Anda di halaman 1dari 6

UU NOMOR 12 TAHUN 2012

TENTANG PENDIDIKAN TINGGI

Kelompok C
Ananda Tata Anggraini 191510301040
Arta Raya Nurvita 192110101118
Dewi Nur Eliza 192110101195
Johan Laipeny 192110901031
UU NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG
PENDIDIKAN TINGGI

 Pada tanggal 13 Juli 2012 pemerintah


mengesahkan sebuah UU yang mengatur
pengelolaan pendidikan tinggi di Indonesia: UU
Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
 UU Nomor 12 Tahun 2012 tepatnya dalam pasal 2
menyebutkan “Pendidikan Tinggi berdasarkan
Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.”
Lalu mengapa pendidikan tinggi
menjadi sasaran utama dalam hal ini?
 Karena pendidikan tinggi memiliki fungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan
tinggi ikut andil alih dalam proses mencerdaskan
kehidupan bangsa.
 Di dalam proses pendidikan tinggi kita diajarkan
bagaimana cara berproses untuk mencari jati diri kita.
Di perguruan tinggi karakter kita dibentuk dalam
berbagai aspek. . Hal tersebut bertujuan agar kita
dapat memanajemen diri kita agar lebih siap lagi
dalam menghadapi kehidupan nantinya.
Berita 1: Kontroversi UU Perguruan Tinggi Belum
Selesai (Kompas.com – 12 September 2012)

 Kontroversi Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU PT) Nomor 12 Tahun 2012


yang belum lama ini disahkan pemerintah dinilai belum selesai. Kalangan
akademisi pendidikan tinggi hukum Indonesia menegaskan, peraturan
pelaksanaan UU ini masih janggal dan menimbulkan kendala di beberapa
perguruan tinggi. Ketua Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Hukum Indonesia
(FPPTHI) M. Luthfie Hakim menyebutkan, setidaknya ada beberapa laporan dari
perguruan tinggi menyoal UU PT yang menyiratkan soal kebebasan akademik
kampus. Kebebasan akademik dan kampus yang sekarang terjadi ini menuai
perselisihan. Sebab, ada kekhawatiran dari beberapa perguruan tinggi yang
ada, karena kebebasan akademisnya menjadi terbatasi atau dikurangi. Dia
mengatakan perlu adanya kajian kiris lebih lanjut yang membahas soal efek
diterbitkannya UU PT pada Juli 2012 lalu. Pasalnya, di satu sisi, UU PT dinilai
menguntungkan karena izin program studi hanya cukup dilakukan satu kali dan
tak perlu diperpanjang lagi kecuali akreditasinya, namun banyak aturan lain
yang dinilai mempersulit jalannya suatu perguruan tinggi.
Berita 2 : Kontroversi UU Perguruan Tinggi
(Kompasiana – 18 September 2012)

 Dengan munculnya UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang


Pendidikan Tinggi ini mengundang beberapa kontroversi
mulai dari kalangan pengamat pendidikan, mahasiswa,
perguruan tinggi swasta, hingga lembaga swadaya
masyarakat. Salah satu hal yang dibahas adalah terkait
tentang pasal 90 tentang indikasi Liberalisasi Pendidikan.
 Liberalisasi pendidikan tinggi contohnya perdagangan bebas
jasa yang dipromosikan oleh WTO adalah bentuk
mendorong agar pemerintah negara-negara anggota tidak
menghambat kebijakan-kebijakan intervensionis. Hal yang
paling disoroti dari UU No. 12 Tahun 2012 adalah
Pemerintah dinilai terlalu campur tangan dalam menetapkan
rumpun ilmu, kurikulum, dan penelitian.
Berita 3 : Menristek Minta UU Pendidikan Tinggi No. 12 Tahun
2012 Jangan Jadi Alat Politisasi (Tribunnews.com – 8 Juli 2019)

 Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir meminta
agar UU No.12 Tahun 2012 jangan dijadikan alat politisasi. Sebab, kata Nasir, banyak pihak
seringkali menggunakan Undang-undang Pendidikan No. 20 tahun 2003 yang dikuatkan UU
No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi itu untuk kepentingan tertentu.
 Aturan dalam perundang-undangan ini kerap dijadikan alat politisasi.
 "Publik harus tahu, bahwa Undang-undang yang dimaksud tidak berlaku surut. Jadi, sebelum
UU itu diatur maka tidak berlaku apapun. Aturan itu berlaku setelah disahkan menjadi
undang-undang. Jadi mereka yang lulus sebelum undang-undang ini diberlakukan, ijazahnya
tetap sah. Termasuk Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet)," kata M
Nasir kepada Tribunnews.com, Minggu (7/7/2019).
 Ditegaskan, jika UU itu diberlakukan surut, maka akan menjadi ajang politisasi terutama bagi
mereka yang lulus lalu kemudian kampusnya kini tutup setelah UU diberlakukan.
 "Jadi, jika kampusnya sudah ditutup kemudian ada yang meragukan ijazah yang sudah
dikeluarkan, saya tegaskan itu tidak benar. Jika ijazah itu keluar sebelum UU itu diberlakukan
maka kelulusannya tetap sah. Karena UU itu tidak berlaku surut," tegas Menristekdikti.
 Sehingga menurutnya, tidak berarti mahasiswa yang lulus sebelum UU itu diberlakukan, yaitu
sebelum tahun 2011 dikatakan tidak sah kelulusannya.
 Berbeda jika UU itu telah berlaku tapi kemudian terjadi pelanggaran, baru dipertanyakan.

Anda mungkin juga menyukai