Anda di halaman 1dari 61

FTS Steril

Sterilisasi

Lailiana Garna N.
Outline :
1. Pendahuluan
2. Hubungan antar topik dalam mata
kuliah
3. Steril, sterilitas
4. Metode sterilisasi
5. Uji sterilitas
Pendahuluan
• Produk: kualitas baik, diterima konsumen,
stabil
• Produk: steril dan non steril
• Produk steril: TERJAMIN sterilitasnya
• Contoh: salep mata, injeksi, infus
• Produksi: teknik Aseptis
Hubungan antar topik
sterilitas

Sediaan
parenteral pirogen

produksi

• Produksi:
o Pemilihan ruang produksi
o Pemilihan bahan eksipien
o Pemilihan wadah
Steril, Sterilitas
Pengetahuan mengenai mikroba dapat bermanfaat untuk
-Mencegah kerusakan makanan, obat, kosmetik oleh mikroba
-Mencegah timbulnya penyakit infeksi pada manusia, hewan
maupun tumbuhan

Mendorong untuk menciptakan teknik aseptis untuk mencegah


kontaminasi baik pada produksi makanan, obat-obatan,
kosmetik
Teknik aseptis juga bermanfaat dalam laboratorium untuk
melakukan penelitian yang diharuskan berada pada kondisi
yang steril.
ASEPTIC DISPENSING
• Melakukan kegiatan steril dalam suasana steril
untuk sediaan yang sudah steril dan
menghasilkan sediaan steril

• Dilakukan oleh Apoteker/AA yang profesional


terlatih
• Mengapa dibutuhkan ?
– Menjaga agar tidak terjadi :
– Med err
– Kontaminasi mikroba
KONTAMINASI MIKROBA
Sumber Kontaminasi :
- Airbone contamination
- Contamination by touch
- Surface contamination product
- Contamination during storage
Penyebab Kontaminasi :
- Aseptic technique dari operator/petugas 
training petugas
- Aseptic work zone
- Open procedure
- Closed procedure
Tugas

Sterilisasi Sanitasi Disinfeksi

Antisepsis
sterilisasi

usaha untuk membebaskan sesuatu


dari mikroorganisme secara keseluruhan,
baik bentuk vegetatif maupun
bentuk spora, termasuk virus.

Tentunya metode ini hanya dapat diterapkan


terutama untuk benda-benda mati.
Untuk mengontrol mikroorganisme pada manusia
tentunya harus menggunakan cara yang aman
bagi tubuh manusia tersebut.

Agen kimia untuk sterilisasi disebut sterilant


sanitasi

usaha untuk meminimalkan jumlah mikroorganisme


dalam suatu ruang lingkup yang besar
dan umumnya berhubungan dengan tata ruang
dan lingkungan.

Misalnya penyiapan makanan untuk industri makanan atau restoran,


sanitasi air pada perusahaan air minum,
tata ruang dan bangunan
untuk perumahan penduduk
untuk mengatur saluran comberan, sumur dan WC.
disinfeksi

usaha untuk pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme


yang dapat menyebabkan penyakit.

Agen disinfeksi adalah disinfektan


Biasanya merupakan zat kimiawi
Digunakan untuk objek-objek tak hidup.

Disinfeksi tidak menjamin objek menjadi steril


karena spora viabel dan beberapa mikroorganisme tetap dapat tersisa
antisepsis

usaha untuk pencegahan infeksi


dengan cara inaktivasi atau mematikan mikroorganisme
dengan cara kimia

Proses ini tidak merusak jaringan inang dan tidak setoksik disinfektan
Subtansi yang dapat membunuh mikroorganisme umumnya memiliki nama
dengan akhiran –sida (cide)
Contohnya: germisida(germicide) yang membunuh bakteri patogen tetapi
tidak berefek pada endospora bakteri
Bakterisida, fungisida, algisida, virusida
Sedanglan subtansi yang tidak bersifat membunuh mikroorganisme dan hanya
berfungsi untuk menghambat pertumbuhan umumnya memiliki nama akhiran
–statik (static)
Contohnya adalah fungistatik dan bakteriostatik
Metode Sterilisasi
Tabel: Berbagai metode yang digunakan untuk kontrol mikroorganisme
METODE FISIK
Panas Panas kering Red heat
Flaming
Hot air oven
Infrared radiation
Incineration

Panas lembab < 100oC Pasteurisasi


Inspisasi
100oC Tindalisasi
Perebusan
Penguapan
> 100oC Otoklaf

Radiasi Ionisasi
Non-ionisasi

Filtrasi
METODE KIMIA
Disinfektan Larutan

Gas

Larutan
Antiseptik

Antibiotik - Topikal
Kemoterapi
Sistemik
STERILISASI METODE FISIK

Sterilisasi Panas

panas kering (dry heat) panas lembab (moist heat).

Denaturasi enzim, membran sel, DNA, RNA dan ribosom


oleh panas lembab
terjadi lebih cepat dibandingkan panas kering.

Panas kering dapat mengokidasi sel,


bahkan bila panasnya tinggi dapat mereduksinya menjadi abu.
Hubungan metode, intensitas dan waktu dalam sterilisasi panas.

Dry heat Moist heat

Temperature (oC) Waktu Temperature (oC) Waktu

120 480 menit 100 120 menit

140 150 menit 110 150 menit

160 60 menit 115 50 menit

170 40 menit 121 15 menit

180 20 menit 125 6,5 menit

130 2,5 menit


Hal-hal yang mempengaruhi sterilisasi panas:

Keasaman (pH): membantu sterilisasi.


Untuk praktisnya dapat ditambahkan 2% Na-bicarbonate
dalam air untuk merebus peralatan.

Konsentrasi tinggi dari bahan organik (gula, protein dan lemak)


meningkatkan resistensi mikroorganisme.

Sedangkan konsentrasi garam dapat menaikkan atau menurunkan


tergantung jenis mikroorganismenya.

Sel yang kering termasuk spora meningkatkan resistensi.


Obyek yang kering memerlukan waktu lebih lama untuk sterilisasi.
Hal-hal yang mempengaruhi sterilisasi panas:

Spesies dan jenis mikroorganisme.

Dengan panas lembab bentuk vegetatif


umumnya bakteri, jamur dan virus
akan mati dalam pada 80 oC selama 20 ‘,
tetapi N. gonorrhoeae hanya perlu 3 menit,
sedangkan Staph. aureus perlu waktu 60 menit.

Beberapa pengecualian: T. pallidum (43 oC, 10 menit),

Virus poliomyelitis (75 oC, 30 menit),

Virus hepatitis (60 oC, 10 jam),

Spora (121 oC 10 menit).


Sterilisasi Panas Kering
. Red heat

Merupakan sterilisasi alat-alat logam kecil, misalnya ose, jarum.


Cara: memanaskan diatas api Bunsen sampai berwarna merah.
Nyala api Bunsen dapat mencapai suhu 1.870 oC.

Flaming dan Incineration

Flaming merupakan metode sterilisasi panas kering menggunakan api


atau koil listrik panas atau radiasi infra red.
Suhu yang dapat dicapai berkisar 800 – 6.500 oC.
Terutama digunakan untuk sterilisasi mulut botol atau tabung,
tutup botol atau tabung, pipet.
Cara: melewatkannya beberapa kali di atas api.

Istilah incineration
biasanya digunakan untuk sterilisasi dengan panas tinggi,
di atas 1.000 oC
dengan tujuan untuk menghancurkan bahan infektif berbahaya,
misalnya jarum, sampel, material kultur, verban luka dan sebagainya,
sehingga bahan dan wadahnya hancur jadi abu.
Hot air oven

Sterilisasi dengan menggunakan oven sehingga yang bekerja adalah udara


panas kering.
Waktu sterilisasi yang biasa digunakan adalah 160 oC – 180 oC dengan waktu
selama 2 – 4 jam.

Dengan panas kering bentuk vegetatif bakteri umumnya terbunuh


dengan pemanasan 100 oC selama 60 menit, sedangkan untuk spora jamur
115 oC, spora bakteri 120 – 160 oC.

Terutama untuk mensterilkan alat-alat gelas, bahan minyak, kristal (tepung)


yang rusak dengan uap, dan alat logam yang korosif bila menggunakan uap.
Metode ini kurang cocok untuk mensterilkan platik, kain atau kertas.
Sterilisasi Panas Lembab (Moist Heat)

Sterilisasi Di Bawah 100oC

Pasteurisasi

Inspisasi
Pasteurisasi

Terutama digunakan untuk makanan segar


seperti susu, jus buah atau anggur,
yang dikawatirkan terkontaminasi saat pemrosesan.
Ada dua metode pasteurisasi:

Flash pasteurization:

suhu dinaikan dengan cepat ke 71 oC, dipertahankan 15 detik,


cepat didinginkan.

Cara ini lebih menguntungkan karena perubahan rasa lebih kecil,


membunuh mikroorganisme tahan panas lebih baik,
waktu lebih cepat sehingga untuk sterilisasi poduksi makanan
lebih menguntungkan.

Batch pasteurization:

dipanaskan 63-66 oC selama 30 menit.


Pasteurisasi

Merupakan proses menurunkan populasi mikroba dengan panas ringan.

Jadi tidak semua mikroorganisme terbasmi,


tetapi kebanyakan mikroba pathogen yang tidak membentuk spora,
yang sering ditularkan melalui makanan,
seperti bakteri Salmonella sp. (keracunan makanan),
Campylobacter jejuni (gastroenteritis),
Listeria monovytogenes (Listeriosis),
Brucella sp (undulans fever),
Coxiella burnetii (Q fever),
M. tuberculosis dan M. bovis (tuberculosis)
dan beberapa penyakit enterik lain.

Selain itu juga untuk menunda pembusukan.


Inspisasi

Metode ini terbatas penggunaanya, terutama pada laboratorium,


yaitu untuk pembuatan media
yang bahan tersebut akan rusak dengan suhu tinggi.
Panas yang digunakan adalah 75 – 85 0C, selam 1 jam untuk telur,
dan 2 jam untuk serum.
Ultrahigh temperature (UHT)

merupakan metode lain untuk sterilisasi susu.

Dengan cara ini susu akan lebih tahan lama dari proses pembusukan.

Caranya adalah dengan pemanasan 134 oC selama 1 – 2 detik.


Sterilisasi Pada 100oc

Perebusan

Penguapan
Perebusan

perebusan 100 0C selama 30 menit,


semua jenis patogen akan terbunuh, kecuali bentuk spora.

Metode ini dapat digunakan


untuk sanitasi peralatan untuk bayi, makanan dan pakaian.
Penguapan

Uap air akan bersuhu 100 oC pada 76mmHg.

Dengan metode penguapan ini penetrasi uap panas


akan lebih mudah menjangkau daerah-daerah tersembunyi
material yang didisinfeksi asal tempatnya tertutup rapat.

Keuntungan lain adalah material yang disterilkan


tidak terendam dalam cairan, sehingga tidak terlalu basah.

Banyak digunakan untuk


disinfeksi peralatan logam, gelas, maupun kain.

Alat yang biasa digunakan: Arnold sterilizer.


STERILISASI BERTINGKAT (INTERMITEN)

Sterilisasi bertingkat digunakan dengan


cara perebusan atau penguapan
dengan suhu maksimal 100 0C selama 30 – 60 menit.
Kemudian bahan tersebut dibiarkan pada suhu normal selama 24 jam.

Dalam suhu normal tersebut


bentuk spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif,
kemudian dipanaskan lagi dengan cara yang sama
dan secara intermiten selama 3 hari.

Metode ini terutama cocok untuk sterilisasi


bahan bentuk larutan,
misalnya media pertumbuhan bakteri,
dan kurang cocok untuk peralatan dan pakaian,
Intermittens Sterilize Strategy

24 h 24 h
Sterilisasi Di Atas 100 oC

Tekanan udara di permukaan laut adalah 1 atm atau 76 cmHg,


atau 15 pound per square inch (psi).
Pada tekanan normal ini
suhu yang dapat dicapai oleh uap maksimal adalah 100 oC.
Peningkatan tekanan udara akan meningkatkan suhu uap.
Peningkatan tekanan menjadi 15 psi akan meningkatkan suhu 109 oC,
25 psi meningkatkan 115 oC,
30 psi (2 atm) meningkatkan 121oC.

Dari penelitian menunjukkan bahwa


dengan suhu 121 oC selama 10 – 40 menit
cukup untuk membasmi seluruh jenis mikroorganisme,
termasuk bentuk spora.
Sterilisasi panas lembab bertekanan
dapat dilakukan dengan autoclave.

Autoclave merupakan peralatan berbentuk silinder matal


dengan tutup rapat yang dilengkapi dengan rak
untuk penempatan material yang disterilkan di atas air bahan dasr uap,
dan kelep-kelep pengatur tekanan dan suhu.

Adanya udara dalam ruang sterilisasi akan mengakibatkan:

•Turunnya suhu pemanasan.

•Udara akan menghambat penetrasi uap ke pori-pori material.

•Kondensi udara yang lebih padat dari uap


cenderung membentuk lapisan bawah autoclave
sehingga menghambat pemanasan yang adekuat.
. Autoclave sederhana dengan bahan bakar gas.
Pengaruh Dingin dan Pengeringan
Pada Kontrol Mikroorganisme

Prinsip dari pemanfaatan suhu rendah dalam kontrol mikroorganisme


adalah untuk menghambat pertumbuhan mereka
selama menunggu pemrosesan
atau untuk penyimpanan.

Dengan suhu dingin ini, aktivitas seluler mereka berhenti.


Beberapa memang terbunuh dengan cara ini,
tetapi sebagian besar hanya menghentikan aktivitas selulernya,
dan dapat aktif kembali pada suasana yang sesuai.
Pengeringan atau desikasi

akan membunuh kebayakan bakteri patogen,


tetapi beberapa bakteri seperti staphylococcus,
streptococcus dan M. tuberculosis relative tahan
terhadap suasana kering,
khusunya bila terlindung oleh nanah
atau sputum yang mengering.

Resistensi terhadap kekeringan


juga terjadi pada spora (jamur dan bakteri)
dan virus (khusunya yang tidak berselubung).
Lyophilization

merupakan teknik gabungan pendinginan dan pengeringan,


digunakan untuk menyimpan mikroorganisme
sehingga tahan bertahun-tahun.
Liofilisasi dikerjakan dengan cara mendinginkan mikroorganisme
dengan es kering
yang kemudian dilanjutkan dengan vakum tekanan tinggi
untuk mengisap airnya.
Sterilisasi Radiasi

energi yang dipancarkan oleh aktivitas atomik


dan dapat menembus benda atau ruang.

Pancaran radiasi dapat berupa gelombang atau partikel.

Radiasi gelombang elektromagnet

berkisar antara gelombang pendek


dengan energi tinggi dari sinar gamma
dan gelombang radio yang mempunyai gelombang sangat panjang.

Dari berbagai jenis gelombang elektromagnet ini


hanya sinar gamma,
sinar X
dan sinar ultra violet
yang dapat digunakan sebagai alat kontrol mikroorganisme
Radiasi partikel

terdiri atas partikel subatomik,


seperti elektron, proton dan netron
yang dibebaskan oleh atom.
Partikel radiasi yang dapat digunakan sebagai antimikroba
adalah elektron
yang mempunyai kecuali tinggi,
yang disebut juga sebagai partikel β atau sinar katoda.
Kedua jenis radiasi ini bisa didapatkan di alam
atau dapat dihasilkan dengan alat buatan manusia.
Panjang Gelombang Dalam nm

Ionizing radiation NonIonizing radiation

10-8 10-3 10-1 100 400 800 10 106 109


X-rays Radiowaves
Ultraviolet Infrared/Heat rays
Radar
Gamma rays
Visible Television

Cosmis rays Microwaves


Radio

Shorter wavelengths Longer wavelengths


Sterilisasi dengan Gelombang Suara (Ultrasonic)

Gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasonic)


diketahui dapat merusak sel.

Mikroba yang paling sensitif terhadap metode sterilisasi ini


adalah kuman bentuk batang Gram-negatif,
sedangkan yang paling resisten adalah kokus Gram-positif,
spora jamur, dan spora bakteri.
Sterilisasi Filtrasi

Prinsip sterilisasi metode filtrasi sangat sederhana,


yaitu dengan melewatkan cairan yang akan disterilkan
melalui saringan yang mempunyai lubang cukup kecil,
sehingga mikroba tidak mampu melewatinya.

Sterilisasi filtrasi terutama digunakan untuk


mensterilkan cairan yang tidak tahan panas,
misalnya serum, vaksin, obat, enzim dan sebagainya.
Filtrasi juga digunakan untuk menyaring udara ruangan,
misalnya HEPA (high efficiency particulate air) filters.
STERILISASI KIMIA

Berdasarkan konsistensinya,
bahan kimia antimikroba dapat berupa
benda padat, cair, maupun gas.
Kriteria Jenis Bahan Kimia Antimikroba

Toksisitas Spesifitas

1. Disinfektan +++ -

2. Antiseptik ++ -

3. Kemoterapeutik, Antibiotik + +++


Kualitas Agen Kimia Antimikroba
Agen Aktivitas Toksisitas Kelompok Keterangan
Hidogen Kuat  Mata Antiseptik  Inaktivasi oleh bahan
peroksida*  Toksik bila organik,
distabilkan tertelan  tidak stabil terhadap
sinar matahari
Gluteraldehid* Kuat  Iritasi kulit lemah Disinfektan  Tidak diinaktivasi bahan
 toksik ( organik,
diabsorbsi)  tidak stabil
Etilen oksida Kuat  Mata Disinfektan  pentrasi bagus
gas*  Paru  eksplosif dalam bentuk
 Karsinogenik murni
 perlu aerasi
Formaldehid Kuat-  sangat iritatif Disinfektan  Sporosidal
meneng  asap toksik  Kerja lambat
ah  karsinogenik
Chlorine Menengah  Gas sangat toksik Disinfektan  Inaktivasi oleh bahan
 Larutan: iritatif organik
kulit  Tidak stabil sinar
matahari
Iodine Menengah  Iritasi kulit Antiseptik  Idophor bentuk lebih
 Toksik bila ringan
tertelan
Alkohol Menengah  Toksik bila Antiseptik  Inflamabel
tertelan  aksi cepat
Fenol Menengah-  dapat diabsorbsi Disinfektan  kelarutan rendah
lemah kulit  mahal
 CNS
Kualitas Agen Kimia Antimikroba

Chlorhexidine Lemah- rendah Antiseptik kerja cepat


* menengah ringan
ada efek residu

Senyawa Lemah iritasi mukosa Antiseptik Konsentrasi rendah


amonium beracun untuk membantu pertumbuhan
kuartener internal mikroba
Mudah diinaktivasi

Merkurial Lemah Sangat toksik bila Antiseptik Mudah diinaktivasi


tertelan, terhirup,
terabsorbsi

Perak nitrat Lemah Toksik Antiseptik merusak warna kulit


Iritatatif

Bahan cat Lemah rendah Antiseptik memberi warna

Sabun Sangat dapat diabaikan Antiseptik berguna untuk


lemah membersihkan

*: ideal atas pertimbangan sifat luasnya spektrum, rendahnya toksisitas, kecuali kerja,
daya penetrasi, stabilitas, potensi adanya bahan bahan organik, kelarutan
Berdasarkan kekuatan dekontaminasinya,
antimikroba kimia dapat dibagi menjadi tiga tingkat:
•Germisidal kuat: dapat membunuh spora,
sehingga termasuk bahan sterilan.
Sangat diperlukan utk material yang memerlukan
kontrol sterilitas tinggi dan invasif pada jaringan,
mis. kateter, peralatan paru-jantung, inplant.

•Genisidal intermediet: mampu membunuh spora jamur


(tidak spora bakteri), patogen resisten (M. tbc, virus).
Digunakan untuk disinfeksi peralatan
yang kontak erat dengan lapisan mukosa,
tetapi tidak invasif, mis. peralatan pernafasan, endoskopi.

•Germisidal lemah:
hanya mampu membunuh bakteri bentuk vegetatif,
jamur bentuk vegetatif, dan beberapa virus.
Terutama digunakan untuk elektroda,
peralatan yang kontak dengan kulit utuh
(tidak termasuk mukosa).
disinfektan,

yaitu sifat bahan kimia antimikroba kuat,


tetapi toksik terhadap jaringan

antiseptik,

bahan kimia antimikroba nonspesifik


yang kurang toksik terhadap jaringan,
sehingga dapat diberikan pada jaringan hidup
dengan dosis, tempat, dan cara tertentu.
SISTEM STERILISASI YANG SERING DILAKUKAN

Disinfektan atau antiseptic


Obyek desinfeksi
Pintu, dinding Clear phenolic fluids 1%, atau 2% bila ada kontaminasi
pus atau faeces
Permukaan: meja, lemari Hypochlorite, alcohol 70%
Kulit:
1. Operator Chlorhexidine dalam detergent atau alcohol, povidone-
iodine
2.Kulit yang akan dioperasi Chlorhexidine dalam alcohol, Iodine dalam alcohol,
povidone iodine
3.Kulit diambil darah Alcohol 70%
4.Pencucian luka, terbakar, ulkus Larutan chlorhexidine dan cetrimide secara sendiri atau
dikombinasi dengan hypochlorite
Alat anesthesia, endoskopi Gluteraldehyde
Thermometer Lap dengan alcohol 70%. Dipakai individual
BAHAN ANTISEPTIK/ DESINFEKTAN YANG SERING DIGUNAKAN
Spektrum antibakteri Inaktivasi o/ Keterangan
Desinfektan bhn.organk
Golongan Fenol
Clear fluids (Stericol, Clearsol, Luas, spora - - Murah, iritatif pada kulit
Hycolin)
Chloroxylenol (Dettol) Gram + + Non iritatif, less effective
Hexacholrophane (Gramophene Gram + + Sering digabung dengan detergent
soap, Sterilisasi-Zac)

Hypochlorite Luas, (virus, beberapa + Korosif terhadap metal


(Chloros, Milton, Eusol, spora)
dichoroisocyanurate tablet)

Povidone-iodine (Betadine) Luas - Hipersensitif


Formaldehyde Luas, (virus, beberapa - Bentuk gas atau larutan, iritatif pada
spora) mata dan saluran nafas
Gluteraldehyde (Cidex) Luas, (virus, beberapa - Penetrasi lemah, irritant
spora)
Senyawa amonioum kuartener : Gram + + Mempunyai sifat detergent, tetapi
cetrimide (Cetavlon) diinaktivasi oleh sabun

Alkohol 70% (ethyl atau isopropyl) Luas - Penetrasi lemah, biasa digabung dengan
iodine atau chlorhexidine

Chlorhexidine (Hibitane) Gram + + Kombinaasi dengan cetrimide  Savlon


Uji Sterilisasi
UJI BATAS MIKROBA
FI IV

UJI BATAS MIKROBA


UNTUK MEMPERKIRAKAN JUMLAH MIKROBA AEROB VIABLE DI
DALAM SEMUA JENIS PERBEKALAN FARMASI , MULAI DARI BAHAN
BAKU HINGGA SEDIAAN JADI, DAN UNTUK MENYATAKAN
PERBEKALAN FARMASI TERSEBUT BEBAS DARI SPESIES MIKROBA
TERTENTU

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 54


TATA CARA : (VALIDASI)
-UJI PENDAHULUAN
VALIDASI DENGAN KETENTUAN : SPESIMEN UJI TIDAK
MENGHAMBAT PERTUMBUHAN MIKROBA YANG
TERDAPAT DALAM SPESIMEN ITU SENDIRI.

UJI PENDAHULUAN DILAKUKAN INOKULASI SECARA


TERPISAH ENCERAN SPESIMEN UJI DG BIAKAN VIABEL
YANG TERDIRI DARI Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella

SEBAGAI MEDIA.
MEDIA FLUID SOYBEAN-CASEIN DIGEST ATAU MEDIA
FLUID LACTOSE MEDIUM

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 55


• JIKA TDK TERDAPAT PERTUMBUHAN DI MEDIA YBS, PENGUJIAN
DINYATAKAN TDK BERLAKU DAN DIGUNAKAN MODIFIKASI
PROSEDUR DG:
• 1. MENINGKATKAN VOLUME PENGENCER DG TETAP
MEMPERTAHANKAN JUMLAH BAHAN UJI
• 2. MENAMBAHKAN ZAT INAKTIVATOR DG JUMLAH SECUKUPNYA KE
DLM PENGENCER
• 3. KOMBINASI MODIFIKASI 1 DAN 2 HINGGA TERDAPAT
PERTUMBUHAN INOKULUM

• SEBAGAI ALTERNATIF ULANGI DG MEDIA FLUID CASEIN DIGEST-SOY


LECITHIN-POLYSORBATE 20 UNTUK NETRALISASI PENGAWET DAN
BAHAN ANTIMIKROBA
• JIKA TETAP TIDAK TUMBUH MAKA ADA DAYA BAKTERISIDA DARI
SEDIAAN

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 56


• PROSEDURE:
• BAHAN PADAT YANG TIDAK SELURUHNYA MELARUT PERKECIL HINGGA
SERBUK CUKUP HALUS

• SPECIMEN CAIR ; LARUTAN, SUSPENSI DLM AIR ATAU SUATU PEMBAWA


HIDRO ALKOHOLIK YG MENGANDUNG ETANOL KURANG DARI 30 %, DAN
BAHAN PDT YG MUDAH LARUT DAN PRAKTIS LARUT SEMPURNA DI DLM
DAPAR POSPAT Ph 7,2, ATAU MEDIA TERTENTU

• SPECIMEN CAIRAN TAK CAMPUR AIR SALEP, KRIM DAN MALAM DIBUAT
SUSPENSI MENGGUNAKAN EMULGATOR STERIL

• Lanjutkan pengujian spt yang tertera dalam uji Angka mikroba aerob total,
Uji S. aureus, dan P. aeruginosa, uji Salmonella sp dan E. Coli

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 57


• ANGKA MIKROBA AEROB TOTAL
• SPECI MEN YANG CUKUP MELARUT --- GUNAKAN METODE LEMPENG
• SPECIMEN LAIN --- METODE TABUNG GANDA

• SUSPENSIKAN ATAU LARUTKAN (DAPAR FOSFAT FOSFAT Ph 7,2. MEDIA FCD


(Fluid Casein Digest), FCDSLP (…Soy-lecithin-polysorbate-20)
• METODE LEMPENG
• (ENCERKAN USAHAKAN 1ml MENGHASILKAN 30 – 300 KOLONI , DIPER LUKAN
2 CAWAN PETRI STERIL ….. SETELAH INKUBASI, AMATI PERTUMBUHAN DI DLM
LEMPENG, RATA2 JMLH TIAP ml atau gram HITUNG JUMLAH KOLONI.
• jika tidak ditemukan koloni mikroba dlm cawan dg enceran awal (1:10),
nyatakan hasil pengujian “ kurang dari 10 mikroba per g atau ml specimen”

• METODE TABUNG GANDA


• DIPERLUKAN 14 TABUNG (MASING2 DIISI 9,0 ML DST… )
• JUMLAH SPESIMEN DLM MG ATAU ML TIAP TABUNG BERTURUT TURUT 100
MG (0,1 ML; 10 MG (0,001 ML) DAN 1MG ( 0,001 ML)
• ADANYA PERTUMBUHAN KEL 1,2, 3 ACUAN TABEL 1. NYATAKAN NILAI DUGA
TERDEKAT ATAU MPN (MOST PROPABLE NUMBER)

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 58


• B. UJI BEBAS MIKROBA
• UJI S. aureus dan P. aeruginosa (tabel 2 dan 3)

• UJI Salmonella sp dan E. coli (tabel 4 dan tabel 5)

• Konfirmasi hasil dpt menggunakanspecimen uji yang lebih besar


(dari 10,0 g jadi 25,0 g)

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 59


USP 32, 2009

• USP 28, MICROBIAL LIMIT TEST (61)

• USP 32, MICROBIOLOGICAL EXAMINATION OF NONSTERILE


PRODUCTS: MICROBIAL ENUMERATION TEST (61)

• DAN MICROBIOLOGICAL EXAMINATION OF NON STERILE


PRODUCTS: TEST FOR SPECIFIED MICROORGANISM (62)

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 60


• PERBEDAAN ANTARA FI IV YANG SEBAGIAN BESAR MENGACU PADA USP
SEBELUM 32 ANTARA LAIN:
• PADA USP 32:
• 1. DIPISAHKAN ANTARA MIKROORGANISME MESOFILIK DAN FUNGI
YANG PERSYARATAN MENGACU KEPADA BATAS YANG MASIH
DIPERBOLEHKAN (61)
DAN
• MIKROORGANISME SPESIFIK YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN ADA DI
DALAMNYA (62)
• 2. INTERPRETASI HASIL LEBIH JELAS SEBAGAI CONTOH PADA (61) HAL
75.
• BILA MENGHITUNG FUNGI DAN YEASTDISTU TERDETEKSI BAKTERI MAKA
IKUT TERHITUNG DEMIKIAN SEBALIKNYA
• PADA (62) LEBIH SISTEMATIS UNTUK MIKROORGANISME YANG TIDAK
BOLEH ADA MISAL UNTUK MASING2 MIKROBA ADA (sample prepation
and incubation, selection subculture , interpretation)
• 3. ADA SARAN SARAN BARU ANTARA LAIN MPN JANGAN DIGUNAKAN BILA
MASIH ADA PROSEDUR YANG LEBIH AKURAT

10/6/2019 Rpnis Suplemen FI III 61