Anda di halaman 1dari 30

ANALISIS FUNDAMENTAL DAN

ANALISIS TEKNIKAL
SHARFINA FADHILAH
170521017
Analisis Fundamental
• Analisis fundamental adalah teknik analisa
yang memperhitungkan berbagai faktor,
seperti kinerja perusahaan, analisis persaingan
usaha, analisis industri, analisis ekonomi dan
pasar makro-mikro.
• Umumnya pengguna analisis fundamental
adalah investor, terutama investor saham
jangka panjang.
Tahapan Analisis Fundamental
• Analisis Ekonomi
• Analisis Industri
• Analisis Perusahaan
Kegunaan Analisis Fundamental
• Analisis Fundamental tidak terbatas untuk
saham, bisa juga digunakan untuk forex, emas.
Caranya saja yang berbeda. Tapi biasanya
kalau orang menyebut Analisis Fundamental
biasanya merujuk pada saham. Investor yang
murni menggunakan aspek fundamental di
dalam menentukan keputusan investasinya
disebut dengan Fundamentalist.
Pendekatan Fundamental
• Pendekatan analisis fundamental yang sering
digunakan adalah top-down approach
Tahap Top-Down Approach
• Kondisi makro dunia usaha
Faktor ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan
ekonomi pemerintah. Pertumbuhan ekonomi
juga menentukan harga saham. Faktor
kestabilan politik pun ikut mempengaruhi
kondisi dunia usaha dan juga tentunya harga
saham.
• Kondisi sektor dan industri
Kondisi industri di mana suatu perusahaan
berada juga mempengaruhi naik turunnya
harga saham perusahaan tersebut. Industri
yang bertumbuh pesat akan melambungkan
harga saham perusahaan industri tersebut.
• Kondisi fundamental perusahaan
Kondisi Fundamental perusahaan pastinya
mempengaruhi pergerakan harga
sahamnya. Hal-hal tersebut sangatlah vital
untuk menentukan bagus tidaknya
fundamental sebuah perusahaan. Perusahaan
berfundamental kokoh biasanya memiliki
harga saham yang bagus.
Fungsi Analisis Fundamental
• Mendeteksi saat yang tepat untuk masuk
atau keluar dari pasar saham
Dengan mengetahui bagaimana kondisi
ekonomi negara, kita dapat mengetahui kapan
kita harus berinvestasi
• Membantu memilih saham yang baik untuk
investasi
Dengan analisis industri dan keuangan
perusahaan kita dapat terhindar dari memiliki
perusahaan yang fundamentalnya kurang jelas
• Mengetahui harga wajar suatu saham
Analisis Fundamental dapat digunakan untuk
mengetahui valuasi saham, yaitu berapa
nominal rupiah saham itu layak dihargai
Rasio Keuangan Analisis Fundamental
• EPS (Earning Per ShareI)
• Rasio pertama adalah EPS, atau kepanjangannya adalah Earning Per
Share, yang berarti laba bersih per lembar saham. Bila EPS bernilai
Rp100, artinya setiap lembar saham menghasilkan laba sebesar
Rp100.
• Cara menghitung EPS yaitu jumlah laba bersih dibagi dengan jumlah
lembar saham beredar. Rumus menghitung EPS adalah:
EPS = Laba Bersih : Jumlah Lembar Saham

EPS yang menanjak menunjukkan perusahaan bertumbuh dengan


baik. Kemungkinan besar penjualan dan labanya naik. Sebaliknya,
EPS yang turun menunjukkan penurunan penjualan dan laba.
• PER (Price to Earning Ratio)
• Rasio kedua adalah PER, atau kepanjangannya
adalah Price to Earning Ratio, yaitu rasio yang
menggambarkan keuntungan sebuah perusahaan
dibandingkan harga sahamnya.
• Rumus untuk menghitung PER adalah:
• PER = Harga Saham : Laba per Lembar Saham (EPS)
• PER adalah lama waktu yang dibutuhkan untuk
mengembalikan modal yang dipakai untuk membeli
saham.
• Sebuah saham dianggap murah bila PER-nya lebih
rendah daripada PER rata-rata di dalam sebuah industri
• PBV (Price to Book Value)
• Rasio ketiga adalah PBV, atau kepanjangannya
adalah Price to Book Value, rasio yang
menggambarkan seberapa besar pasar menilai
harga sebuah perusahaan dibandingkan kekayaan
bersihnya.
• Rumus untuk menghitung PBV adalah:
PBV = Harga Saham : Nilai Buku per Lembar
Saham (BV)
• PBV yang tinggi bisa jadi disebabkan oleh harga
pasar yang sudah terlampau tinggi. PBV rendah
sering dijadikan indikator mencari saham yang
murah atau Undervalued.
• ROE (Return On Equity)
• Rasio keempat adalah ROE, atau
kepanjangannya adalah Return On
Equity, yaitu rasio perolehan laba bersih yang
dibukukan perusahaan dibandingkan dengan
total kekayaan bersih yang dimiliki oleh
perusahaan.
• Rumus untuk menghitung ROE adalah:
• ROE = Laba Bersih : Kekayaan Bersih
• DY (Dividend Yield)
• Rasio kelima adalah Dividend Yield, yaitu rasio
yang menggambarkan seberapa besar
pembagian dividen yang dibagikan oleh
perusahaan terhadap harga sahamnya di
pasar.
• Rumus untuk menghitung Dividend
Yield adalah:
• DY = Dividend per Lembar Saham : Harga
Saham
• DER (Debt to Equity Ratio)
• Rasio keenam adalah DER, atau kepanjangannya
adalah Debt to Equity Ratio, yaitu rasio jumlah hutang
dan kewajiban yang dimiliki perusahaan dibandingkan
dengan modal bersihnya.
• Rumus untuk menghitung DER adalah:
• DER = Total Kewajiban (Hutang) : Kekayaan Bersih
(Modal Sendiri)
• Bila DER < 1, maka menunjukkan bahwa perusahaan
memiliki hutang lebih sedikit dibandingkan modal
bersihnya, sedangkan bila DER > 1, maka perusahaan
memiliki risiko keuangan yang besar. Secara umum,
investor disarankan untuk mencari saham yang
memiliki DER tidak lebih dari 1.
Rasio Keuangan Analisis Fundamental
1. EPS alias (Earning Per Share)
atau laba bersih perlembar saham.

2. PER (Price Earnings Ratio).

3. PBV ( Price to Book Value).

4. Return On Equity yang


menggambarkan kemampuan
modal sendiri yang dimiliki
perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih.

5. DY (Dividend Yield).

6. DER (Rasio Debt To Equity)


Analisis Teknikal
• Analisis Teknikal atau Technical Analysis adalah
teknik analisa yang menganalisa fluktuasi harga
dalam rentang waktu tertentu. Dari pergerakan
harga tersebut trader mengamati pola-pola
tertentu yang dapat dipakai sebagai dasar untuk
melakukan pembelian atau penjualan.
• Umumnya pengguna Analisis Teknikal adalah
trader yang ingin memanfaatkan fluktuasi harga
untuk mendapatkan keuntungan.
Kegunaan Analisis Teknikal
• Analisis Teknikal bisa digunakan pada semua
produk keuangan yang memiliki data harga.
Mulai dari saham, forex, komoditas, futures,
dan sebagainya
Kebutuhan Untuk Bisa Melakukan
Analisis Teknikal
• Analisis Teknikal selalu menggunakan grafik
(Chart) untuk melakukan analisisnya. Maka
dari itu, trader yang murni berpegang pada
aspek teknikal saja disebut dengan Chartist.
Grafik yang Digunakan Analisis Teknikal
• Pergerakan harga saham dapat digambarkan sebagai grafik. Ada
banyak jenis grafik yang bisa dipakai. Namun umumnya
grafik Candlestick yang paling banyak dipakai, karena lebih mudah
dibaca. Grafik Candlestick juga memuat harga pembukaan, harga
penutupan, harga tertinggi dan terendah.
Fungsi Analisis Teknikal
• Mendeteksi trend atau pola yang sedang
terjadi
• Analisis Teknikal digunakan untuk
menganalisis harga berdasar data harga masa
lalu. Dengan data tersebut analis mencoba
untuk melihat adanya suatu trend atau pola
harga yang terjadi. Biasanya trader mengikuti
pola yang terjadi.
• Membantu memberikan sinyal beli atau jual
• Analisis Teknikal dapat membantu trader
untuk menentukan keputusan jual atau beli.
Biasanya menggunakan bantuan indikator.
Tools dalam Analisis Teknikal
• Analisis Teknikal memiliki banyak tools yang bisa digunakan untuk membantu
trader dalam menganalisis. Contohnya Trend Line, Rectangle, Fibonacci
Retracement, dan lain sebagainya. Yang paling banyak dipakai misalnya adalah
Trend Line. Trend line adalah garis imajinatif yang dibuat untuk menunjukkan
kecenderungan (trend) pergerakan harga saham. Misalnya kita bisa tahu harga
sedang uptrend (cenderung naik), downtrend(cenderung turun)
atau sideways (datar). Dengan mengetahui berbagai pola ini Anda akan dapat
mengantisipasi kemungkinan terjadinya perubahan harga.
Indikator Analisis Teknikal
• Indikator adalah formula matematis yang salah
satu fungsinya untuk membantu memberikan
sinyal beli atau jual. Ada banyak sekali indikator
dalam Analisis Teknikal. Yang paling umum
digunakan misalnya Moving Average, MACD
(Moving Average Convergence Divergence), RSI
(Relative Strength Index), Stochastic, Parabolic
SAR, Bollinger Band, dan lain sebagainya. Tiap
indikator memiliki karakter dan cara
penggunaannya masing-masing.
• MOVING AVERAGE
• Tidak bisa digugat lagi, Moving Average (biasa disingkat MA) memang indikator
sejuta umat bagi trader. Silakan Anda tanya pada setiap trader, pasti pernah
menggunakan atau setidaknya mengenal Moving Average. Maklum, indikator ini
memang paling sederhana dibanding indikator Analisis Teknikal lain. Indikator ini
menghitung pergerakan harga rata-rata dari suatu saham dalam suatu rentang
waktu, misalnya dalam waktu 50 hari atau sering disebut MA50. Cara penggunaan
indikator ini adalah dengan melihat posisi harga dibandingkan dengan MA50
tersebut. Apabila grafik harga memotong MA50 ke atas dianggap sinyal beli.
Sedangkan sebaliknya, bila grafik harga memotong MA50 ke bawah dianggap
sebagai sinyal jual.
• RELATIVE STRENGTH INDEX (RSI)
• Relative Strength Index (RSI) digunakan untuk menghitung perbandingan
antara daya tarik kenaikan dan penurunan harga, nilainya berkisar 0-100.
Dengan RSI Anda dapat mengetahui apakah suatu harga sudah overbought
atau oversold. Pada prinsipnya, penggunaan RSI sangat mudah. Jika RSI
bernilai sangat tinggi (di atas 70) artinya pasar sudah overbought (jenuh
beli) sehingga ada potensi turun, saatnya untuk jual. Sebaliknya jika RSI
bernilai sangat rendah (di bawah 30) artinya pasar sudah oversold (jenuh
jual) sehingga ada potensi naik, saatnya untuk beli.
• STOCHASTIC
• Stochastic dikembangkan oleh George C. Lane di akhir 1950-an. Stochastic
adalah indikator yang menunjukkan lokasi harga penutupan terakhir
dibandingkan dengan range harga terendah/tertinggi selama periode
waktu tertentu. Ada tiga macam tipe Stochastic Oscillators: Fast, Slow, dan
Full. Biasanya ada dua garis di Stochastic, yaitu %K dan %D. Sinyal beli dan
jual bisa dilihat dari garis %K dan %D. Jika %K memotong %D ke atas,
berarti sinyal beli. Sedangkan bila %K memotong %D ke bawah berarti
sinyal jual.
• MOVING AVERAGE CONVERGENCE DIVERGENCE (MACD)
• Moving Average Convergence/Divergence (MACD) adalah indikator
yang sangat berguna bagi seorang trader. Indikator ini berfungsi
untuk menunjukkan trend yang sedang terjadi dan juga bisa
memberikan sinyal beli atau jual. Di dalam MACD ada dua garis
yang akan Anda temui, yaitu Signal Line dan MACD Line. Jika nilai
MACD positif (di atas nol), berarti pasar bersifat bullish, disarankan
beli. Sedangkan jika nilai MACD negatif (di bawah nol), berarti pasar
bersifat bearish, disarankan jual.