Anda di halaman 1dari 32

dr.

Noor Mukantari
Puskesmas Samigaluh 2
Prolanis 5 Maret 2019
 Makhluk hidup mempunyai irama sirkardian kehidupan yang sesuai
dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam.

 Fase Tidur  susunan saraf pusat masih bekerja dimana neuron-neuron


di substansia retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi

 Terletak pada substansia ventrikulo retikularis batang otak yang


disebut sebagai pusat tidur (sleep center).
 Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/
desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang otak disebut
sebagai pusat penggugah (arousal center).
 Penyakit fisik
 Obat-obatan dan substansi
 Gaya hidup
 Pola tidur yang biasa mengantuk yang
berlebihan pada siang hari
 Stres emosional
 Lingkungan
 Latihan fisik dan kelelahan
 Asupan kalori dan makanan
 Usia
 Tidur dipercaya mengkontribusi pemulihan
fisiologis dan psikologis
 Tidur yang nyenyak bermanfaat dalam
memelihara fungsi jantung
 Melepaskan hormon pertumbuhan manusia untuk
memperbaiki dan memperbaharui sel epitel dan
khusus seperti sel otak
 sintesis protein dan pembagian sel untuk
pembaharuan jaringan seperti pada kulit,
sumsum tulang, mukosa lambung, atau otak
terjadi selama istirahat dan tidur
 menyimpan energi
 pemulihan kognitif : REM : penyimpanan
memori dan pembelajaran : penyimpanan
memori jangka panjang
 Nafsu makan  Resiko penyakit
meningkat kardiovaskuler
 Imunitas menurun meningkat
 Rentan terkena  Kerusakan otak
diabetes
 Stress meningkat
 Gelisah
 Tampak lebih tua
 Resiko kanker
meningkat
PEMBAGIAN KETERANGAN

Stadium 1 • berlangsung selama 5% dari keseluruhan waktu tidur. Stadium ini dianggap stadium
tidur paling ringan. EEG menggambarkan gambaran kumparan tidur yang khas,
bervoltase rendah, dengan frekuensi 3 sampai 7 siklus perdetik, yang disebut
gelombang teta

Stadium 2 • berlangsung paling lama, yaitu 45% dari keseluruhan waktu tidur. EEG
menggambarkan gelombang yang berbentuk pilin (spindle shaped) yang sering
dengan frekuensi 12 sampai 14 siklus perdetik, lambat, dan trifasik yang dikenal
sebagai kompleks K. Pada stadium ini, orang dapat dibangunkan dengan mudah

Stadium 3 • berlangsung 12% dari keseluruhan waktu tidur. EEG menggambarkan gelombang
bervoltase tinggi dengan frekuensi 0,5 hingga 2,5 siklus perdetik, yaitu gelombang
delta. Orang tidur dengan sangat nyenyak, sehingga sukar dibangunkan

Stadium 4 • berlangsung 13% dari keseluruhan waktu tidur. Gambaran EEG hampir sama dengan
stadium 3 dengan perbedaan kuantitatif pada jumlah gelombang delta. Stadium 3 dan
4 juga dikenal dengan nama tidur dalam, atau delta sleep, atau Slow Wave Sleep (SWS)
*Kadar melatonin dalam darah mulai meningkat pada jam 9 malam, terus meningkat sepanjang malam dan
menghilang pada jam 9 pagi.
 Neonatus sampai dengan 3 bulan : tidur 16
jam/hari, 5-6 jam tidur siang dan 10-11 jam
malam hari.
 Bayi : tidur 14 jam/hari, 2-4 jam tidur siang
dan 10-11 jam malam hari.
 Toddler : tidur 11-12 jam/hari, 1-3 jam tidur
siang dan 9-10 jam malam hari.
 Prasekolah : tidur 11 jam/hari, 0-1 jam tidur
siang dan 10-11 jam malam hari. Saat usia 5
tahun anak sudah tidak membutuhkan tidur
siang.
 Usia sekolah : tidur 10 jam pada malam hari.
 Adolensia : tidur 8,5 jam pada malam hari.
 Dewasa muda : tidur 7-8 jam/hari.
 Usia dewasa pertengahan : tidur 7 jam/hari.
 Lansia : tidur 5-8 jam/hari.
 Orang usia lanjut mengalami waktu tidur yang
dalam lebih pendek, sedangkan tidur stadium 1 dan
2 lebih lama.
 Bila siang hari sibuk dan aktif sepanjang hari, pada
malam hari tidak ada gangguan dalam tidurnya,
sebaliknya bila siang hari tidak ada kegiatan dan
cenderung tidak aktif, malamnya akan sulit tidur.5
 Pada usia lanjut, ekskresi kortisol dan GH serta
perubahan temperatur tubuh berfluktuasi dan
kurang menonjol. Melatonin menurun dengan
meningkatnya umur.
MELATONIN
 Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal
kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-
restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan
gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu.

 The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia


sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi
minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan

 Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia


adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa
tidak nyaman setelah episode tidur tersebut.
Berdasarkan International Classification of Sleep Disordes yang direvisi,
insomnia diklasifikasikan menjadi:
a. Acute insomnia
b. Psychophysiologic insomnia
c. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
d. Idiopathic insomnia
e. Insomnia due to mental disorder
f. Inadequate sleep hygiene
g. Behavioral insomnia of childhood
h. Insomnia due to drug or substance
i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to substance or known physiologic condition,
unspecified (nonorganic)
10
k. Physiologic insomnia, unspecified (organic)
Stress

Kecemasan dan depresi


Kafein, nikotin,
alkohol
Kondisi medis
Perubahan lingkungan
Belajar
‘insomnia’

INSOMNIA
• Stres: Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah,
atau keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam
hari, sehingga sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan yang
penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari orang yang
dicintai, perceraian atau kehilangan pekerjaan, dapat
menyebabkan insomnia.
• Kecemasan Dan Depresi:Hal ini mungkin disebabkan
ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena
kekhawatiran yang menyertai depresi.
• Obat-obatan: Beberapa resep obat dapat mempengaruhi
proses tidur, termasuk beberapa antidepresan, obat jantung
dan tekanan darah, obat alergi, stimulan (seperti Ritalin) dan
kortikosteroid.
• Kafein, Nikotin Dan Alkohol: Kopi, teh, cola dan minuman yang
mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan
stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. Alkohol adalah obat
penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi
mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di
tengah malam.

• Kondisi Medis: Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan


bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk
mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa gejala
tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker,
gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease
(GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
• Perubahan Lingkungan Atau Jadwal Kerja: Kelelahan akibat perjalanan
jauh atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya
irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian
bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun,
metabolisme, dan suhu tubuh.

• “Belajar” Insomnia: Hal ini dapat terjadi ketika Anda khawatir berlebihan
tentang tidak bisa tidur dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk
jatuh tertidur. Kebanyakan orang dengan kondisi ini tidur lebih baik ketika
mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa atau ketika mereka
tidak mencoba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton TV atau
membaca.
• Wanita: Perempuan lebih mungkin mengalami insomnia. Perubahan
hormon selama siklus menstruasi dan menopause mungkin memainkan
peran. Selama menopause, sering berkeringat pada malam hari dan hot
flashes sering mengganggu tidur.
• Usia Lebih Dari 60 Tahun: Karena terjadi perubahan dalam pola tidur,
insomnia meningkat sejalan dengan usia.
• Memiliki Gangguan Kesehatan Mental: Banyak gangguan, termasuk
depresi, kecemasan, gangguan bipolar dan post-traumatic stress disorder,
mengganggu tidur.
• Stres: Stres dapat menyebabkan insomnia sementara, stress jangka
panjang seperti kematian orang yang dikasihi atau perceraian, dapat
menyebabkan insomnia kronis. Menjadi miskin atau pengangguran juga
meningkatkan risiko terjadinya insomnia.
• Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal kerja: Bekerja di malam
hari sering meningkatkan resiko insomnia.
• Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari
• Sering terbangun pada malam hari
• Bangun tidur terlalu awal
• Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
• Iritabilitas, depresi atau kecemasan
• Konsentrasi dan perhatian berkurang
• Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
• Ketegangan dan sakit kepala
• Gejala gastrointestinal
Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian
terhadap:
 Pola tidur penderita.
 Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
 Tingkatan stres psikis.
 Riwayat medis.
 Aktivitas fisik
 Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur secara
individual.
 Penkes tentang : perubahan pada lansia, mengurangi
tidur siang, OR menjelang tidur, makan pedas dikurangi,
makanan porsi besar dikurangi, kafein, alkohol, merokok
dikurangi
 Olahraga teratur : tidak terlalu berat & tidak mendekati
waktu tidur
 Jangan di tempat tidur bila tidak tidur
 Mempertahankan waktu tidur dan bangun yg konsisten
 Mempertahankan rutinitas tidur yg positif
 Modifikasi lingkungan
 Farmakologis : hipnotik, benzodiazepine,
 Salmon
 Kacang-kacangan
 Cherry
 Kacang
 Susu hangat
 Pisang
 Pemaparan cahaya selama 2 jam setiap hari
 Relaksasi progresif
 Terapi kombinasi hormon (prolaktin & progesteron)
 Melatonin eksogen
 Jalan-jalan sore hari
 Terapi musik
 Aromaterapi lavender
 Sentuhan -- massage
 Modifikasi lingkungan pd klien demensia
 Minum susu -- L-triptofan -- serotonin -- melatonin
release
 Terapi sirep/hipnocaring
Gaya Hidup Dan Pengobatan Di Rumah
• Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur
• Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.
• Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.
• Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
• Relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca, latihan
pernapasan atau beribadah
• Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur pada
malam hari.
• Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti menghindari
kebisingan
• Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit
setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.
• Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin
• Menghindari makan besar sebelum tidur
• Cek kesehatan secara rutin
• Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik