Anda di halaman 1dari 20

REFRESHING : ASMA BRONCHIAL

PEMBIMBING : DR. TOTON SURYOTONO, SP.PD


OLEH : KHOIRUNNISA
• Asma adalah penyakit Inflamasi kronik yang
menyebabkan episode berulang dari :
1. Wheezing
2. sesak napas
3. Rasa tertekan dibagian dada
4. batuk, terutama pada malam dan pagi hari.
Akibat penyumbatan saluran perapasan.
• Episode ini umumnya berhubungan obstruksi
jalan napas yang seringkali reversibel baik
spontan maupun setelah pengobatan.

• Gangguan fisiologis yang terjadi pada asma


adalah menyempitnya jalan nafas yang
dikarakteristikan dengan terbatasnya aliran
nafas ketika ekspirasi, yang dapat disertai
dengan perubahan struktur jalan nafas.
Epidemiologi

• Asma mengenai semua umur, lebih sering pada


usia anak dan dewasa muda.
• Prevalensi sama sekitar 5 % seluruh penduduk
Indonesia, artinya saat ini ada 12,5 juta pasien
asma di Indonesia.
Patofisiologi
Derajat Klinis Sebelum Pengobatan Nilai FEV1

Asma - gejala intermiten  1x seminggu >80%


Intermiten - serangan singkat (jam- hari) (var: <20%)

- serangan malam  2x/bulan

Asma - gejala >2x seminggu 80%


Persisten (<1x per hari) (var:20 -
Ringan 30%)
- serangan mengganggu

aktivitas & tidur

- serangan malam >2x/bln


Asma -gejala (+) setiap hari > 60%-< 80%

Persisten -serangan mengganggu aktivitas (var: >30%)


Sedang & tidur

-serangan malam >1x/minggu

Asma -gejala terus menerus, sering 60%

Persisten mendapat serangan (var: > 30%)


Berat -aktivitas fisik terbatas karena
gejala asma

-serangan malam sering


Pemeriksaan Fisik

 Keadaan umum : penderita tampak sesak nafas dan


gelisah, penderita lebih nyaman dalam posisi duduk.

Paru :
• Inspeksi : dinding torak tampak mengembang,
diafragma terdorong ke bawah.
• Auskultasi : terdengar wheezing (mengi), ekspirasi
memanjang.
• Perkusi : hipersonor
• Palpasi : Vokal Fremitus kanan = kiri
Pemeriksaan Penunjang

• Spirometri
Pengukuran FEV1 (force expiratory volume
dalam 1 detik) dan FCV. Obstruksi jalan napas
diketahui dari nilai rasio FEV1/ FCV < 75%
atau VEP1 < 80% nilai prediksi.

• Skin tes dengan allergen atau IgE serum


Meningkatkan probabilitas diagnosis asma dan
membantu menentukan faktor resiko yang
mengakibatkan asma
• Peak Flow Meter
Peningkatan 60L/menit (> 20%prebronkhodilator
PEF) setelah inhalasi bronchodilator ataupun variasi
diurnal PEF > 20%  menegakkan diagnosa asma

Reversibilitas : Perbaikan nilai PEF ≥ 15% setelah


inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau
bronkodilator oral 10-14 hari, atau respon terapi
kortikosteroid (inhalasi/oral, 2 minggu)
5
Penatalaksanaan
1. Anti inflammatory agent
 Kortikosteroid inhalasi
 Kortikosteroid sistemik
2. Long acting bronchodilator
 Mediator inhibitors : Cromolyn sodium dan nedocromil
 ß adrenergic agonist : ß 2 agonist ( salmeterol dan formoterol)
 Phosphodiesterase inhibitors : Theophypilline
3. Leukotriene modifiers : zafirlukast, montelukast
4. Desensitisasi : Immunotherapy
5. Miscellaneous agents : Omalizumab
Daftar Pustaka
Global Initiative For Asthma. Global Strategy For Asthma
Management And Prevention. MRC Vision Inc. 2014.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta : Edisi Kelima, Jilid I,
Interna Publishing. 2009
Terima kasih
Wassalamualaikum Wr. Wb