Anda di halaman 1dari 5

Pemeriksaan Fisik

• Kesadaran : Compos mentis


TD : Tidak dilakukan
Tanda pemeriksaan
Vital Nadi : 80x/menit
Suhu : 36 ˚C
Pernapasan : 20x/menit

• Pada pemeriksaan mata, THT, toraks,


Status abdomen dan ekstremitas dalam batas
Generalis normal.
• BB : 23 kg
STATUS
Pemeriksaan Fisik
DERMATOLOGI
• Regio : Fasialis
• Efloresensi :
makula eritem, berjumlah 2
buah, ukuran 1x1cm dan
6x3cm diskrit hingga
konfluen, sirkumskripta
dengan krusta kuning
kecoklatan.
PATOFISIOLOGI

Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal
sebagai portal of entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung
dengan pasien atau dengan seseorang yang menjadi carrier.

•Infeksi Primer
biasanya terjadi pada anak-anak. Awalnya, kuman menyebar dari hidung
ke kulit normal (kira-kira 11 hari), kemudian berkembang menjadi lesi pada
kulit.

•Infeksi sekunder
terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya (impetiginisasi) seperti
dermatitis atopik, psoariasis, pioderma,herpes simpleks, varisela, herpes
zoster, pedikulosis, skabies, infeksi jamur dermatofita, gigitan serangga,
luka lecet, luka goresan, dan luka bakar, dapat terjadi pada semua umur.
MANIFESTASI KLINIS

Impetigo Krustosa diawali dengan munculnya


eritema berukuran kurang lebih 2 mm yang dengan
cepat membentuk vesikel, bula atau pustul
berdinding tipis. Kemudian vesikel, bula atau pustul
tersebut ruptur menjadi erosi kemudian eksudat
seropurulen mengering dan menjadi krusta yang
berwarna kuning dan dapat meluas lebih dari 2 cm.
Daftar Pustaka

• Adhi, D. Pioderma. Dalam: Ilmu penyakit


kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. Cetakan
ketujuh. Jakarta : FKUI :2016.hal 57-63
• Kang, Sewon., Masayuki Amagai, Anna L.
Bruckner, Alexander H., David J. Morgolis,
Amy J. McMichael, dan Jeffrey S.
Orringer. 2019. Fitzpatrick’s
Dermatology. 9th Edition. USA: McGraw-
Hill.