoordinasi gerakan/ataksia/melambatnya gerakan, pasien tidak dapat
berjalan lurus, percakapan tidak jelas, inkoheren, sengau, penglihatan kabur.
3. Tahp koma : Pernapasan lambat, mendengkur, denyut nadi cepat dan halus, pasien tidak
dapat dibangunkan walau dalam guncangan keras, suhu tubuh dibawah normal, pupil
mengalami konstriksi.
Mekanisme kematian alkoholisme kronik terutama akibat gagal hati dan ruptur varises esofagus akibat
hipertensi portal. Kelainan yang ditemukan pada korban mati tidak khas. Mungkin ditemukan gejala yang
sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ menunjukkan tanda pembendungan, darah lebih encer, merah
gelap. Mukosa lambung menunjukkan pembendungan, kemerahan tanda inflamasi tapi kadang tidak ada
kelainan.

Organ termasuk otak dan darah berbau alkohol. Pada pemeriksaan histopatologi dapat dijumpai edema
dan pelebaran pembuluh darah otak dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh pada bagian
parenkim organ.
INTOKSIKASI MSG
Menurut badan kesehatan dunia (WHO) asupan MSG per hari yang disarankan
ialah sekitar 0-120 mg/kg berat badan  hanya berlaku pada orang dewasa.
WHO tidak menyarankan penggunaan MSG pada bayi dibawah 12 minggu
Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih dari 6
gram/hari, setara dengan satu sendok teh.
BAHAYA MSG
Chinese Restaurant Syndrome  sakit kepala, palpitasi (berdebar-debar), mual dan
muntah
FASEB (Federation of America Societes for Experimental Biology)  31 Juli 1995
Ada 2 kelompok yang menunjukkan reaksi terhadap MSG (0,5- 2,5 g)
1. Kelompok orang sensitive terhadap MSG  MSG complex syndrome
2. Penderita asma
MSG COMPLEX SYNDROME
Terjadi segera (sekitar 30 menit) setelah konsumsi, dan bertahan sekitar 3-5 jam
Rasa panas di leher, lengan dan dada diikuti kaku kaku otot pada daerah tersebut
menjaar ke punggung
Gejala lain : rasa kaku dan nyeri di wajah diikuti nyeri dada, berdebar-debar, sakit
kepala, mual hingga muntah
Penyalah gunaan zat berbahaya dalam produk pangan diIndonesia sesuai dengan
UU perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999, pelanggaran terhadap kesehatan
konsumen dapat dikenakan hukuman maksimal 5 tahun berikut denda hingga 2
milyar rupiah.
ANALISIS KASUS
Perempuan, usia 21 tahun 9 bulan,
• Identitas korban
kesan gizi normal
keluhan :
Mual, muntah, pusing, dada • Curiga intoksikasi
berdebar-debar,
nadi:138x/menit

Oknum penyalahgunaan zat berbahaya • UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun


dalam produk pangan 1999
TERIMA KASIH