Anda di halaman 1dari 13

KONSEP PEMUTAKHIRAN

SISTEM PENGOPERASIAN
BENDUNGAN BILI-BILI
PASCA BANJIR 22 JANUARI 2019

MUHAMMAD FIRDAUS
OKTOBER 2019
LATAR BELAKANG
Sungai Jeneberang mengalir dari Gunung Bawakaraeng (2.830 mdpl)
mengalir ke barat dan bermuara di Selat Makassar. Luas wilayah sungai
sebesar 762 km2 dan panjang sungai utama + 85.5 km.
Pada tanggal 22 Januari 2019, tanpa terduga terjadi banjir besar
sepanjang Sungai Jeneberang
SKEMATIK
BANJIR
SUNGAI
JENEBERANG
22 JANUARI
2019
AREA GENANGAN PADA BANJIR 22 JANUARI 2019
PEMBAHASAN
Konsep pemutakhiran pengoperasian Bendungan Bili-Bili

Jika bendungan dapat menyimpan air banjir maka bendungan dapat


mereduksi debit banjir yang dikeluarkan dan menambah kapasitas
tampungan sangat penting untuk dilakukan.
1. Mengubah Elevasi Tampungan Tambahan (SWL/Surge Water
Level) dan Elevasi Air Banjir Rencana (DFWL/Desain Flood
Water Level)
Pintu regulator ditutup selama banjir terjadi. Debit maksimum outflow yang
dapat terjadi sebesar 830 m3/detik, dapat dikatakan Bendungan Bili-Bili dapat
mereduksi banjir yang terjadi pada Sungai Jeneberang di hilir bendungan
sebesar 660m3/detik (reduksi banjir dari 1500m3/detik menjadi 830m3/detik)
2. MENURUNKAN ELEVASI MUKA AIR WADUK SEBELUM
MUSIM HUJAN
Jika pada Bulan Januari 2019 muka air waduk berada pada elevasi 95,00mdpl,
dengan inflow yang terjadi saat itu, debit yang dikeluarkan dari bendungan Bili-
Bili maksimum 1050 m3/detik sehingga terjadi penurunan pengeluaran debit
sebesar 450 m3/detik (reduksi banjir dari 1500m3/detik menjadi 1050m3/detik)
dan dapat mereduksi dampak banjir pada Sungai Jeneberang di hilir
bendungan.
3. Menurunkan Elevasi Muka Air Waduk Sebelum Inflow Yang
Besar Masuk Ke Waduk
Dengan mengatur tinggi muka air waduk yang berdasarkan hasil
pemantauan intensitas hujan di hulu DAS, Operator bendungan dapat
mengeluarkan air waduk untuk mempersiapkan tampungan air banjir yang
akan masuk
KESIMPULAN