Anda di halaman 1dari 45

VI.

Langkah-langkah
Investigasi Wabah / KLB
1. Persiapan lapangan
2. Konfirmasi kejadian KLB / wabah & verifikasi diagnosis
3. Penentuan definisi kasus, identifikasi dan penghitungan
kasus dan pajanan
4. Tabulasi data epidemiologi deskriptif berdasarkan orang,
tempat dan waktu
5. Pengumpulan specimen dan analisis laboratorium
6. Formulasi dan uji hipotesis melalui studi epidemiologi
analitik
7. Aplikasi studi sistemik tambahan
8. Penerapan intervensi penanggulangan dan pencegahan
9. Komunikasi hasil
A. Persiapan lapangan
1. Persiapan investigasi
a. Pengetahuan tentang berbagai penyakit yang
potensial menjadi KLB / wabah
b. Pengetahuan dan ketrampilan investigasi
lapangan, termasuk pengetahuan & teknik
pengumpulan data dan manajemen spesimen
c. Pengetahuan dan ketrampilan melakukan analisis
data dengan komputer
d. Dukungan tinjauan kepustakaan ilmiah yang
memadai
e. Material dan instrumen investigasi, seperti
kuesioner, bahan / sediaan spesimen dan tes
laboratorium
2. Persiapan administrasi
Tim kesehatan harus mempersiapkan
aspek administratif dari investigasi
seperti: penyediaan perijinan, surat-
surat atau dokumen formal / legal
dalam melakukan investigasi,
penyediaan dana yang memadai,
transportasi yang dapat diandalkan,
kerapian dalam dokumentasi,
pembagian tugas dan koordinasi
dalam tim kesehatan, dll
3. Persiapan konsultasi

Sudah harus dipikirkan


peran dan posisi
tim kesehatan dalam
proses investigasi
B. Konfirmasi kejadian
wabah / KLB dan
verifikasi diagnosis
1. Konfirmasi kejadian
wabah / KLB
a. Kumpulan kejadian kesakitan (cluster)
tersebut memang merupakan peningkatan
tidak wajar dari kasus-kasus yang saling
berhubungan dan memiliki sebab yang
sama dan bukannya cluster sporadis
kasus-kasus penyakit yang sama tapi tidak
saling berhubungan atau bahkan kumpulan
kasus-kasus yang mirip yang sebenarnya
berasal dari beberapa penyakit yang
berbeda
b. Jumlah kasus memang melebihi
dari yang diperkirakan (expected).
Bagaimana mengetahui jumlah
kasus yang diperkirakan?
Biasanya perkiraan dapat dilakukan
dengan membandingkan dengan
jumlah kasus pada minggu atau
bulan sebelumnya atau dengan
bulan yang sama pada tahun-tahun
sebelumnya
c. Peningkatan jumlah kasus
yang melebihi dari yang
diperkirakan tersebut bukan
disebabkan oleh faktor-
faktor lain yang artifisal
1) Perubahan definisi kasus
2) Peningkatan kegiatan
penemuan kasus (case finding)
3) Peningkatan sistem / prosedur
pelaporan lokal
4) Peningkatan kesadaran
masyarakat untuk mecari
pengobatan
5) Penambahan besar populasi
6) dll
2. Verifikasi Diagnosis

Tujuan verifikasi diagnosis adalah:


a. Memastikan bahwa penyakit /
masalah kesehatan yang muncul
memang telah didiagnosis secara
tepat dan cermat.
b. Menyingkirkan kemungkinan
kesalahan pemeriksaan
laboratorium sebagai pendukung
diagnostik
Untuk mencapai tujuan tersebut maka
diperlukan:
1) Ketrampilan klinis yang memadai dari
tim kesehatan
2) Kualitas pemeriksaan lab yang baik
dan memenuhi standar tertentu yang
diharapkan
3) Komunikasi yang baik antara tim
kesehatan dan jamaah sakit, untuk
menggali secara lebih akurat riwayat
penyakit dan pajanan potensial
C. Penentuan definisi
kasus dan identifikasi
penghitungan kasus
serta pajanan
1. Penentuan definisi kasus

Kumpulan (set) yang


standar tentang kriteria
klinis untuk menentukan
apakah seseorang dapat
diklasifikasikan sebagai
penderita penyakit tersebut
Definisi kasus dalam konteks KLB /
Wabah haruslah dibatasi oleh
karateristik tertentu dari, orang
tempat dan waktu.
Sekali ditetapkan maka definisi
kasus ini harus dipakai secara
konsisten pada semua situasi
dalam investigasi. Berdasarkan
derajat ketidakpastiannya diagnosis
kasus dapat dibagi menjadi:
a. Kasus definitif / konfirmatif
(definite / confirmed case);
adalah diagnosis kasus
yang dianggap pasti
berdasarkan verifikasi
laboratorium
b. Kasus sangat mungkin
(probable case);
adalah diagnosis kasus
yang ditegakkan
berdasarkan berbagai
gambaran klinis yang
khas tanpa verifikasi
laboratorium
c. Kasus mungkin / dicurigai
(possible / suspected case);
adalah diagnosis kasus yang
ditegakkan berdasarkan
sedikit gambaran klinis
yang khas tanpa verifikasi
laboratorium
2. Identifikasi dan
penghitungan kasus
serta pajanan
Mengidentifikasi kasus dari berbagai
sumber kasus yang mungkin, seperti
dari / di:
a. Fasilitas kesehatan, seperti: BPHI,
Pos Medik, RS Arab Saudi, dll.
b. Pemukiman jamaah Haji
c. Sarana transportasi
seperti pesawat
d. Jemaah yang sakit
atau keluarganya
e. dll.
Informasi yang dapat digali dari setiap kasus :
1) Identitas kasus, misal: nama, no jamaah,
no kloter, nama asal embarkasi, no / nama
rombongan no / nama regu, dll.
2) Karakteristik demografis, misal; umur, jenis
kelamin, suku, pekerjaan
3) Karakteristik klinis, misal riwayat penyakit,
keluhan dan tanda sakit yang dialami, serta
hasil lab
4) Karakteristik faktor-faktor risiko yang
berkaitan dengan sebab-sebab penyakit
dan faktor-faktor pemajanan spesifik yang
relevan dengan penyakit yang diteliti.
5) Informasi pelapor kasus
D. Tabulasi data
epidemiologi
deskriptif
berdasarkan
orang, tempat
dan waktu
KLB / Wabah dapat digambarkan
secara epidemiologis dengan
melakukan tabulasi data
frekuensi distribusi kasusnya
menurut karakteristik orang,
tempat dan waktu.
Penggambarannya disebut
epidemiologi deskriptif
Tabulasi data frekuensi distribusi
kasus berdasarkan karakteristik
orang dilakukan untuk melihat
apakah karakteristik orang /
populasi tertentu memberikan
tingkat risiko tertentu untuk
terjadinya penyakit.
Karakteristik orang yang lazim
diteliti adalah karakteristik
demografis, klinis dan pajanan
Deskripsi data frekuensi distribusi
kasus berdasarkan karakteristik tempat
dimaksudkan untuk memperkirakan
luasnya masalah secara geografis dan
menggambarkan pengelompokkan
(clustering) dan pola penyebaran
(spreading) penyakit berdasarkan
wilayah kejadian, yang nantinya dapat
dijadikan petunjuk untuk
mengidentifikasi etiologi penyakit
tersebut
Deskripsi frekuensi distribusi
kasus berdasarkan karakteristik
waktu dilakukan untuk beberapa
tujuan berikut ini:
1. Mengetahui besarnya skala
KLB / Wabah dan kecenderungan
waktu (time trend) dari kejadian
KLB / Wabah tersebut.
Untuk mempermudah tercapai-
nya tujuan ini KLB / Wabah dapat
digambarkan menggunakan
kurva epidemik (epi) ini
2. Memprediksi jalannya KLB /
wabah di waktu-waktu
mendatang

3. Mengenal pola epidemi yang


terjadi, apakah common
source (berasal dari satu
sumber yang sama dan
menyebar sekaligus) atau
propagated (menyebar dari
orang ke orang) atau campuran
E. Pengumpulan
specimen dan
analisis
laboratorium
Merupakan penentu diagnosis,
seperti misalnya pada kasus kolera,
salmonelosis, hepatitis dan keracunan
logam berat.
Namun harus dipahami bahwa setiap
perangkat dan teknik tes laboratorium
memiliki nilai validitas (sensitifitas dan
spesifisitas) tertentu yang akan
menentukan besarnya false positif atau
false negatif dari diagnosis kasus
F. Formulasi dan
uji hipotesis
melalui studi
epidemiologi
analitik
1. Formulasi hipotesis

Kita dapat mulai membuat


dugaan atau penjelasan
sementara (hipotesis) yang
lebih fokus tentang faktor-
faktor risiko atau determinan
yang diperkirakan terlibat
dalam kejadian KLB / Wabah
tersebut
Hipotesisnya haruslah diarahkan
untuk mencari penjelasan tentang:
a. Sumber penularan
b. Cara penularan (mode of
transmission)
c. Faktor-faktor risiko atau
determinan yang mempengaruhi
terjadinya KLB / Wabah
Proses penalaran dalam membuat
hipotesis dapat menggunakan
pendekatan berikut:
1) Metode perbedaan (difference)
2) Metode kecocokan (agreement)
3) Metode variasi yang berkaitan
(concomitant variation)
4) Metode analogi (analogi)
2. Uji hipotesis melalui studi
epidemiologi analitik
Proses pengujian hipotesis
bergantung pada bukan hanya
pendekatan / uji statistik yang
dipakai, tapi juga desain studi
epidemiologi analitik yang dipakai
untuk menyelidiki etiologi atau
determinan penyakit yang
menimbulkan KLB / Wabah
Desain studi epidemiologi
analitik yang boleh
dipertimbangkan untuk
digunakan dalam investigasi
wabah adalah studi
kasus kontrol dan kohort
G. Aplikasi
studi
sistematik
tambahan
Selain studi epidemiologi deskriptif
dan analitik, kadangkala diperlukan
dukungan tambahan dari studi-studi
sistematik lain, khususnya ketika studi
epidemiologi analitik masih belum dapat
menyuguhkan bukti-bukti yang kuat.
Studi-studi sistematik tambahan yang
dapat dilakukan misalnya studi
metaanalisis, studi kualitatif, studi
mortalitas, survei serologis atau
investigasi lingkungan
H. Penerapan
intervensi
penanggulangan
dan pencegahan
Walaupun secara teoritis, penerapan
intervensi penanggulangan dan
pencegahan berada pada langkah ke
delapan, namun dalam prakteknya
langkah intevensi ini harus
dapat dilakukan secepat dan
sedini mungkin, ketika sumber
KLB / Wabah sudah dapat
diidentifikasi
Secara umum intervensi penanggulangan
dapat diarahkan pada titik / simpul
terlemah dalam rantai penularan
penyakit, seperti:
1. Agen etiologi, sumber, reservoir atau
kondisi lingkungan yang spesifik
2. Keberadaan faktor-faktor risiko
yang ikut berpengaruh
3. Mekanisme transmisi penyakit
4. Kerentanan host (yaitu jemaah haji)
melalui program kebugaran dan
vaksinasi misalnya
I. Komunikasi hasil
Mengkomunikasikan dengan baik
hasil investigasi kepada berbagai
pihak yang berwenang,
bertanggungjawab dan terkait
dengan intervensi
penanggulangan dan pencegahan
Format komunikasi berupa:
a. Penjelasan Lisan.
Pihak yang berwenang,
bertanggungjawab terkait dengan
intervensi penanggulangan dan
pencegahan.
Presentasi oral haruslah jelas,
mudah dipahami dan secara ilmiah
meyakinkan pengambil keputusan
sehingga dapat memotivasi mereka
untuk segera melakukan intervensi
b. Penulisan Laporan.
Hasil investigasi juga perlu ditulis
dalam laporan dengan sistematika
tertentu yang sesuai dengan
standar penulisan ilmiah.
Sistematika yang dipakai meliputi:
1. Pendahuluan / latar belakang
2. T u j u a n
3. M e t o d o l o g i
4. H a s i l
5. P e m b a h a s a n
6. Simpulan dan Saran / rekomendasi
SELAMAT
BELAJAR