Anda di halaman 1dari 22

UROLITHIASIS

Disusun oleh :
Astridena Narulita Dewi
22010115210116
PENGERTIAN
• Batu saluran kemih (urolithiasis)  terbentuknya
batu di dalam saluran kemih.
• Dapat menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih, atau infeksi.
• Idiopatik Etiologi
• Gangguan aliran urin
– Hipertrofi prostat
– Reflux vesicoureteral
– Konstriksi ureteropelvic junction
– Fimosis
– Striktur meatus
• Gangguan metabolisme
– Hiperparatiroidisme
– Hiperuresemia
– Hiperkalsiuria
• Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme pembuat
urease (Proteus mirabilis)
• Dehidrasi  kurang minum, suhu lingkungan tinggi
• Benda Asing  fragmen kateter, telur skistosoma
• Jaringan mati (nekrosis papila ginjal)
• Penderita multitrauma
Faktor-faktor yang mempengaruhi

• Faktor intrinsik :
– Herediter (keturunan)
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
– Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50
tahun.
– Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak
dibandingkan dengan pasien perempuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Faktor Ekstrinsik :
• Geografi
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran
kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagi
daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika
Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.
• Iklim dan temperatur
• Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air
yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
• Diet
Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih.
• Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas.
Manifestasi klinis : Batu pelvis Ginjal

• Batu sebagian besar menempati bagian pelvis,


kadang hanya terdapat di suatu kaliks. namun
dapat tumbuh mengikuti pelviokaliks  Batu
Staghorn
• Dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai
dengan gejala berat. Umumnya gejalanya akibat
obstruksi aliran kemih dan infeksi.
• Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien
adalah nyeri pada pinggang. Bisa berupa nyeri
kolik ataupun non kolik.
– Nyeri kolik terjadi karena aktivitas peristaltik
otot polos sistem kalises meningkat dalam usaha
untuk mengeluarkan batu dari saluran kemih.
Peningkatan peristaltik itu menyebabkan tekanan
intraluminalnya meningkat sehingga terjadi
peregangan dari terminal saraf  nyeri.
Batu Pelvis Ginjal

• Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan


kapsul ginjal karena terjadi hidronefrosis
atau infeksi pada ginjal.
• Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan
nyeri ketok pada daerah kosto-vertebra,
teraba ginjal pada sisi sakit akibat
hidronefrosis, terlihat tanda-tanda gagal
ginjal, retensi urine, dan apabila disertai
infeksi didapatkan demam-menggigil.
Batu Ureter
Tempat yang sering terbentuk batu, penyempitan
ureter :
– Peralihan pelvis renalis-ureter
– Fleksura marginalis
– Muara ureter ke dalam vesica urinaria
• Nyeri kolik bersifat tajam dan hilang timbul disertai
perasaan mual dengan atau tanpa muntah
• Nyeri alih khas, di daerah pinggang (flank) yang
sering menjalar ke perut, atau lipat paha
• Tidak jarang terjadi hematuria didahului serangan
kolik
• Batu ureter bisa lewat sampai vesica urinaria atau
bisa juga tetap di ureter  obstruksi kronis 
hidroureter  hidronefrosis
Batu vesica urinaria (vesicolithiasis)
• Pada vesica urinaria :
– Aliran urin yang mula-mula
lancar tiba-tiba berhenti
atau netes disertai nyeri
– Hilang pada perubahan
posisi, karena perubahan
posisi batu.
– Bisa disertai hematuria
– Infeksi sekunder  selain
nyeri saat miksi disertai
nyeri menetap suprapubik
Batu Uretra (Uretrolithiasis)
• Umumnya berasal dari ureter
atau vesica urinaria, oleh aliran
kemih terbawa ke uretra
menyangkut di tempat yang
lebar :
– Pars prostatica
– Permulaan pars bulbosa
– Fossa naviculare
• Gejala umumnya miksi tiba-tiba
terhenti , menjadi menetes dan
nyeri.
• Penyulit : divertikulum, abses,
fistel dan uremia karena
obstruksi urin
Diagnosis
• Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk
menegakkan diagnosis, penyakit batu perlu
ditunjang dengan pemeriksaan radiologik,
laboratorium dan penunjang lain untuk
menentukan kemungkinan adanya obstruksi
saluran kemih, infeksi dan gangguan faal
ginjal.
Pemeriksaan penunjang
• Foto Polos Abdomen
Melihat kemungkinan adanya batu radio opak di saluran kemih. Batu-batu jenis
kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio opak dan paling sering dijumpai
diantara batu lain, sedangkan batu asam urat bersifat non opak (radio lusen).

• Pielografi Intra Vena (PIV)


Menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya
batu semi-opak ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos
abdomen. Jika PIV belum dapat menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akibat
adanya penurunan fungsi ginjal, sebagai penggantinya adalah pemeriksaan
pielografi retrograd.

• Ultrasonografi
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV, yaitu pada
keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun, dan
pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batu di
ginjal atau di buli-buli (gambaran echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis, atau
pengkerutan ginjal.
Pemeriksaan penunjang
• Pemeriksaan Mikroskopik Urin  untuk mencari
hematuria dan Kristal.
• Renogram  untuk menentukan fungsi kedua ginjal
secara terpisah pada batu ginjal bilateral atau bila
kedua ureter tersumbat total.
• Analisis batu  untuk mengetahui asal terbentuknya
batu.
• Kultur urin  untuk mecari adanya infeksi sekunder.
• Pemeriksaan laboratorium  ureum, kreatinin,
elektrolit, kalsium, fosfat, urat, protein, fosfatase alkali
serum.
Diagnosis banding
• Jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya
yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan :
– Kolik saluran cerna, kandung empedu, atau apendisitis akut.
– Pada perempuan : adneksitis.
• Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan
keganasan apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri.
• Batu saluran kemih yang bertahun-tahun dapat
menyebabkan terjadinya tumor yang umumnya karsinoma
epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi.
• Pada batu ginjal dengan hidronefrosis, perlu
dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis
ginjal polikistik hingga tumor Grawitz
Komplikasi
• Pada umumnya obstruksi, infeksi sekunder
dan iritasi yang berkepanjangan pada
urotelium yang dapat menyebabkan
keganasan berupa karsinoma epidermoid.
• Akibat obstruksi  hidronefrosis dengan atau
tanpa pionefrosis  kegagalan ginjal  bila
rusak kedua ginjal : uremia
• Batu uretra  divertikulum uretra, fistula
Penatalaksanaan
• Indikasi pengeluaran batu saluran kemih :
1) Obstruksi saluran kemih
2) Infeksi
3) Nyeri menetap atau nyeri berulang-ulang
4) Batu yang agaknya menyebabkan infeksi atau
obstruksi
5) Batu metabolik yang tumbuh cepat
Penatalaksanaan
• Terapi Medis dan simtomatik
 Berusaha mengeluarkan atau melarutkan batu.
Terapi simtomatik bertujuan agar nyeri berkurang,
memperlancar aliran urin dengan pemberian
diuretikum, berupa :
– Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari
– α - blocker
– NSAID
Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di
samping ukuran batu syarat lain untuk observasi adalah
berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi
dan obstruksi.
Penatalaksanaan
• Pelarutan
– Batu yang dapat dilarutkan : jenis batu asam urat.
Dengan pemberian natrium bikarbonat. Dibantu
dengan usaha menurunkan kadar asam urat urin
dan darah dengan alopurinol.
– Batu struvit : tidak dapat dilarutkan tapi dapat
dicegah pembesarannya  pengasaman kemih,
pemberian antiurease
Penatalaksanaan
• Litotripsi (pemecahan batu)
Yang sering dipakai : gelombang kejut luar tubuh
(extracorporeal shock wave lithotripsy, ESWL),
dapat memcah batu tanpa perlukaan di tubuh.
Gelombang kejut dialirkan melalui air ke tubuh
dan dipusatkan di batu yang akan dipecahkan.
Batu akan hancur berkeping-keping dan keluar
bersama kemih.
Kadang dibutuhkan tindakan bantuan nefrostomi
perkutan
Penatalaksanaan
Tindakan Pembedahan
• Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotripsor,
alat gelombang kejut atau bila cara non bedah tidak
berhasil.
– Batu ginjal di kaliks selain indikasi umum, perlu tindakan bedah
bila terdapat hidrokaliks. Sering melalui nefrolitotomi.
– Batu pelvis perlu dibedah bila menyebabkan hidronefrosis,
infeksi atau nyeri yang hebat. Operasi batu pielum sederhana 
pielolitotomi. Batu bentuk tanduk rusa  pielolitotomi yang
diperluas.
– Untuk Ureterolitotomi didasarkan atas gangguan fungsi ginjal,
nyeri yang tidak dapat ditoleransi pasien, dan penanganan
medis yang tidak berhasil
– Batu uretra yang tidak dapat keluar spontan dikeluarkan melalui
tindakan uretratomi eksterna. Komplikasi : striktur uretra.
Pencegahan
• Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan
atas kandungan unsur yang menyusun batu
saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu.
Pada umumnya pencegahan itu berupa :
– Menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan
diusahakan produksi urin 2-3 liter per hari.
– Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen
pembentuk batu.
– Aktivitas harian yang cukup.
– Pemberian medikamentosa.
TERIMA KASIH