Anda di halaman 1dari 26

TRANSKULTURAL KEPERAWATAN

Kelompok 4 
 Antriyanus Daeli
 Nurul Azizah Susanti
 Renti Yunita
 Risna Deliana Tambunan
 Salsabilla Anggriyani

3 C Keperawatan~
DEFINISI BUDAYA
Budaya sebagai nilai-nilai, kebudayaan
sikap dan adat yang terbagi dalam suatu
kelompok dan berlanjut dari generasi ke
generasi berikutnya. Budaya akan dipakai oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan
nyaman dari wktu ke waktu tanpa memikirkan
rasionalisasinya (petter, 1993).
KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
Keperawatan transkultural merupakan
istilah yang sering digunakan dalam cross-
cultural atau lintas budaya, intercultural atau
antar budaya, dan multikultural atau banyak
budaya (Andrews,1999).
TUJUAN TRANSKULTURAL
KEPERAWATAN
Tujuan dari transkultural dalam
keperawatan adalah kesadaran dan apresiasi
terhadap perbedaan kultur. Selain itu juga
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
dalam keperawatan yang humanis sehingga
terbentuk praktik keperawatan sesuai dengan
kultur dan universal (leininger,1978).
Selain itu, tujuan dari transcultural nursing
adalah untuk mengidentifikasi, menguji,
mengerti dan menggunakan norma
pemahaman keperawatan transcultural dalam
meningkatkan kebudayaan spesifik dalam
asuhan keperawatan.
KONSEP UTAMA TRANSKULTURAL
KEPERAWATAN
Leininger (2002), beberapa asumsi dari
hasil penelitian kualitatif tentang kultur, yang
kemudian teori ini dipakai sebagai pedoman
untuk mencari culture care yang akan
diaplikasikan :
1. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan
polanya bervariasi diantara culture satu
tempat dengan tempat yang lainnya.
2. Caring act dikatakan sebagai tindakan yang
dilakukan dalam memberikan dukungan
kepada individu secara utuh.
3. Caring adalah esensi dari keperawatan dan
membedakan, mendominasi serta
mempersatukan tindakan keperawatan.
4. Identifikasi universal dan nonuniversal kultur
dan perilaku caring profesional, kepercayaan
dan praktek adalah esensi untuk menemukan
epistemology dan ontology sebagai dasar
dari ilmu keperawatan.
5. Culture adalah berkenaan dengan mempelajari,
membagi dan transmisi nilai, kepercayaan norma
dan praktek kehidupan dari sebuah kelompok
yang dapat terjadi tuntunan dalam berfikir,
mengambil keputusan, bertindak dan berbahasa.

6. Cultural care berkenaan dengan kemampuan


kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan
pola ekspresi yang mana membimbing,
mendukung atau memberi kesempatan individu
lain atau kelompok untuk mempertahankan
kesehatan, meningkatkan kondisi kehidupan atau
kematian serta keterbatasan
7. Nilai kultur berkenaan dengan
keputusan/kelayakan yang lebih tinggi atau
jalan yang diinginkan untuk bertindak atau
segala sesuatu yang diketahui yang mana
biasanya bertahan dengan kultur pada
periode tertentu.

8. Perbedaan kultur dalam keperawatan adalah


variasidari pengertian pola, nilai atau simbol
dari perawatan,kesehatan atau untuk
meningkatkan kondisi manusia, jalan
kehidupan atau untuk kematian.
9. Culture care universality berkenaan dengan
hal umum, merupakan bentuk dari
pemahaman terhadap pola, nilai atau simbol
dari perawatanyang mana kiltur
mempengaruhi kesehatan atau memperbaiki
kondisi manusia.

10.Etnosentris adalah kepercayaan yang mana


satu ide yang dimiliki, kepercayaan dan
prakteknya lebih tinggi untuk kultur yang
lain.
11.Cultural imposition berkenaan dengan
kecendrungantenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai
diatas kultur lain karena mereka percaya
bahwa ide mereka lebih tinggi dari pada
kelompok lain.
APLIKASI KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
DALAM KEPERAWATAN
• Kasus:
Klien Ny.W,30 tahun, beragama Islam, pendidikan
terakhir SMP, pekerjaan petani, suku jawa, diagnosis
medis abortus. Klien hamil 12 minggu, klien sangat
mengharapkan memiliki anak. Klien mengeluh
mengalami pendarahan dan perut mulas-mulas selama
3 hari. Klien dianjurkan untuk kuratase. Klien
memeriksakan kehamilannya di dukun dan berencana
akan melahirkan di sana. Klien mendapat informasi
tentang kehamilan dari mertua. Klien masih percaya
pada sihir dan hal-hal gaib, mereka percaya banyak
anak banyak rejeki dan percaya bahwa abortus
merupakan perbuatan dosa.
LANJUTAN…
Setelah di diagnosis abortus, klien tidak
menerima dan merencanakan akan berobat ke
dukun. Mereka menganggap hal itu akibat ibunya
melanggar pantangan dalam menyediakan sesaji.
Hubungan kekerabatan yang lebih dominan
adalah pihak laki-laki, pola pengambilan
keputusan di pihak laki-laki. Pantangan makanan
jantung pisang, gurita, dan air kelapa sedangkan
suaminya pantang memanjat pohon kelapa atau
pohon yang tinggi. Aturan dan kebijakan di atur
oleh pemuka agama dan para santri. Ada
tabungan yang sudah di persiapkan oleh keluarga
untuk persalinan ini.
PENGKAJIAN
a. Faktor Teknologi
Ny W di anjurkan untuk kuratase. Alasannya yaitu
karna merupakan salah satu pilihan Ny W dalam
memecahkan masalah kesehatannya. Ny.W pergi ke
dukun menggunakan motor, berkomunikasi
menggunakan bahasa Indonesia, tidak mengenal alat-
alat teknologi kesehatan,mempunyai pantangan
menolak dilakukan transfuse, menolak tindakan
kuretase karena bertentangandengan keyakinannya
dan mengatakan hal tersebut berdosa. Ny W tidak
pernah memeriksakan kesehatan dan perkembangan
kehamilannya di pelayanan kesehatan. Dan ini
merupakan kehamilan pertama dari Ny W dan umur
kehamilannya 12 minggu.
b. Faktor sosial dan ketertarikan keluarga
klien yang bernama Ny W,berumur 30
tahun, tipe keluarganya hubungan
kekerabatan yang lebih dominan pihak laki-
laki, hubungan Ny. W dengan kepala keluarga
adalah suami istri, pola pengambilan
keputusan di pihak laki-laki, Ny W mendapat
informasi tentang kehamilan dari mertua.
c. Faktor agama dan falsafah hidup
Adapun agama yang dianut Ny W adalah
islam, status pernikahannya resmi, cara
pandang Ny W terhadap penyakit yaitu di
sebabkan oleh sihir dan hal-hal gaib, Ny W
percaya bahwa abortus yang dideritanya itu
akibat ibunya melanggar pantangan dalam
menyediakan sesaji, dan Ny W berobat
rencananya ke dukun.
d. Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup
Pantangan Ny W yaitu memakan makanan
jantung pisang,gurita dan air kelapa sedangkan
suaminya pantang memanjat pohon kelapa atau
pohon yang tinggi, alasannya yaitu jika
memakan jantung pisang dapat membahayakan
tinggi kehamilannya, dan jika memakan gurita
mungkin dapat menggugurkan kehamilannya
karna gurita itu licin, sedangkan air kelapa
memang kehamilan usia muda tidak di
perbolehkan meminum air kelapa. Dan pada
suami di larang memanjat pohon yang tinggi
karena takut kehamilannya gugur karna di
ibaratkan jatuh dari pohon.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku
Aturan dan kebijakan disana diatur oleh
pemuka agama dan para santri. Alasannya
karena di sana memang budayanya seperti itu,
agamanya kental sehingga aturan dan kebijakan
di atur oleh pemuka agama dan para santri.
f. Faktor ekonomi
Pekerjaan Ny W adalah petani,serta ada
tabungan yang sudah dipersiapkan oleh keluarga
untuk persalinan ini. Karena ada tabungan yang
telah di persiapkan oleh keluarga sehingga Ny W
sudah agak lega dan senang untuk persiapan
kelahirannya.
LANJUTAN…
g. Faktor pendidikan
Tingkat pendidikan Ny W adalah SMP. Dan
karena tingkat SMP itu di negara kita di
bawah rata-rata pendidikan yang seharusnya
jadi pandangan Ny W terhadap kesehatan
pun tidak sama dengan orang yang
berpendidikan tinggi sehingga dia cendrung
lebih memilih berobat ke dukun dari pada ke
medis.
ANALISA DATA
• Data subyektif
– Keluarga mengatakan Ny W sejak 3 hari lalu
mengalami pendarahan dan perut mulas-mulas.
– Keluarga mengatakan bahwa Ny W di diagnosis medis
abortus.
– Keluarga mengatakan Ny W di bawa ke dukun dulu.
– Keluarga mengatakan bahwa Ny W akan di
rencanakan melahirkan di sana.
• Data obyektif
Hasil pemeriksaan medis,Ny W di diagnosis
abortus.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan aktif(vaskuler berlebih)
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (injury
biologis)
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
umum
4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status
kesehatan
5. Diagnosa transcultural
6. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan
perbedaan kultur,
7. Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi
sosiokultural
8. Ketidak patuhan dalam pengobatan berhubungan dengan
sistem nilai yang diyakini
RENCANA KEPERAWATAN
1. Cultural care preservation/maintenance
Identifikasi perbedaan konsep antara perawat dan
Ny W tersebut
a. Perbedaan konsep perawat dan Ny W terletak pada
kepercayaan Ny W yang masih percaya pada sihir dan
hal-hal gaib.
b. Perawat harus tenang dan tidak terburu-buru
berinteraksi dengan Ny W.Perawat bisa perlahan-
lahan untuk berkomunikasi dengan Ny W.
c. Lalu perawat bisa mendiskusikan perbedaan budaya
yang dimilikinya dengan Ny W yang masih percaya
kepada dukun serta sihir dan hal-hal gaib.
2. Cultural care accomadation/negotiation
a. Perawat bisa menggunakan bahasa yang mudah
di pahami oleh Ny W seperti bahasa sehari-
harinya.
b. Kemudian dalam perencanaan perawatan
perawat bisa melibatkan keluarga Ny W seperti
suami,ibunya atau mertua Ny W.
c. Jika konflik tidak terselesaikan,lakukanlah
negosiasi dengan Ny W berdasarkan
pengetahuan biomedis perawat tersebut
3. Cultural care repartening/reconstrucktion
a. Selanjutnya perawat bisa memberikan
kesempatan pada Ny W untuk memahami
informasi yang telah diberikan dan
melakukannya.
b. Lalu tentukan tingkat perbedaan Ny W melihat
dirinya dari budaya kelompoknya sendiri.
c. Kemudian gunakan pihak ketiga bila perlu,seperti
tetangga atau kerabat dekat Ny W.
d. Dan terjemahkan terminologi gejala Ny W
tersebut ke dalam bahasa kesehatan yang mudah
dipahami Ny W dan orang tuanya.
e. Terakhir berikan informasi pada Ny W tentang
sistem pelayanan kesehatan.
KESIMPULAN KASUS
1. Mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatannya,dari kasus di atas yang bisa di
pertahankan adalah aturan dan kebijakan diatur oleh
pemuka agama dan para santri.
2. Membentuk budaya baru yang sesuai dengan
kesehatan,dari kasus di atas pantangan makanan
jantung pisang,gurita dan air kelapa bisa di ganti
dengan yang lain,mungkin bisa dengan sayur yang lain
dan juga air kelapa bisa di ganti dengan air biasa.
3. Mengganti budaya yang tidak sesuai dengan
kesehatan dengan budaya yang baru.Dari kasus di
atas mungkin budaya berobat ke dukun bisa di ganti
dengan berobat ke medis/dokter.
TERIMAKASIH