Anda di halaman 1dari 7

Faktor Risiko dan

Patofisiologi
Faktor Risiko
• Penyebab spesifik ARDS masih belum pasti, banyak
faktor penyebab yang dapat berperan pada gangguan
ini.
• Sejumlah studi kohort prospektif mengidentifikasi
beberapa faktor risiko untuk terjadinya ARDS.
• Faktor-faktor risiko tersebut yaitu riwayat
penyalahgunaan alkohol, obesitas, keparahan penyakit,
peningkatan penggunaan transfusi sel darah merah,
hipoproteinemia, kegagalan untuk mencapai tujuan
resusitasi dalam 6 jam onset syok septik dan kegagalan
untuk memberikan antibiotik yang memadai dalam
waktu 3 jam syok septik.
Faktor Risiko
• Studi LIPS (Lung Injury Prediction Score) secara
prospektif mengamati 5992 pasien yang dirawat
dengan kondisi berisiko untuk ARDS (syok, sepsis,
pneumonia, pankreatitis, trauma berisiko tinggi,
atau operasi berisiko tinggi). Sekitar 10% pasien
berisiko mengembangkan ARDS, walaupun
kejadiannya sangat bervariasi dengan kondisi
predisposisi (dari 2,7% pasien dengan pankreatitis
hingga 27% pasien dengan inhalasi asap)
Faktor Risiko
Patofisiologi
• Permeabilitas kapiler yang meningkat merupakan ciri
khas dari ARDS.
• Kerusakan endotelium kapiler dan epitel alveolar
berkorelasi dengan gangguan pada pengeluaran cairan
dari ruang alveolar yang menyebabkan akumulasi cairan
kaya protein di dalam alveoli.
• Hal ini selanjutnya akan menghasilkan kerusakan
alveolar difus akibat pelepasan sitokin pro-inflamasi,
seperti sitokin, Tumor Necrosis Factor (TNF), IL-1 dan IL-
6.
• Neutrofil kemudian direkrut oleh sitokin menuju paru-
paru, kemudian teraktivasi dan melepaskan mediator
toksik, seperti Reactive Oxygen Species (ROS) dan
protease
Patofisiologi
• Sindrom Distres Pernapasan Akut/Acute Respiratory Distress
Syndrome (ARDS) umumnya berlangsung dalam 3 fase, yaitu:
1. Eksudatif atau inflamasi
• Fase ini adalah tahap inflamasi akut pada ARDS, ditandai dengan
pelepasan sitokin pro-inflamasi, masuknya neutrofil, dan gangguan pada
fungsi barier sel endotel. Kegagalan pernapasan selama fase eksudatif
terkait dengan akumulasi cairan kaya protein di daerah distal dan
penurunan produksi surfaktan oleh sel epitel tipe II. Peristiwa awal ini
diikuti oleh fase proliferatif, yang berkembang 2-7 hari setelah awal cedera
paru-paru.
2. Proliferatif
• Fase proliferatif ditandai oleh proliferasi pneumosit tipe 2, perubahan
fibrotik awal, dan penebalan kapiler alveolar.
3. Fibrotik
• Pada beberapa individu, fase proliferatif dapat berkembang menjadi tahap
fibrotik. Pasien yang berkembang menjadi fase fibrosis, menunjukkan
penurunan compliance paru, hipoksia progresif dan ketergantungan
padaventilator, serta meningkatkan mortalitas.
Patofisiologi

Anda mungkin juga menyukai