Anda di halaman 1dari 14

PBF, APOTEK DAN TOKO

OBAT
DEVI RISTIAN, M. SI., APT
PBF

 Pedagang Besar Farmasi, yang selanjutnya disingkat PBF adalah perusahaan


berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan,
penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan
peraturan perundangundangan.
 Dasar Hukum
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar
Farmasi
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi
 Peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 30 tahun 2017 tentang perubahan
kedua atas peraturan menteri kesehatan nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang
pedagang besar farmasi
PBF cabang

 PBF Cabang adalah cabang PBF yang telah memiliki pengakuan untuk
melakukan pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan
obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
 PBF dan PBF Cabang hanya dapat mengadakan, menyimpan dan
menyalurkan obat dan/atau bahan obat yang memenuhi persyaratan
mutu yang ditetapkan oleh Menteri.
 PBF Cabang hanya dapat melaksanakan pengadaan obat dan/atau
bahan obat dari PBF pusat atau PBF Cabang lain yang ditunjuk oleh PBF
pusatnya.
 PBF Cabang hanya dapat menyalurkan obat dan/atau bahan obat di
daerah provinsi sesuai dengan surat pengakuannya
 PBF dan PBF Cabang hanya melaksanakan penyaluran obat
berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani apoteker pemegang
SIA, apoteker penanggung jawab, atau tenaga teknis kefarmasian
penanggung jawab untuk toko obat dengan mencantumkan nomor SIPA
atau SIPTTK
 Setiap PBF dan PBF Cabang dilarang menjual obat atau bahan obat
secara eceran.
 Setiap PBF dan PBF Cabang dilarang menerima dan/atau melayani
resep dokter
 PBF yang akan menyalurkan bahan obat juga harus memenuhi
persyaratan:
a. memiliki laboratorium yang mempunyai kemampuan untuk pengujian
bahan obat yang disalurkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
Direktur Jenderal; dan
b. memiliki gudang khusus tempat penyimpanan bahan obat yang
terpisah dari ruangan lain.
PBF

 Setiap PBF atau PBF Cabang wajib melaksanakan dokumentasi


pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran di tempat usahanya dengan
mengikuti pedoman CDOB.
 Setiap PBF dan PBF Cabang yang melakukan pengadaan, penyimpanan,
dan penyaluran narkotika wajib memiliki izin khusus sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan
Fasilitas pelayanan kefarmasian
yang dilayani PBF

a. apotek;
b. instalasi farmasi rumah sakit;
c. puskesmas;
d. klinik; atau
e. toko obat.
APOTEK

 Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek


kefarmasian oleh Apoteker
 Surat Izin Apotek yang selanjutnya disingkat SIA adalah bukti tertulis
yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada
Apoteker sebagai izin untuk menyelenggarakan Apotek.
Pengaturan Apotek bertujuan untuk

a. meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek;


b. memberikan perlindungan pasien dan masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kefarmasian di Apotek; dan
c. menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dalam
memberikan pelayanan kefarmasian di Apotek.

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mengatur persebaran Apotek di


wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam
mendapatkan pelayanan kefarmasian.
Apotek hanya dapat menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai kepada:

a. Apotek lainnya;  Penyerahan Sediaan Farmasi, Alat


Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
b. Puskesmas; sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a sampai dengan huruf d hanya dapat
c. Instalasi Farmasi Rumah Sakit; dilakukan untuk memenuhi kekurangan
d. Instalasi Farmasi Klinik; jumlah sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai dalam hal:
e. dokter; a. terjadi kelangkaan Sediaan Farmasi, Alat
f. bidan praktik mandiri; Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di
fasilitas distribusi; dan
g. pasien; dan b. terjadi kekosongan Sediaan Farmasi, Alat
h. masyarakat. Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di
fasilitas pelayanan kesehatan.
 Pengadaan obat dan/atau bahan obat di Apotek menggunakan surat
pesanan yang mencantumkan SIA
 Surat pesanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus
ditandatangani oleh Apoteker pemegang SIA dengan mencantumkan
nomor SIPA.
 Apotek rakyat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 284/MENKES/PER/III/2007 tentang
Apotek Rakyat yang telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 53 Tahun 2016 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
284/MENKES/PER/III/2007 tentang Apotek Rakyat harus menyesuaikan diri menjadi Apotek
mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
 Dalam hal apotek rakyat tidak menyesuaikan diri menjadi Apotek sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), apotek rakyat dapat menyesuaikan diri menjadi toko obat/pedagang eceran obat
mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 167/KAB/B.VIII/1972 tentang
Pedagang Eceran Obat sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1331/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
167/KAB/B.VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat.
 Penyesuaian diri apotek rakyat menjadi Apotek atau toko obat/pedagang eceran obat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lama 6 (enam) bulan sejak Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 53 Tahun 2016 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 284/MENKES/PER/III/2007 tentang Apotek Rakyat diundangkan.
TOKO OBAT DAN TOKO OBAT BERIZIN

 Toko Obat Berizin, ialah suatu usaha tempat mendistribusikan obat


secara eceran langsung kepada konsumen, yaitu obat-obat yang
termasuk dalam daftar W (bebas terbatas) dan obat bebas. Toko Obat
Berizin tersebut didirikan berdasarkan Permenkes No. 167/Kab/B. VII/72
Tanggal 28 Agustus 1972. Penanggung-jawab teknis farmasi Toko Obat
Berizin adalah Asisten Apoteker.
 Toko Obat Biasa, ialah suatu usaha yang sebagian besar kegiatannya
mendistribusikan obat secara eceran langsung kepada para konsumen,
yaitu obat-obat bebas saja.
TERIMA KASIH