Anda di halaman 1dari 26

SIROSIS HEPATIS

KELOMPOK 7

Rima Monika (201702038)


Seftin Diana Putri (201702039)
Shavira Mutia Khanza (201702040)
Sofa Hidayati A (201702041)
Suci Setia L (201702042)
DEFINISI
Penyakit hati kronik yang dicirikan oleh
distorsi arsitektur hati oleh lembar-lembar
jaringan ikat dan nodula-nodula regenerasi hati
yang tidak berkaitan dengan vascular normal
(Price, 1995).
Sirosis hepatis adalah degenerasi difus dan
progresif dengan kerusakan jaringan hati
hepatosit dengan regenerasi dan pembentukan
jaringan fibrosa parut yang luas padat (Marjorie
Beyers, 1984).
Klasifikasi Sirosis Hepatis
 Morfologi (Sherlock) :
 Mikronoduler
 Makronoduler
 Campuran
 Fungsional
 Kompensata
 Dekompensata
 Lokasi Pembentukan Jaringan Parut
 Portal Laennec
 Pasca Nekrotik
 Bilier/Biliaris
Etiologi
Berdasarkan faktor presdiposisi:
o Alkohol
o Faktor keturunan dan malnutrisi
o Hepatitis virus
o Obat-obatan hepatotoksik
o Kelainan genetik yang diturunkan
o Kolestasis, Atresia Bilier
Cara Penularan
Sirosis Hepatis yang disebabkan oleh infeksi virus
hepatitis B dan/atau C, dapat terjadi penularan
melalui darah dan cairan tubuh, misalnya:
 Kontak seksual tanpa pengaman dengan
penderita
 Berbagi jarum suntik yang terkontaminasi
 Kontak dengan jarum suntik secara tidak
disengaja (misalnya petugas kesehatan)
 Dari ibu ke bayinya melalui persalinan
Manifestasi Klinis

o Pembesaran hati
o Obstruksi portal dan asites
o Varises gastrointestinal
o Edema
o Defisiensi vitamin dan anemia
o Kemunduran mental
Gejala
 Gejala Awal (Pre Ikterik/Prodormal), timbul
perlahan-lahan dan tidak spesifik. Berlansung
selama 1-2 minggu.
 Rasa tidak enak pada tubuh
 Tidak nafsu makan
 Mual dan muntah
 Nyeri kepala
 Nyeri otot
 Nyeri tenggorokan
 Batuk
 Hidung berair
 Demam (38ºC-39ºC)
 Fase Kuning (Ikterik), saat gejala
awal mulai membaik urin
penderita menjadi lebih gelap dan
feses menjadi pucat. 1-5 hari
setelahnya, panderita nampak
kuning pada kulit/mata. Gejala
awal menghilang pada saat timbul
kuning. Namun, gejala tidak nafsu
makan, rasa tidak enak tubuh, dan
kelemahan tetap menetap.
Peradangan pada hati menjadi
lebih hebat sehingga hati
membesar, yang dirasakan pasien
sebagai rasa nyeri atau tidak
nyaman pada perut kanan atas.
Fase Penyembuhan (Konvalesens), pada fase ini
gejala sudah menghilang, namun pembesaran hati
masih menetap dan nilai laboratorium belum
normal. Fase ini dapat berlangsung selama 2-12
minggu. Kesembuhan sempurna secara klinis dan
laboratoris diharapkan terjadi setelah 3-4 bulan
setelah timbulnya kuning.
Patofisiologi

Infeksi hepatitis viral tipe B/C menimbulkan


peradangan sel hati yang menyebabkan
nekrosis meliputi daerah yang luas
(hepatoseluler), terjadi kolaps lobulus hati dan
memacu timbulnya jaringan parut disertai
terbentuknya septa fibrosa difus dan nodul sel
hati.
Mekanisme terjadinya Sirosis Hati
bisa secara:

o Mekanis
o Teori
imunologis
o Campuran
Penatalaksanaan
o Asites, dikendalikan dengan terapi konservatif:
 Istirahat
 Diet rendah garam
 Diuretic
 Terapi lain (selain konservatif)
 Parasintesis
o Dengan Spontaneus Bacterial Peritonitis (SBP)
o Dengan perdarahan karena pecahnya varises
esofagus, dengan tindakan resusitasi sampai
keadaan pasien stabil.
o Dengan Ensefalopati Hepatik
Asuhan Keperawatan
pada Sirosis Hepatis
Pengkajian
 Identitas Klien
 Riwayat Penyakit Sekarang
 Keluhan Utama Penyakit ini dapat berjalan tanpa keluhan dan
dapat juga dengan atau tanpa gejala klinik yang jelas. Mula-
mula timbul kelemahan badan, rasa cepat payah yang makin
menghebat, nafsu makan menurun, penurunan berat badan,
badan menguning (ikterus), demam ringan, sembab tungkai
dan pembesaran perut (asites).
 Riwayat Penyakit Masa lalu
Apakah pasien pernah dirawat dengan penyakit yang sama
atau penyakit lain yang berhubungan dengan penyakit hati,
sehingga menyebabkan penyakit Sirosis hepatis. Apakah pernah
sebagai pengguna alkohol dalam jangka waktu yang lama
disamping asupan makanan dan perubahan dalam status
jasmani serta rohani pasien.
 Pemerikasaan fisik
 B1 (Breathing)
Dispnea, Wheezing, Penggunaan otot bantu pernafasan, Ekspansi paru terbatas
disebabkan karena asites atau efusi pleura. Hipoksia. Napas berbau aseton.
 B2 (Blood)
Distensi vena abdomen, anemia, nadi tidak teraba akibat hipovolemia intra
vaskuler
 B3 (Brain)
Perubahan kepribadian, penurunan mental, bingung, koma. (penurunan
kesadaran) Flapping tremor.
 B4 (Bladder)
Urine gelap, pekat.
 B5 (Bowel)
Distensi abdomen , nyeri tekan abdomen kuadran kanan atas. Penurunan/tak
adanya bising usus. Anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/tak dapat
mencerna. Mual/muntah, penurunan berat badan atau peningkatan karena
cairan.
 B6 (Bone)
Letargi, penurunan massa otot/tonus (atropi otot), kulit kering, turgor buruk,
ikterik, pruritus, edema umum pada jaringan, perhatikan adanya spinder nevi pada
tubuh bagian atas, bahu, leher, dada, pinggang, caput medussae dan tubuh bagian
bawah, perlunya diperhatikan adanya eritema palmaris.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d mual muntah
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan
dengan pengumpulan cairan intra abdomen
(asites)
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan:
gangguan sirkulasi/status metabolic. adanya
edema, asites.
INTERVENSI
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh
 Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

 Batasan Karakteristik :
 Kram abdomen
 Nyeri abdomen
 Menghindari makanan
 Berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal
 Kerapuhan kapiler
 Diare
 Kehilangan rambut berlebihan
 Bising usus hiperaktif
 Kurang makanan
 Kurang informasi
 Membran mukosa pucat
 Kurang minat pada makanan

 Faktor-faktor yang berrhubungan :


 Faktor biologis
 Faktor ekonomi
NOC NIC
Nutritional status : Fluid and food intake
Nutritional Management :
Nutritional status : nutrient intake  Kaji adanya alergi makanan
Weight control  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi
Kriteria Hasil : yang dibutuhkan pasien
 Adanya peningkatan berat badan sesuai  Anjurkan pasien untuk meningkatkan
dengan tujuan intake Fe
 Berat badan ideal sesuai dengan tinggi  Anjurkan pasien untuk meningkatka
badan protein dan Vit C
 Mampu mengidentifikasi kebutuhan  Berikan substansi gula
nutrisi
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Nutrition Monitoring
 Menunjukkan peningkatan fungsi  BB pasien dalam batas normal
pengecapan dari menelan  Monitor adanya penurunan berat
 Tidak terjadi penurunan berat badan badan
yang berarti  Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan
 Monitor lingkungan selama makan
 Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
 Monitor mual dan muntah
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
 Definisi : Ketidakmampuan untuk  Batasan Karakteristik :
membersihan sekresi atau  Tidak ada batuk
obstruksi dari saluran pernafasan  Suara nafas tambahan
untuk mempertahankan  Perubahan frekuensi nafas
kebersihan jalan nafas.  Sianosis
 Kesulitan berbicara atau
mengeluarkan suara
 Faktor-faktor yang berhubungan :  Penurunan bunyi nafas
 Lingkungan  Dispnea
 Obstruksi jalan nafas  Sputum dalam jumlah yang
berlebihan
 Fisiologis
 Batuk yang tidak efektif
 Orthopnea
 Gelisah
 Mata terbuka lebar
NOC NIC
 Respiratory status : Ventilation Airway Suction :
 Respiratory status : Airway patency  Pastikan kebutuha oral / tracheal
suctioning
Kriteria Hasil :  Auskultasi suara nafas sebelum dan
 Mendemostrasikan batuk efektif dan sesudah suctioning
suara nafas yang bersih, tidak ada  Informasikan pada klien dan keluarga
sianosis dan dispnea (maupun tentang suctioning
mengeluarkan sputum, mampu  Minta klien nafas dalam sebelum
bernafas dengan mudah, tidak ada suctioning dilakukan
pursued lips)  Berikan O2 dengan menggunakan nasal
 Menunjukkan jalan nafas yang paten untuk memfasilitasi suction
(klien tidak merasa tercekik, irama nasotracheal
nafas, frekuensi pernafasan dalam
rentang normal, tidak ada suara nafas Airway Monitoring
abnormal)  Buka jalan nafas, gunakan teknik chin
 Mampu mengidentifikasi dan mencegah lift atau jawa thrust bila perlu
faktor yang dapat menghambat jalan  Posisikan pasien untuk memaksimalkan
nafas ventilasi
 Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas buatan
 Pasang mayo bila perlu
 Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Kerusakan Integritas Kulit
 Definisi : Perubahan /  Faktor-faktor yang berhubungan :
gangguan epidermis dan/atau  Eksternal
dermis  Zat kimia, radiasi
 Usia yang ekstrem
 Batasan Karakteristik :  Kelembapan
 Kerusakan lapisan kulit  Hipertermia, Hipotermia
(dermis)
 Gangguan permukaan kulir  Internal
(epidermis)  Perubahan status cairan
 Invasi struktur tubuh  Perubahan pigmentasi
 Perubahan turgor
 Faktor perkembangan
 Kondisi ketidakseimbangan
nutrisi
 Penurunan imunologis
NOC NIC
 Tissue Integrity : Skin and mucous Pressure Management :
membranes  Anjurkan pasien untuk menggunakan
 Hemodyalis access pakaian yang longgar
 Hindari kerutan pada tempat tidur
Kriteria Hasil :  Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
 Integritas kulit yang baik bisa dan kering
dipertahankan (sensasi, elastisitas,  Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
temperatur, hidrasi, pigmentasi) setiap dua jam sekali
 Tidak ada luka/lesi pada kulit  Monitor kulit akan adanya kemerahan
 Perfusi jaringan baik  Oleskan lotion atau baby oil pada
 Menunjukkan pemahaman dalam daerah yang tertekan
proses perbaikan kulit dan mencegah  Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
terjadinya cedera berulang
 Mampu melindungi kulit dan Insision site care
mempertahankan kelembapan kulit dan  Membersihkan, memantau, dan
perawatan alami meningkatkan proses penyembuhan
pada luka yang ditutup dengan jahitan,
klip, atau staples
 Monitor proses kesembuhan area insisi
 Monitor tanda dan gejala infeksi pada
area insisi
Thank You