Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

PENANGANAN FISIOTERAPI PADA KONDISI


ULKUS VENALIS
DI RUMAH LUKA SIDOARJO

NIA RIMA
1710306089
DEFINISI
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput
lendir dan ulkus adalah kematian jaringan yangluas dan
disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit
tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkusdiabetikum juga
merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit
DM dengan neuropati perifer, (Andyagreeni, 2010).

Ulkus vena/ venosum : Luka kronik yang paling sering terjadi


yang disebabkan kerusakan pada katup di pembuluh darah di
kaki seperti pada varises atau sebagai hasil trombosis vena dan
atau disfungsi pompa otot betis, (Wibisono. dkk, 2015).
EPIDEMIOLOGI

• Prevalensi ulkus venosum di dunia bervariasi antara 0.6-2%8,


dan lebih banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki
(Davis, 2009).
• Prevalensi pasien ulkus vena diperkirakan antara 0,1% dan
0,3% di Inggris. Prevalensi pasien ulkus vena di Amerika
Serikat adalah sekitar 1%. Di Negara tropik,
termasukIndonesia insidens ulkus vena lebih kurang 2% dari
populasi (wibisono. dkk, 2015)
ETIOLOGI

• Peningkatan kekakuan dinding pembuluh darah vena yang


menyebabkan hipertensi, disertai penurunan relaksasi endotel
yang turut berkontribusi terhadap gangguan vaskular.

• Kolagen dan otot polos yang lebih banyak terakumulasi pada


subendotelial menyebabkan kulit tampak lebih tipis sehingga
mengganggu perfusi jaringan, memudahkan terjadinya ulsera
TANDA & GEJALA

• Oedem
• Kaki terasa pegal
• Gatal
• Rasa terbakar
• Kram bisa terjadi saat pergerakan tiba-tiba seperti
gerakan berdiri
KASUS
IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. U
Umur : 49 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pensiunan
Alamat : Jagir, Sideresmo Gg. 6 No. 161

Diagnosa medis : Ulkus Venalis (Dextra)


PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Keluhan Utama :
Pasien mengeluhkan nyeri pada tungkai kanan terutama pada saat
digerakkan atau jalan.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak 10 Bulan yang lalu pasien jatuh karena kecelakaan dan terdapat
luka pada tungkainya namun, hingga sampai sekarang tidak kunjung
sembuh. Pasien menjalankan perawatan di RS AL kemudian muncul
luka baru ditelapak kaki. Kemudian pasien langsung ke RLS sidoarjo
pada tanggal 15 Desember 2018 dan sampai sekarang masih
menjalani perawatan luka.
VITAL SIGN
TD : 100/60 mmHg
HR : 70 x/menit
Suhu : 36,5 oC
RR : 20 x/menit
PEMERIKSAAN SISTEMIK KHUSUS
INSPEKSI
Statis :
• Raut wajah pasien terlihat cemas
• Pasien terpasang elastic bandage pada ankle dextra
• Terlihat ulcus pada posterior fibula bagian dextra
• Terlihat perubahan warna kulit kemerahan pada area ulcus

Dinamis :
• Pasien menggunakan alat bantu kruk
• Pasien berjalan dengan analysis gait yang unstable
PALPASI
• Terdapat spasme otot pada M. gastroc, m. soleus, m.
fibularis longus.
• Terdapat pitting oedem pada area ulcus
• Adanya perbedaan suhu local pada ankle dextra dan
sinistra, ankle dextra lebih hangat dibandingkan
dengan sinistra
PERKUSI : Tidak Dilakukan
AUSKULTASI : Tidak Dilakukan
INTEGUMEN
Grade II : (Kerusakan kulit mencapai otot dan tulang)
Panjang Luka : 4,2 cm
Lebar Luka : 2 cm
Luas Luka : 8,4 cm
Kedalaman Luka : 1 cm
Neuromuscular Test
Sensibilitas :
Tajam – Tumpul : Hiposensasi
Kasar – Halus : Hiposensasi
PFGD
Aktif Pasif
ROM ROM
Regio/ Gerakan Nyeri Nyeri End
Full / Full /
(+/-) (+/-) Feel
Tidak Tidak

SENDI
KNEE
1. Ekstensi Tdk Full (+) Full (-) Hard
2. Fleksi Tdk Full (+) Tidak (-) Elastic
SENDI
ANKLE
1. Plantar Full (-) Full (+) Elastic
2. Dorsal Full (-) Full (+) Hard
3. Inversi Full (-) Full (-) Elastic
4. Eversi Full (-) Full (-) Elastic
PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI

LETAK DEXTRA SINISTRA

5 cm keatas dari maleolus 25 CM 24 CM

10 cm keatas maleolus 29 CM 28 CM

SELISIH : 1 CM
Visual Analog Scale (VAS)
• Nyeri Diam : 1,5 mm
• Nyeri Tekan : 4 mm
• Nyeri Gerak : 4,5 mm
Manual Muscle Test (MMT)
Regio Gerakan Dextra Sinistra

Knee Flexi 3- 5
Ekstensi 3- 5
Ankle Dorso Flexi 4 5
Plantar Flexi 4 5
Inversi 4 5
Eversi 4 5
PEMERIKSAAN RANGE OF MOTION

Regio Dextra Sinistra

Knee S: 10°- 0°- 95° S: 0°- 0°- 135°

Ankle S: 20°- 0°- 45° S: 20°- 0°- 45°


UNDERLYING PROSES
DIAGNOSIS FISIOTERAPI
Impairment (Body Structure & Body Function)
a. Adanya nyeri pada daerah ulcus dextra
b. Adanya spasme otot pada m. Gastroc, m. Soleus, m. Fibularis
longus
c. Adanya penurunan LGS pada tungkai dextra
d. Adanya oedem pada tungkai dextra
Functional Limitation
• Pasien mengalami keterbatasan dan kesulitan saat berjalan,
toileting dan beribadah
Participation Restriction
• Pasien mengalami keterbatasan bersosialisasi dengan
lingkungan masyarakat.
PROGRAM FISIOTERAPI

Tujuan Jangka Pendek :


• Mengurangi nyeri
• Mengurangi oedem pada tungkai dextra
• Mengurangi spasme pada otot m.gastroc, m.soleus,
m.fibularis longus
• Meningkatkan kekuatan otot ankle dextra

Tujuan Jangka Panjang :


• Melanjutkan tujuan jangka pendek
• Memelihara dan meningkatkan ADL
INTERVENSI FISIOTERAPI
1. Free aktive movement
• Persiapan pasien : pasien tidur terlentang. menjelaskan
tujuan terapi berfungsi untuk memelihara lingkup gerak
sendi dan mencegah terjadinya kekakuan pada sendi.
memperlancar sirkulasi darah sehingga bisa mengurangi
oedema, dengan mengurangi oedema sekitar knee maka
akan mengurangi nyeri.
• Pelaksanaan terapi : terapis menginstruksikan agar
pasien menggerakan secara aktif pada pergelangan kaki
dan lutut. Seperti gerakan ankle plantar-dorsal, inversi-
eversi, dan rotasi, dan gerakan knee fleksi dan ekstensi.
• Dosis : latihan gerakan aktif 2x8 hitungan tiap bidang
gerak dan dilakukan 2x sehari
2. Isometrik
• Persiapan pasien : Posisikan pasien tidur terlentang.
Menjelaskan tujuan terapi untuk meningkatkan kekuatan
otot, mengurangi nyeri, dan mengurangi bengkak.
• Pelaksanaan Terapi : Tangan Terapis diletakan dibawah
lutut kanan lalu pasien diminta untuk menekan lutut kanan
kebawah.
• Dosis : Latihan gerak isometrik kontraksi selama 8 detik,
dan 5 kali pengulangan.
3. Resisted aktif movement
• Persiapan pasien : posisikan pasien tidur terlentang.
Active movement dengan tahanan yang bertujuan untuk
membantu melindungi serta memperbaiki problem yang
muncul akibat instabilitas atau nyeri yang di akibatkan oleh
kelemahan otot.
• Pelaksanaan terapi: tahanan ini bisa berasal tahanan
terapis yang menggunakan alat bantu seperti karet elastis
dan berat badan pasien sendiri. Salah satu cara untuk
meningkatkan kekekuatan otot adalah dengan
meningkatkan tahanan secara bertahap.
William fleksi
Latihan I (pelvic tilting)
• Posisi pasien tidur terlentang dengan kedua knee fleksi & kaki datar
diatas bed/lantai. Datarkan punggung bawah melawan bed tanpa kedua
tungkai mendorong ke bawah. Kemudian pertahankan 5 – 10 detik.
Latihan II (single knee to chest)
• Posisi pasien tidur terlentang dengan kedua knee fleksi & kaki datar di
atas bed/lantai. Secara perlahan tarik knee kanan kearah shoulder &
pertahankan 5 – 10 detik. Kemudian diulangi untuk knee kiri dan
pertahankan 5 - 10 detik.
Latihan III (double knee to chest)
• Tidur terlentang , tarik knee kanan dan kiri ke dada kemudian
pertahankan kedua knee selama 5 – 10 detik. Dapat diikuti dengan fleksi
kepala/leher kemudian turunkan secara perlahan-lahan salah satu tungkai
kemudian diikuti dengan tungkai lainnya.
Latihan IV (partial sit-up)
• Lakukan pelvic tilting seperti gerakan I. Sementara
mempertahankan posisi angkat secara perlahan kepala dan
shoulder dari bed/lantai, serta pertahankan selama 5 detik.
Kemudian kembali secara perlahan ke posisi awal.
Latihan V (hamstring stretch)
• Mulai dengan posisi long sitting dan kedua knee ekstensi
penuh. Secara perlahan fleksikan trunk ke depan dengan
menjaga kedua knee tetap ekstensi. Kemudian kedua lengan
menjangkau sejauh mungkin diatas kedua tungkai sampai
mencapai jari-jari kaki.
EDUKASI
1. Pasien diminta untuk mengganjal
bantal pada pergelangan kaki kanan
selama 15 menit berfungsi untuk
mengurangi bengkak.
2. Pasien diminta untuk melakukan
gerakan-gerakan pada ankle dan knee
sesuai dengan yang telah diajari
terapis misalnya pada ankle gerakan
seperti plantar, dorsal, inversi, eversi,
rotasi. Dan gerakan pada knee seperti
fleksi dan ekstensi. Dan gerakan
william fleksi.