Anda di halaman 1dari 36

10/3/2019 Dr. H.

Virgana, MA 1
Proses IMPLEMENTASI Kurikulum
Hamba
tan
BEBAN

MAJU

Raw SEJAH
OUT PUT
RAW
Input
INPUT
PROSES OUT COME TERA

AMAN
PROFESIONAL

DAYA
GURU

DORONG

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 2


3 KOMPETENSI DASAR
B. S. BLOOM

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 3


Pendidikan UNESCO
awal abad 21
Learning to Know
Learning to Do
Learning to Be
Learning to live together.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 4


Empat pilar pendidikan

Upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa tidak ada cara lain


kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari
pemikiran itu UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan
sekarang dan masa depan yaitu: (1) learning to Know, (2)
learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live
together.

Untuk mengimplementasikan “learning to know” (belajar


untuk mengetahui), Guru harus mampu menempatkan dirinya
sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat
berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam
rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 5


• Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seyogjanya
memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan
keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar
“Learning to do” (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat
terrealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat anak
dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan
berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada
lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa
keterampilan merupakan sarana untuk menopang
kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan
daripada penguasaan pengetahuan semata

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 6


Pilar ketiga yang dicanangkan Unesco adalah “learning to be”
(belajar untuk menjadi seseorang). Hali ini erat sekali
kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan,
tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi
siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi
kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi
siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah
sekaligus menjadi fasilitator sangat diperlukan untuk
menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan
maksimal.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 7


Terjadinya proses “learning to live together”
(belajar untuk menjalani kehidupan bersama), pada
pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling
menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu
dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang
memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian
antar ras, suku, dan agama

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 8


Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus
diarahkan pada peningkatan kualitas
kemampuan intelektual dan profesional serta
sikap, kepribadian dan moral. Dengan
kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang
demikian maka pada gilirannya akan menjadikan
masyarakat Indonesia masyarakat yang
bermartabat di mata masyarakat dunia.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 9


WARISAN BUDAYA
Kompetesi Manusia
SALING :

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 10


Jabar

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 11


Anatomi kurikulum

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 12


Anatomi Kurikulum
Kurikulum Mempunyai dua relevansi:
1. Relevansi antara kurikulum dengan tuntutan
kebutuhan, kondisi dan perkembangan
masyarakat
2. Relevansi antar komponen-komponen
kurikulum, yaitu isi sesuai dengan
tujuan,proses sesuai dengan isi dan tujuan,
demikian juga evaluasi sesuai dengan proses,
isi dan tujuan kurikulum.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 13


Anatomi Kurikulum Analisis
remedial
pengayaan
KURIKULUM
EVALUASI

1. Lisan
TUJUAN
PROSES 2. Tulisan
KURIKULUM 3. Esey
4. Objektive tes
5. Pengamatan
6. Porto folio
BAHAN MEDIA
AJAR
1. TUJUAN NASIONAL PENGAJARAN
2. INSTITUSIONAL
3. KURIKULER 1. Metode
4. INSTRUKSIONAL
UMUM 1. Gambar 2. Strategi
1. Materi Bid 3. Interaksi
5. INSTRUKSIONAL 2. Simbol
Studi
KHUSUS 3. Media elektronik
2. Sumber Belajar 4. Buku sumber
5.Lingkungan
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 14
1. TUJUAN.

• Dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan


memegang peranan penting, akan
mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan
mewarnai komponen-komponen kurikulum
lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan
berdasarkan dua hal.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 15


Pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan,
dan kondisi masyarakat.
Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan
terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis,
terutama falsafah Negara.
Kita mengenal beberapa kategori tujuan
pendidikan, yaitu tujuan umum dan khusus,
jangka panjang, menengah, dan jangka
pendek.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 16


Tujuan Pendidikan
 Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka
panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia.
 Tujuan institusional, merupakan sasaran pendidikan
suatu lembaga pendidikan.
 Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin di capai oleh
suatu program study.
 Tujuan instruksional yang merupakan target yang harus
dicapai oleh suatu mata pelajaran.
 Tujuan instruksional umum dan
 Tujuan instruksional khusus atau disebut juga objektif,
yang merupakan tujuan pokok bahasan.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 17


Tujuan operasional
• Para ahli mengemukakan bahwa tujuan khusus merupakan
suatu prilaku yang diperlihatkan siswa pada akhir suatu
kegiatan belajar. Secara spesifik, tujuan-tujuan mengajar
khusus yaitu :
• Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh
siswa, dengan:
1. menggunakan kata-kata kerja yang menunjukan tingkah
laku yang dapat diamati.
2. menunjukan stimulus yang membuktikan tingkah laku
siswa.
3. memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang
dapat digunakan siswa dan orang-orang yang dapat diajak
bekerjasama.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 18


2. BAHAN AJAR

Seorang siswa belajar dalam bentuk interaksi


dengan lingkungannya,
Tugas utama seorang guru adalah
menciptakan lingkungan tersebut, untuk
mendorong siswa melakukan interaksi yang
produktif danmemberikan pengalaman belajar
yang dibutuhkan.
Guru memberikan motivasi terus menerus
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 19
Kegiatan dan lingkungan demikian dirancang
dalam suatu rencana mengajar, yang
mencakup komponen-komponen :
1. tujuan khusus,
2. sekuensi bahan ajar,
3. strategi mengajar,
4. media dan sumber belajar, serta
5. evaluasi hasil mengajar.
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 20
SEKUENS BAHAN AJAR

• Bahan ajar tersusun atas topik-topik dan sub


topik tertentu. Tiap topik atau sub topik
mengandung ide-ide pokok yang relevan
dengan tujuan yan telah ditetapkan. Topik-
topik atau subtopik tersebut tersusun dalam
sekuens tertentu yang membentuk suatu
sekuens bahan ajar.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 21


Beberapa cara menyusun bahan ajar

1. Sekuens kronologis. Digunakan untuk menyusun


bahan ajar berdasar urutan waktu. Peristiwa
sejarah, penemuan ilmiah dan perkembangan
historis suatu instuisi.
2. Sekuens kausal. Berhubungan dengan situasi
yang menjadi sebab atau pendahulu dari suatu
peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari
sesuatu yang menjadi sebab, maka akan
diproleh akibatnya.
3. Sekuens struktural. Suatu sekuens bahan ajar
perlu disesuaikan dengan strukturnya.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 22


4. Sekuens logis dan psikologis. Bahan ajar juga dapat
disusun berdasarkan urutan logis. Menurut sekuens
logis bahan ajar, dimulai dari bagian menuju pada
keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang
kompleks. Tetapi menurut sekuens psikologis,
sebaliknya, dari keseluruhan kepada sebagian, dari
yang kompleks kepada yang sederhana.
5. Sekuens spiral. Bahan ajar dipusatkan pada topik atau
pokok bahan tertentu. Dari topik atau pokok tersebut,
bahan diperluas atau diperdalam. Topik atau pokok
bahan ajar tersebut adalah sesuatu yang populer dan
sederhana, tetapi kemudian diperluas dan dan
diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks.
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 23
6. Rangkaian ke belakang. Dalam sekuens ini,
belajar dimulai dengan langkah terakhir dan
mundur kebelakang.
7. Sekuens berdasar herarki belajar. Sekuens ini
memiliki prosedur sebagai berikut: tujuan khusus
utama pemebelajaran dianalisis, kemudian dicari
suatu herarki urutan bahan ajar untuk mencapai
tujuan tersebut. Herarki tersebut
menggambarkan urutan perilaku yang mula-mula
harus dikuasai siswa, berturut-turut sampai
dengan prilaku terakhir.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 24


4. Media Pengajaran

Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan


alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar.
Rowntree, mengelompokan media mengajar menjadi lima macam,
yaitu :
1. Interaksi Insani
Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau
lebih. Dalam komunikasi tersebut, kehadiran guru mempengaruhi
perilaku siswa atau siswa-siswanya. Interaksi insani dapat
berlangsung melalui komunikasi verbal atau nonverbal. komunikasi
verbal memegang pernanan penting, terutama dalam
perkembangan segi kognitif siswa.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 25


2. Realita
Realita merupakan bentuk perngasang nyata seperti orang, benda, dan
peristiwa yang diamati siswa. Dalam realita, kesemuaan tersebut
berfungsi sebagai objek pengamatan studi siswa.

3. Pictorial
Media ini menyajikan berbagai bentuk variasi gambar dan diagram
nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat diatas kertas,
film, kaset dan media lainnya. Media pictorial memiliki keuntungan
karena semua bentuk ukuran, kecepatan, benda, makhluk dan
peristiwa dapat disajikan dalam media ini.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 26


4. Simbol Tertulis
• Merupakan media penyajian informasi paling umum,
tetapi efektif. Ada beberpa macam bentuk media
simbol, seperti buku teks, buku paket, modul dan
majalah. Media ini biasanya dilengkapi dengan media
pictorial.

5. Rekaman Suara
• Berbagai bentuk informasi dapat disajikan kepada anak
dalam bentuk rekaman suara, sehinga mempermudah
guru dalam menyampaikan materi belajar.
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 27
• 5. EVALUASI PENGAJARAN
• Komponen utama selanjutnnya setelah rumusan tujuan,
bahan ajar, strategi mengajar, dan media menngajar adalah
evaluasi dan penyempurnaan. Evaluasi ditujukan untuk
menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan
serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara
keseluruhan . Tiap kegiatan akan memberiakn umpan balik,
demikian juga dalam pencapaian tujuan-tujuan belajar dan
proses pelaksanaan mengajar. Umpan balik tersebut
digunakan untuk mengadakan berbagai usaha
penyempurnaan baik bagi penentuan dan perumusan
tujuan mengajar, penentuan sekuens bahan ajar, strategi,
dan media mengajar.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 28


Tindak Lanjut Evaluasi
Analisis hasil evaluasi
Remedial
Pengayaan

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 29


Kurnas - Dalam menyusun RPP hendaknya
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Memperhatikan Perbedaan individual peserta didik antara
lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi,
minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya
belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang
budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik;
2. Partisipasi aktif peserta didik;
3. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat
belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi
dan kemandirian;
4. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang
dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca,
pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam
berbagai bentuk tulisan;

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 30


5. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat
rancangan program pemberian umpan balik positif,
penguatan, pengayaan, dan remedi;
6. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD,
materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator
pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam
satu keutuhan pengalaman belajar;
7. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu,
keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan
keragaman budaya;
8. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara
terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan
kondisi.

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 31


10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 32
Pedoman Penyusunan RPP. Klik3. Pedoman
Penyusunan RPP Kurikulum 2013 (K13_Kurtilas)
Tahun 2016 _ KURIKULUM PENDIDIKAN
NASIONAL.html

10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 33


10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 34
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 35
10/3/2019 Dr. H. Virgana, MA 36