Anda di halaman 1dari 25

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENERAL SUMBER DAYA AIR


Hutama Karya &
BALAI WILAYAH SUNGAI SULAWESI IV Bumi Karsa KSO

Evaluasi Penggunaan Instrumen


Automatic Grout Recorder
Terhadap Metode Grouting Konvensional
Pada Proyek Pembangunan Bendungan Ladongi
Oleh :
1. Wisnu Prabowo Mukti
2. Agung Permana
3. Riwin Andono
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENERAL SUMBER DAYA AIR
Hutama Karya &
BALAI WILAYAH SUNGAI SULAWESI IV Bumi Karsa KSO

Outline Presentasi :
- Data Teknis Bendungan
- Area Pekerjaan Grouting
- Kondisi Geologi
- Pengenalan Automatic Grout Recorder
- Perbandingan Pelaksanaan Grouting Konvensional
dengan Automatic Grout Recorder
- Pengembangan Metode Grout Intensity Number (GIN)
dengan Automatic Grout Recorder
- SWOT Analysis Antara Grouting Konvensional terhadap
GIN Dengan Automatic Grout Recorder
- Kesimpulan & Saran
DATA TEKNIS BENDUNGAN

Main cofferdam dan bendungan utama

Bendungan utama

 Tipe Bendungan : Urugan Batu dengan


Inti Lempung
No Properti Nilai
 Tinggi Bendungan Utama : 66,00 m (pondasi terdalam)
1 Kapasitas Tampung 45.945 Juta
 Panjang Puncak Total : 417,00 m Zona Keterangan Warna
Total m³
1 Inti
2 Kapasitas Tampung 29.027 Juta
 Kapasitas Tampungan Total : 45,945 juta m3 2a Filter Efektif m³
 Kapasitas Tampungan Efektif : 29,027 juta m3 2b Transisi 3 Elv. Bottom Tubuh + 60.00
3 Rock Fill Bendungan
 Kapasitas Tampungan Mati : 7,343 juta m3 4 Elv. Top Tubuh + 126.00
4 Riprap
Bendungan
 Luas Tampungan Pada EL. NWL: 64,14 ha
5 Slpoe Sisi Upstream 1 : 2.6
6 Slpoe Sisi Downstream 1: 2.4
MAIN COFFERDAM

MAIN COFFERDAM

Elevasi Puncak Cofferdam : +90,00


Lebar Puncak : 13,00 m
Tinggi Cofferdam : 25,00 m
Kemiringan Lereng Hulu : 1 : 2,6
Kemiringan Lereng Hilir : 1 : 2,4
Panjang Temporary Cofferdam : 145,80 m
Tinggi Temporary : 12,00m (dari dasar sungai)
GEOLOGI REGIONAL
Bendungan Ladongi
terletak pada Kompleks
Mekongga yang
merupakan kelompok
batuan tertua yang
terdapat di Sulawesi
Lokasi Proyek
4o 08’ 52” LS - 4o 08’ 53’’ LS Tenggara, terdiri batuan
121o 52’ 43” BT - 121o 53’ 34’’ BT
metamorf dengan jenis
sekis mika dan sisipan
kuarsit
Peta Geologi Regional Kolaka, Lembar 2211 dan Lokasi Proyek
Bendungan Ladongi
KONDISI GEOLOGI
AS MAINDAM

KETERANGAN :

BLOK 2 BLOK 3 BLOK 4 BLOK 5 BLOK 1 BLOK 2 BLOK 3 BLOK 4 BLOK 5 BLOK 6 BLOK 1 BLOK 2 BLOK 3 BLOK 4 BLOK 5
KONDISI GEOLOGI
DIVERSION TUNNEL
PLAN GROUTING MAINDAM

Blanket
Sub curtain

Curtain
PLAN GROUTING DIVERSION TUNNEL

Curtain

Konsolidasi

Sub curtain
KOMPONEN AUTOMATIC GROUT RECORDER
Magnetic Flowmeter

Pressure Sensor

KRN100 Data Collector


KONFIGURASI
AUTOMATIC
GROUT
RECORDER
PERBANDINGAN MONITORING GROUTING

Pengamatan Grout Take Per Menit Dengan Bantuan Pengamatan Grout Take Per Menit Dengan Dip Stick
Instrumen Automatic Grout Recorder (Metode Konvensional)
PERBANDINGAN MONITORING GROUTING

Pengamatan Grout Take Per Menit Dengan Bantuan Pengamatan Grout Take Per Menit Dengan Dip Stick
Instrumen Automatic Grout Recorder (Metode Konvensional)
PERBANDINGAN MONITORING GROUTING

Data Recording Dengan Bantuan Instrumen Data Recording Metode Konvensional Tanpa Bantuan
Automatic Grout Recorder Instrumen Automatic Grout Recorder
Pengembangan Metode Grouting Dengan Grout Intensity Number
dengan Automatic Grout Recorder
Grout Intensity Number Prinsip Grout Intensity Number

GIN atau Grouting Intensity Number telah 1) Menggunakan satu jenis stable grout mix
diadopsi sebagai metode pada pekerjaan 2) Tidak ada campuran yang terbuang, karena sisa
grouting yang dibatasi oleh kurva yang campuran dapat diinjeksikan ke lubang
ditentukan oleh Pmax (maximum pressure) dan berikutnya
Vmax (maximum volume dalam Liter/meter) dan 3) Monitoring pekerjaan grouting dilakukan secara
fungsi limit GIN merupakan hasil perkalian Pmax real time dengan bantuan komputer (Computer
dan Vmax Aided Grouting Evaluation System)
GIN berfokus untuk menghindari terjadinya 4) Menentukan parameter kurva limit GIN, dengan
tekanan maupun grout take berlebih selama mempertimbangkan parameter geologi dan
proses grouting, yang dapat menyebabkan mekanika batuan dan cakupan dari Grouting itu
terjadinya hydro-fracturing dan hydro-jacking sendiri yang berkaitan dengan nilai ekonomis dari
pekerjaan Grouting
dan juga untuk mengendalikan penyebaran
5) Pekerjaan harus dimulai dengan investigasi
grouting agar lebih akurat ketika dianalisis
geologi, trial mix stable grout, dan trial grouting
Pengembangan Metode Grouting Dengan Grout Intensity Number
dengan Automatic Grout Recorder
Persamaan Perhitungan Parameter GIN Kriteria Diselesaikannya Grouting
𝐺𝐼𝑁 = 𝑃𝑚𝑎𝑥 . ∗ 𝑉𝑚𝑎𝑥 . 1) 1) Tercapai tekanan maksimum sesuai batas
Keterangan :
tekanan yang disesuaikan dan Equivalent Lugeon < 5 lu
GIN = 𝐺𝑟𝑜𝑢𝑡 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 (bar liter/m)
𝑃𝑚𝑎𝑥 = tekanan maksimum (bar) selama 5 menit
𝑉𝑚𝑎𝑥 = Grout Take maksimum /m (ltr/meter) 2) 2) Berpotongan dengan Kurva GIN , ikuti kurva
GIN sampai Equivalent Lugeon < 5 lu selama 5 menit
𝑉𝑓 = 𝜋 ∗ 𝑅2 ∗ 𝑏ℎ𝑦𝑑 ∗ 𝑁
Keterangan :
atau mencapai Volume Maksimum
R = Rencana Radius Penyebaran Grouting (m) 3) 3) Apabila tercapai Volume Maksimum namun
bhyd = Joint rock apperture (m) penurunan Equivalent Lugeon <90 % Grouting
N = Jumlah Joint Set dihentikan, apabila Equivalent Lugeon > 90% Grouting
3 12 ∗ 𝜇𝑤 ∗ 𝑇 dilanjutkan sampai Equivalent Lugeon < 5 lu
𝑏ℎ𝑦𝑑 =
𝜌𝑤 ∗ 𝑔
Persamaan Equivalent Lugeon
Keterangan :
μw = Viskositas Air (Pa. s) 𝑄𝑔𝑟 ∗ 10𝑏𝑎𝑟 𝑉𝑚𝑎𝑟𝑠ℎ 𝑔𝑟𝑜𝑢𝑡
T = Transmitivity (m2 /s) 𝐿𝑢𝑎𝑝𝑝 = ∗
𝑃𝑒𝑓𝑓 ∗ 𝐿 𝑉𝑚𝑎𝑟𝑠ℎ 𝑤𝑎𝑡𝑒𝑟
ρw = Berat Jenis Air (kg/m3)
g = Gravitasi (m/s2 ) Keterangan :
𝐿𝑢𝐸𝑞𝑡 . = 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑢𝑔𝑒𝑜𝑛 (𝐿/meter . menit )
𝑄𝑔𝑟 = Volume Injeksi (liter/menit)
T =k∗L
𝑃𝑒𝑓𝑓 = Tekanan Effektif (bar)
k = koefisien of permeability (m/s)
𝑉𝑔𝑟𝑜𝑢𝑡 = Viskositas Campuran Grouting 35 s
L = panjang lubang bor (m/s)
𝑉𝑎𝑖𝑟 = Viskositas Air 28 s
Penentuan Tekanan Efektif
Dari hasil Multiple Pressure Test pada Pilot Hole pada masing – masing lokasi ditentukan Critical Pressure untuk
masing – masing kedalaman sebagai berikut :
Penentuan Tekanan Efektif
Dari hasil Multiple Pressure Test pada Pilot Hole pada masing – masing lokasi ditentukan Critical Pressure untuk
masing – masing kedalaman sebagai berikut :

Tabel Adjusted Max Pressure

No. Grouting Adjusted Max. Pressure (bar)


Depth (m)
Left Bank River Bed Right Bank

1 0 – 10 2 2.5 2
2 10 – 20 4 4 5
3 20 – 30 7 7.5 7.5
4 30 – 45 9 10 8
5 45 – 55 11 10 10.5
6 55 – 65 13 14 12
Contoh Perhitungan Grout Intensity Number

Contoh Perhitungan Grout Take Maksimum / meter


Tabel Hasil Perhitungan Volume Maximum
Contoh perhitungan Grout Take untuk kedalaman 0 – 5 m
pada lokasi Left Bank PH-1, dari hasil Multiple WPT
No. Grouting Rata – Rata Vmax (Liter/m)
diperoleh data sebagai berikut : Depth (M)
Left Bank River Bed Right Bank
k = 6.2 ∗ 10−6 m/sec
L = 5 meter 1 0 – 10 265 200 265
μw = 8.90 ∗ 10−4 𝑃𝑎. 𝑠
2 10 – 20 250 180 212.5
g = 10.0 𝑚/𝑠 2
N=3 3 20 – 30 200 175 175
Sesuai Persamaan (3) , Grout Take Dapat dihitung :
R = 10.0 𝑚 4 30 – 45 155 100 125
T =k∗L
T = 6.2 ∗ 10−6 ∗ 5 5 45 – 55 150 90 102.5
T = 3.1 ∗ 10−5 𝑚2 /𝑠 6 55 – 65 100 50 -
3 12 ∗ 𝜇𝑤 ∗ 𝑇
𝑏ℎ𝑦𝑑 =
𝜌𝑤 ∗ 𝑔

12 ∗ 8,90 ∗ 10−5 ∗ 3,1 ∗ 10−5


3
𝑏ℎ𝑦𝑑 =
1000 ∗ 10
𝑏ℎ𝑦𝑑 = 3 ∗ 10−4 m
𝑉𝑚𝑎𝑥 = 𝜋 ∗ 𝑅2 ∗ 𝑏ℎ𝑦𝑑 ∗ 𝑁
𝑉𝑓 = 3.14 ∗ 102 ∗ 3 ∗ 10−4 ∗ 3
𝑉𝑓 = 236.39 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟/𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
Perhitungan Grout Intensity Number
Grout Intensity Number
Grouting Left Bank River Bed Right Bank
No. Depth
(m) Pmax Vmax GIN Pmax Vmax GIN Pmax Vmax GIN
(1) (2) (3=1*2) (4) (5) (6=4*5) (7) (8) (9=7*8)
1 0 – 10 2 265 525 2.5 200 500 2 265 530
2 10 – 30 5 130 650 6 180 725 4 212.5 850
3 30 – 45 9 155 1400 10 175 850 5.5 175 950
4 45 – 65 13 125 1400 14 100 1500 10 102.5 1025
Contoh
Monitoring
Grouting
Dengan GIN
SWOT Analysis
Kriteria Grout Intensity Number Grouting Konvensional

 Mengurangi pemborosan material, karena  Menggunakan prinsip rule of thumb


campuran yang tidak terpakai (waste) dalam kriteria perencanan pekerjaan
 Rheologis dari campuran grouting yang grouting yang mempermudah proses
seragam, sehingga memudahkan proses desain
analisis penyebaran grouting  Telah terdapat Pedoman Yang Jelas
Strength
 Sifat Adaptive dari GIN terhadap kondisi sehingga sudah jelas batasan – batasan
batuan perencanaan, pelaksanaan, dam
 Analisis yang dilakukan secara realtime pengawasan
dengan bantuan Komputer, dapat  Sudah teruji handal untuk mengatasi
mempercepat pengambilan keputusan tindak berbagai kondisi problem grouting di
lanjut pekerjaan di Lapangan Indonesia

 Kurangnya Penggunaan Automatic Grout  Desain Grouting yang cenderung over


Recorder di Indonesia sehingga belum bisa estimated, sehingga terjadi pemborosan
dievaluasi secara tepat kelayakannya.  Penggunanaan berbagai macam
 Kurangnya SDM yang terampil untuk campuran mengakibatkan pemborosan
Weakness mengoprasikan Automatic Grout Recorder material, karena sisa campuran yang tak
 Terbatasnya alat Automatic Grout Recorder bisa dipakai
yang beredar di Indonesia  Penggunaan lebih dari satu jenis
komposisi campuran grouting sehingga
sulit dianalisis penyebaran grouting
 Potensi pengembangan sistem Computer  Karena desain dan supervisi di lapangan
Aided Grouting Evaluation System (CAGES) yang simpel, metode Grouting
Opportunity sampai ke level Progamable Logic Control Konvensional masih menjadi pilihan
atau Supervisory Control And Data favorit dalam pekerjaan grouting di
Acquisition (SCADA) Indonesia
 Belum ada Standard atau Pedoman yang  Desain yang tidak didasari oleh data yang
mengatur tentang Penggunanaan Instrument lengkap menyebabkan Volume
Automatic Grout Recorder dengan GIN, pekerjaan yang sulit ditentukan dan
Threat menyebabkan perencanaan, pelaksanaan, dan hampir Kualitatif sehingga sulit
pengawasasan sulit dilakukan karena belum dipertanggungjawabkan
ada kriteria atau batasan yang mengatur.
KESIMPULAN SARAN
1. Penggunaan Automatic Grout 1) Perlu dibuat Standar Penggunanaan
Recorder dapat dijadikan sarana Automatic Grout Recorder sehingga dapat
pendukung untuk menyempurnakan digunakan sesuai dengan spesifikasi
parameter desain grouting tanpa pekerjaan
mengabaikan kondisi berbeda pada 2) Mulai pengenalan alat bantu Automatic
masing-masing lokasi, yang didasari Grout Recorder yang merupakan salah
dari tes laboratorium maupun satu instrumen penting dalam pekerjaan
pengamatan data lapangan. grouting
2. Metode GIN mewakili arah yang
jelas untuk proses optimisasi yang
lebih baik dan bahkan lebih
ekonomis.
3. Analisis SWOT diketahui banyak
keunggulan metode GIN
dibandingkan dengan metode
grouting konvensional
TERIMA KASIH