Anda di halaman 1dari 53

CA BRONKOGENIK

PENDAHULUAN

• Karsinoma bronkogenik
atau kanker paru
adalah tumor ganas
KARSINOMA paru primer yang
BRONKOGENIK berasal dari saluran
napas atau epitel
bronkus
Kejadian kanker paru di dunia
berdasarkan data dari The National Di Indonesia jumlah kasus baru
Center of Health Statistics pada kanker paru sebanyak 173
tahun 2015 didapatkan 234.030 orang (7,7%) dengan kematian
(13%) kasus baru dari seluruh kanker sebanyak 65 orang (12,3%)
dengan 121.680 laki-laki dan 112.350 berdasarkan data penderita
perempuan dan penyebab kanker di RS Dharmais tahun
kematian utama pada laki-laki 2013
(26%) dan perempuan (25%)
Penemuan kanker paru pada
Buruknya prognosis penyakit ini stadium dini akan sangat
mungkin berkaitan erat dengan membantu penderita, dan
jarangnya penderita datang ke penemuan diagnosis dalam waktu
dokter ketika penyakitnya masih yang lebih cepat memungkinkan
berada dalam stadium awal penderita memperoleh kualitas
penyakit. hidup yang lebih baik dalam
perjalanan penyakitnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
DEFENISI

Karsinoma bronkogenik
atau kanker paru adalah Karsinoma bronkogenik
tumor ganas paru primer meliputi sekitar 95 % dari
yang berasal dari saluran tumor ganas paru primer
napas atau epitel yang ditemukan.
bronkus.
EPIDEMIOLOGI
Kanker paru merupakan penyebab Berdasarkan jenis kelamin, kanker
kematian akibat keganasan. Pada paru merupakan penyebab utama
tahun 2008, penderita baru kanker kematian akibat kanker pada laki-
paru tercatat lebih dari 1,6 juta laki sebesar 33,8/100.000 penduduk
orang (13%) dan sebanyak 1,4 juta dan nomor 4 terbanyak pada
orang (18%) meninggal akibat perempuan sebesar 13,5/100.000
kanker paru. penduduk di dunia

Berdasarkan data penderita kanker


di RS. Dharmais, pada tahun 2010
terdapat sebanyak 117 orang
penderita kanker paru yang
merupakan peringkat ketiga kanker
terbanyak setelah kanker payudara
sebanyak 711 orang dan kanker
serviks 296 orang
ETIOLOGI

Penyebab tersering : kebiasaan merokok


Penyebab lain :
 a. Paparan zat karsinogen, seperti :
• Asbestos, sering menimbulkan mesotelioma
• Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
• Radon, arsen, kromium, nikel, polisiklikhidrokarbon, vinil klorida
 b. Polusi udara
 c. Penyakit paru seperti pneumonitis intersisial kronik
 d. Riwayat paparan radiasi daerah torak
 e. Genetik
PATOGENESIS

 Karsinoma paru terjadi karena akumulasi kelainan genetik yang


mentransformasi epitel bronkhial benigna menjadi jaringan neoplasma
 Faktor-faktor lingkungan yang telah diketahui merugikan dan
mempengaruhi kerusakan genetik.
 Mutasi TP53 adalah mutasi gen yang paling sering terjadi. Gen TP53
merupakan gen supresor tumor yang mengkode protein p53, mempunyai
peranan sebagai antiproliferatif
 Kekurangan GSTM1 memiliki risiko lebih besar terhadap karsinoma paru
Efusi pleura pada keganasan

 Penumpukan cairan di rongga pleura bisa terjadi


akibat
 peningkatan permeabilitas kapiler karena reaksi inflamasi yang
ditimbulkan oleh infiltrasi sel kanker pada pleura parietal atau
visceral.
 invasi langsung tumor yang berdekatan dengan pleura,
obstruksi pada kelenjar limfe, penyebaran hematogen atau
tumor primer pleura (mesotelioma).
 Gangguan penyerapan cairan oleh pembuluh limfe pada
pleura parietal akibat deposit sel kanker itu menjadi penyebab
akumulasi cairan di rongga pleura.
GEJALA KLINIS

Keluhan utama dapat berupa :


• Batuk-batuk dengan / tanpa
dahak (dahak putih, dapat juga Gejala dan keluhan yang tidak
purulen) khas seperti :
• Batuk darah
• Berat badan berkurang
• Sesak napas
• Nafsu makan hilang
• Suara serak
• Demam hilang timbul
• Sakit dada
• Sulit / sakit menelan • Sindrom paraneoplastik
• Benjolan di pangkal leher
• Sembab muka dan leher
GEJALA KLINIS

• Batuk-batuk dengan / tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen)


• Batuk darah
• Sesak napas
• Suara serak
• Sakit dada
• Sulit / sakit menelan
• Benjolan di pangkal leher
• Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan
rasa nyeri yang hebat.
Faktor Risiko

 Jenis Kelamin
 Umur
 Riwayat Merokok
 Berat Bedan
 Riwayat Penyakit Paru lainnya
 Riwayat Penyakit Ekstrapulmonal
 Pekerjaan
 Riwayat Keluarga
Diagnosis

 Anamnesis
 Pemeriksaan Fisik
 Gambaran Radiologi
 Sitologi
 Biopsi
 Angiografi
TATALAKSANA

KPKBSK KPKSK
(Non Small Cell (Small Cell
Carcinoma) Carcinoma)
Laporan Kasus
IDENTITAS PASIEN

 Nama : Ny. NE

 Umur / Tgl lahir : 51 tahun / 16 Maret 1968

 Jenis Kelamin : Perempuan

 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

 Nomor RM : 01.06.06.91

 Alamat : Lubuk Basung

 Status Perkawinan : Menikah

 Negeri Asal : Indonesia

 Agama : Islam

 Suku : Minang

 Nomor HP : 085379357722

 Tanggal Masuk : 19 September 2019

 Jam Masuk : 11.00 WIB.


Anamnesis

Seorang pasien perempuan berusia 51 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUP
DR.M.Djamil Padang pada tanggal 19 September 2019 pukul 11.00 WIB dengan:
Keluhan Utama
 Sesak napas yang meningkat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
 Sesak napas meningkat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak napas tidak
menciut, sesak dirasakan meningkat saat beraktivitas dan batuk, sesak napas tidak
dipengaruhi oleh makanan, minuman, ataupun cuaca. Sesak napas sudah dirasakan
pasien sejak 3 bulan ini.
 1 minggu sebelumnya pasien dirawat di bangsal paru RSUP Dr. M. Djamil, sudah dilakukan
punksi cairan pleura dan didapatkan cairan sebanyak ±1900cc berwarna kemerahan.
Direncanakan pemasangan pigtail dan bronkoskopi tapi pasien menolak. Saat sesak
nafas pasien mengurangi sesak dengan berbaring kearah kanan dan berdiam diri.
 Batuk hilang timbul sejak 3 bulan yang lalu. Batuk kadang-kadang disertai dahak berwarna
putih.
 Batuk darah tidak ada dan riwayat batuk darah lengket di dahak 2 bulan yang lalu.
 Nyeri dada ada dirasakan 1 minggu ini. Nyeri dada dirasakan seperti terhimpit, tidak menjalar
dan meningkat saat batuk disekitar perut.
 Riwayat demam dan nyeri ulu hati tidak ada.
 Mual dan muntah tidak ada.
 Keringat malam tidak ada.
 Suara serak sejak dan sulit menelan sejak 1 bulan yang lalu.
 Pasien merasakan penurunan napsu makan dan penurunan berat badan ±3 kg dalam satu
bulan.
 Pasien dikenal memiliki hipertiroid dan rutin meminum PTU rutin. BAK dan BAB tidak ada keluhan.
 Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat keganasan pada organ lain tidak ada, riwayat TB paru tidak ada, riwayat
diabetes melitus tidak ada dan riwayat hipertensi ada.
 Riwayat Pengobatan
 Pasien 2 minggu sebelum dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang tekah berobat ke RSUD
Lubuk basung. Pasien didiagnosis dengan efusi pleura lalu dilakukan punksi pleura.
Namun saat itu cairan tidak keluar dan pasien kembali pulang. Pasien juga
mendapatkan obat PTU untuk mengobati Kemudian seminggu setelahnya pasien datang
ke IGD RSUP Dr. M. Djamil karena sesak nafas semakin meningkat. Saat rawatan pertama
dilakukan punksi pleura dan keluar cairan ±1900cc berwarna kemerahan. Saat akan
dipasang WSD pasien menolak dan kembali pulang. Namun sehari sebelum hari kontrol
pasien meraskan sesak nafas yang meningkat kemudian datang kembali ke RSUP Dr. M.
Djamil Padang.
 Riwayat Keluarga
 Riwayat TB paru, hipertensi, diabetes melitus dan keganasan dalam
keluarga tidak ada.
 Riwayat Pekerjaan, Sosial dan Ekonomi
 Pasien seorang Ibu rumah tangga dan tidak merokok. Terdapat riwayat
memasak dengan kayu bakar selama ±20 tahun. Pasien serumah dengan
suami dan anak laki-laki yang perokok. Pasien sudah menggunakan KB
suntik selama ±10 tahun.
Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :


 keadaan umum :sedang
 kesadaran : composmentis cooperative.
 Tekanan darah : 100/70 mmHg
 frekuensi nadi 88 kali/menit
 frekuensi napas 24 kali/menit
 suhu 36,60C
 SpO2 99%
 berat badan 42 kg
 tinggi badan 150 cm, IMT 18,67 kg/m2..
 Kepala : Normochepal, wajah dan leher tidak sembab
 Mata:konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
 Leher : JVP 5-2 cmH2O, teraba benjolan ukuran ±4x2x1 cm, terfiksir, batas
tegas, ikut bergerak saat menelan, tidak nyeri, warna sama dengan kulit
sekitar.
 Jantung
 Inspeksi :iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : iktus teraba pada 2 jari lateral LMCS RIC V.
 Perkusi : Batas jantung atas RIC II, batas jantung kanan LSD RIC II, batas
jantung kiri 2 jari lateral LMCS RIC V.
 Auskultasi : S1,S2 normal reguler, murmur tidak ada, gallop tidak ada.
Paru depan
Inspeksi
Statis : asimetris dinding dada kanan lebih cembung daripada dada kiri
(unilateral prominence). Terpasang pigtail pada dada kanan.

Dinamis : pergerakan dada kanan tertinggal daripada dada kiri,


Palpasi : fremitus kanan menurun dibanding fremitus kiri,
Perkusi
Paru kanan : Redup.
Paru kiri : Sonor.
Auskultasi
Kanan : suara nafas paru bronkhial, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada,
suara nafas melemah sampai dengan menghilang.

Kiri : suara nafas paru bronkovesikuler rhonki tidak ada, wheezing tidak
ada.
Paru belakang
Inspeksi
Statis : asimetris punggung kanan lebih cembung dibandingkan
punggung kiri. (unlateral prominence).
Dinamis : pergerakan punggung kanan tertinggal dari punggung
kiri,
Palpasi : fremitus kanan melemah dibanding fremitus kiri,
Perkusi
Paru kanan : Redup.
Paru kiri : Sonor.
Auskultasi
Kanan : suara nafas paru bronkhial, rhonki tidak ada, wheezing
tidak ada, suara nafas melemah dibandingkan
punngung kiri.
Kiri : suara nafas paru bronkovesikuler rhonki tidak ada,
wheezing tidak ada.
Abdomen
 Inspeksi : tidak membuncit, supel
 Palpasi : nyeri tekan tidak epigastrium ada, nyeri lepas tidak ada, hepar
dan lien tidak teraba
 Perkusi : timpani
 Auskultasi : bising usus ada normal
Genitalia : tidak diperiksa
Ekstremitas : edema tidak ada, akral hangat, clubbing finger tidak ada.
Rontgen thorax

Juli 2019 6 September 19 September


2019 2019
Pemeriksaan Laboratorium

 Hb 10,2 g/dl  total protein 7,9 g/dl


 leukosit 9.400/mm3  albumin 3,5 g/d
 trombosit 787.000/ mm3  globulin 4,4 g/dl
 hematokrit 33%  bilirubun total 0,3 mg/dl
 PT 11,8 detik  bilirubin direk 0,2 mg/dl
 APTT 30,8 detik  bilirubin indirek 0,1 mg/dl
 glukosa darah sewaktu (GDS) 151 mg/dl  SGOT 17 u/l
 ureum darah 28 mg/dl  SGPT 12 u/l
 kreatinin darah 0,6 mg/dl  Kesan anemia ringan, trombositosis, APTT sedikit
dibawah nilai rujukan, gangguan protein darah
 natrium 144 Mmol/L (albumin menurun, globulin meningkat).
 kalium 4,5 Mmol/L
 klorida serum 106 Mmol/L
Diagnosis :Suspek ca bronkogenik jenis sel belum diketahui TxNxM1a (efusi
pleura) stage IV PS 70-80
Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah IVFD NaCl 0,9% 1 kolf/8 jam
dan diberikan oksigen 3-4 liter permenit via nasal kanul. Direncakan punksi
cairan pleura dan pemasangan WSD.
FOLLOW UP

Kamis 19 sep S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas(+) KU : sakit sedang -Efusi Pleura dextra -IVFD Nacl 0.9% 12
(HR-1) -pasien lebih nyaman Kes : CMC -susp. Ca bronkogenik jam/kolf
berbaring ke kanan TD: 110/70, Nd: 88x/i jenis sel belum -diet TKTP
-batuk sesekali Napas : 22x/i, T: 36,70c diketahui TxNxM1 (efusi - Pungsi cairan pleura dan
Paru : Aus : pleura) stage IV pemeriksaan Histopatologi
Ka : sn melemah-menghilang Hasil : berdasarkan kriteria
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, light, cairan pleura ini
wh-/ adalah eksudat.
Jumat/ 20 Sep S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas(+) sudah KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik -IVFD NaCl0.9% 12jam/kolf
(HR2) berkurang Kes : CMC jenis sel belum - N asetyl sistein 2x200 mg(po)
-batuk sesekali TD: 110/70, Nd: 88x/i diketahui TxNxM1 (efusi -pungsi cairan pleura ulang
Napas : 22x/i, T: 36,70c pleura) stage IV - konsul bedah onkologi
Paru : Aus : terpasang Pig Tail H1 - konsul interne.
Ka : sn melemah-
menghilang Telah dilakukan USG thorax
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/- dengan hasil Paru kanan: efusi
, wh-/ (+) marker LAA RIC V
Terpasang pigtail Hari ke 2 A/ efusi pleura (D) massif.
Cairan 500cc (Total 2 L) Akan dipasang pigtail.
Senin/ 23 Sep S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas(+) sudah KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik jenis sel -IVFD NaCl0.9% 12jam/kolf
(HR5) berkurang Kes : CMC belum diketahui TxNxM1 (efusi - N asetyl sistein 2x200
-batuk sesekali TD: 110/70, Nd: 90x/i pleura) stage IV terpasang mg(po)
- benjolan di leher (+) Napas : 21x/i, T: 36,70c pigtail H4 -propanolol 2 x10 mg (po)
Paru : Aus : -struma nodusa toksik -PTU 3x100mg(po)
Ka : sn melemah-menghilang - Konsul Interne untuk Struma
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, wh-/ -Konsul Bedah
Terpasang pigtail Hari ke 4
Cairan 300cc (Total 3 L)
HAsil pemeriksaan patologi
anatomi: mencurigakan
keganasan
Selasa/ 24 Sep S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas(+) sudah KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik jenis sel -IVFD NaCl0.9%
(HR6) berkurang Kes : CMC belum diketahui TxNxM1 (efusi 12jam/kolf
-batuk sesekali TD: 110/70, Nd: 90x/i pleura) stage IV terpasang - N asetyl sistein 2x200
- benjolan di leher (+) Napas : 22x/i, T: 36,70c pigtail H5 mg(po)
Paru : Aus : -struma nodusa non toksik -propanolol 2 x10 mg
Ka : sn melemah-menghilang (po)
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, wh-/ -PTU 3x100mg(po)
Terpasang pigtail Hari ke 4 -Konsul interne : Cek
Cairan 200cc (Total 3,2 L) TSH, FT4 ulang, USG Tiroid
-Konsul bedah : USG
Tiroid dan Hormon Tiroid
Rabu/ 25 Sep S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas hilang KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik jenis sel -IVFD NaCl0.9%
(HR7) timbul. Kes : CMC belum diketahui TxNxM1 (efusi 12jam/kolf
-jantung berdebar- TD: 110/70, Nd: 90x/i pleura) stage IV terpasang pigtail - N asetyl sistein 2x200
debar Napas : 22x/i, T: 36,70c H6 mg(po)
-batuk (+) Paru : Aus : -struma nodusa toksik -propanolol 2 x10 mg
- benjolan di leher (+) Ka : sn melemah-menghilang (po)
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, wh-/ -PTU 3x100mg(po)
Terpasang pigtail Hari ke 5
Cairan 250 cc (Total 3,45 L)
Kamis/ 26 Sep -sesak nafas hilang O/ A/ P/
2019 -nyeri hilang timbul KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik jenis sel -IVFD NaCl0.9%
(HR 8) -makan baik Kes : CMC belum diketahui TxNxM1 (efusi 12jam/kolf
-benjolan leher TD: 110/70, Nd: 90x/i pleura) stage IV terpasang - N asetyl sistein 2x200
Napas : 22x/i, T: 36,70c pigtail H7 mg(po)
Paru : Aus : -struma nodusa toksik -propanolol 2 x10 mg
Ka : sn melemah-menghilang (po)
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, wh- -PTU 3x100mg(po)
/
Terpasang pigtail Hari ke 7
Cairan 800 cc (Total 4,25 L)
Jumat/ 27 Sept S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas(+) sudah KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik jenis -IVFD NaCl0.9%
(HR8) berkurang Kes : CMC sel belum diketahui TxNxM1 12jam/kolf
-batuk sesekali TD: 110/70, Nd: 90x/i (efusi pleura) stage IV - N asetyl sistein 2x200
- benjolan di leher (+) Napas : 22x/i, T: 36,70c terpasang pigtail H9 mg(po)
Paru : Aus : -struma nodusa toksik -propanolol 2 x10 mg
Ka : sn melemah-menghilang (po)
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, -PTU 3x100mg(po)
wh-/
Terpasang pigtail terhubung
WSD : bubble (+), Undulasi (+),
cairan : 200cc
Kesan : WSD lancar

Lab : TSH 34,53 (meningkat)


FT4 : 5,31 (menurun)
Kesan : Hipotiroid
Senin/ 30 Sep S/ O/ A/ P/
2019 -sesak napas(-) KU : sakit sedang -susp. Ca bronkogenik jenis -IVFD NaCl0.9%
(HR11) -nyeri dada saat Kes : CMC sel belum diketahui TxNxM1 12jam/kolf
batuk TD: 110/70, Nd: 90x/i (efusi pleura) stage IV - N asetyl sistein
- benjolan di leher (+) Napas : 22x/i, T: 36,70c terpasang pigtal H10 2x200 mg(po)
Paru : Aus : -struma nodusa toksik -propanolol 2 x10 mg
Ka : sn melemah-menghilang -Hidropenumotorax Dextra (po)
Ki : sn bronkovesikuler, rh-/-, -PTU 3x100mg(po)
wh-/ -USG tiroid 22 Okt 19
Terpasang pigtail terhubung
WSD : bubble (+), Undulasi (+),
cairan : 200cc serohemoragic
Kesan : WSD lancar
DISKUSI
Ca bronkogenik

Pasien karsinoma bronkogenik memiliki gejala klinis dengan keluhan utama


berupa batuk kronik, batuk darah, sesak nafas, nyeri dada, sindroma
pancoast dan lain-lain. Selain itu juga terdapat tanda yang tidak khas seperti
berat badan berkurang, nafsu makn hilang, demam hilang timbul dan
sindrom paraneoplastik
Sesak nafas Kompensasi tubuh

• Penyebab: ganguan mekanik


terhadap usaha ventilasi, Penurunan
contoh: obtruksi faal paru
• Kelemahan pompa nafas,
contoh efusi pleura dan
penumothorax
Efusi pleura

 Adalah satu kondiai yang ditandai dengan penumpukan cairan diantara


dua lapisan pleura. Biasanya efusi pleura merupakan komplikasi dari
beberapa penyakit seperti kanker paru, TB, pneumonia gagal jantung dan
sebagainya

ketika cairan Pasien lebih suka


berlebihan dan berbaring ke paru-
menumpuk akan paru yang sakit
menimbulkan gejala
tertentu seperti sesak
nafas dan nyeri dada.
Efusi pleura ada 2:

 Efusi pleura transudatif disebabkan  Efusi pleura transudatif disebabkan


oleh meningkatnya tekanan dalam oleh meningkatnya tekanan dalam
pembuluh darah atau rendahnya pembuluh darah atau rendahnya
kadar protein dalam darah. Hal ini kadar protein dalam darah. Hal ini
mengakibatkan cairan merembes ke mengakibatkan cairan merembes ke
lapisan pleura lapisan pleura
Pada pasien adanya efusi pleura dibuktikan dengan adanya gambaran
rontgen thorax yang menunjukkan persekubungan di hemithorax kanan dan
saat dilakukan punksi pleura keluar cairan sebanyak ±1900 cc.
Batuk merupakan suatu respon tubuh terhadap
Batuk masuknya benda-benda asing ke saluran
pernapasan.

Batuk kronik yang produktif pada tumor paru


disebabkan karena tumor dapat mengeluarkan
mediator pro-inflamasi, stimulasi mekanik jangka
panjang, infeksi kronik yang akan merangsang
vagal afferent neural pathways. Paparan
terhadap mediator inflamasi dan faktor
neurotopik melalui nosiseptor perifer akan
menyebabkan kanal menjadi hipersensitif dan
menyebakan hyperalgesia.
Nyeri dada ada dirasakan 1 minggu ini. Nyeri dada dirasakan seperti
terhimpit, tidak menjalar dan meningkat saat batuk disekitar perut. Nyeri
dada dan terjadi karena penenkanan N. Brachialis, dan syaraf simpatis.
Adanya penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan merupakan
gejala sindrom paraneoplastic akibat adanya keganasan atau metastase.
Pada pasien tidak terdapat riwayat TB, keganasan, Dm maupun hipertensi
pada keluarga. Pasien seorang Ibu rumah tangga dan tidak merokok.
Terdapat riwayat memasak dengan kayu bakar selama ±20 tahun. Pasien
serumah dengan suami dan anak laki-laki yang perokok. Pasien sudah
menggunakan KB suntik selama ±10 tahun.
 Ada beberapa subyek dengan risiko tinggi kanker paru yang harus dilakukan
pendeteksian dini. Sasaran untuk deteksi dini terutama ditujukan kepada :
 Laki-laki usia lebih dari 40 tahun, perokok,
 Paparan industri tertentu,
 Dengan gejala 1 atau lebih : batuk darah, sesak nafas, nyeri dada, dan berat
badan menurun.
 Perempuan, perokok pasif dengan gejala 1 atau lebih : batuk darah, batuk
kronik, sakit dada, penurunan berat badan tanpa penyakit yang jelas,
 Riwayat anggota keluarga yang menderita kanker paru.
 Pemeriksaan fisik  ditemukan kelainan pada inspeksi palpasi dan perkusi
yang disebabkan karena massa atau cairan di paru
 Foto  Pada pasien didapatkan foto rontgen thorak tampak
perselebungan homogen di hemitoraks kanan dengan pendorongan
trakea dan jantung ke sisi kontralateral dengan kesan efusi pleura.
 Efusi pleura tidak hanya ditemui pada keganasan, pada kondisi lain
seperti tuberkulosis, pneumonia dan gagal jantung dapat juga
menyebabkan terjadinya efusi pleura. Diagnosis banding ini dapat
disingkirkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang lain seperti analisis cairan pleura.
 Pada pasien telah dilakukan analisis cairan pleura dan didapatkan hasil
curiga keganasan, namun jenis sel tidak diketahui karena sample cairan
pleura tidak cukup.
Stage TNM

Occult Carcinoma : Tx, N0, M0

0 : Tis, N0, M0

IA : T1, N0, M0

IB : T2, N0, M0

IIA : T1, N1, M0

IIB : T2, N1, M0

: T3, N0, M0
Pada pasien dicurigai
IIIA : T1, N2, M0
menderita karsinoma
T2, N2, M0 bronkogenik jenis sel
T3, N1, M0 belum diketahui
T3, N2, M0 dengan derajat
IIIB : Sembarang T, N3 M0
TxNxM1 dengan efusi
T4 sembarang N M0
pleura
IV : Sembarang T sembarang N M1
 Tatalaksana yang telah diberikan pada pasien ini adalah IVFD NaCl 0,9% 1
kolf/8 jam dan diberikan oksigen 3-4 liter permenit via nasal kanul serta
pemasangan pigtail pada hari kedua untuk mengatasi keluahan sesak
napas pada pasien dengan mengatasi efusi pleura terlebih dahulu.
 Tatalaksana selanjutnya diberikan setelah mengetahui diagnosis pasti dari
jenis sel karsinoma pasien
KESIMPULAN

 Telah dilaporkan suatu kasus yang dicurigai ca bronkogenik jenis sel belum
diketahui dengan efusi pleura.
 anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda adanya cairan
atau massa pada rongga paru.
 Pada pemeriksaan rontgen toraks didapatkan kesan efusi pleura yang
merupakan salah satu tanda yang mendukung adanya keganansan.
Namun, diagnosis pasti keganasan belum dapat ditegakan sampai
ditemukan sel-sel ganas pada analisis cairan pleura.
 Tatalaksana untuk mengatasi keluahan sesak napas pada pasien dengan
mengatasi efusi pleura terlebih dahulu. Tatalaksana selanjutnya diberikan
setelah mengetahui diagnosis pasti dari jenis sel karsinoma pasien.