Anda di halaman 1dari 97

Kegawatdaruratan

THT-KL

Wina Widiyani, azwan mandai


Pendahuluan
Kegawatdaruratan dalam bidang Telinga Hidung
Tenggorok – Kepala dan Leher diantaranya adalah
 Epistaksis,

 Abses Leher dalam

 Obstruksi saluran nafas Atas

 benda asing di saluran nafas

 Trauma laring

 Tuli mendadak, dan

 trauma tulang temporal .

Adalah kasus yang harus ditangani secara cepat


mengingat komplikasi yang ditimbulkan sangat
berbahaya dan terjadi dalam waktu yang singkat.
EPISTAKSIS
DEFINISI
 Epistaksis adalah perdarahan dari hidung
yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau
sebab umum (kelainan sistemik).
 Secara patofisiologis, bisa dibedakan menjadi

epistaksis anterior dan posterior.


Etiologi

Lokal Sistemik

• Trauma • Kelainan darah misalnya


• Infeksi trombositopenia,
• Neoplasma hemofilia dan leukemia.
• Kelainan kongenital • Penyakit kardiovaskuler
• Sebab-sebab lain Biasanya infeksi akut
termasuk benda asing pada demam berdarah,
dan perforasi septum. influenza, morbili,
demam tifoid.
• Pengaruh lingkungan
• Gangguan endokrin
Lokasi Perdarahan
1) Epistaksis anterior  berasal dari Pleksus
Kiesselbach, merupakan sumber perdarahan paling
sering dijumpai anak-anak. Perdarahan dapat
berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan
dengan tindakan sederhana.
2) Epistaksis posterior berasal dari arteri
sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior.
Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang
berhenti sendiri, sehingga dapat menyebabkan
anemia, hipovolemi dan syok.
Sering ditemukan pada pasien dengan penyakit
kardiovaskular.
Pemeriksaan
Pemeriksaan yang diperlukan berupa :
a) . Rinoskopi anterior
b). Rinoskopi posterior
c). Pengukuran tekanan darah
d). Rontgen sinus
e). Skrining terhadap koagulopati
f). Riwayat penyakit
Penatalaksanaan
 Pasien datang dengan epistaksis
 Perhatikan keadaan umumnya, nadi,

pernafasan serta tekanan darahnya. Bila ada


kelainan, atasi terlebih dulu misalnya dengan
memasang infuse.
 Jalan napas dapat tersumbat oleh darah atau

bekuan darah, perlu dibersihkan atau diisap.


 Diperiksa dalam posisi duduk, biarkan darah

mengalir keluar hidung sehingga bisa


dimonitor.
 Kalau keadaannya lemah sebaiknya setengah
duduk atau berbaring dengan kepala
ditinggikan.
 Harus diperhatikan jangan sampai darah

mengalir ke saluran napas bawah. Pasien anak


duduk dipangku, badan dan tangan dipeluk ,
kepala dipegangi agar tegak dan tidak
bergerak.
 Sumber perdarahan dicari untuk membersihkan

hidung dari darah dan bekuan darah dengan


bantuan alat pengisap.
 Kemudian pasang tampon sementara yaitu
kapas yang telah dibasahi dengan adrenalin
1/5000-1/10000 dan pantocain 2% atau
lidokain 2 % dimasukkan kedalam rongga
hidung untuk menghentikan perdarahan
mengurangi rasa nyeri pada saat dilakukan
tindakan selanjutnya.
 Tampon itu dibiarkan selama 10-15 menit.

 Setelah terjadi vasokonstriksi biasanya dapat

dilihat apakah perdarahan berasal dari bagian


anterior atau posterior hidung.
Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat dari epistaksisnya
sendiri atau sebagai akibat dari usaha penanggulangan
epistaksis.

Akibat perdarahan yang hebat dapar terjadi :


 Aspirasi Darah Kedalam Saluran Napas Bawah,

 Syok,

 Anemia,

 Gagal Ginjal.

 Iskemia Serebri,

 Insufisiensi Koroner

 Infark Miokard  Kematian.


Mencegah Perdarahan Berulang
 Perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium
darah lengkap.
 pemeriksaan fungsi hepar dan ginjal, gula

darah, hemostasis.
 Pemeriksaan foto polos atau CT scan sinus

bila dicurigai ada sinusitis.


 Konsul ke penyakit dalam atau kesehatan

anak bila dicurigai ada kelainan sistemik.


ABSES LEHER
DALAM
Definisi
Abses leher dalam adalah terkumpulnya
nanah (pus di dalam ruang potensial di antara
fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran
dari berbagai sumber infeksi, seperti gigi,
mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga
dan leher.
Etiologi
 Sumber infeksi
Paling sering  berasal dari infeksi
tonsil dan gigi.
 Kuman yang paling dominan adalah kuman

anaerob yaitu, Prevotella, Porphyromonas,


Fusobacterium spp, dan Peptostreptococcus
spp.
 Bakteri aerob dan fakultatif adalah

Streptococcus pyogenic dan Stapylococcus


aureus.
Patogenesis
 Pembentukan abses  hasil perkembangan
dari flora normal dalam tubuh  Flora normal
tumbuh & mencapai daerah steril dari tubuh
(baik secara langsung maupun melalui
laserasi atau perforasi).
Cara Penyebaran
Penyebaran abses leher dalam dapat melalui
beberapa jalan yaitu
 hematogen,
 limfogen, dan
 celah antar ruang leher dalam.

Beratnya infeksi tergantung dari virulensi


kuman, daya tahan tubuh dan lokasi anatomi.
Klasifikasi
 Secara anatomis, absen leher dalam dibagi
dalam lima jenis abses. Absens peritonsil,
abses retrofaring, parafaring, submandibular,
dan Angina Ludovici.
 Gejala klinis abses leher dalam secara umum

sama dengan gejala infeksi pada umumnya


yaitu demam, nyeri, pembengkakan, dan
gangguan fungsi.
ABSES PERITONSIL (QUINSY)

Abses peritonsil merupakan terkumpulnya


material purulen yang terbentuk di luar kapsul
tonsil dekat kutub atas tonsil.
 Abses peritonsil merupakan abses yang paling
banyak ditemukan
 Biasanya merupakan komplikasi tonsilitis akut
atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus
Weber di kutub atas tonsil.
 Kuman penyebab sama dengan penyebab
tonsilitis, dapat ditemukan kuman aerob dan
anaerob.
Diagnosis

Pada abses peritonsil didapatkan gejala :


 Demam,
 Nyeri tenggorok,
 Nyeri menelan (odinofagia),
 Hipersalivasi,
 Nyeri telinga (otalgia) dan
 Suara bergumam (hot potato voice).
 Terapi
 Antibiotika dosis tinggi
 obat simtomatik.
 Kumur-kumur dengan air hangat
 kompres dingin pada leher.
 Bila telah terbentuk abses :  memerlukan
pembedahan drainase (baik dengan teknik
aspirasi jarum atau dengan teknik insisi dan
drainase)
 Tempat insisi ialah di daerah yang paling
menonjol dan lunak, atau pada pertengahan garis
yang menghubungkan dasar uvula dengan
geraham atas terakhir. Intraoral incision dan
drainase dilakukan dengan mengiris mukosa
overlying abses, biasanya diletakkan di lipatan
supratonsillar.
 Drainase atau aspirate yang sukses menyebabkan
perbaikan segera gejala-gejala pasien.
 Bila terdapat trismus, pembedahan drainase
dilakukan setelah pemberian cairan kokain
4% pada daerah insisi dan daerah ganglion
sfenopalatina pada fosa nasalis.5
 Kemudian pasien dianjurkan untuk operasi

- tonsilektomi “a” chaud.


- tonsilektomi “a” tiede,
- tonsilektomi “a” froid.
 Tonsilektomi merupakan indikasi absolut

pada orang yang menderita abses


peritonsilaris berulang atau abses yang
meluas pada ruang jaringan sekitarnya.
Komplikasi
Abses pecah spontan mengakibatkan :
 Perdarahan,
 Aspirasi paru
 Abses parafaring.
 Trombus sinus kavernosus,
 Meningitis
 Abses otak.
ABSES RETROFARING
 Terutama terjadi pada bayi atau anak di bawah dua
tahun dan merupakan abses leher dalam yang
terbanyak pada anak.
Gejala utama
 Rasa nyeri (odinofagia)

 Sukar menelan (disfagia)

 Demam,

 Pergerakan leher terbatas, dan

 Sesak nafas.


Terapi
 Medikamentosa antibiotika dosis tinggi untuk

kuman aerob dan anaerob, dan


 Tindakan bedah.

 
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi ialah
penjalaran ke ruang parafaring, ruang vaskuler
visera, mediastinitis, obstruksi jalan nafas
sampai asfiksia, bila pecah spontan dapat
menyebabkan penummonia aspirasi dan abses
paru.
ABSES PARAFARING
 Abses parafaring dapat terjadi setelah infeksi faring,
tonsil, adenoid, gigi, parotis, atau kelenjar limfatik.
 Pada banyak kasus abses parafaring merupakan

perluasan dari abses leher dalam yang berdekatan


seperti; abses peritonsil, abses submandibula, abses
retrofaring maupun mastikator.
Gejala utama abses parafaring berupa :

 Demam,

 Trismus,

 Nyeri tenggorok,

 Odinofagi dan

 Disfagia.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
:

 Pembengkakan di daerah parafaring,

 Pendorongan dinding lateral faring ke medial, dan

 Angulus mandibula tidak teraba.


 Pada abses parafaring yang mengenai daerah prestiloid
akan memberikan gejala trismus yang lebih jelas.
Terapi
 Pemberian antibiotika dosis tinggi
 Evakuasi abses harus segera dilakukan (bila tidak ada
perbaikan dengan antibiotika dalam 24-48 jam)
dengan cara eksplorasi dalam narkosis.
 Drainase sebaiknya dilakukan melalui insisi servikal
pada 2 ½ jari di bawah dan sejajar mandibula.
 Secara tumpul eksplorasi dilanjutkan dari batas
anterior M. Sternocleidomastoideus ke arah atas
belakang menyusuri bagian medial mandibula dan M.
Pterigoideus interna mencapai mencapai ruang
parafaring dengan terabanya prosesus stiloid.
 Bila nanah terdapat di dalam selubung karotis, insisi
dilanjutkan vertikal dari pertengahan insisi horizontal
ke bawah di depan M. Sternocleidomastoideus (cara
Mosher).
Komplikasi
Penjalaran ke atas dapat mengakibatkan :
 peradangan intrakranial,
 kerusakan dinding pembuluh darah
 Bila pembuluh karotis mengalami nekrosis 

ruptur  perdarahan hebat.


 Bila terjadi periflebitis / endoflebitis 

tromboflebitis dan septikemia.


ABSES SUBMANDIBULA
Etiologi dan patologi
 Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar

mulut, faring, kelenjar liur atau kelenjar limfe


submandibula. Mungkin juga sebagian
kelanjutan infeksi infeksi ruang leher dalam
lain.
Diagnosis
 Pasien biasanya akan mengeluh nyeri di

rongga mulut dan leher, air liur banyak. Pada


pemeriksaan fisik didapatkan pembengkakan
di daerah submandibula, fluktuatif, lidah
terangkat ke atas dan terdorong ke belakang,
angulus mandibula dapat diraba. Pada
aspirasi didapatkan pus.
ANGINA LUDOVICI
( LUDWIG’S ANGINA )
 Angina Ludwig merupakan peradangan
selulitis atau flegmon dari bagian superior
ruang suprahioid atau di daerah sub
mandibula, dengan tidak ada fokal abses.
Ruang potensial ini berada antara otot-otot
yang melekatkan lidah pada tulang hioid dan
otot milohioideus
Diagnosis
 Biasanya akan mengenai kedua sisi

submandibula, air liur yang banyak, trismus,


nyeri, disfagia, massa di submandibula yang
tampak hiperemis dan keras pada perabaan.
Kekerasan yang berlebihan pada jaringan
dasar mulut mendorong lidah ke atas dan ke
belakang dan dengan demikian dapat
menyebabkan obstruksi jalan napas secara
potensial sehingga timbul sesak napas.
Terapi
 Diberikan antibiotika dengan dosis tinggi untuk kuman

aerob dan anaerob, dan diberikan secara parenteral.


 Kemudian dilakukan eksplorasi dengan pembedahan

insisi melalui garis tengah, dengan demikian


menghentikan ketegangan (dekompresi) yang
terbentuk pada dasar mulut.
 Karena ini merupakan selulitis, maka sebenarnya pus

jarang diperoleh.
 Sebelum insisi dan drainase dilakukan, sebaiknya

dilakukan persiapan terhadap kemungkinan


trakeostomi karena ketidakmampuan melakukan
intubasi pada pasien, seperti lidah yang mengobstruksi
pandangan laring dan tidak dapat ditekan oleh
laringoskop.
Komplikasi
 Komplikasi yang sering terjadi ialah

sumbatan jalan nafas, penjalaran abses ke


ruang leher dalam lain dan mediastinum, dan
sepsis.
OBSTRUKSI
SALURAN NAPAS
ATAS
Definisi

 Obstruksi saluran napas atas adalah


sumbatan pada saluran napas atas (laring)
yang disebabkan oleh adanya radang, benda
asing, trauma, tumor dan kelumpuhan nervus
rekuren bilateral sehingga ventilasi pada
saluran pernapasan terganggu
Penyebab dan Gejala Klinis
 Obstruksi saluran napas bagian atas disebabkan
oleh trauma, tumor, infeksi akut, kelainan
kongenital hidung atau laring, difteri, paralysis satu
atau kedua plika vokalis, pangkal lidah jatuh ke
belakang pada penderita yang tidak sadar karena
penyakit, cedera, atau narkose maupun karena
benda asing.
 Obstruksi saluran napas bagian atas ditandai

dengan sesak napas, stridor inspirator, ortopne,


pernapasan cuping hidung, dan cekung di daerah
jugularis-supraklavikula-interkostal. Selanjutnya
penderita akan sianotik dan gelisah.
Etiologi
 Kongenital
 Radang
 Traumatik

 Tumor
 Lain-Lain :

Benda Asing
Udem Angioneurotik
Gejala dan tanda sumbatan
saluran Napas
 Serak (disfoni) sampai afoni
 Sesak napas (dispnea)

 Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu

inspirasi.
 Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di

suprasternal, epigastrium, supraklavikula dan


interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari
otot-otot pernapasan untuk mendapatkan oksigen
yang adekuat.
 Gelisah karena pasien haus udara (air hunger)

 Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis

karena hipoksia.
Pemeriksaan
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan untuk mengetahui letak sumbatan,
diantaranya adalah :
 Laringoskop.
 Nasoendoskopi
 X-ray. Dilakukan pada foto torak yang

mencakup saluran nafas bagian atas. Foto


polos sinus paranasal
 CT-Scan kepala dan leher
 Biopsi
Tindakan
 Tindakan konservatif :
Pemberian antiinflamasi, antialergi, antibiotika
serta pemberian oksigen intermiten, yang
dilakukan pada obstruksi laring stadium I yang
disebabkan oleh peradangan.
 Tindakan operatif/resusitasi :
Memasukkan pipa endotrakeal melalui mulut
(intubasi orotrakea) atau melalui hidung (intubasi
nasotrakea), membuat trakeostoma yang dilakukan
pada obstruksi laring stadium II dan III, atau
melakukan krikotirotomi yang dilakukan pada
obstruksi laring stadium IV.
Cara mengatasi
gangguan pernafasan
 Intubasi
 Laringotomi (Krikotirotomi)
 Trakeostomi
Intubasi
Laringotomi
Trakheostomi
Perasat Heimlich
( Heimlich Maneuver )
 Perasat heimlich adalah suatu cara mengeluarkan
benda asing yang menyumbat laring secara total atau
benda asing ukuran besar yang terletak di hipofaring.
 Prinsip mekanisme perasat heimlich adalah dengan
memberi tekanan pada paru. Diibaratkan paru
sebagai sebuah botol plastik berisi udara yang
tertutup oleh sumbatan. Dengan memencet botol
plastik itu sumbatan akan terlempar keluar.
 Perasat heimlich ini dapat dilakukan pada orang
dewasa dan juga pada anak.
 Komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur
lambung, ruptur hati dan fraktur iga.
Teknik perasat heimlich:
 Penolong berdiri di belakang pasien sambil

memeluk badannya.
 Tangan kanan dikepalkan dan dengqan

bantuan tangan kiri, kedua tangan diletakkan


pada perut bagian atas.
 Kemudian dilakukan penekanan pada rongga

perut kearah dalam dan kearah atas dengan


hentakan beberapa kali. Diharapkan dengan
hentakan 4-5 kali benda asing akan
terlempar keluar. Pada anak, penekanan
cukup dengan memakai jari telunjuk dan jari
tengah kedua tangan.
 Pada pasien yang tidak sadar atau terbaring,
dapat dilakukan dengan cara penolong
berlutut dengan kedua kaki pada kedua sisi
pasien. Kepalan tangan diletakkan di bawah
tangan kiri di daerah epigastrium.
 Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan

ke atas beberapa kali udara dalam paru akan


mendorong benda asing keluar.
Perasat Heimlich
 
BENDA ASING DI
SALURAN NAFAS
Definisi
 Benda asing didalam suatu organ ialah benda
asing yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalam tubuh, yang dalam keadaan normal
tidak ada.
Pembagian benda asing
1. Benda asing yang berasal dari luar tubuh
disebut benda asing eksogen.
2. Benda asing endogen  benda asing yang
berasal dari dalam tubuh.
Stadium
Seseorang yang mengalami aspirasi benda asing akan
mengalami 3 stadium.
 Stadium pertama merupakan gejala permulaan, yaitu

batuk-batuk hebat secara tiba-tiba (violent paroxysms if


coughing), rasa tercekik (choking), rasa tersumbat di
tenggorokan (gagging), bicara gagap (sputtering) dan
obstruksi jalan napas yang terjadi dengan segera.
 Pada stadium kedua, gejala stadium permulaan diikuti

interval asimtomatik.
 Pada stadium tiga, telah terjadi gejala komplikasi dengan

obstruksi, erosi atau infeksi sebagai akibat reaksi


terhadap benda asing, sehingga timbul batuk-batuk,
hemoptisis, dan abses paru.
Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan radiologic
 Video Fluoroskopi
 Bronkogram
 Pemeriksaan laboratorium
Benda Asing di Hidung
 Pada anak sering luput dari perhatian orang
tua karena tidak ada gejala dan bertahan
untuk waktu yang lama.
 Dapat timbul rinolith di sekitar benda asing.
 Gejala yang paling sering adalah hidung

tersumbat, rinore unilateral dengan cairan


kental dan berbau.
 Kadang terdapat rasa nyeri, demam,

epistaksis, dan bersin.


 Pada pemeriksaan, tampak edema dengan
inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat
terjadi ulserasi.
 Benda asing biasanya tertutup oleh mukopus,

sehingga disangka sinusitis.


 Dalam hal demikian bila akan menghisap

mukopus haruslah berhati-hati supaya benda


asing itu tidak terdorong ke arah nasofaring
yang kemudian dapat masuk ke laring, trakea
dan bronkus.
 Benda asing, seperti karet busa, sangat cepat
menimbulkan secret yang berbau busuk.
 Penanganan : Dapat menggunakan cunam

Nortman atau “wire loop”


Benda asing di orofaring dan hipofaring

 Dapat tersangkut antara lain di tonsil, dasar lidah,


valekula, sinus piriformis yang menimbulkan rasa nyeri
pada waktu menelan (odinofagia), baik makanan maupun
ludah, terutama bila benda asing tajam seperti tulang
ikan, tulang ayam.
 Untuk memeriksa dan mencari benda itu di dasar lidah,

valekula dan sinus priformis diperlukan kaca tenggorok


yang besar
 Benda asing di sinus piriformis menujukkan tanda

Jackson (Jackson’s Sign) yaitu terdapat akumulasi ludah


di sinus piriformis tempat benda asing tersangkut.
 Bila benda asing menyumbat introitus esophagus, maka

tampak ludah tergenang di kedua sinus piriformis.


Benda asing di Laring
 Benda asing dilaring dapat menutup laring,
tersangkut diantara pita suara atau berada di
dubglotis.
 Gejala sumbatan laring tergantung pada

besar, bentuk dan letak (posisi) benda asing.


 Sumbatan total di laring akan menimbulkan

keadaan yang gawat biasanya kematian


mendadak karena terjadi asfiksia dalam
waktu singkat.
 Sumbatan parsial di laring dapat menyebabkan
gejala suara parau, disfonia sampai afonia, bentuk
yang disertai sesak (croupy cough), odinofagia,
mengi, sianosis, hemoptisis dan rasa subyektif
dari benda asing (pasien akan menunjuk lehernya
sesuai dengan letak benda asing itu tersangkut)
dan dispne dengan derajat bervariasi.
 Gejala dan tanda ini jelas bila benda asing masih
tersangkut di laring, dapat juga benda asing
sudah turun ke trakea, tetapi masih meninggalkan
reaksi laring oleh karena edema laring.
Tatalaksana
 Pada sumbatan total  Perasat Heimlich
 Pada sumbatan benda asing tidask total di

laring, perasat Heimlich tidak dapat


digunakan.
 Dalam hal ini pasien masih dapat di bawa ke

rumah sakit terdekat untuk diberi


pertolongan dengan menggunakan
laringoskop atau bronkoskop
Benda Asing di Trakhea
 Gejala batuk dengan tiba-tiba yang berulang-
ulang dengan rasa tercekik (choking), rasa
tersumbat di tenggorok (gagging),
 Terdapat gejala patognomonik yaitu audible

slap, palpatory thud dan asthmatoid wheeze


(nafas berbunyi pada saat ekspirasi).
Tatalaksana
 Dengan bronkoskopi
 trakeostomi (Bila fasilitas untuk melakukan

bronkoskopi tidak ada, maka pada kasus


benda asing di trakea dapat dilakukan)
 bila mungkin benda asing itu dikeluarkan

dengan memakai cunam atau alat penghisap


melalui trakeostomi.
 Bila tidak berhasil pasien dirujuk ke rumah

sakit dengan fasilitas endoskopi, ahli dan


personal yang tersedia optimal.
Benda Asing di Bronkus
 Lebih banyak masuk ke dalam bronkus kanan,
karena bronkus kanan hampir merupakan garis
lurus dengan trakea.
 Pasien dengan benda asing di bronkus yang
datang ke rumah sakit kebanyakan berada pada
fase asimtomatik.
 Pada fase ini keadaan umum pasieen masih baik
dan foto rontgen toraks belum memperlihatkan
kelainan.
 Untuk mengeluarkan benda asing dari bronkus
dilakukan dengan bronkoskopi
 Benda asing organic menyebabkan reaksi
yang hebat pada saluran napas dengan gejala
laringotrakeobronkitis, toksemia, batuk dan
demam ireguler.
 Tanda fisik benda asing di bronkus

bervariasi, karena perubahan posisi benda


asing dari satu sisi ke sisi lain dalam paru.
TRAUMA LARING
Definisi
 Trauma laring merupakan suatu keadaan
dimana laring mengalami suatu kerusakan
yang dapat disebabkan oleh trauma tumpul,
trauma tajam, dan penyebab lainnya.
 Hal ini menyebabkan fungsi laring sebagai

proteksi jalan nafas, pengaturan pernafasan


dan penghasil suara  terganggu  sehingga
dapat menimbulkan resiko kecacatan bahkan
kematian
Penyebab Trauma Laring
Trauma laring dapat disebabkan oleh :
 Trauma Tumpul,
 Trauma Tajam,
 Tembak,
 Trauma Inhalasi,
 Aspirasi Benda Asing,
 Iatrogenik.

 
Gejala Klinis
Pada trauma laring, gejala dan tanda klinis
yang biasanya didapatkan adalah :
 Sesak nafas.
 Batuk
 Batuk darah
 Emfisema subkutis (pada leher, kepala, dada),
 Sianosis
 Gangguan suara
 Kebocoran udara atau suara mendesis pada
tempat trauma
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan jejas
(hematom/abrasi) akibat hantaman benda tumpul :
 Jejas berupa garis yang menunjukkan bekas jeratan,
 Luka dan penonjolan tulang,

 Hilangnya tonjolan kartilago tiroid,


 Krepitasi,

 Diskontinuitas,
 Nyeri tekan pada daerah laring,

 Emfisema subkutis
 Emfisema mediastinum jika cidera lebih ke distal.
Pembagian Trauma laring
Berbeda dengan trauma laring yang dapat dibagi
menjadi 5 grup, sebagai berikut :
 Grup I : Trauma endolaringeal ringan tanpa fraktur
 Grup II : Edema sedang, hematoma dengan laserasi
mukosa, tidak ada expose
tulang rawan, fraktur nondisplaced.
 Grup III : Edema berat robekan mukosa dengan
expose tulang rawan.
Fraktur displaced pada CT Scan.
 Grup IV : Perlukaan berat endolaringeal, bentuk
laring yang tidak beraturan.
 Grup V : Terputusnya laring komplit.
Pemeriksaan Penunjang
 Bronkoskopi
 Esofagoskopi
 Panendoscopy
 Arteriografi
 Computed Tomography (CT)
Penatalaksanaan
Manajemen Jalan Nafas
 Trakeostomi
 Montgomery T-Tube
 Laryngeal Mask Airway (LMA)
Montgomery T-Tube
Laryngeal Mask Airway (LMA)
Terapi Bedah
 Perencanaan sebuah eksplorasi daerah leher.
 Bila jalan nafas mengalami sumbatan,

trakeostomi harus dilakukan dalam keadaan


pasien sadar dan menggunakan anastesi lokal
dengan efek sedasi ringan.
TULI
MENDADAK
DEFINISI
 Tuli mendadak (sudden deafness) ialah tuli
yang terjadi secara tiba-tiba, bersifat
sensorineural dan penyebabnya tidak dapat
langsung diketahui.
 Beberapa ahli mendefinisikan tuli mendadak

sebagai penurunan pendengaran


sensorineural 30 dB atau lebih paling sedikit
pada tiga frekuensi berturut-turut yang
berlangsung dalam waktu kurang dari 3 hari.
ETIOLOGI
Tuli mendadak dapat disebabkan oleh
berbagai hal, antara lain oleh iskemia koklea
(gangguan vaskular), infeksi virus, trauma
kepala, trauma bising yang keras, perubahan
tekanan atmosfer, autoimune, obat ototoksik,
penyakit meniere, dan neuroma akustik.
GEJALA KLINIK
 Penderita mengeluh pendengarannya tiba-
tiba berkurang pada satu atau kedua telinga
yang sebelumnya dianggap normal.
 Disadari penderita ketika bangun tidur pagi

hari / setelah bekerja.


DIAGNOSIS
Anamnesis
 Anamnesis yang teliti mengenai proses terjadinya

ketulian, gejala yang menyertai serta faktor


predisposisi penting untuk mengarahkan diagnosis.
◦ Pasien yang datang dengan TMSN seringkali mengeluhkan
adanya tinitus, rasa penuh pada telinga serta vertigo 
mirip pd keadaan tuli konduksi  perlu PF
◦ Riwayat trauma, nyeri telinga luar dan nyeri kanal,
demam,dan gejala sistemik lainnya.
◦ Penyakit sistemik : hipertensi, diabetes mellitus,
hiperkolesteloremia dan penyakit jantung  erat kaitannya
dgn TMSN
PENATALAKSANAAN
Pengobatan sebaiknya sesuai dengan etiologi:
 Tirah baring sempurna (total bedrest) istirahat fisik dan

mental selama dua minggu nutuk menghilangkan atau


mengurangi stress yang besar pangaruhnya pada
keadaan kegagalan neurovaskuler.
 Vasodilator :

Meningkatkan aliran darah koklea  menurunkan


keadaan hipoksia
 Anti inflamasi  kaskade kematian sel inflamasi.

Prednison oral 1 mg/kg/hari, dosis tunggal, max. 60


mg sehari, selama 10-14 hari.
 Oksigen:

Memaparkan seorang pasien dengan oksigen 100%


pada tingkat tekanan yang lebih tinggi dari 1 atmosfir
absolut (ATA) dalam ruang tertutup yang dirancang
khusus.
 Bila gangguan pendengaran pasien tidak juga sembuh
dengan pengobatan  dapat dipertimbangkan
pemasangan alat bantu dengar (hearing aid).
 Apabila dengan alat bantu dengar juga tidak

membantu  psikoterapi dengan tujuan agar pasien


dapat menerima keadaan.
 Rehabilitasi pendengaran  agar dengan sisa

pendengaran yang ada dapat digunakan secara


maksimal dengan memakai alat bantu dengar dan
rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume,
nada dan intonasi oleh karena pendengarannya tidak
cukup untuk mengontrol hal tersebut.
FRAKTUR TEMPORAL
Klasifikasi
 Fraktur tulang temporal dibagi menjadi 4

berdasarkan orientasi relatif terhadap sumbu


panjang tulang petrosa, yaitu
 Fraktur longitudinal
 Fraktur tranversal
 Fraktur oblik
 Fraktur campuran
PEMERIKSAAN FISIK

 Tiga temuan yang sering:


◦ Hemotimpanum
◦ Ekimosis postaurikular (Battle’s sign)
◦ Ekimosis periorbital (Racoon eyes)
 Kelemahan saraf fasialis memerlukan evaluasi
yang hati-hati
 Kebocoran plasma: otorea dan rinorea
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 
 Radiologi: CT Scan tulang temporal, MRI
 Tes pendengaran: audiogram
 Tes saraf fasialis
 Tes vestibular
KOMPLIKASI FRAKTUR TEMPORAL

 Gangguan pendengaran
 Cedera saraf fasialis
 Otorea
 Cedera vaskular
 Vertigo
 Komplikasi lainnya (Meliputi meningokel,

ensefalokel, meningitis, dan kolesteatoma).


 Tinitus  
TERIMAKASIH