Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN KASUS

GAWAT NAPAS
BAYI CUKUP BULAN (BCB)
Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)

Oleh :
Helna Amelia

Pembimbing :
dr. Pudji Andayani, Sp.A(K)

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK


FK ULM / RSUD ULIN
BANJARMASIN
Februari, 2018 1
GANGGUAN NAPAS BAYI BARU LAHIR

Suatu keadaan meningkatnya kerja pernapasan yang


ditandai dengan takipnea (frekuensi napas >60
kali/menit), sianosis sentral atau perifer, retraksi
dinding dada, merintih, napas cuping hidung, maupun
apneu periodik.

KELAINAN PARU KELAINAN EKSTRA PARU

PENDAHULUAN 2
Pudjiaji AH, Hegar B, Hardyastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan
medis Ikatan Dokter Anak Indoneisa (IDAI). Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2011.
Paru Ekstra Paru

• Sindrom Aspirasi • Syok,


Mekonium, • Instabilitas suhu tubuh,
• Penyakit Membran Hialin • Sumbatan jalan napas atas,
(PMH), • Gagal jantung,
• Transient Tachypnea of The • Kelainan metabolik,
Newborn (TTN),
• Kelainan darah,
• Pneumonia,
• Kelainan susunan sistem
• Displasia bronkopulmoner, saraf,
• Dan lainnya. • Dan lainnya.

ETIOLOGI 3
Pudjiaji AH, Hegar B, Hardyastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan
medis Ikatan Dokter Anak Indoneisa (IDAI). Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2011.
Gangguan pernapasan yang
terutama berisiko terjadi pada
bayi baru lahir dengan
seksio sesaria, bayi DIAGONOSA
prematur, partus GANGGUAN NAPAS
presipitatus, dan
polihidramnion. Anamnesis riwayat antenatal dan
perinatal, pemeriksaan fisik,
Gejala klinis tampak segera pemeriksaan foto thorax,
setelah lahir dan membaik laboratorium berupa analisis gas
dalam beberapa jam darah,
(umumnya <24 jam),
kemudian gejala membaik
dan hilang dalam 5-7 hari.

Transient Tachypnea of
The Newborn 4
Pudjiaji AH, Hegar B, Hardyastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan
medis Ikatan Dokter Anak Indoneisa (IDAI). Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2011.
Epidemiologi data kejadian TTN termasuk jarang dilakukan,
tetapi hasil penelitian sebelumnya menunjukkan angka insiden
3.6-5.7 per 1000 kelahiran hidup.
TTN merupakan salah satu penyabab tersering dan kebanyakan
tidak terdiagnosa dengan baik.

Sedangkan hasil penelitian lain terbaru menunjukkan 4,83%


kasus gangguan napas bayi baru lahir dari 170 jumlah kelahiran
hidup di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), dengan
28% diantaranya adalah TTN. Hal ini menunjukkan
hampir ¼ kasus gangguan napas bayi baru lahir adalah TTN.

EPIDEMIOLOGI 5
Abdelmoneim EM, Taqwa AA. Prevalence, risk factors, and short term outcome of infants
with transient tachypnea of the newborn in Sudan. EJPMR 2016; 3(10):23-26.
Patofisiologi
Lokesh Guglani, Satyan Lakshminrusimha, Rita M Ryan.
Transient tachypnea of the newborn. Pediatrics in review
2008; 29: e59-e65. 6
Mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan
membatasi gejala sisa yang mungkin timbul di
kemudian hari.

Tujuan Pengobatan dan


Perawatan 7
Memaparkan kasus seorang neonatus yang
dirawat dengan sindroma gawat napas berupa
Transient Tachypneu of The Newborn (TTN)
serta ikterik neonatorum fisiologis yang
dirawat di ruang NICU RSUD Ulin
Banjarmasin selama 5 hari perawatan.

TUJUAN PENULISAN 8
LAPORAN KASUS PEDIATRI
Pasien (Neonatus)
• Nama : By. Ny. N.A/By. Tn. N
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Tempat dan Tanggal Lahir : Banjarmasin, 27 Januari 2018,
08.45 WITA RSUD Ulin Banjarmasin
• Usia : 0 tahun 4 hari
• MRS/MRG NICU : 27 Januari 2018 09.00 WITA
• KRS/Rawat Jalan : 01 Februari 2018 (5-6 hari hari
perawatan)
• No. RMK : 1-37-83-56

IDENTITAS PASIEN 10
• Ayah Ibu
• Nama : Tn. N Nama : Ny. N.A
• Usia : 42 tahun Usia : 38 tahun
• Pendidikan : SMK Pendidikan : SD
• Pekerjaan : Satpam Pekerjaan : Pedagang
• Agama : Islam Agama : Islam
• Alamat : Jl. Haur Kuning Kelayan Kecil No. 11 RT. 15 RW.
01, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

IDENTITAS ORANG TUA 11


• Keluhan Utama : bayi tampak sesak
• Riwayat Penyakit Sekarang :
Bayi tampak sesak segera setelah lahir. Dari rekam medis, didapatkan
data bayi tampak sesak segera setelah lahir dan tidak segera menangis,
bernapas tampak megap-megap, napas cuping hidung, retraksi dinding
dada, denyut jantung <100x/menit, frekuensi napas <60x/menit, kekuatan
otot menurun, namun masih respon terhadap rangsangan, tangan dan kaki
bayi sedikit membiru. Dari data APGAR Score 5-6-7 dan skor Downe’s 5,
kemudian dilakukan perangsangan dan resusitasi bayi baru lahir dan
mendapat O2 CPAP setelahnya.

ANAMNESIS dan DATA 12


Pada saat di ruangan neonatologi RSUD Ulin Banjarmasin, pada hari
perawatan kedua dan ketiga (usia bayi 1 hari dan 2 hari) gerakan bayi
masih kurang aktif, menangis lemah, refleks isap lemah, bayi masih
merintih, residu berupa lendir kecoklatan. Frekuensi napas bayi 50-
60x/menit, CRT <3 detik, saturasi 99% dengan O2 CPAP, sianosis
berkurang, retraksi dinding dada berkurang. Bayi dilakukan
pemeriksaan laboratorium didapatkan pemanjangan PT dan APTT, serta
dilakukan foto rontgen toraks didapatkan hasil normal. Bayi di
assesment dengan gawat napas suspect TTN. Bayi ditatalaksana dengan
dirawat di inkubator, diberikan terapi O2 CPAP, pemberian cairan infus
dan TPN, terpasang OGT, transfusi plasma, antibiotik lini pertama,
suntikan vitamin K, dan oral higiene. Pada perawatan hari keempat
(usia bayi 3 hari) keadaan bayi semakin stabil, sehingga menggunakan
O2 sungkup, OGT dilepas dan dilatih untuk menyusui. Pada hari
perawatan kelima (usia bayi 4 hari) bayi sudah stabil dan sudah dapat
bernapas spontan tanpa bantuan oksigen dan dapat menyusu dengan
baik.
13
Pada hari perawatan ke 4, bagian wajah bayi tampak
kuning, sisanya bagian tubuh lain bayi tampak kemerahan.
Namun tidak disertai dengan demam, walau berat badan
bayi berkurang sedikit dari sejak lahir. BAK dan BAB
normal. tidak ada benjolan dibagian perut bayi. Bayi
mendapat terapi sinar untuk kuning diwajah. Dari data
juga ditemukan kelainan lidah bayi yang pendek sehingga
dilakukan tindakan agar lidah bayi bisa diangkat lebih
tinggi.

14
Bayi dilahirkan secara sectio caesaria atas indikasi
Seccondary Arrest ec. Malpresentasi Letak Puncak Kepala
(Partus Lama), Kehamilan Post Date, Usia >=35 tahun,
Obesitas Grade I. Saat itu usia kehamilan sudah 41 minggu
berdasarkan hari pertama haid terakhir ibu (HPHT) dan diagnosis
ibu setelah melahirkan adalah P3A0, Obesitas Grade I, dan
Primi Tua Sekunder. Usia ibu saat melahirkan adalah 38 tahun.
Taksiran persalinan menurut HPHT adalah 23 Januari 2017.
Ibu os merasakan perut kencang-kencang, nyeri bertambah
saat berjalan, dan keluar darah dari kemaluan sudah hampir
16 jam SMKB RSUD Ulin Banjarmasin. Awalnya ibu os
berencana melahirkan di bidan, namun dirujuk bidan karena bayi
tidak kunjung lahir dan terkesan tertahan. Sesampai di RSUD
Ulin Banjarmasin, ibu os sempat direncanakan melahirkan
normal, namun 6 jam kemudian di kamar bersalin akhirnya
diputuskan untuk dilakukan sectio caesaria cito. Didapatkan
data air ketuban sudah hijau dan berbau.

15
Riwayat Kehamilan dan
Persalinan Sebelumnya 16
• Berat badan selalu naik kurang lebih 2 kg tiap trimesternya
dari 58,5 kg menjadi 64,5 kg dan tinggi badan ibu 146 cm
• Rutin periksa sebanyak 10x
• Laboratorium darah dan kencing,sertaUSG normal
• Rutin mengonsumsi tablet tambah besi, kalsium, dan vitamin
B komplek
• Makanan sehari-hari yang dikonsumsi terdiri dari nasi, lauk
pauk berupa daging atau ikan, dan sayur-sayuran dengan
frekuensi 2-3 kali sehari
• Susu ibu hamil rutin diminum jika ibu tidak merasa mual
• Tidak pernah minum alkohol, merokok, jamu, obat diluar resep
dokter

RIWAYAT KEHAMILAN
SEKARANG 17
Faktor risiko mayor dari data kelahiran berupa ketuban hijau
dan berbau.

Ibu os memiliki 2 faktor risiko minor berupa nilai APGAR Score


yang rendah (menit ke-1 <5 dan menit ke-5 <7) dan memiliki
keputihan yang gatal dan berbau terutama saat trimester
ketiga.

Hasil laboratorium ibu berupa darah rutin, kimia darah, serum


elektrolit, faal hemostasis sebelum melahirkan normal, kecuali
leukosit meningkat sedikit 11.200/mm3

Faktor Risiko 18
Waktu persalinan yaitu 27 Januari 2018 pukul 08.45 WITA.
Kondisi ketuban hijau dan berbau, dengan DJJ janin
masih dalam rentang normal. Ibu tidak mengeluh
adanya demam. Pecah ketuban <12 jam.
Tali pusat masih segar

Keadaan Persalinan
Sekarang 19
Berat Badan Lahir : 2800 gram
Panjang Badan Lahir : 51 cm
OB/OS/OK/LD/LP/LLA : 36 / 34 / 30 / 31 / 27 / 10 cm
Ballard Score 35-40 atau menunjukkan 38-40 minggu usia
kehamilan.

DATA KELAHIRAN 20
DATA KELAHIRAN 21
HARI PERAWATAN Ke-5 / USIA 4 HARI

Keadaan Umum Tampak Sakit sedang

Kesadaran Menangis kuat, gerakan aktif, refleks isap baik

CRT <2 detik

Detak Jantung 126 x/m

Pernpasan 56 x/m

Suhu 36,8o C

Sa.O2 98% (tanpa bantuan oksigen)

Skor Downes 0

BB/PB/LK/LD 2650 gram/51 cm/34 cm/31 cm


Physical
Kulit
Examination
ikterik (+) di wajah, sianosis (-), pucat (-) 22
Mesocephali, konjuntiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), caput
Kepala
suksadeneum (+), pernapasan cuping hidung (-), tongue tie (+)

Tenggorokan Membran (-), uvula di tengah

Leher Tortikolis (-)

Payudara areola sedikit menonjol 3-5 mm, benjolan (-)

Retraksi (-), jejas (-)


Wheezing Rhonci
Paru -I- -I-
-I- -I-
-I- -I-

Jantung S1,S2 tunggal reguler, gallop (-), murmur (-)

23
Distensi (-), supel,
Massa
- | - |-
Abdomen
- | - |-
- | - |-
Hepatomegali (-) Sphlenomegaly (-)
Superior D & S : Edema (-)
Ekstremitas Inferior D & S : Edema (-)
akral hangat, sianosis (-), ikterik (-)

jenis kelamin laki-laki, testis di scrotum, rugae terlihat


Genitalia

Anus Paten (-), tidak ada kelainan

Tulang belakang,
Tanda-Tanda Tidak ada benjolan, fraktur (-)
Fraktur
Refleks Moro (+) Refleks hisap (+)
24
Neurologi Refleks pegang (+) Refleks rooting (+)
Hasil Pemeriksaan
• Laboratorium Rg. NICU di
RSUD Ulin Banjarmasin 27
Januari 2018 pukul 10:52 WITA
(Usia 0 Hari/Hari Perawatan ke-
1)

Laboratorium I 25
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Rg. NICU di RSUD Ulin
Banjarmasin 28 Januari 2018 pukul 11:19 WITA (Usia 1
Hari/Hari Perawatan ke-2)

Laboratorium II 26
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Rg. NICU di RSUD Ulin
Banjarmasin 29 Januari 2018 pukul 15:53 WITA (Usia 2
Hari/Hari Perawatan ke-3 Post Transfusi Plasma III)

Laboratorium III 27
Hasil Foto Thorax
Rg. NICU No.600
pada 29 Januari 2018
(Usia 2 Hari/Hari
Perawatan ke-3)

Chest X Ray 28
Grafik Lubchenco 29
1. Post Gawat Napas – Transient Tacypnea of the Newborn
(TTN)
2. Riwayat Asfiksia Neonatorum
3. Ikterik Neonatorum susp. Fisiologis
4. Tongue Tie post Frenuloktomi
5. Bayi Cukup Bulan (BCB)
6. Bayi Berat Lahir Cukup (BBLC)
7. Sesuai Masa Kehamilan (SMK)

DIAGNOSA 30
Rawat termoregulasi (inkubator hingga infant warmer), jaga suhu tubuh bayi 36,5–37,5oC,
Resusitasi : O2 CPAP (+) PEEP 6-8 / FI.O2 21% lanjut O2 sungkup, jika stabil tanpa
bantuan oksigen
Kebutuhan Cairan :
Infus : IVFD D10% Combo 8 tpm dan TPN AA sesuai kebutuhan
ASI : Diet ASI on Demand sesuai berat badan dan usia
Transfusi Plasma jika Faal Hemostasis Memanjang
Antiobiotik Lini Pertama:
Inj. Ampicilin 2x140 mg untuk 5 hari
Inj. Gentamicin 14 mg/36 jam untuk 5 hari
Vitamin K1 1 mg IM Paha Kiri dan Hep B0 0,5 ml IM Paha Kanan( H0)
Salep Mata (Zalf) Gentamisin ODS (H0)
Monitoring keadaan umum, tanda vital dan skor Downe’s, saturasi oksigen atau CRT,
klinis gawat napas dan ikterik
Frenektomi
Fototerapi
Oral dan Body Higiene

PENATALAKSANAAN 31
Untuk Post Gawat Napas atau TTN :
Quo ad Vitam : dubia ad bonam
Quo ad Functionam : bonam
Quo ad Sanationam : bonam
Untuk Ikterik Neonatorum :
Quo ad Vitam : bonam
Quo ad Functionam : bonam
Quo ad Sanationam : bonam

Pemeriksaan kimia darah hepar bila klinis ikterik bertambah

USUL PEMERIKSAAN dan


PROGNOSIS 32
FOLLOW UP 33
34
PEMBAHASAN
Berat Lahir 2800 gram (>2500 gram)
Total Hasil Score Ballard 35-40 (Pematangan Fisik dan Neuromuskuler)

Ballard Score dan Grafik Lubchenco


Tergolong BCB SMK BBLC 36
Damanik SM. Klasifikasi bayi menurut berat lahir dan masa gestasi. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya,
Sarosa GI, Usman Ali, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2014. h. 11-15.
Definisi gangguan napas adalah suatu keadaan meningkatnya
kerja pernapasan yang ditandai dengan:
• Takipnea atau frekuensi napas >60-80 x/menit
• Retraksi : cekungan atau tarikan kulit antara iga dan atau
dibawah sternum selama inspirasi
• Napas cuping hidung: kembang kempis lubang hidung
selama inspirasi
• Merintih atau grunting: terdengar merintih atau menangis
saat inspirasi
• Sianosis sentral yaitu warna kebiruan pada bibir
• Apneu atau henti napas. 3 TANDA GAWAT
NAPAS PADA BAYI

DEFINIS GANGGUAN NAPAS BAYI


BARU LAHIR 37
Kosim MS. Gangguan napas pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya, Sarosa GI,
Usman Ali, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2014. h. 126-139.

Skor Downe
Hari Perawatan ke-1 dan 2 38
Kosim MS. Gangguan napas pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya, Sarosa GI,
Usman Ali, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2014. h. 126-139.
Klasifikasi Gangguan Napas39
Kosim MS. Gangguan napas pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya, Sarosa GI,
Usman Ali, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2014. h. 126-139.
Etiologi gangguan napas adalah sebagai berikut:
• Obstruksi jalan napas, seperti: edema nasalis, ensefalokel,
makroglossi, struma kongenital, higroma kistik, dan lainnya
• Trachea, seperti: tracheomalasia, fistula tracheoesophageal,
stenosis tracheal, stenosis bronchial, dan lainnya
• Penyebab Pulmonal, seperti: aspirasi mekoneum, Penyakit
Membran Hialin (PMH), Transient Tachypnea of the
Newborn (TTN), atelektasis, pneumonia, pneumothoraks,
emfisema, kista, tumor, dan lainnya
• Penyebab non Pulmonal, seperti: gagal jantung kongestif,
asidosis, hipoglikemia, syok, depresi neonatal, hipotermi, dan
lainnya.

ETIOLOGI 40
Kosim MS. Gangguan napas pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya, Sarosa GI,
Usman Ali, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2014. h. 126-139.
Terjadi pada bayi prematur dan matur

Faktor risiko lahir sesar

Gejala cepat membaik dan prognosis baik

Penyebab distress pernapasan yang cukup banyak terjadi

Hasil laboratorium dan thorax foto normal

Skor Downe’s berkurang dan menjadi 0 pada usia 4 hari, yang menunjukkan adanya
perbaikan gawat napas.

Transient Tachypnea of the Newborn (TTN) 41


KN Siva. Transient Tachypnea of the Newborn. Drug and Disease 2014.
http://emedicine.medscape.com/article/976914-overview. Diakses tanggal 13 Februari 2011 pukul 16.00 WITA.
Terutama pada bayi cukup bulan, tekanan selama jalan lahir
akan menekan cairan dari dalam paru-paru untuk keluar.

Bayi dengan TTN mengalami sisa cairan yang masih terdapat


didalam paru-paru atau akibat pengeluaran cairan di paru-paru
terlambat sehingga bayi mengalami kesulitan untuk menghirup
oksigen secara normal

Bernapas lebih cepat dan lebih dalam untuk mendapatkan cukup


oksigen ke dalam paru-paru sehingga tampak sesak

PATOFISIOLOGI
Lahir Sesar vs. Persalinan Normal per
Vaginam 42
Kolas T, Saugstad OD, Daltveit AK. Planned cesarean versus planned vaginal delivery at term: comparison of
newborn infant outcomes. Am J Obstet Gynecol 2006; 195:1538.
Diagnosis ibu os P3A0
post Sectio Caesaria Cito • Kehamilan Multipel
atas indikasi Seccondary
Arrest ec. Malpresentasi • Lahir Sesar
Letak Puncak Kepala • Usia Tua (>35 tahun)
(Partus Lama), Usia ≥35 • Partus Lama

tahun, Kehamilan Post
Date (berdasarkan • Ketuban hijau dan
HPHT), Obesitas Grade I, berbau
dan Primi Tua Sekunder

Faktor Ibu Faktor Persalinan Faktor Bayi

Fakto Risiko Gangguan Napas Bayi Lahir 43


Widiani NN, Kurniati DP, Windiani IG. Faktor risiko ibu dan bayi terhadap kejadian asfiksia neontorum di
Bali: penelitian case control. Public Health and Prevention Medicine Achieve 2016; 4(2):120-126.
1 2
Risiko Risiko
Mayor Ketuban Minor APGAR
hijau & Score
berbau rendah

Keputihan
Hasil pemeriksaan gatal
laboratorium CRP negatif

ANTIBIOTIK Lini Pertama


Risiko Infeksi dan Sepsis Neonatorum44
Pudjiaji AH, Hegar B, Hardyastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan medis Ikatan
Dokter Anak Indoneisa (IDAI). Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2011.
• Lanjutkan pemberian oksigen dengan kecepatan aliran sedang. (O2 CPAP dan O2
sungkup)
• Bayi jangan diberikan minum. (Sempat puasa dan menggunakan OGT)
• Jika ada tanda berikut dibawah, ambil sampel darah untuk kultur darah dan berikan
antibiotik untuk terapi kemungkinan besar sepsis. Tanda berikut adalah: suhu aksila
<340C atau >390C, air ketuban bercampur mekoneum, riwayat infeksi intruterin
dan KPD pada ibu. Kultur darah belum keluar hasil
• Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam
• Bila bayi menunjukkan tanda – tanda perbaikan (frekuensi napas menurun, tarikan
dinding dada dan merintih berkurang, kurangi terapi oksigen secara bertahap (O2
sungkup hingga tanpa O2)
• Apabila tak diperlukan lagi pemberian oksigen, mulailah melatih bayi untuk
menyusui (hari perawatan ke-5)
• Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi
kembali tampak kemerahan tanpa pemberian oksigen selama 3 hari, minum baik,
dan tak ada alasan bayi tetap tinggal, maka bayi dapat dipulangkan
• Jangan memberikan terapi oksigen yang tidak perlu secara terus-menerus.

PENATALAKSANAAN 45
Kosim MS. Gangguan napas pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi Rizalya, Sarosa GI,
Usman Ali, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2014. h. 126-139.
Pemberian O2 secara tekanan positif yang
konstan atau CPAP dengan cara memberikan
tekanan positif terhadap udara yang masuk
atau mengadakan tekanan negatif yang
konstans terhadap dinding toraks yang

berguna untuk mempertahankan tekanan
positif pada saluran napas neonatus selama
pernapasan spontan. Pemberian secara ini Irawan G. Continous
akan mengurangi terjadinya atelektasis Positive Airway Pressure.
Dalam: Kosim MS,
alveolus disertai perbaikan Pa.O2 darah. Yunanto A, Dewi Rizalya,
Sarosa GI, Usman Ali,
penyunting. Buku ajar
Oksigenasi diberikan hingga target saturasi neonatologi. Edisi ke-1.
oksigen meningkat dan untuk Jakarta: Badan Penerbit
mempertahankan saturasi oksigen tersebut. IDAI, 2014. h. 421-427.
46
Bayi kemudian berangsur membaik dan dapat bernapas secara spontan tanpa bantuan
oksigen

• ASI eksklusif 6 bulan hingga 2 tahun,


• Kontrol imunisasi wajib,
• Mandikan 2x sehari,
• Jemur bayi dibawah sinar matahari pagi, lihat perubahan dan
perluasan warna kuning di kulit,
• Awasi tanda bahaya seperti demam, sesak napas, merintih,
kejang, badan dan kulit tampak biru, badan dan kulit semakin
kuning, malas atau tidak mau menyusui, untuk segera dibawa
ke rumah sakit,
• Kontrol Poliklinik Anak Divisi Neonatologi 3 hari berikutnya
yaitu 05 Februari 2018.

Resep Pulang 47
KESIMPULAN
Telah dilaporkan sebuah kasus bayi laki-laki usia 0 hari sejak hari
pertama lahir di RSUD Ulin Banjarmasin dengan diagnosis ibu P3A0 post
Sectio Caesaria Cito atas indikasi Seccondary Arrest ec. Malpresentasi
Letak Puncak Kepala (Partus Lama), Usia ≥35 tahun, Kehamilan Post
Date (berdasarkan HPHT), Obesitas Grade I, dan Primi Tua Sekunder,
dengan keluhan bayi tampak sesak, gawat napas berupa TTN, ikterik
neonetorum fisiologis, dan Tongue Tie .

Bayi mendapat perawatan intensif di NICU RSUD Ulin Banjarmasin


dengan mendapat manajemen bayi lahir sakit, terapi rawat inkubator
dengan O2 CPAP dan observasi ketat, termoregulasi, terapi nutrisi
parenteral, diet ASI on demand, antibiotik empiris lini I berupa Ampisilin
dan Gentamisin selama 5 hari, dan terapi supportif lainnya, serta
pemeriksaan penunjang yang penting yaitu pemeriksaan laboratorium
dan foto thorax evaluasi, serta tindakan pemberian transfusi plasma,
fototerapi untuk ikterus neonatorum, dan frenektomi untuk kelainan
TongueTai.
48
Bayi dirawat selama 5 hari dan diperbolehkan pulang dengan edukasi
tanda bahaya sakit pada bayi dan kontrol ke Poliklinik Anak Divisi
Neonatologi 3 hari berikutnya.
Terima Kasih kepada Pembimbing:
dr. Pudji Andayani, Sp.A(K)

49