Anda di halaman 1dari 40

ANALISIS THERMOVISI UNTUK MENEMUKAN

HOT POINT PADA GARDU INDUK 150 KV PEDAN


DENGAN MENGGUNAKAN C#

AKBAR KURBANA
20150120080

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


2019
Latar Belakang
Rumusan Masalah
 Bagaimana cara untuk mengamati thermovisi pada
peralatan Gardu Induk?
 Bagaimana cara merancang aplikasi kalkulator
dengan menggunakan Microsoft Visual Studio C#?
 Bagaimana cara mengalisis hasil dari pengamatan
thermovisi dengan menggunakan metode visualisasi
dan metode perhitungan menggunakan aplikasi
kalkulator?
 Bagaimana cara mengklasifikasikan peralatan yang
telah terjadi gangguan dari hasil analisis thermovisi
sesuai dengan standar yang berlaku?
Batasan Masalah

 Perhitungan nilai thermovisi pada bagian klem dan


konduktor hanya pada bay trafo 1, 2 dan 3 dengan
menggunakan software Microsoft Visual C#.
 Validasi metode analisis untuk nilai akurasi dan nilai
presisi dari hasil perhitungan thermovisi pada bagian
klem dan konduktor hanya pada bay trafo 1, 2, dan 3.
 Prediksi tingkat kerusakan yang akan terjadi pada
klem dan konduktor pada bay trafo 1, 2 dan 3.
 Lokasi Penelitian pada Gardu Induk 150 kV Pedan
Tujuan Penelitian
 Melakukan audit data pengamatan dari hasil
thermovisi terhadap bagian-bagian dari peralatan
yang terdapat pada Gardu Induk
 Merancang aplikasi untuk menghitung hasil dari
pengamatan thermovisi.
 Menganalisis hasil dari pengamatan thermovisi pada
peralatan dan membandingkan hasil perhitungan
dengan menggunakan aplikasi Microsoft Visual C#.
 Memberikan masukan mengenai langkah dan tindak
lanjut yang harus dilakukan pada peralatan setelah
dilakukannya analisis thermovisi
Manfaat Penelitian

 Memberikan informasi tentang petunjuk


pemeliharaan peralatan melalui pengukuran
thermovisi
 Memberikan informasi tentang nilai keakuratan dan
nilai ketelitian dari hasil pengukuran thermovisi
dengan menggunakan metode validasi analisis dan
menggunakan software Microsoft Visual C#.
 Memberikan informasi terhadap keandalan dari
peralatan melalui proses pengukuran dan analisis
thermovisi
Penelitian Sebelumnya

 Ramadhani Roni Putra (2018) melakukan penelitian


mengenai “Thermovisi Dalam Melihat Titik Panas
Pada Gardu Induk 150 kV Palur”
 Firdaus Hima dan Widianti Tri (2008), dengan
penelitian mengenai “Metoda Pengukuran Emisivitas
Bahan dengan Menggunakan Kamera Inframerah”.
 Arie Siswanto (2000) dalam tugas akhir yang berjudul
“Analsisis Hubungan Konduktivitas Termal dengan
Emisivitas Suatu Bahan”.
Thermovisi
 Thermovisi merupakan instrument yang digunakan untuk
memvisualisasikan dan mendeteksi titik panas (hot point) yang terdapat
pada sebuah objek dengan menggunakan teknologi inframerah
 Prinsip kerja dari pengukuran ini yaitu, dengan mengukur nilai
perbandingan energi yang diradiasikan oleh suatu objek (gelombang
elektromagnet) terhadap energi yang diradiasikan oleh benda hitam pada
suhu dan gelombang yang sama. Radiasi merupakan gelombang
elektromagnetik yang dihasilkan oleh panas suatu objek yang terdiri dari
Foton. Foton tersebut akan mengeksitasi elektron dari objek yang
dikenainya sehingga memiliki tingkat energi yang lebih tinggi.
Pengukuran Klem dan Konduktor
Pengukuran thermovisi untuk mengevaluasi kinerja dari peralatan pada Gardu Induk dengan cara
mengukur selisih suhu pada bagian klem dan konduktor dimana selisih suhu antara bagian klem
dan bagian konduktor yang diperoleh dapat menjadi parameter untuk menentukan tindak lanjut
yang harus dilakukan selanjutnya.
Secara matematis rumus dituliskan sebagai berikut:
│ΔT │max = (I max beban /I beban)2 x │ΔT │
Keterangan :
│ΔT │max = Selisih suhu saat beban tertinggi
I max = Beban tertinggi yang pernah dicapai
I beban = Beban saat pengukuran
ΔT = Selisih suhu konduktor dan klem reaktor
Nilai Emisivitas
Emisivitas merupakan rasio energi yang diradiasikan oleh permukaaan suatu benda.
Dengan kata lain emisivitas adalah energi inframerah yang dipancarkan oleh black body
dalam keadaan suhu dan panjang gelombang yang sama.
Rumus yang digunakan untuk perhitungan nilai emisivitas adalah sebagai berikut:

𝑃
P = e . σ. 𝑇 4 → 𝑒 =
σ.𝑇 4
Keterangan:
P = energy thermal conductivity (Alumunium = 237 W/m.K)
e = Emisivitas
σ = konstanta Stefan Boltzman = 5,672x10-8Watt m-2 K-4
T = Suhu Mutlak (K)
Presisi
Uji presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil
pengukuran, yang dihitung berdasarkan nilai Standard Reference Material (SRM).
Persentase presisi recovery dinyatakan dengan Coeficient of Variation (CV) dan
Relative Standard Devitition (RSD). Jika CV pada perhitungan < 2 % maka dapat
dinyatakan bahwa metode tersebut mempunyai presisi yang baik.
Presisi
Untuk standard devitition (SD) dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Keterangan :
SD = Standard Devititon (Simpangan baku)
Ʃ (x−⍺)2 = Jumlah total nilai pengukuran dikurangi rata-rata
n = Jumlah percobaan
x = Hasil percobaan
⍺ = Rata-rata hasil percobaan
Akurasi
Uji akurasi adalah ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil analisis dengan
Standard Referece Material (SRM) yang sebenarnya. Bias hasil uji dari metode uji
yang dilakukan terhadap nilai SRM menggambarkan seberapa tinggi akurasi dari
metode uji tersebut.
Berikut ini adalah rumus persamaan yang digunakan:
𝛼 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑅𝑀
% 𝑏𝑖𝑎𝑠 = ( ) x 100% Sehingga % akurasi = 100 % - % bias
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑅𝑀

Keterangan:
% bias = Persentase Nilai Bias
𝛼 = Nilai rata-rata emisivitas
Nilai SRM = Nilai Standard Referece Material (SRM)
Standart Perusahaan Listrik Negara (SPLN)

Standard SPLN-SK DIR No. 0520-2014

No. ΔT Rekomendasi Untuk standar dari bahan atau material yang


1. <10°c Kondisi normal, pengukuran berikutnya digunakan pada peralatan di Gardu Induk
dilakukan sesuai jadwal
mengacu pada standar SPLN 41-7 : 1981 yaitu
2. 10°c - 25°c Perlu dilakukan pengukuran satu bulan lagi menggunakan bahan aluminium conductor
3. 25°c - 40°c Perlu direncanakan perbaikan
galvanized steel reinforced (ACSR). Nilai emisivitas
4. 40°c - 70°c Perlu dilakukan perbaikan segera
yang ditetapkan berdasarkan standard SPLN
5. >70°c Kondisi darurat
adalah sebesar 0,5.
Microsoft Visual Studio C#
Flowchart
Hasil
Perhitungan Nilai Selisih Suhu

163 𝐴 2
Center Tap Bushing Primer Phasa R ΔT = . 33°𝐶 − 27°𝐶 = 6,9°𝐶
152 𝐴
Perhitungan Nilai Emisivitas

237
Nilai Emisivitas Suhu 28 𝑒 = = 0,5080
(5,672𝑥10ˉ⁸).301,15°𝐾
Bay Trafo 1 Bay Trafo 2
Bay Trafo 3
Grafik Hasil Perhitungan Nilai Emisivitas
Grafik Perbandingan Suhu
80
69
70

60

50
Suhu (Celcius)

Bay Trafo 1
33 32 32 34 36
40 35 35
Bay Trafo 2
32 33 31 33 33 34 34 34 33 34 33 34 33 33
31 32
30 31 31 31 31 31 32 Bay Trafo 3
29 32 32 29
30 30 28 29
31 35 29 28
30 31 31 29
29 29 28 28 29 27 28 27 29 28 27 28 29
20 26 26 26

10

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Pengukuran Obyek Nomor
Grafik Hasil Perhitungan Nilai Emisivitas
Grafik Perbandingan Emisivitas
0.6
0,5217
0.5

0.4

Bay Trafo 1
Emisivitas

0.3 Bay Trafo 2


0,3049 Bay Trafo 3

0.2

0.1

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Pengukuran Obyek Nomor
Uji Presisi Bay Trafo 1

0,000212986
𝑆𝐷 = = 0,003043068
24−1

0,003043068
CV = 𝑥100% = 0,61%
0,4872
Uji Presisi Bay Trafo 2

0,001278408
𝑆𝐷 = = 0,007150966
26−1

0,007150966
CV = 𝑥100% = 1,43%
0,4750
Uji Presisi Bay Trafo 3

0,000196644
𝑆𝐷 = = 0,002923994
24−1

0,002923994
CV = 𝑥100% = 0,58%
0,5015
Uji Akurasi
Bay Trafo 1 Bay Trafo 2

𝑎−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑅𝑀 𝑎−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑅𝑀


% Bias = 𝑥100% % Bias = 𝑥100%
SRM SRM

0,4782−0,5 0,4750−0,5
= 𝑥100% = 2,56% = 𝑥100% = 5%
0,5 0,5
Maka untuk akurasinya sebesar 100 % - 2,56 % = 97,44 % Maka untuk akurasinya sebesar 100 % - 5 % = 95 %

Bay Trafo 3

𝑎−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑅𝑀
% Bias = 𝑥100%
SRM

0,5015−0,5
= 𝑥100% = 0,30%
0,5
Maka untuk akurasinya sebesar 100 % - 0,30 % = 99,97 %
Perancangan Kalkulator Thermovisi
Tampilan Aplikasi ketika dijalankan
Source Code Aplikasi
//if dan else if

double nilai = 0;
nilai = double.Parse(textBox5.Text);
if (nilai < 10)
{
label6.Text = "Kondisi Baik";
}
else if (nilai < 25)
{
label6.Text = "Ukur 1 Bulan Lagi";
}
else if (nilai < 40)
{
//input label6.Text = "Rencana Perbaikan";
double label1 = Convert.ToDouble(textBox1.Text); }
double label2 = Convert.ToDouble(textBox2.Text); else if (nilai < 70)
double label3 = Convert.ToDouble(textBox3.Text);
{
double label4 = Convert.ToDouble(textBox4.Text);
label6.Text = "Perbaikan Segera";
}
//proses
else
double button1 = (label1 * label1) / (label2 * label2) * (label3 - label4);
button1 = Math.Round(button1, 1); {
label6.Text = "Kondisi Darurat";
//output label6.Visible = true;
textBox5.Text = Convert.ToString(button1); }
Source Code Aplikasi
//input
double label3 = Convert.ToDouble(textBox3.Text);

//proses
double button2 = 237 / (0.00000005672 * (label3 + 273.15) * (label3 +
273.15) * (label3 + 273.15) * (label3 + 273.15));
button2 = Math.Round(button2, 4);

//output
textBox6.Text = Convert.ToString(button2);

//if dan else if

double nilai = 0;
nilai = double.Parse(textBox6.Text);
if (nilai > 0.5)
{
label12.Text = "Nilai Emisivitas Baik";
}
else if (nilai > 0.4)
{
label12.Text = "Nilai Emisivitas Mendekati SRM";
}
else
{
label12.Text = "Nilai Emisivitas Tidak Baik";
label12.Visible = true;
}
Source Code Aplikasi
//input
double label7 = Convert.ToDouble(textBox7.Text);
double label8 = Convert.ToDouble(textBox8.Text);

//proses
double button3 = (Math.Sqrt(label7) / Math.Sqrt(label8 - 1) / 0.5 * 100);
button3= Math.Round(button3, 2);

//output
textBox9.Text = Convert.ToString(button3);

//if dan else if

double nilai = 0;
nilai = double.Parse(textBox9.Text);
if (nilai <= 2 )
{
label13.Text = "Tingkat Presisi Baik";
}
else
{
label13.Text = "Tingkat Presisi Tidak Baik";
label13.Visible = true;
}
Source Code Aplikasi
//input
double label10 = Convert.ToDouble(textBox10.Text);

//proses
double button4 = 100 - ((label10 - 0.5) / ((0.5 * 100)));

//output
textBox11.Text = Convert.ToString(button4);

//if dan else if

double nilai = 0;
nilai = double.Parse(textBox11.Text);
if (nilai >= 90 )
{
label14.Text = "Tingkat Akurasi Baik";
}
else
{
label14.Text = "Tingkat Akurasi Tidak Baik";
label14.Visible = true;
}
Perbandingan Hasil Perhitungan

Perhitungan Menggunakan Manual Perhitungan Menggunakan Apikasi C#


No. Obyek Keterangan
ΔT e A P ΔT e A P

1. Bay Trafo 1 5,3°C 0,4872 97,44% 0,61% 5,3°C 0,4872 97,44% 0,61% Akurat

2. Bay Trafo 2 42,2°C 0,4750 95% 1,43% 42,2°C 0,4750 95% 1,43% Akurat

3. Bay Trafo 3 2,8°C 0,5015 99,97 %. 0,58% 2,8°C 0,5015 99,97% 0,58% Akurat
Kesimpulan
 Selisih suhu pada bagian klem dan konduktor diperoleh hasil 68 sambungan pada terminal dalam kondisi baik, 5
sambungan pada terminal dalam kondisi pemeriksaan saat pemeliharaan dan 1 sambungan pada terminal dalam
kondisi perbaikan segera, kondisi-kondisi tersebut dapat menjadi acuan dalam menindak lanjuti keadaan pada
bagian sambungan peralatan.
 Nilai emisivitas rata-rata yang adalah pada bay trafo 1 sebesar 0,4872, bay trafo 2 sebesar 0,4750, dan pada bay
trafo 3 sebesar 0,5015. Maka dapat dinyatakan bahwa ketika suhu peralatan semakin tinggi, kemampuan untuk
meradiasikan sinar inframerah dari alat ukur thermovisi akan semakin berkurang dikarenakan bahan atau material
dari bagian peralatan tidak dapat menyerap sinar inframerah dengan baik karena suhu permukaan peralatan yang
panas.
 Jika dibulatkan nilai emisivitas yang didapatkan masih mendekati nilai SRM, namun ada 1 titik yang nilai
emisivitasnya buruk karena faktor suhu yang terlalu tinggi yaitu sebesar 69°C. Akan tetapi apabila ditinjau secara
keseluruhan nilai akurasi yang didapatkan masih tergolong dalam keadaan baik. Dengan nilai akurasi pada bay trafo
1 sebesar 97,44%, bay trafo 2 sebesar 95%, dan bay trafo 3 sebesar 99,97%.
Kesimpulan
 Presisi dari hasil pengukuran bay trafo 1 dan bay trafo 3 sangat baik dengan menunjukkan nilai presisi sebesar
0,61% untuk bay trafo 1 dan 0,58% untuk bay trafo 3, jika dibandingkan dengan bay trafo 2. Untuk bay trafo 2 nilai
presisi yang dihasilkan sebesar 1,43%. Nilai presisi yang didapatkan berbeda-beda dikarenakan nilai emisivitas yang
diperoleh sangat beragam dan bahkan melebihi dari dari SRM, yang mana faktor perubahan nilai emisivitas ini bisa
dikarenakan suhu permukaaan, refleksivitas, dan keadaan dari lingkungan/ kondisi cuaca.
 Berdasarkan hasil dari perbandingan antara perhitungan manual dan menggunakan aplikasi, dapat diketahui
bahwasannya tidak ada perbedaan hasil antara perhitungan manual maupun dengan menggunakan aplikasi, kedua
nya sama-sama menunjukan hasil yang akurat.
Saran
 Dalam melakukan pemeliharaan, perawatan dan pengecekan secara rutin
diharapkan dilakukan dengan teliti dan maksimal. Sehingga dapat meminimalisir
kesalahan dalam audit data perbaikan atau gangguan yang dihadapi.
 Dalam melakukakan audit data pemeliharaan teknisi diharapkan dapat
melengkapi data maintenance setiap bulannya dan semaksimal mungkin.
 Pada saat pengukuran teknisi dapat menggunakan alat ukur yang sesuai dengan
standar pemakaian dari alat tersebut.
 Melakukan pengecekan dalam audit data dan mengalisanya bila perlu secara
berulang, agar dapat dipertanggung jawabkan.
 Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan pengembangan
aplikasi kalkulator thermovisi dengan menggunakan C# yang lebih baik lagi
sehingga dapat berkontribusi lebih banyak lagi.