Anda di halaman 1dari 42

ASKEP PADA BAYI DENGAN

HIPERBILIRUBINEMIA

LILIS LUSIANI, M.KEP


PENDAHULUAN
• Kuning (jaundice) dari Bhs Perancis Jaune
artinya kuning
• Ikterik dari bahasa Yunani Icteros
• Definisi secara umum adalah pewarnaan kuning
pada kulit, sklera dan membran mukosa akibat
penumpukan bilirubin pada jaringan
• Sering ditemukan pada 60% bayi sehat dengan
usia gestasi > 35 minggu
Hiperbilirubinemia
• Kadar bilirubin serum total > 5 mg/dl
• Umumnya normal
• 10% berpotensi patologis
METABOLISME BILIRUBIN

• SDM bayi berumur 70-90 hari lebih


pendek dari dewasa (120 hari)
• Bilirubin merupakan uraian dari produk
protein yang mengandung heme pada
sistem retikuloendotelial
• 75% ada dalam sel darah merah dan 25%
dari mioglobin. Sitokrom dan eritropoiesis
sumsum tulang yg tidak efektif
METABOLISME BILIRUBIN
Heme dioksidasi
(enzim heme oksigenase)
Biliverdin (pigmen hijau)  larut dlm air

Proses degradasi menjadi bilirubin


(larut dalam lemak)
TRANSPORTASI BILIRUBIN

• Bilirubin yang tidak larut dalam air ini


(indirek) dilepaskan ke dalam sistem
peredaran darah dan diikat oleh albumin.
Bilirubin yang sudah terikat oleh albumin
tidak dapat melewati sawar darah otak
PENGAMBILAN DAN KONJUGASI

• Bilirubin diambil dan dimetabolisme di hati.


• Bilirubin akan melewati selaput plasma
hepatosit dan diikat pada ligandin
sitoplasma (Protein Y, Protein Z dan
protein lainnya).
• Bilirubin diubah menjadi bentuk yang larut
dalam air (direk) oleh uridine diphosphate
glucoronyl transferase
EKSKRESI
• Bilirubin direk/terkonjugasi di ekskresikan
ke dalam sistem biliaris.
• Disimpan dalam kantong empedu berupa
empedu
• Empedu memasuki saluran GIT
(duodenum)  dipecah menjadi
sterkobilin dan kemudian dikeluarkan
melalui feces
• Urobilinogen dikeluarkan melalui urin
HIPERBILIRUBINEMIA

• PENINGKATAN BILIRUBIN SERUM


YANG TIDAK TERKONJUGASI
Etiologi berdasarkan fisiologi
bilirubin
1. Meningkatnya produksi bilirubin yang
berlebihan sehingga melebihi kemampuan
bayi untuk mengeluarkannya
misalnya
• Penyakit hemolisis
• Imun (Rhesus, ABO)
• Non imun (defisiensi enzim G6PD)
• Ekstravasasi darah (sephalhematom, memar
yang luas)
2.Gangguan transportasi bilirubin dalam
sirkulasi
• Hipoalbuminemia (pada bayi prematur,
malnutrisi pasca natal)
3. Gangguan pengambilan bilirubin oleh
hati
• Bayi kurang bulan
• Defisiensi ligandin (protein Y dan Z)
• Sepsis
• Ikterus ASI (breast milk jaundice)
4. Gangguan dalam konjugasi bilirubin
• Hipotiroidisme
• sepsis
1. Penurunan ekskresi bilirubin
2. Peningkatan sirkulasi enterohepatik

• Obstruksi usus (ileus mekonium)


• Tertundanya pengeluaran mekonium
(sumbatan mekonium, asupan minum
yang kurang atau tertunda)
Peningkatan SIRKULASI ENTEROHEPATIK
• Penurunan asupan enteral
• Stenosis pilorik
• Atresia/stenosis usus
• Ileus mekonium
• Sumbatan/plug mekonium
• Penyakit Hirschsprung
Klasifikasi

Ikterus fisiologis
• BCB : hari 3 – 5 bil total 6 – 8 mg/dl
• BKB : hari 5 bil total 10-12 mg/dl
Kadar bilirubin berdasarkan waktu

• Kadar bilirubin sebesar 10 mg/dl, pada usia 72


jam, pada bayi cukup bulan mungkin merupakan
kadar fisiologis
• Kadar bilirubin 10 mg/dl pada usia 10 jam
BUKAN kadar fisiologis dan memerlukan
perhatian segera (lihat riwayat penyakit dari
ikterus fisiologis)
Ikterus Fisiologis
14
12
10
8
S.Bili mg/dl
6
4
2
0
HARI 1 HARI 3 HARI 5 HARI 7
Bilirubin
Tidak terkonyugasi Terkonyugasi (direk):
(indirek): • Bilirubin direk
• Bilirubin indirek • Larut dalam air
• Tidak larut dalam air • Tidak larut dalam lemak
• Berikatan dengan • Tidak toksik untuk otak
albumin untuk transport
• Komponen bebas larut
dalam lemak
• Komponen bebas bersifat
toksik untuk otak
Ikterus patologis
• Timbul dalam 24 jam pertama
kehidupan
• Peningkatan bil total > 5 mg/dl/hari
• Kadar bil total serum > 17 mg/dl pada
bayi yang mendapat ASI
• Ikterus menetap setelah 8 hari pada
BCB dan 14 hari pada BKB
• Kadar bil direk > 2 mg/dl
Metode Kramer
Komplikasi
• Kern ikterus (ensepalopati bilirubin) adalah
deposit bilirubin tidak terkonjugasi/indirek
pada basal ganglia otak. Otak mengalami
cedera sel, berwarna kuning, kehilangan
neuron sehingga menyebabkan kerusakan
neurologis lanjutan
Presentasi Klinis
• Tahap 1: depresi neurologis: refleks
moro buruk, asupan minum kurang,
muntah, tangis melengking, tonus
menurun, letargi
• Tahap 2: Opistotonus, kejang, demam,
krisis oculogyric, kelumpuhan
pandangan. Kematian tinggi pada
tahap ini
• Tahap 3: setelah usia 1 minggu
spastisitas menurundan semua tanda
dan gejala bisa hilang
• Tahap 4: terlihat setelah periode
neonatus, adanya kerusakan otak yang
luas. Sekuele janga panjang seperti
spastisitas, atetosis, tuli dan retardasi
mental
Pemeriksaan diagnostik
• Coomb test pada tali pusat bayi baru lahir
• Golongan darah dan rhesus bayi dan ibu
• Bilirubin total, direk dan indirek
• Protein serum total
• Hitung darah lengkap
Penatalaksanaan
• Fototherapi
• Tranfusi tukar
Penanganan
Fisiologis Patologis
Pemajanan matahari Fototherapi
Pemberian ASI Tranfusi tukar
secara dini
Terapi sinar
• Bil indirek > 10 mg/dl
• Pra tranfusi tukar
Tranfusi tukar
• Menurunkan total serum bilirubin
• Menggantikan eritrosit yang terhemolisis
• Cara: sentral (vena umbilikal) dan perifer
(vena perifer)
• Jumlah darah yang ditranfusikan :
rumus BBx85x2
Pengkajian
• Letargi
• Malas
• Bising usus lemah
• Pasase mekonium lambat
• Feses berwarna coklat selama pengeluaran bilirubin
• Urine gelap pekat
• Sulit minum
• Ada pembesaran hepar dan limpa
• Edema
• Reflek moro (-)
• Kejang, merintih, opistotonus
• Riwayat asfiksia
Diagnosis Keperawatan
1. Ikterik Neonatus
Definisi: Kulit dan membran mukosa neonatus
menguning setelah 24 jam kelahiran akibat
bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke dalam
sirkulasi
DO:
• Profil darah abnormal
• Membran mukosa kuning
• Kulit kuning
• Sklera kuning
Intervensi Keperawatan
• Cek golongan darah ibu dan golongan darah
bayi
• Kaji riwayat prenatal care, perhatikan tanda-
tanda hipoproteinemia terutama pada bayi
preterm
• Kaji riwayat kelahiran, riwayat stress dingin,
asfiksia, trauma lahir atau asidosis
• Pertahankan bayi tetap hangat dan kering,
pantau suhu tiap jam
• Kaji adanya ekomosis atau petekie
Masalah Keperawatan
2. Resiko tinggi cidera b.d efek samping
fototherapi
TU: bayi bebas dari efek samping
fototherapi
TK: keseimbangan cairan dan suhu tubuh
dalam batas normal
Bebas dari cedera kulit/jaringan
Kadar bilirubin serum menunjukan
penurunan
Intervensi
• Dokumentasikan tipe lampu fluoresen, jumlah
jam total pemakaian, jarak permukaan lampu
dan bayi. Yang terbaik adalah lampu biru
dengan panjang gelombang 425-475 nm.
• Bayi tidak diberi pakaian, kecuali popok
• Berikan penutup mata, lakukan inspeksi tiap 2
jam atau pada saat pemberian makan
• Tutup alat genetalia untuk menghindari panas
Intervensi
• Pantau suhu tubuh tiap 2 jam, atur suhu
inkubator dengan tepat
• Atur posisi bayi tiap 2 jam
• Pantau kulit neonatus selama penyinaran
sampai stabil
• Pantau intake dan output cairan, timbang BB
tiap hari, perhatikan tanda-tanda dehidrasi
• Perhatikan warna dan frekuensi feses dan urine
Masalah Keperawatan
3. Resiko tinggi cidera b.d komplikasi dari
tranfusi tukar
TU: Menyelesaikan tranfusi tukar tanpa
cedera
TK: Menyelesaikan trafusi tukar tanpa
komplikasi
Kadar bilirubin serum menurun
Intervensi
• Pertahankan puasa selama 4 jam sebelum
prosedur atau aspirasi cairan lambung
• Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal
• Pastikan golongan darah bayi dan faktor rhesus
sama dengan golongan darah dan faktor rhesus
darah untuk tranfusi tukar
• Pantau tanda-tanda vital
• Catat jumlah darah yang diambil dan
ditranfusikan
Intervensi
• Pantau tanda-tanda ketidakseimbangan
elektrolit misal kejang, apneu, diare,
bradikardi
• Kaji adanya perdarahan berlebihan dari
lokasi tranfusi
Terima Kasih